
"Ran,makan dulu ya.Ini kubawakan minuman hangat juga." kata Bintang sembari meletakkan sebuah kotak makan dan satu cup minuman.Rania meneguk minuman hangat itu,terasa sangat nyaman membasahi tenggorokannya.Saat dia hendak menyuapkan makanan kedalam mulutnya,seseorang datang dan menghardiknya.
"Siapa yang menyuruh kamu makan?enak sekali kamu makan dan minum disini.Sekali selembar berkas saja terkena kotoran dari makananmu,kau akan tau akibatnya!selesaikan hukumanmu baru boleh makan." katanya ketus.Bintang berdiri dari kursinya dengan wajah geram.
"Bu,ini jam isirahat.Hak kami untuk makan dan minum.Hukuman anda tidak bisa merubah peraturan itu.Kalau anda mau bikin aturan baru,itu harus seijin bu Nastiti atau direktur perusahaan." kata gadis itu dengan tatapan berani.Dilain pihak,Rosa tersulut emosi dan menggebrak meja.
"Kau hanya anak magang.Menentangku berarti kamu ini siap dihukum."
"Hukum saja kalau anda bisa karena saya akan melaporkan anda pada pimpinan perusahan agar anda dipecat." Keduanya tetap ngotot tak menyadari seseorang sudah sampai didekat mereka.
"Ada apa ribut-ribut?" suara bariton itu tidak membuat keduanya berhenti bertengkar.Bintang malah makin berteriak lantang.
"Anak komodo ini menghukum teman saya tanpa kemanusiaan.Perusahaan apa yang mempekerjakan orang tak punya hati seperti ini?" dengusnya kesal.Rosa tak mau kalah dan terus mengatakan soal hukuman.
"Diam!!" bentak orang itu keras hingga keduanya terkesiap dan menoleh bersamaan.Dewa berdiri tegak dengan wajah dingin dan tatapan tajam pada keduanya membuat mereka berdua mundur dan mengangguk hormat.
"Maafkan saya pak.Tapi dia membuat sahabat saya....ahh..ya ampun Rania..apa yang terjadi!!" pekik Bintang saat memandang ke meja sekilas dan melihat Rania sudah terjatuh dari kursinya.Rekannya pingsan,pantas saja tak ada suara lain saat keduanya sedang bertengkar dengan sengit tadi.Dia bergerak cepat menghampiri Rania dan mengguncang tubunya saat sebuah tangan kekar meraih tubuh mungil itu dan membawanya dalam gendongannya.Seluruh mata karyawan yang sudah menghabiskan jam makam siangnya menatap semuanya takjub.Dewa,yang sang pimpinan yang biasanya bersikap dingin dan tidak peduli pada orang lain membopong tubuh Rania yang lemah.
Dua orang satpam menghampirinya,bermaksud menggantikan dirinya.Tapi Dewa menolaknya.Rania tetap berada dalam pelukan hangatnya.Sebelum beranjak dia berbalik dan menatap Rosa dengan tatapan mematikan.
"Jika terjadi apa-apa pada istriku,maka aku tidak akan mengampunimu." bentaknya hingga membuat lutut Rosa gemetaran.Istri??apa mereka semua tidak salah dengar?sejak kapan pimpinan mereka punya istri?
Dewa membopong tubuh Rania dan membawanya masuk ke ruanganyannya.Meletakkan tubuh lemah ITU disofa panjang ruangannya.Dia segera menghubungi dokter diklinik dekat kantor mereka agar datang kesana secepatnya.Dewa menggosok telapak tangan Rania yang dingin,memandangi wajah cantik yang memucat itu dalam.Air matanya menitik manakala dia mengecup dahinya lembut.
__ADS_1
Ranianya....kenapa takdir mempertemukan mereka kembali?
Ketukan dipintu terdengar,sekretarisnya membukakan pintu membawa masuk seorang dokter wanita yang berjalan dibelakangnya.Dengan cekatan dokter itu memeriksa keadaan Rania.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Dewa dengan wajah cemas tak terkira.
"Istri anda mengalami ganguan lambung.Hati-hatilah menjaga pola makan dan jangan biarkan dia kecapekan.Kelihatannya dia juga banyak pikiran sehingga asam lambungnya naik pak." jelas sang dokter lagi.Dioleskanya alkohol agar Rania cepat tersadar.
