Balada Cinta Belahan Jiwa

Balada Cinta Belahan Jiwa
Bertemu


__ADS_3

Sepanjang perjalanan mereka hanya mendengarkan celotehan Mela yang terus menanyakan ini itu pada sopir didekatnya.Pemuda itu dengan sabar menjawab sambil mengemudi.Sesekali dia mencuri pandang pada Mela yang asyik mengambil gambar tempat-tempat menarik yang mereka lewati.Rania dan Firman serasa penumpang gelap disana,tidak diacuhkan sama sekali.


Mereka sampai dipelataran parkir mall yang ramai dan megah itu.Firman dan Rania sudah turun lebih dulu,tapi anehnya Mela tak juga turun hingga Firman berinisiatif mengetuk kaca depan.Setengah bersungut kesal Mela turun.


"Ngapain sih nggak turun-turun." hardik Firman.


"Aku ini kan jomblo kak.Ya usaha dong.Ada cowok cakep gitu masak iya aku mau tutup mata.Emangnya aku tuh kakak yang nggak tau ada cewek secakep Rania gitu?" Firman hanya menghela nafas,Mela memang kalau ngomong serasa tidak tersaring.Diliriknya Rania yang pura-pura tidak mendengar perkataan sahabatnya itu dengan membuang pandangan kearah lain.Mela yang antusias setengah berlari memasuki Mall meninggalkan keduanya.Rania yang kaget berusaha mengejarnya hingga nyaris terpental karena tidak sengaja menabrak seseorang.Untung saja Firman dengan sigap meraih pinggangnya dan membawa Rania berdiri.Dia juga langsung meminta maaf pada wanita yang ditabrak Rania tadi.


Masih sedikit hilang kesadaran karena kaget,Rania menoleh kesamping,pada resto makanan siap saji yang dibatasi kaca berderet disisi kirinya.Seorang pria tinggi athletis baru datang dari arah pintu masuk,dilengannya bergelayut manja wanita cantik bak seorang model.Cantik dan modis.Sesaat pandangan mereka bertemu.


"Mas Dewa..." bisiknya nyaris bergumam.Air matanya nyaris jatuh saat Firman yang masih memegang pinggannya juga membisikkan sesuatu yang bisa di dengarnya dengan jelas.


"Liana..."


Tatapan keempatnya bertemu.Lama mereka diam diposisinya hingga Firman yang sudah lebih dulu mendapatkan kesadarannya menarik pinggang Rania agar lebih dekat dengan tubuhnya dan membawanya pergi dari sana.


Air mata Rania jatuh tak terbendung.Pun Firman juga berusaha menahan embun bening dipelupuk matanya.Dia tidak ingin terlihat lemah.Keduanya tergugu dalam bisu,menyelam ke dalam pikiran masing-masing.Disebuah konter ice cream,Firman menghentikan langkahnya dan mendudukkan Rania disalah satu kursi yang berderet rapi disana.Dibiarkannya Rania menangis hingga agak reda.

__ADS_1


"Bukankah dia Dewa?" tanyanya lirih.Rania mengangguk lemah.Berbulan-bulan mencari tanpa hasil,akhirnya Tuhan mempertemukan mereka disini.Bersama seorang wanita yang lebih cantik darinya,juga bisa bersikap lebih mesra pada suaminya..tidak seperti dirinya yang canggung dan malu-malu.Hatinya terasa perih hingga tidak sanggup berkata-kata lagi.Mungkin ini alasan Dewa pergi jauh dan tidak memberi kabar padanya.Dewa sudah menemukan belahan hatinya yang terserak.


"Dia bersama Liana." desis Firman lagi.Saat Rania mendongakkan wajahnya,dia bisa melihat mata Firman yang berkaca.Siapa wanita itu hingga bisa meninggalkan luka pada pria di depannya??Pria yang bahkan tidak pernah menjalin hubungan dekat dengan wanita manapun beberapa tahun belakangan ini.Pria yang hanya tau bekerja dan bekerja.


