
Setelah melewati hari penuh romansa,pasangan pengantin baru itu mulai disibukkan dengan aktifitas rutin mereka setiap akhir pekan.Rania yang hobi memasak sudah berkutat di dapur dengan peralatan perang dan celemek bermotif bunga kesayangannya.Rambutnya di jepit asal-asalan,meninggalkan beberapa helai rambut yang jatuh ke pipinya yang putih mulus sambil bersenandung lagu kesukaannya.Tangannya terlihat begitu terampil mengiris bumbu dan menggoreng ikan dipenggorengan.Hari itu Dewa ingin sarapan dengan gurami goreng dan sambal tomat beserta lalapannya.Lidah suaminya itu memang didominasi makanan sederhana khas jawa karena sejak kecil dibesarkan dilingkungan yang sederhana juga.
Dewa hanya tersenyum manis sambil sesekali menatap Rania yang tengah memasak.Dapur dan ruang makan memang tidak memiliki sekat.Itulah yang membuat dia betah berlama-lama disana saat akhir pekan atau hari libur,karena hanya pada hari-hari seperti itulah dia mengijinkan Rania memasak menu yang dipintanya.Sesungguhnya dia selalu menginginkan masakan istrinya setiap hari,namun dia juga tidak bisa bersikap egois yang malah akan membuat Rania kecapekan.Terlihat menjadi seorang pembantu dibanding seorang nyonya rumah.Dia tidak ingin itu.Dia ingin wanitanya bahagia,bukan menderita setelah menikah dengannya.Disesapnya kopi susu buatan Rania yang terasa sangat pas dilidahnya sambil membolak-balik halaman koran pagi itu.
Christ yang baru joging dihalaman memasuki dapur menuju dispenser dan kembali dengan segelas besar air putih.Dia mengambil duduk disisi Dewa yang menghadap ke dapur.Ekor matanya melirik Rania yang sibuk.
"Selamat pagi om." sapa Rania dan Dewa hampir bersamaan.Christ hanya tersenyum.
"Maaf,om mau dibikinkan kopi,teh,atau yang lain?" tawar Rania.Christ menatap padanya hingga keduanya cukup lama beradu pandang.Rania buru-buru menundukkan wajahnya,bukannya takut,dia malah merasa Christ menatapnya terlalu intens hari itu.
"Bikinkan aku kopi hitam saja." sahut Christ kemudian.Rania meraih gelas,meracik kopi hitam sembari menunggu air mendidih.Dia juga membalik ikan terakhirnya kemudian mengangkatnya dari wajan.Bau harumnya masih berpusar ke sekeliling dapur.
"silahkan diminum om." ucapnya ramah sambil meletakkan cangkir berisi kopi itu disamping Christ.Dewa yang asyik bercakap-cakap dengan pamannya itu menatapnya penuh cinta.Rania berbalik,lalu dengan cekatan kembali dengan nampan hidangan.Dia menyusun makanan dengan rapi dimeja mereka.Selepas itu dia melepas celemeknya lalu menuju ke kamarnya.Rupanya dia memilih pergi mandi dan mengganti bajunya yang bau keringat dan sudah bau ikan dimana-mana.
Dewa berdehem saat melihat Christ yang memandang istrinya hingga tak berkedip saat wanitanya itu turun mengenakan celana selutut dan kaos oblong warna putih yang membuatnya terlihat segar dengan rambut ekor kudanya.Chrst mengalihkan pandangannya dengan berpura-pura menatap taman samping yang asri ditumbuhi beraneka ragam bunga dan dedaunan karena Rania sendiri yang mengurusnya.
"Mas,mau sarapan sekarang?" tanya Rania penuh perhatian dan mendapat anggukan Dewa.
"Mau kapan lagi dek?dari tadi aku sudah tidak sabar menunggu." Pandangan Rania beralih pada Christ yang masih menopang dagunya dengan dua tangan diatas meja.
__ADS_1
"Sebaiknya aku mandi dulu.Kalian sudah rapi,aku masih begini."
"Tidak apa-apa om.Sekali-kali sarapan dulu juga tidak dosakan?kita cuma mau sarapan,bukan pergi ke pesta." gurau Dewa yang kemudian disetujui oleh Christ.Pria berdarah Austaralia itu tetap duduk anteng ditempatnya dengan kaos oblong dan celana pendeknya.
