Balada Cinta Belahan Jiwa

Balada Cinta Belahan Jiwa
Persalinan


__ADS_3

Dokter Klara terus memberikan istruksi pada Rania yang terihat mengigit bibirnya menahan sakit tak terperi pada perutnya yang terasa mulas berat.Alexander memang meminta pelayanan ekstra pada pihak rumah sakit untuk menyambut kelahiran cucu pertamanya.Beberapa menit lalu dokter itu menginformasikan jika Rania sudah buka 8.Artinya beberapa saat lagi calon bayinya akan lahir.Keringat membasahi tubuh dan wajah Rania yang terus menggengam erat jemari Dewa yang setia menemaninya dikamar persalinan.


Beberapa kali air mata Dewa berlinang.Tak tega rasanya melihat Rania menahan sakit dan mengejan sekuat tenaga berjuang melahirkan bayi mereka yang belum diketahui jenis kelaminnya.Mereka berdua memang sepakat tidak melakukan USG untuk tau jenis kelaminnya.Bagi Rania dan Dewa,apapun jenis kelaminnya saat terlahir kedunia nanti tidaklah penting.Apalah arti jenis kelamin bayinya...bukankah mendidik dan membesarkan mereka adalah tanggung jawab terbesar nantinya??


"oeee..ooooeee .. ooooeeeekk."


"Alhamdulilaaahhh..." ujar Dewa saat mendengar tangisan bayi mereka.Dokter Klara segera mengangkat bayi yang masih dipenuhi darah itu untuk dibersihkan.Tangis sang bayi sangat kencang hingga Alexander,Tom san Frans yang menunggu diluar ruangan bisa mendengarnya.Tom dan Frans menyalami Alex aecara bergantian untuk mengucapkan selamat atas kelahiran cucu pertamanya.Penerus Wright nantinya.


"Selamat pak,bayi anda laki-laki.Sangat tampan.Anda bisa menggendongnya sekarang" ujar dokter Klara sambil meletakkan bayi merah itu kedua tangan Dewa yang terlihat bergetar.Tangisnya sudah reda karena sang dokter sudah memberinya susu formula.Didekatinya telinga putranya lalu Dewa mengadzaninya dengan suara merdu yang entah mengapa membuat mata sang bayi seolah meliriknya dan menarik bibir mungilnya untuk tersenyum.


"Sayang...lihat,putra kita sangat tampan.Terimakasih sudah melahirkannya untukku." bisik Dewa dengan air mata berlinang.Dia sangat terharu.Dikecupnya pipi sang bayi.


"David...namanya David Narendra Wright." ujar Dewa penuh haru.Sekali lagi dia mengecup pipi sang putra lalu menidurkannya disisi Rania,membiarkan istri tercintanya itu menatap putra mereka.


"David ...kau sangat tampan nak." bisiknya.Air matanya menetes.Dia sudah menjadi seorang ibu sekarang.Dua orang perawat datang untuk memindahkan ibu dan anak itu ke kamar perawatan.Dewa bersikeras tidak mau putranya diletakkan di ruang bayi terpisah dari ibunya.Pihak rumah sakit tidak bisa berkutik karena Alexander adalah pemilik saham terbesar disana.

__ADS_1


Pintu terbuka saat Dewa menggendong bayinya keluar dari sana,mendekati sang papa yang sudah tersenyum lebar padanya.Sedangkan dua orang perawat mendorong brankar Rania ke ruang perawatan VVIP.Mereka masih harus ada disana hingga esok pagi.


"Pa,lihatlah...cucumu laki-laki." kata Dewa sambil menyerahkan putranya kedalam gendongan Alexander.Pria tua yang masih terlihat gagah dan tampan diusianya itu terlihat sangat bahagia.Berulang kali dia menciumi cucunya itu.


"Siapa namanya son?" tanyanya tanpa melepas pandangannya dari bayi berhidung mancung dan montok itu.


"David pa,David Narendra Wright." ujar Dewa mantap.Alexander kembali meneteskan air mata.Ada nama Wright dibelakang nama cucunya.Sedari tadi dia diresahkan oleh hal itu.Dia takut kalau Dewa tidak mau meneruskan Wright crop dan tidak memakai marganya hingga orang lain menganggap bayi itu bukan cucu Alexander nantinya.Tapi lihatlah...putranya begitu bijak dan masih menghormati dirinya.Marga Wright adalah warisan para leluhurnya di Australia.Diam-diam Alexander merasa bahagia.Tidak ada lagi yang dia takutkan lagi.


