Balada Cinta Belahan Jiwa

Balada Cinta Belahan Jiwa
Dhek


__ADS_3

Erna dan Tika menatap Rania yang turun dari mobil mewah disusul dua orang yang menggendong anak kecil.Dahi mereka berkerut.Bukanya tadi Rania pergi naik ojol?kenapa balik lagi diantar mobil?apa mungkin mereka orang tua si bos?tapi kok orang tuanya masi terlihat sangat muda?


Rania masuk ke ruko lebih dulu sambil mengucapkan salam,mereka menjawabnya serempak.


"Kenalin..ini mama papa aku,ini adikku Reno.lucu ya?" ujar Rania sambil menowel-nowel pipi Reno yang masih saja tertidur.Si gembul itu memang mudah sekali tertidur jika perutnya sudah kenyang dan terkena angin sedikit saja.


"ma,pa,kenalin..ini Tika dan Erna yang bantuin aku jualan." Kedua pekerja itu bersalaman secara bergantian dengan pasangan Hirawan yang juga bersikap ramah pada mereka.


Sore itu juga Ardi memaksa Rania segera pulang ke rumah.Rania yang awalnya mengulur waktu jadi merasa tidak enak hati.Akhirnya mereka mengantarkan Rania ke toko untuk mengambil buku-buku dan hal-hal kecil lainnya untuk di bawa pulang.Pasangan itu sangat merindukan putrinya hingga tidak ma mendengar penundaan.Mama papanya malan ikut naik ke atas untuk memastikan jika selama ini putri mereka hidup layak di ruko dua lantai itu.


"Ya ampun Raaaann...." pekik mamanya saat melihat isi kamar Rania yang hanya beralaskan karpet dan kasur lantai tipis serta almari plastik kecil disudut ruangan.


"kenapa sih ma?"


"kamu ini,bagaimana bisa tidur dengan alas seperti ini sih?kenapa nggak ambil uang pemberian Dewa untuk membeli barang-barang yang membuat kamu nyaman?" oceh sang mama lagi.Papanya cuma geleng-geleng kepala melihat sekeliling ruangan yang serba sederhana itu.Rania dilahirkan dalam keluarga kaya.Nenek kakekknya seorang pengusaha kaya yang merelakan putra putrinya menikah diusia muda.


"Ma...apa kau tidak ingat,dulu kita juga hidup begini diawal menikah." kata Ardi serak.Dia selalu saja ingat hal itu.Saat dia diusir dari rumah karena menghamili Yanti yang merupakan putri saingan bisnis papanya.Dia dibuang tanpa membawa apa-apa saat keluar dari rumah.Yanti yang mengetahui hal itu juga nekat mengikutinya ke jalanan karena orang tuanya juga bersikeras menentang hubungannya denga Ardian hirawan.Mereka hidup sederhana dirumah kontrakan,bekerja serabutan asal bisa makan dan bertahan hidup.


Ardi menunjukkan sikap gigih dan pekerja kerasnya.Dia bekerja dari pagi hingga malam agar Yanti dan calon anak mereka hidup layak.Mereka pindah dari kontarakan petak menuju rumah yang lebih layak huni karena kerja kerasnya.Mereka,pasangan muda yang ingin membuktikan pada dunia tentang cinta,tentang tekad dan kehidupan.


Orang tua Yanti yang mengamati keduanya dari jauh menjadi luluh karena sikap Ardi hingga beberapa minggu menjelang kelahiran Rania,keluaraga Lesmana menjemput dan memaksa mereka pulang ke rumah.Sejak itu Ardi diserai proyek properti yang dia kembangkan hingga sekarang.


Yanti yang tadinya cerewat seketika terdiam saat suaminya menyinggung masa lalu mereka.Bisa dibilang,keadaan Rania jauh lebih baik dari mereka yang dulu hanya tidur beralas tikar tanp bantal,cuma bisa ngontrak dikamar kecil yang pengap dan hidup berdempetan dengan banyak orang.

__ADS_1


"Rania ingin belajar mandiri seperti kata Dewa,ma.Kalau dia nyaman ya nggak apa-apa kan?" kata ardi lagi.Yanti hanya bisa mengangguk lalu meletakkan Reno dikasur itu,menyalakan kipas angin agar sikecil tidak terbangun karena kepanasan lalu beranjak membantu Rania mengemasi barang-barangnya.


