
"Apa kau mau om nyanyikan seperti masa kecil dulu?" tanya Dewa sembari mengelus kepala Rania lembut.Gadis itu memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan Dewa padanya.
"Apa om sesayang itu padaku hingga harus menyanyikan lagu itu terus?aku sudah gede om." protes Rania kesal.
"Rania,bagiku kau tetap gadis kecilku.Sampai kapanpun aku akan tetap menjagamu seperti putriku sendiri." deg....hati Rania teriris pedih.Putri?dia bahkan sudah menjadi istri Dewa sekarang.Apa Dewa lupa itu?
"putri?aku istri om kan?" tanya Rania.Matanya membola menatap lurus pada Dewa yang serta merta melepas pelukannya.Dewa terkekeh geli.
"Kau jadi istriku karena jebakan kunomu itu kan Rania?Tidak ada cinta diantara kita.Orang akan memandang aneh pada hubungan kita ini.Mereka pasti menganggap aku pedophil atau om-om yang jadi sugar dadymu nak ha..ha..ha.."
Mata Rania berair.Dia masih menatap Dewa tidak percaya.Sekejam itukah Dewa padanya?Kenapa dia datang kalau hanya untuk menyakiti hatinya?setelah apa yang dia lakukan padanya beberapa waktu lalu?Membawa Hera masuk kedalam rumah tangganya dan memaksanya keluar dari rumah sebagai seorang yang kalah?
"kau hanya kagum padaku Rania.Kekaguman itu bukan cinta.Suatu saat kau akan menemukan orang yang kau cintai.Tapi baiklah...kita jalani saja pernikahan ini.Biar waktu yang akan menjawab,mau dibawa kemana hubungan ini." Rania membeku.Tidak ada kata apapun yang keluar dari bibirnya.Sejak awal dia tau,terlalu sulit baginya untuk mendapatkan cinta pria tampan,mapan dan dewasa seperti Dewa.Dia hanya akan memiliki raga tanpa jiwa nantinya.Tapi keegoisan telah membuatnya buta.
"kenapa om pulang?" tanyanya kemudian setelah sekian lama mereka terdiam.Lagi-lagi Dewa terkekeh geli.
"Kau itu istriku Rania,walau itu dalam surat nikah saja.Papa mamamu mengabariku kalau kau sakit.Apa menurutmu aku mau terlihat jelek dimata mereka?setidaknya aku harus menjengukmu kan?"
__ADS_1
"itu tidak perlu om.Aku baik-baik saja." lirih Rania sambil menundukkan wajahnya.Gurat kecewa sangat terlihat dimatanya.Kenapa orang tuanya mengabari hal tidak penting itu pada Dewa?
"Itu perlu Rania.Kau yang memulai sandiwara ini,maka kau juga harus ikut bermain di dalamnya.Mulai sekarang,beraktinglah menjadi istri yang baik saat ada ditengah keluargamu.Apa kau mengerti gadis kecil?" Kata Dewa yang seolah tidak peduli.Hilang sudah kekaguman Rania padanya.Wajah yang selalu dipujanya siang malam itu tiba-tiba berubah menyebalkan dengan senyum smirk yang membuatnya ingin muntah.Dewa membalikkan badannya lalu mulai tidur kembali.Masih ada waktu satu jam menjelang ashar nanti.
"Tidurlah lagi.Kau harus banyak istirahat nyonya Wright." ujarnya seolah tidak merasa berdosa.Rania masih terdiam ditempatnya hingga tangan Dewa melingkari pinggangnya dan menariknya agar rebah dalam pelukannya.
"om...."
"Panggil mas!"
"tapi..."
"atau apa om?" tanya Rania masih dengan raut wajah memelasnya.Hatinya masih terluka.Dewa menyentak tubuh Rania hingga menempel padanya.Tangan kekarnya meraih pipi Rania lalu secepat kilat dia menempelkan bibirnya pada bibir Rania yang ranum.Mata gadis itu melotot kaget.Dia tidak menyangka jika Dewa akan menciumnya.Mencuri ciuman pertamanya.Ada yang berdesir disudut hatinya.Dewa tidak menghiaraukannya.Dia ******* habis bibir merah Rania walaupun tanpa balasan.Istri kecilnya itu begitu kaku.Pasti ini yang pertama baginya karena selama ini Dewa selalu menjaganya dengan baik sampai-sampai Rania tidak pernah pacaran.Jangankan pacar,teman dekat laki-laki saja dia tidak punya karena Dewa terlalu over protevtive padanya.Dia seperti hantu yang muncul dimana-mana hingga Rania dibuat jengah dengan kelakuannya yang melebihi Ardi,papanya.
