
"Tidak usah melihat diam-diam,kau istriku...lihat saja sepuasmu." Rania buru-buru membuang pandang kearah lain.Wajahnya memerah karena malu ketahuan memperhatikan Dewa.Dia segera menarik selimut dan membenamkan diri di dalamnya.
Tubuh suaminya memang tidak berotot dengan perut sickpack seperti yang ada alam cerita-cerita novel.Tapi gagah dan proporsional.Kulitnya yang dulu kecoklatan telah berubah putih karena sudah tidak pernah terkena sengatan matahari.Lihatlah,kaos putih tanpa krah dan celana pendek yang dia pilihkan melekat pas pada tubuhnya yang tinggi menjulang.
Sisi ranjang bergerak,tanda Dewa sudah naik ke atasnya.Beberapa saat dia masih memainkan ponselnya kemudian meletakannya diatas meja samping ranjang.
"Dek." panggil Dewa namun tidak direspon oleh Rania yang lebih memilih pura-pura tidur.
"Aku tau kau belum tidur.Ada undangan dari keluarga Prasetya.Kolega papamu juga aku.Aku ingin kau menemaniku pergi kesana.Pasti mama dan papa juga hadir besok." Dewa membelai kepala Rania lembut.
"hmmmm."
"Dandan yang cantik ya." bisik Dewa didekat telinganya.Seketika pipi Rania merona.Ciuman Dewa masih terus berputar diingatannya.
"untuk apa?biar bisa diakui sebagai keponakan lagi sama mas Dewa?" sindir Rania tanpa membalikkan tubuhnya.Dewa menarik nafas dalam,melingkarkan lengan kekarnya pada perut Rania.
"Tuhan tau kau istriku dek."
"Tapi orang lain juga harus tau kalau aku istrimu mas." Lagi,ditahannya gemuruh didadanya.
"Aku akan memberitahu mereka semua,bahkan seluruh dunia jika waktunya tiba dek." Rania melemah.Tidak ada lagi harapan akan sebuah pengakuan pada dirinya.Dia hanya akan menjadi Rania himawan sukma,bukan Rania Wright.Sekali lagi kesedihan melingkupi hatinya.
"Dek,kau mendengarku?kita berangkat jam 7 malam." lanjutnya hati-hati.Kata pengakuan adalah titik sensitif dalam hubungannya dengan Rania.Sebisa mungkin dia harus menghindarinya jika tidak ingin hubungannya dengan Rania memburuk.
"ya." jawab sang gadis singkat.Setelah itu tidak ada lagi percakapan diantara keduanya.Rania benar-benar tertidur karena kelelahan dengan dengkuran halusnya.Dewa merengkuh tubuhnya dari belakang,menyalurkan jutaan kehangatan dari dalam dirinya.Tak terasa pria itu juga terlelap dibawah selimut yang sama,dalam pelukan yang menyatukan mereka.
__ADS_1
Pagi tiba saat Rania membuka matanya.Masih pukul 4 pagi,bahkan adzan subuhpun belum terdengar.Sebuah benda berat menimpa perutnya,tubunya juga terasa hangat.Dia begitu terkejut saat melihat wajah Dewa begitu dekat dengannya.Bahkan hembusan nafasnya terasa hangat menerpa pipinya yang langsung bersemu merah.Dia tidur nyenyak dalam pelukan Dewa,berbantalan lengan suaminya.Ditatapnya lagi Wajah itu..wajah yang dia kagumi sejak kelas 6 SD.Wajah yang hadir dalam tiap mimpinya saat masa remaja menyapa kehidupannya.Wajah yang hingga saat ini tetap menjadi cinta pertamanya.Disentuhnya pipi Dewa berlahan,pria itu menggeliat.
"Sayang,biarkan aku tidur sebentar lagi." gumamnya.Sayang?apa Dewa bermimpi?apa dia punya wanita lain diluar sana?Rania tergugu.Lagi-lagi pikirannya berkecamuk.Adzan subuh terdengar...
"mas,bangun.Sudah subuh." bisik Rania sambil mengguncang pundak Dewa berlahan.Pria itu mengucek matanya yang masih terlihat merah.Rania membuang pandangannya kearah lain saat mereka bersitatap.
"Lepaskan mas,aku mau mandi."
"hmmm" Dewa berguling melepaskan pelukannya.Kini tubuhnya terlentang menghadap langit-langit kamar.Rania buru-buru bangun dan membersihkan diri.Tak berapa lama dia menyelesaikan ritual mandinya,Dewa yang gantian masuk kesana.Sambil menunggunya selesai mandi,Rania merapikan dan membersihkan kamarnya.Mereka sudah sepakat tidak menggunakan jasa pembantu untuk mengurus kamar itu.