"Ayo kita bawa David ke kamar Rania pa." ajak Dewa kemudian.Frans dan Tom mengangguk lalu mengikuti langkah keduanya menuju ruangan Rania.


"Son,ada hal yang akan papa bicarakan pada kalian." ujar Alex dalam.Dewa dan Rania mengangguk bersamaan.Alex duduk dikursi kosong didekat brankar itu,menyilangkan tangannya di dada.


"Papa cabut permintaan papa tadi."


"Maksud papa?" tanya Dewa tidak mengerti.Dia sama bingungnya dengan Rania yang gamang melihat wajah datar Alexander yang sukar ditebak.

__ADS_1


"Papa rasa,papa belum terlalu tua untuk pensiun diusia lima puluhan.Jadi papa memutuskan akan tetap mengurus Wright crop hingga cucu papa dewasa nantinya.Tiba-tiba pria tua ini ingin hidup lebih lama untuk melihat David dan adik-adiknya lahir nanti." kata Alexander dengan senyum merekah.Lelaki paruh baya itu terlihat sangat bahagia.


"Aku tidak akan mewariskan Wright crop padamu Daniel.Karena kau tadi berkata kau ingin mandiri dan berusaha sendiri.Semua saham atas namamu tetap menjadi milikmu,namun semua saham atas namaku akan kuwariskan untuk David.Dia yang akan memegang kekuasaan Wright crop nantinya.Mulai saat ini jaga cucuku baik-baik karena aku akan memantaunya langsung.Dia juga tidak akan menggunakan uangmu sepeserpun karena pria tua ini yang akan menanggung semua biaya hidupnya.Son,anggaplah ini sebagai tebusan atas kesalahan papa padamu." Mata Aleander kembali berlinang saat mengatakan semuanya panjang lebar.Dia adalah seorang kakek sekarang.Davidlah harapannya dimasa depan,penyemangatnya untuk tetap bekerja keras.Dia sudah menemukan pewarisnya dan Alex harus mempersiapkan segalanya sejak dini.


"Papa...."


"Daniel...aku titipkan David pada kalian.Tapi ingat,papa tidak ingin hanya ada satu cucu.Papa ingin banyak cucu hingga rumah kalian ramai saat papa berkunjung.Papa yang akan menanggung seluruh biaya hidup mereka.Biarkan aku menjadi opa yang bahagia."


"Tentu papa...tentu." balas Rania penuh haru.Alexander menyentuh tangannya.


"Terimakasih sudah membuatku menjadi opa Rania.Ohh satu lagi...papa akan menanam saham pada perusahaan aritekturmu Daniel.Anggap saja papa membantumu berkembang.Kau tidak bisa menolaknya son,sama sekali tidak boleh!." katanya tegas.Rania dan Dewa kembali mengangguk.Dewa membimbing papanya ke sofa dan mengajaknya berbincang disana.Dia juga menyarankan Alexander untuk pulang lebih dahulu dan beristirahat dirumah karena dia tau papanya capek setelah perjalanan jauh dari Australia.Alex yang mulanya menolak luluh juga.Tom mengantarnya pulang,sedang Frans masih ada disana,berjaga diluar ruangan kalau-kalau sang majikan membutuhkan bantuannya.


"Sayang....akhirnya Tuhan membuka hati papa." bisiknya sambil terus mengelus rambut Rania mesra.


"Syukurlah mas,aku sangat bahagia karena semua anugerah ini.Sekarang mas istirahat ya.Aku sudah tidak apa-apa.Istirahatlah selagi bisa.Takutnya nanti David terbangun dan menangis.Aku pasti membutuhkanmu nantinya." Dewa mengangguk,menyelimuti tubuh Rania yang memang terlihat mengantuk.Dia memastikan dulu istrinya tertidur,lalu menuju tempat tidur lain yang disiapkan pihak rumah sakit.Dewa berusaha tidur.

__ADS_1


__ADS_2