"Kakak mengenalnya?" tanya Rania hati-hati.Firman mengangguk,menyerahkan ice cream yang dipesannya pada Rania.


"Dia mantan tunanganku." katanya dengan nada sedih.Rania terkesiap.Saat SMA dulu,dia memang pernah mendengar kalau kakak Mela itu gagal menikah.Tapi dia tidak tau penyebabnya.Dan lagi,keluarga mereka terlalu tertutup untuk masalah pribadi Firman.


"kenapa kalian berpisah?" sedikit ragu,Rania kembali bertanya.Takut menyinggung perasaan Firman.Namun rasa ingin tau sudah mendominasi dirinya.


"Entahlah.Dia tiba-tiba memutuskan ke luar negeri untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang model.Setelah itu aku tidak tau lagi bagaimana kabarnya.Sejak orang tuanya datang dan membatalkan pertunangan kami,aku sudah menutup diri dari siapapun dan apapun tentang Laura." balas Firman dengan penuh kesedihan.Mereka kembali terdiam.Bayangan Laura berputar dikepala Rania.Mereka pasangan sempurna,tak ada seorangpun yang bisa menyanggahnya.Postur Laura yang tinggi juga sepadan dengan Dewa yang memang blasteran.Wajahnya juga dipoles make up sempurna yang membuatny terlihat sangat elegan.Jauh dari dirinya yang mungil dan tidak bisa memoleskan make up sedikitpun.Di hanya tau memakai.lipstik dan bedak saja seperti mahasiswi yang lainnya.Tiba-tiba Rania merasa rendah diri.


"kak,Mela telepon tuh." ujar Rania saat melihat ponsel Firman menyala.Pria tampan itu mengangkatnya.Dari tempat duduknya,Rania bisa mendengar omelan Mela karena kehilangan jejak keduanya.Dia meminta mereka menyusul di area kasir karena dia sudah selesai berbelanja.Huhh...ternyata tuan putri itu sigap juga kalau masalah belanja berbelanja.Mau tidak mau mereka beranjak kesana.Dari pada mendengar ocehan Mela yang lama-lama mirip mamanya.Firman menggandeng tangan Rania.Saat ini keduanya sama-sama rapuh dan butuh tangan untuk saling menopang dan menguatkan.Hati Rania menghangat,membalas gengaman erat Firman disana.


Mela menatap mereka dengan pandangan menelisik.Firman tidak juga melepas genggaman tangannya walau sudah ada di depan Mela.Gadis itu berdehem keras.


"Sepertinya aku akan dapat kakak ipar baru nih." ledeknya.Firman baru tersadar dan melepas tautan tangan mereka.Rania sudah menunduk malu.

__ADS_1


"ayo,kita pulang." kata Firman menetralkan suasana.


"Nanti dulu kak."


"apa lagi sih Mel?"


"Aku sudah janjian sama Beni."


"Beni?Beni siapa?" tanya Firman dengan dahi berkerut,mencoba mengingat-ingat nama Beni.


"Itu,sopit taksi online yang tadi kak.Dia mau jemput kita lagi.Off line."


"Tapi kakak mau langsung ke hotel lho Mel."


"Iya ituu...dia antarkan kita pulang dulu habis itu antar kakak.Lumayankan,dari pada pesan lewat aplikasi,malah ribet urusannya." Firman dan Rania saling pandang.Mela memang begitu,ramah dan cepat akrab dengan orang asing.Ini saj habis bertemu beberapa menit sudah saling menukar nomer hp dan saling follow di akun sosmed.Gadis yang cerdas.


"Kak,itu mobilnya udah sampai." teriaknya lalu memaksa Rania dan Firman menjadi tukang angkut belanjaan mendadaknya.

__ADS_1


"lho..kita nggak jadi makan nih?" ujar Firman mengingatkan.


"nggak usah.Aku sama Rania makan dirumah saja.Kakak kan bisa makan dihotel." sahutnya enteng.Firman hanya bisa mengelus dada menghadapi kelakuan adik cantiknya itu.


__ADS_2