"Ran,kamu sudah telepon Dewa?" tanya mamanya kemudian.Rania menegakkan tubuhnya.Tegang.


"belum ma,nomer om Dewa kehapus."


"kamu ini memang ceroboh Ran.Masak nomer suami sendiri bisa hilang?nanti biar mama kasi.Trus kamu telepon dia.Lagian kamu masih manggilnya 'om' melulu.Kamu pikir Dewa itu om kamu apa?" lagi-lagi sang mama mengomel seperti kebanyakan emak-emak yang rating kiri belok kanan.Rania hanya diam.Dari kecil dia memang tidak pernah membantah jika mamanya sudah mengomel.Jangankan dia,papanya juga memilih mode diam saat sang Ratu rumah sudah bersuara dengan nyanyian panjan khas omelan para wanita.


"Ran!!dengar mama nggak sih?" sentak Yanti saat tidak mendapatkan respon dari Rania.


"iya dengar ma."


"panggil 'mas' aja ke Dewa."


"iya." jawab Rania jengah,lelah berdebat dengan mamanya yang akan terus punya power kuat sekuat baterai alkaline kalau sudah mengomel.Lebih baik bilang iya agar selamat dari gerutuan mamanya.


"Ran,Dewa telepon nih.Angkat gih." seru papanya sambil menyerahkan ponselnya.Rania enggan menerimanya.


"Neleponnya ke ponsel papa.Ya papa aja yang angkat.Aku mau turun duluan pa." katanya cepat lalu beranjak menuruni tangga.Bagaimanapun dia harus menghindari Dewa.Dia tidak ingin semakin jatuh cinta pada orang yang sudah menjadi suaminya.Suami yang hanya bisa dia miliki diatas kertas.


Lama Rania ada dilantai bawah,tapi tidak ada tanda-tanda orang tuanya akan turun.Mau tidak mau dia naik ke atas untuk memastikan apa yang dilakukan orang tuanya diatas sana.Sayup-sayup dia mendengar tawa riang papa mamanya.Ahh...mungkin Reno yang bertingkah lucu,dia jadi ingin ikut bercanda dengan si gembul.


"Ran sini!" teriak mamanya sambil melambaikan tangannya.Rania bergerak pelan.Tangan mamamya masih memegang ponsel papa,artinya mereka masih asyik video call dengan Dewa.Rania meruntuki kebodohannya.Harusnya dia tidak naik kesana dan membuat perkara.

__ADS_1


"Nih,ngomong sama suami kamu." Mamanya melotot padanya,senada dengan papanya yang memberi isyarat agar Rania bicara dengan Dewa.


"Dhek,kamu beneran mau tinggal ditempat papa?"


deg...deg...degg....


….....dhek??????.....


kemarin sayang,sekarang dhek?ahh..tampaknya Dewa yang memaksa Rania harus olah raga jantung dua hari ini.


"i...ya...om"


"Rania!!!!" bentak papa mamanya berbarengan,lagi-lagi dengan mata melotot padanya.Nyali Rania jadi ciut.Buru-buru dia menutup mulutnya dengan sebelah tangan.


"iya Mas." ujarnya setengah tergagap karena gugup parah.Panggilan itu membuatnya canggung.Diseberang sana,Dewa tersenyum manis sambil menatapnya dalam.Rania mengalihkan pandangannya karena takut bersitatap dengan Dewa.


"kamu udah makan dhek?" tanya sang suami lagi.


"ta..tadi udah ditempat mama ma...mass."


"syukurlah." ujarnya lagi.Dari sana terdengar seseorang masuk dan bicara pada Dewa dengan bahasa Inggris yang fasih.Lelaki itu mengatakan jika Dewa ditunggu untuk meeting sebentar lagi.


"Dhek,nanti aku telepon lagi ya.Ada meeting dadakan."

__ADS_1


"iya mas." Rania sedikit bernafas lega saat Dewa mengucapkan salam dan menutup panggilannya.


"Bicara sama suami kok kaku amat sih Ran??" tegur papanya sadis.Dia tidak tau anak gadisnya itu begitu gugup menata hati dan perasaannya.


__ADS_2