
Rania baru saja mengantar Dewa hingga ke pintu utama saat Christ turun sambil membenarkan letak kacamata hitamnya yang membuat wajah tampan nan dewasa miliknya terasa berlipat lebih tampan dari biasanya.
"Apa Daniel sudah berangkat?" tanyanya dengan wajah tak terbaca.Rania menoleh dan menjawab jika Dewa baru saja berangkat dengan Frans.Christ manggut-manggut.
"Om mau kemana?"
"sebenarnya aku ingin jalan-jalan tapi tidak punya tempat tujuan.hmmm..apa kau juga akan ke kampus pagi ini?"
"tidak om,saya hanya mau ke ruko hari ini,nanti pulang sebelum mas Dewa datang."
"boleh saya ikut?" Rania tidak menjawab.Ada bimbang disudut hatinya,tidak tau harus menjawab apa.
"ehmm...saya tanya mas Dewa dulu om." jawabnya diplomatis.Rania merasa tidak enak hati karena harus pergi bersama Christ yang selalu bersikap dingin dan julid padanya.
"Kenapa harus tanya?aku ini pamannya."
"Bukan begitu om,saya seorang istri.Dalam akidah kami seorang istri itu harus nurut sama suami,juga harus minta ijin saat dia mau keluar rumah atau menerima tamu sekalipun." Christ mengangguk,mendaratkan pantatnya ke sofa.
Rania bergegas mengambil ponselnya dikamar lalu menghubungi Dewa yang masih diperjalanan.Pria itu memasang wajah sumringah dan mengucapkan salam yang dijawab Rania dengan berat.
__ADS_1
"Ada apa dek?apa kau sudah merindukanku lagi?apa semalam kurang?" goda Dewa begitu sang istri terdiam diseberang sana.Wajah Rania memerah seolah Dewa nyata menggodanya di depan mata.Kurang bagaimana?suaminya itu tidak membiarkannya memakai pakaian layak semalaman dan hanya mengijinkannya tidur dalam pelukannya yang berbalutkan selimut tebal.Dewa seakan tidak melepaskannya semalam.
"dek??apa aku perlu pulang lagi?" suara itu makin terasa menggoda.
"ehmm...ti..tidak mas.Bu..bukan itu." balas Rania tergagap saat menyadari Dewa menunggu jawabannya.
"lalu?"
"itu...om Christ ingin ikut aku keruko." Diseberang sana Dewa tertawa riang seolah melepaskan rasa penasarannya.
"kok malah tertawa?"
"kenapa tidak mas Dewa saja yang mengajak om Christ jalan?aku takut terjadi fitnah mas." gerutu Rania.Sejak kecil dia memang selalu menghindari kontak dengan lawan jenis karena pengaruh Dewa yang super protektif,sekarang hal itu malah mendarah daging pada dirinya.Rania begitu kesal saat suaminya kembali tertawa.
"dek,om Christ itu pamanku,bukan orang lain.Fitnah apa?toh aku sudah mengijinkanmu dan akan memantaumu setiap detik.Kau istriku Rania,aku percaya padamu." Rania hanya mengangguk pasrah sesaat sebelum menutup panggilannya.Sedikit tak bersemangat,dia menuju lemari dan mengganti pakaiannya dengan yang lebih layak.Dikeluarkannya tunik polkadot kuning telur dan dipadukan dengan celana pensil hitam dan kerudung senada lalu mengoleskan lisptik tipis agar wajahnya terlihat segar.Berlahan dia menuju ke ruang tamu dimana Christ duduk menunggu sambil memainkan ponselnya.
"Bagaimana Ran,apa Daniel mengijinkanmu?"
"iya om,mari berangkat.Saya sudah memberitahu pak Rusman untuk bersiap." Christ bangkit dan berjalan lebih dulu menuju pintu.Pak Rusman sudah membuka pintu belakang yang langsung dimasuki Rania karena Christ masih bercakap-cakap dengan pak Rusman untuk sekedar bertanya kabar.Kalau diperhatikan,Christ ini termasuk golongan manusia ramah yang peduli pada orang lain,tapi phobia pada makhluk bernama wanita.