Usai shalat berjamaah,Rania berpamitan turun ke dapur,sedang Dewa akan berolah raga sebentar dengan lari-lari kecil didalam pekarangan rumah.
"Selamat pagi bi." sapa Rania pada bi3) Sum,Emma dan pak Mul,sisten rumah tangga mereka yang saat itu berkumpul di dapur.Pak Mul adalah tukang kebun yang secara kebetulan ikut berkumpul bersama? bi sum dan Emma karena tidak menyangka sang nyonya rumah akan masuk ke dapur.
"selamat pagi nyonyaa" jawab mereka serempak.Pak Mul yang salah tingkah berpamitan keluar.
"Aku mau masak untuk mas Dewa mbak." Jawab Rania enteng.Dua asisten rumah tangga itu terkejut.Mereka menatap Rania heran.
"Apa saya menganggu kalian?" tanya Rania dengan sedikit tidak enak hati karena dua pembantunya itu menatap aneh padanya.
"bu...bukan begitu nyonya.Ahh tidak,anda sama sekali tidak menganggu kami.Apa nyonya perlu bantuan kami?tanya Bi Sum terbata.Sekarang malah dia yang merasa salah tingkah.
" Tidak bi,saya bisa sendiri.Lagian saya hanya masak untuk sarapan sama nanti sore untuk makan malam mas Dewa saja.Selepasnya bibi yang kerjakan." Keduanya mengangguk paham.
"kalau begitu,bagaimana kalau kami bersih-bersih rumah saja nyonya." Emma mengambil insiatif.Rania mengangguk.Keduanya lalu meninggalkan dapur.
__ADS_1
Rania mengambil bahan-bahan dikulkas.Pagi itu dia akan memasak mie goreng jawa dengan toping ayam dan orak-arik telur.Dia ingat semalam Dewa berkata rindu sarapan mie dirumahnya.Tangannya begitu cekatan membuat menu untuk beberapa porsi,menumis bumbu dan mengaduk masakannya.Bau harum tercium kemana-mana.
Dewa yang baru keluar dari kamar langsung menuju dapur.Senyum tipis menghiasi bibir tipisnya saat melihat Rania memasak pagi itu.Istrinya memang anak orang berada yang hidup sederhana.Orang tuanya selalu melatihnya mandiri dan rajin.Rania adalah istri ideal yang diinginkan banyak pria diluar sana.Dia cantik,kaya,rajin,dan pintar memasak.
"ehhmm" Deheman Dewa membuat Rania menoleh dan melemparkan senyum,memamerkan deretan gigi putihnya.
"mas,sudah lama disitu?"
"belum.Kamu masak apa dek?baunya harum sekali."
"Mie goreng Jawa.Mas mau sarapan sekarang?"
"Bisa minta tolong buatkan aku secangkir kopi juga?" Dewa malah bertanya balik.
"iya.tentu saja." Gadis itu menyeduh kopi dan membawa dua piring mie itu ke meja makan.Sebenarnya ini masih terlalu pagi untuk sarapan,namun melihat antusias Dewa,dia menjadi bersemangat dan melupakan waktu.
"Rasanya lebih pedas dan menggigit dari yang dirumah.Yanti ehhh...maksudku mama memang berkata benar.Kau memasak lebih baik darinya." Puji Dewa.Mata Rania berbinar bahagia.Ini pujian pertama Dewa untuknya.Walau tidak bisa memiliki hatinya,Rania sudah cukup bahagia bisa melihat orang yang dicintainya setiap hari dan memastikan dia baik-baik saja.
Dewa menyeruput kopinya.Astaga,rasanya sama persis seperti yang dia minum dirumah mertuanya.Dahinya berkerut.
"Dek,apa kau yang membikinkan aku kopi saat masih dirumah papa?" Rania mengangguk.Memang dialah yang khusus membuatkan kopi untuk Dewa dan menyuruh mama atau pembantu mereka yang mengantarnya pada Dewa.
"Ya Tuhan..kau..."
"kenapa om?apa kopinya tidak enak?" tanya Rania ragu.
__ADS_1
"Aku tidak tau sejak kapan sudah menyukai kopi buatanmu.bahkan selalu mencari alasan agar bisa datang dan minum kopi dirumahmu." balas Dewa setengah bergumam.Dia meraih jemari Rania dan mengenggamnya lembut.
"Terimakasih dek."