"Aku...dimana?" bisik Rania sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
"Anda sudah sadar bu,jangan banyak bergerak dulu.Pak,berikan istri anda minuman manis dan hagat agar tenaganya pulih.Sepertinya dia juga dehidrasi." Dewa menelepon OB agar membuatkan minuman hangat keruanganya.
"Ini resepnya,kalau tidak ada lagi yang anda tanyakan saya permisi."
"Terimakasih dokter." katanya sambil mengantarnya hingga ke pintu keluar.Selepasnya,Dewa berbalik kearah Rania yang sudah akan berdiri.
"Tapi saya harus menyelesaikan pekejaan saya pak." tolak Rania halus.
"Makanlah dulu.Setelah itu ikut aku." perintah Dewa mengulurkan semangkok soto hangat yang baunya sangat menggoda.Seorang OB baru mengantarnya tadi.Tak kunjung menyentuh makanannya membuat Dewa gemas dan mengambil inisiatif menyuapinya.
"Makanlah.."
"sa..saya bisa makan sendiri pak." jawab Rania menundukkan kepalanya.Bersitatap dengan Dewa selalu membuat jantungnya berdetak tak terkontrol.Dewa tetap memaksa hingga mau tidak mau Rania membuka mulutnya.Wajahnya sedikit tersipu saat sekretaris Dewa masuk dan menyerahkan obat Rania.Sekejap kemudian dia keluar.
__ADS_1
"Minum obatnya dek." lagi Dewa memaksanya meminum obatnya.Jantungnya kembali berdesir,sesuatu yang aneh menelusup dirongg dadanya.Ingin dia memangkas jarak dan mengambur kedalam pelukan Dewa,tapi dia sadar dirinya bukan lagi siapa-siapa.Dewa hanya menolongnya karena sebuah kewajiban,tidak lebih dari itu.Memikirkan itu saja sudah cukup membuat dadanya sesak.
"Saya sudah baikan pak,ijinkan saya keluar." kata Rania kemudian.Dewa menatapnya lekat.
"pulang dan istirahatlah." putus Dewa kemudian.Rania mengangguk lalu keluar dari sana.Hanya basa-basi mengantar pulang saja tidak ada dalam pemikiran Dewa.Hampir mencapai pintu saat Rania berbalik lagi menghadap ke arah Dewa.
"Permisi pak,berapa biaya pemeriksaan tadi?saya akan menggantinya." Dewa menatapnya tidak suka.
"Apa aku semiskin itu hingga harus minta ganti rugi padamu Rania himawan sukma??"
"Maaf dan terimakasih pak." ujar Rania lalu keluar dari sana.Semua mata memandang aneh padanya hingga Rania salah tingkah.Ada apa ini?batinnya kebingungan.
Langkah kaki yang cepat dibelakangnya membuatnya berjengkit kaget.Ada sekretaris Dewa yang berusaha menyusulnya.Suara hak sepatunya serasa musik apik yang menopang sebuah lagu.
"Bu,tunggu."
"ya,ada apa ya mba?" tanyanya bingung,kenapa dia dipanggil ibu??Hampir mencapai mejanya saat sekretaris itu berhasil menyusulnya.
"Bu,bapak pesan agar ibu pulang diantar Bintang.Bapak khawatir terjadi apa-apa jika ibu berjalan pulang sendirian." kata sang sekretaris dengan sikap hormat,tidak seperti biasanya.Melihat itu,Rosa segera memburu Rania lalu memegang tangannya,memohon.
"Bu Rania,tolong maafkan kesalahan saya.Saya janji tidak akan mengulanginya.Tolong katakan pada pak Dewa suami ibu agar tidak memecat saya." katanya dengan nada memelas.
"Suami?" beo Rania masih kebingungan.
__ADS_1
"Pak Dewa sudah mengatakan semuanya pada kami." jawab sang sekretaris tegas.Tenggorokan Rania tercekat.Apa sebenarnya mau Dewa dengan mengatakan semuanya?
"Maaf mbak Rosa,itu diluar kemampuan saya.Mbak Rosa langsung menghadap pak Dewa saja ya.Bukan kapasitas saya untuk ikut campur.maaf." jawab wanita cantik itu lugas,namun sudah sanggup membuat persendian lututnya melemah.Apa yang bisa dia kerjakan untuk menopang kehidupan keluarganya jika Dewa benar-benar memecatnya?