
Rania sampai dirumah kontraknya saat adzan ashar bergema.Tubuhnya terasa penat.Dia melambaikan tangan ke arah Bintang yang tinggal dua rumah setelah rumah yang ditempatinya bersama Mela.Dengan wajah lelah Rania membuka pagar.Dia hampir saja melonjak kaget saat pintu rumah terbuka dari dalam.Rupanya Mela sudah sampai lebih dulu.Dia bahkan sudah terlihat segar dengan celana pendek dan kaos oblongnya.
"Kok sampe jam segini sih Ran?"
"kamu sudah pulang dari tadi ya Mel?" Rania balik bertanya.
"Ditempat magangku tuh jam 3 sudah off."
"Beruntung kamu.Andai saja kita bisa bertukar tempat....."
"udah deh Ran.Bersyukur aja.Emang kita masih adaptasi,nanti juga lama-lama kita kerasan disini." Rania tidak menjawab.Dia melepas sepatunya lalu masuk ke dalam rumah.Amat sulit menceritakan pada Mela jika Dewa adalah bos ditempatnya magang sekarang.Dia tidak ingin Mela histeris dan menelepon papanya.
Rania masih menyelesaikan rekaat terkhirnya saat ponselnya berdering.Dia tidak menghiraukannya dan tetap menyelesaikan ibadahnya dengan khusyu.Ponsel kembali berdering saat dia melepas mukenanya.Sebuah nomer asing meneleponnya.Hati-hati disentuhnya tombol hijau lalu meletakkannya didekat telinga.
"Asalamulaikum."
"Walaikumsalam..Rania,ini saya ibu Laura." balas seseorang diseberang sana.Rania berjengkit kaget.Ada apa dirut Budi utomo lestari itu meneleponnya.Seingatnya dia tidak melakukan kesalahan apapun.
"I..iya bu..ada yang bisa saya bantu?" lanjut Rania tergagap karena masih harus bertanya jawab dengan hatinya.
"Kamu tinggal dimana?saya ada didekat kamp kalian."
"i..bu mau kesini?"
"ya,kalau kau ijinkan."
"Saya tinggal dirumah no 1 bu." katanya kemudian.
"Baik..saya kesana." lalu sambungan telepon terputus.Rania bergegas merapikan rambut panjangnya lalu keluar kamar dengan baby doll pink tua yang kontras dengan kulitnya.Dia memang berencana rebahan sambil menunggu maghrib nanti.
__ADS_1
"Mau kemana Ran?" tanya Mela yang duduk manis di teras sambil membalas chatting seseorang.Belum sempat menjawab,sebuah mobil berhenti tepat dipintu pagar.Mela memincingkan matanya.
"Siapa sih Ran?" tanyanya ingin tau.
"Dirut Budi utomo Lestari Mel."
"bukannya itu tempat magangmu?" Rani mengangguk.Mata Mela membulat sempurna,menatap pintu belakan mobil yang terbuka.Seorang wanita turun,tapi masih ada seseorang yang duduk tenang didalam sana.Rania tau itu Dewa.Saat wanita itu mendekat,Mela terlihat shock.
"k...ka ...kak Laura." pekiknya diangguki wanita cantik didepannya.Spontan Laura mendatangi dan memeluknya.Terlihat Laura sangat menyayangi Mela.
"Bagaimana kabarmu princes?" sapanya ramah.Mela seperti anak kecil yang menemukan mainan barunya.Dia aktif bercakap-cakap dengan Laura yang juga terlihat akrab dan sangat merindukannya.
"Kalian sudah makan?kakak bawakan sesuatu." kata Laura sambil mengangsurkan beberapa makanann kotak beserta air mineralnya.
"Banyak amat kak,kami cuma berdua."
"sisanya kasi ke temanmu saja."
"lain kali saja aku mampir princes,ada acara mendadak.Cukup tau saja kalian tinggal disini.Semoga betah ya." kata Laura lagi.Setelah sedikit berbasa-basi Laura pamit pulang.Nafas lega terdengar dari hidung Rania.Dia mendahului Mela untuk masuk.
"Ran,itu tadi mantan tunangan kak Firman."
"Sudah tau."
"Hey,kak Laura cerita?"
"bukan.Kak Firman yang cerita.Kami bertemu kemarin malam di mall."
"kenapa kalian tidak cerita sih?"