"Jangan panggil aku om lagi,atau kau akan tau akibatnya." desis Dewa tetap diatas bibir Rania yang masih terkejut tak percaya.
"Sekarang tidurlah,jangan membantah!" Rania diam namun menuruti perkataan Dewa.Mau tidak mau dia memejamkan matanya agar tidak bersitatap dengan Dewa yang terus melihat dan mengawasinya.Pria itu menariknya dalam pelukan hangatnya.Udara dingin bulan desember yang disertai rintik hujan membuatnya terhanyut.Dewa mengecup pucuk kepala Rania saat melihatnya sudah terlelap.Senyum manis menghiasi wajah tampannya.
__ADS_1
Adzan ashar berkumandang.Dewa menyingkap selimutnya lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu shalat.Rania menggeliat,tampaknya dia sudah bangun dan juga akan mandi.Tanpa ba...bi...bu...dia membuka pintu kamar mandi.
....."aaaaaaaahhhhhhh......"
teriaknya keras lalu menutup matanya dengan kedua tangannya.Disana Dewa berdiri tenang dibawah shower dengan kondisi telanjang seolah tidak terjadi apa-apa.Rania kebingungan sendiri untuk keluar dari kamar mandi itu.Dia berbalik dan berlari keluar. Jantungnya seperti mau copot.Ini pertama kalinya dia melihat tubuh lelaki tanpa busana.
Sesaat kemudian Dewa keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggangnya.
"Kalau mandi pintunya dikunci dong om!" kata Rania kesal.Belum lagi menyelesaikan omelannya,matanya tertuju pada dada kekar dan perut sickpack suaminya yang membuatnya terpana.Kenapa ada pria semacho dia ya?Matanya terus saja menatap bagian itu tak berkedip hingga Dewa mendekat dan mengibas-ngibaskan tangannya didepan mata Rania.
"Kau ini benar-benar fansku gadis kecil.Kau menatapku hingga air liurmu menetes." Rania tersadar dan buru-buru mengelap bibirnya,takut yang dikatakan Dewa itu benar adanya.Betapa malunya dia.Dewa yang melihatnya tertawa terbahak-bahak hingga wajahnya memerah.Tingkah konyol Rania itu seolah hiburan tersendiri buatnya.Sejak kecil Rania memang hiburan untuk hidupnya.Entah kenapa serasa ada sambung rasa diantara mereka.
Wajah Rania semerah tomat saat berlari memasuki kamar mandi.Buru-buru dia berdiri di bawah shower dan mengguyur kepalanya agar pikirannya menjadi dingin.Apa yang dilihatnya tadi sudah membuat sekujur tubuhnya panas dingin tidak karuan.Dewa bukan hanya membuatnya terpana,tapi sudah memporak-porandakan jiwanya.Dia juga lupa jika masih dalam kondisi sakit dan papanya selalu melarangnya mandi dengan air dingin saat tidak enak badan.Maklum,Rania putri mereka satu-satunya yang dijaga bak intan permata dirumah itu.
"Ran,jangan lama-lama mandinya...kita sholat ashar bareng." teriak Dewa dari luar pintu.Rania bergegas mandi.Saat usai,dia menepuk kepalanya keras.
"bodoh...bodoh...bodooohh!!aku lupa membawa handuk dan baju ganti.Bagaimana aku keluar dari sini?baju yang tadi kupakai sudah basah." keluh Rania frustasi.Ketukan dipintu kembali terdengar.Rania memutuskan membuka sedikit pintu itu dan melongokkan kepalanya keluar.Dewa yang berdiri disana memincingkan matanya heran melihat kelakuan Rania.
__ADS_1
"Kenapa tidak segera keluar?"
"om eeehh..mas,bisa minta tolong ambilkan aku handuk?" katanya ragu.Dewa yang semula bingung menjadi tertawa jenaka sambil mengerlingkan matanya.Ingin rasanya Rania melempar wajah tampan itu dengan sabun atau sandal karena sebal.