__ADS_1
Diluar dugaan Rania,pria berdarah Australia itu malah membuka pintu samping dan duduk manis di dekatnya.Lagi-lagi Rania menggeser duduknya membuat jarak dengan Christ yang serasa merapat kepadanya.Keduanya terlihat canggung dan tak mampu berkata-kata.Sepanjang perjalanan Rania memilih menatap jalan dengan segala kemacetan dan keruwetannya.Sedang Chrst?bule tampan itu malah sibuk dengan kameranya,mengabadikan semua itu.
Setengah jam kemudian,mereka sampai di ruko.Rania turun lebih dulu diikuti Christ sedang pak Rusman memarkirkan mobil silver keluaran terbaru itu diparkiran.Ini pertama kalinya dia mengantar nyonya bosnya yang lebih sering naik ojol dari pada menggunakan jasanya.Kadang pria ini merasa memakan gaji buta dirumah itu karena tugasnya yang memang jarang ada.Untuk mengisi waktu,Dewa menugaskannya mengurus taman dan kebun membantu istrinya,bik Sum yang kadang sibuk seharian dirumah.
Ruko dua lantai itu sudah diperluas dengan menambahkan satu unit disampingnya atas campur tangan Ardinata.Berulang kali Rania menolak namun mama papanya itu bersikeras jika itu adalah hadiah pernikahannya dengan Dewa.Jadilah dua bangunan itu dijadikan satu dengan yang dibeli Dewa.Terlihat luas dan lega juga terkesan elegan karena sentuhan arsitektur Dewa yang sangat detail.Entah berapa banyak uang yang dikeluarkan suaminya untuk itu.Rania sama sekali tidak boleh tau.
Dia mendorong pintu kaca dan memberi salam pada pegawainya yang menjadi 8 orang.Rata-rata mereka sibuk mengepak barang pesanan dan menyiapkannya dikotak khusus para kurir mengambil nantinya.
"Silahkan naik om,saya akan mengecek laporan sebentar." ucap Rania.Christ tidak menanggapi.Dia mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan,mengerutkan keninganya berulang.
"Ini laporannya mbak." Tika datang sambil menyerahkan tumpukan kertas yang sudah diklip rapi pada Rania.Christ menatapnya tajam.
"mbak?apa kau tidak bisa memanggilnya nyonya?dia majikanmu bukan?istri pemilik Wrigt crop.Tidak sepantasnya kau memanggilnya begitu nona.Sungguh tidak sopan." dengusnya kesal.Wajah Tika menjadi tegang.
"Tidak apa-apa om,saya yang memintanya." balas Rania lembut.Tika sedikit bernafas lega.Dia tau Rania majikan yang sangat baik hati,lagi pula wanita ini begitu sabar dan rendah hati seperti suaminya yang tampan.Dia selalu berbicara sopan pada siapapun,tidak seperti bule jutek di depannya.
"lain kali jangan bersikap terlalu baik pada karyawanmu Ran,disiplinkan mereka dan ajari cara menghormati orang lain." Rania menghela nafas panjang.Lagi-lagi Christ menguji kesabarannya.
"Mereka juga manusia,sama seperti kita om.Kita bahkan tidak bisa apa-apa tanpa bantuan mereka yang selalu bekerja keras tiap waktu.Kita hanya pemilik modal,merekalah pejuang yang sebenarnya.Saat kita menghargai orang lain,saat itu pula kita menghormati diri kita sendiri." Semua karyawan terhenyak oleh jawaban panjang namun tegas dari majikan mereka.Memang benar,selama ini mereka sangat menghormati Rania yang lembut dan bersikap seperti teman untuk mereka tanpa paksaan.Bekerjapun juga atas kesadaran,bukan rasa takut atau target tertentu yang dibebankan bosnya.Tidak ada atasan dan bawahan disini,semua bahu membahu.Rania juga tidak segan turut membantu saat mereka kewalahan menghadapi pesanan yang datang silih berganti.
__ADS_1
Christ tersenyum masam lalu menaiki tangga.Terlalu lama berdebat dengan istri keponakannya itu malah akan merusak moodnya.Rania mengikutinya dari belakang setelah meminta tolong pada Tika untuk membuatkan minuman untuk Christ.Sama seperti Christ,dia juga lelah berdebat dengan sang paman yang teralu arogan.b