__ADS_1
"Aku lupa karena terlalu lelah Mel.Maaf ya"
Lalu mengalirlah cerita tentang hubungan Firman dan Laura dari bibir Mela.Rania mendengarkannya sambil memakan makanan yang dibawakan Laura tadi.Dia juga menghubungi Bintang agar datang mengambil tiga kotak lainnya agar tidak mubadzir.
Mereka terus terlibat percakapan dua sahabat.Menceritakan pengalaman baru masin-masing ditempat yang berbeda hingga ketiduran di kamar Mela.
Seminggu berlalu,tidak ada hal berarti yang terjadi.Semua aman terkendali.Rania juga sudah mulai terbiasa diacuhkan oleh Dewa.Dia mencoba bersikap sama,pura-pura tidak kenal.Bukankah tidak ada orang lain yang mengetahui hubungan mereka kecuali Mela?gadis itupun sedang tidak berada satu tempat dengannya.
Pagi itu Rania bangun terlambat karena semalam perutnya terasa melilit dan membuatnya tidak bisa tidur.Mela sudah melarangnya masuk dan sudah memesankan makanan hangat untuknya.Tapi malah membuat dia mual dan tidak jadi menyentuhnya.Setengah memaksakan diri dia berangkat walau kaki sedikit gemetar.
Semua tempat terasa sepi saat dia menjejakkan kakinya dilobi.Memang sudah lewat lima belas menit dari jam masuk kerja yang seharusnya.Tapi Rania tetap nekat.Bukankah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali?Dia tau benar kantor itu sangat disiplin.Jangankan pegawai magang,karyawan tetap saja tidak berani datang terlambat.
"Rania." panggil wakil pengawas devisi keuangan,Rosa namanya.Rania berbalik menghadapnya.Jelas sekali wanita tambun di depannya ini terlihat marah.
"iya bu."
"Kau terlambat 20 menit.Apa kau pikir ini kantor ayahmu?kau sama sekali tidak patuh pada tata tertib.Baru magang saja kau sudah tidak disiplin,bagaimana nanti kalau sudah bekerja?Iihat teman-temanmu yang lain.Mereka selalu on time.Tidak seperti dirimu." kata pengawas divisi panjang lebar.Rania hanya mampu meminta maaf berulang kali.
"Sebagai hukuman,kau harus menyelesaikan laporan ini.Jangan pernah berpikir pergi dari mejamu jika laporan ini belum selesai." perintahnya dengan tatapan tajam.Rania mengangguk lalu membawa berkas-berkas itu ke mejanya.Bintang hanya berani menyapanya sekilas.
"Berikan beberapa padaku Ran.Biar aku bantu mengerjakan.Nenek sihir itu benar-benar keterlaluan." bisiknya tanpa menoleh,menghindari tatapan tajam sang pengawas dengan pura-pura sibuk mengerjakan tugasnya.
"Tidak usah Bin,ini salahku.Aku harus menyelesaikannya." balas Rania dengan bisikan yang sama.
"Jangan melakukan hal bodoh Rania.Tugas sebanyak itu akan menahanmu hingga sore nanti.Kita disini cuma magang tanpa digaji.Nenek sihir itu malah enak-enakan bermain ponsel.di mejanya." desis Bintang lagi sambil mengerling kearah Rosa yang memang tampak tertawa bahagia dimejanya.Terang saja dia bisa melakukannya karena tugasnya hari ini sudah dibebankan pada Rania yang memang terlihat kurang sehat.
Hari berganti siang.Bintang menyudahi pekerjaanya dan bersiap menuju kantin.Hari ini mbak Nastiti memang ijin tidak masuk karena anaknya sakit.Jadilah ruangan ini menjadi terlihat tegang karena diawasi langsung oleh sang nenek sihir Rosa sebagai wakil pengawas devisi.
"Istirahat dulu Ran.Wajahmu tampak pucat." kata Bintang membantu membereskan tumpukan berkas milik Rania.Wanita itu menggeleng.
__ADS_1
"Kamu nggak dengar bu Rosa melarangku meninggalkan meja kalau kerjaanku belum beres??" sahutnya sambil tetap berkuat dengan angka.
"Tapi wajahmu pucat banget lho Ran.Atu begini saja,aku bawakan makan dari kantin ya?kamu bisa makan disini." kata Bintang solutif.Akhirnya Rania mengangguk dan menitipkan selembar uang untuk membeli makanannya.