"Om,silahkan makan.Ada roti atau omellete kalau om tidak terbiasa makan nasi." kata Rania ramah.Dewa juga mempersilahkan Christ untuk sarapan.Rania bergegas mengambil piring dan mengisinya dengan nasi,gurami,lalapan dan sambalnya.Masakan sederhana,namun selalu membuat Dewa merindukan akhir pekan.
"ada yang mau ditambahkan mas?" tanya Rania lembut.Dewa memandangnya sekilas,namun cukup membuat Rania tersipu.
"cukup dek." balasnya sambil menerima piring dari tangan Rania.
"Terimakasih dek." ucapnya lagi,menatap Rania mesra hingga pipi istrinya merona.Dewa memang begitu,terlalu lembut memperlakukan dirinya.Christ hanya melirik mereka,bersikap acuh namun dengan telinga dan ekor mata yang siaga.
"Cobalah menu yang sama dengan kami om,sambal tomat bikinan Rania sangat luar biasa." puji Dewa sambil menunjuk piringnya.Christ yang tidak terbiasa dengan menu nasi saat sarapan termenung.Bau ikan goreng yang menggoda sudah meresap kedalam pikirannya.Melihat Christ hanya diam,Dewa memberi isyarat pada Rania agar mengambilkan menu yang sama untuk Christ.Saat Rania akan mengambil lalapan Christ menghentikannya.
"Om yakin?"
"Ya,saya pernah memakannya bersama kakak saat kami berkunjung ke Indonesia." balasnya.Rania buru-buru menyendokkan osengan itu lalu menyerahkan piringnya pada Christ.Kening pria itu berkerut melihat Dewa dan Rania asyik makan dengan tangan.
"Apa harus pakai tangan?" gumamnya pelan.
__ADS_1
"Tidak juga om,kami hanya terbiasa makan dengan cara begini." Christ mengangguk dan tetap menggunakan sendoknya dengan elegan.
"Bagaimana rasanya om?" tanya Dewa saat melihat Christ makan sangat lahap pagi itu,bahkan lebih cepat dari Dewa ataupun Rania.
"Ini sangat enak Dan,kau tau semuanya terasa pas dilidah saya.Kau luar biasa Rania" ucapnya,kali ini terdengar sangat tulus seraya mengelap ujung bibirnya dengan tissu.
"Terimakasih pujiannya om,aunty juga pasti jago memasak" seloroh Rania setengah bercanda dengan tawa riang,namun sekejap kemudian,roman mukanya berubah karena Dewa dan Christ saling pandang dengan tatapan aneh.
"Saya belum menikah." sahut Christ setelah sekian lama diam.Rania menutup mulutnya yang ternganga.Dia pikir Crist sudah memiliki keluarga bahagia di Australia karena sikap nyinyir yang ditunjukkan padanya.Tapi nyatanya??
"Tepatnya Om Christ belum ingin menikah Ran." ulang Dewa menggaris bawahi perkataan pendek pamannya.
"owhh..maafkan saya om."
"it's ok." jawabnya cuek lalu meneguk air putihnya.Rania mulai membereskan meja saat bi Sum datang membantunya.Dia baru saja selesai mengurus cucian.
"Mau kemana dek?"
"berkebun.Mas mau ikut?" Dewa beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Om mau ikut?" tawarnya pada Christ.Pria itu mengatakan akan menyusul nanti karena akan mandi dan berganti pakaian dahulu.Dewa mengiyakan dan menyusul langkah Rania yang sudah lebih dulu pergi ke belakang rumah.
Berkebun memang hobi Rania.Dia menanam berbagai macam tanaman disana.Wanita muda ini memang seperti sumber kehidupan dirumah besar itu.Disela kesibukannya dia masih menyediakan waktu untuk mengurus taman bunga dan kebun belakang dengan aneka tumbuhan yang indah dipandang mata.Lihatlah,putri sulung Ardinata itu bersorak girang saat melihat beberapa tanamannya tumbuh subur dan berbuah.Dewa hanya menggelangkan kepalanya.Hobi yang terlalu biasa untuk putri pemilik bisnis properti besar seperti Ardinata.Juga hobi menggelikan bagi menantu pewaris tunggal Wright crop yang menggurita dengan berbagai bisnisnya.Tapi semua itu tidak melunturkan rasa cintanya pada Rania.Ya...Rania,gadis kecil penyemangat hidupnya.Nyonya Daniel Wright.