
Rania mengamit lengan Dewa mesra saat memasuki tempat pesta.Prasetya selaku tuan rumah menyambut mereka dengan antusias.Dia menjabat erat tangan Dewa.Mereka memang teman semasa kuliah juga saat Dewa masih bekerja pada Ardian.Prasetya pernah beberapa kali terlibat proyek yang sama dengannya.
"Apa kabarmu Wa?" sapanya hangat.Dewa tertawa renyah.
"Alahamdulilah baik.Lama tidak bertemu.Bagimana bisnismu?"
"Yang jelas aku kalah set dengan tuan muda Wright." keduanya tertawa.Mereka terlihat sangat akrab.Prasetya banyak mendengar tentang perkembangan Dewa hingga kiprahnya di dunia bisnis.Selain keberuntungan,Dewa juga pantas menjadi penerus Wright grup karena pikirannya yang brilian dan kerjanya yang disiplin..l
"Hey,kau Raniakan?putri Ardinata?Papa mamamu baru saja masuk.Mungkin masih berbincang dengan yang lain.Apa tadi mereka meninggalkanmu saat berangkat kesini?" Rania yang salah tingkah hanya diam dan tersenyum.
"Haduhh Wa..kau memang paman yang baik untuk Rania." goda Prasetya.
"Dia istriku Pras." jawab Dewa tegas hingga membuat Prasetya dan Rania kaget bersamaan.
"apa?istri?" tanya Prasetya lagi untuk meyakinkan bahwa pendengarannya memang benar.
"kalian menikah?kau jadi menantu Ardin?Kau serius Wa?"
"iya.Kami menikah beberapa bulan lalu." Balas Dewa lagi.Prasetya mengucapkan selamat lalu mempersilahkan mereka masuk.Mereka tidak bisa terlalu lama berbincang karena antrian tamu yang datang.Hati Rania menghangat,ini kali pertama Dewa mengakuinya sebagai istri pada sahabatnya.
Beberapa pasang mata menatap pasangan itu masuk keruangan besar.Siapa yang tidak kenal Daniel wright?Dia sudah membuat kaget pelaku bisnis tanah air sejak fotonya menghiasi beberapa laman surat kabar dan internet karena Alex Wright mengumumkan dia sebagai presedir baru Wright group karena dia putranya satu-satunya.Ada yang bertepuk tangan,ada juga yang mencemooh dan menuding Dewa hanya pria beruntung yang mendapatkan durian runtuh tanpa harus bekerja keras.Tanpa mereka tau dan menyadari bahwa Dewa adalah pekerja keras yang bisa menghidupi dirinya sendiri,orang tua dan adik-adik angkatnya,hingga punya rumah dan mobil sendiri tanpa campur tangan sang ayah kandung.
Dewa bukanya tidak tau semua itu,namun dia memilih diam.Bukan untuk mencari jalan selamat,namun lebih karena dia ingin berdamai dengan nasibnya yang berubah tiba-tiba.Bukankah seekor macan tidak perlu mengaum untuk disebut macan??
Ardinata sudah merentangkan tangannya saat melihat putri dan menantunya datang.Rania yang memang punya trademark anak papa langsung menuju pelukan sang papa.
"Bagaimana kabarmu sayang?" tanya Ardinata setelah pelukan mereka terlepas.
"Aku baik pa." balas Rania.Dewa bercakap-cakap dengan orang tuanya saat seorang wanita cantik dengan gaun press body berbelahan dada rendah mendekati mereka.
__ADS_1
"Dewa,bagaimana kabarmu?" tanya perempuan itu sambil mengulurkan tanganya.Dewa menjabat tangan itu hangat dengan mata berbinar bahagia.
"Aku baik Karin.Kau kemana saja?lama tidak terlihat."
"Aku mengurus bisnis papa di Singapura.Kau bersama siapa?"
"Aku bersama Rania..."
"owhh,Rania?hey,keponakanmu ini..dia sudah dewasa sekarang.Kau sangat cantik sayang." ujar Karin sambil menjabat tangan Rania.
"iya Rin,waktu berjalan begitu cepat."
"Ha...ha...dulu dia bocah cilik dengan rambut ekor kuda yang selalu kau bawa kemana-mana.Ohh ya..aku turut berduka cinta atas kepergian Hafsah." Raut muka Dewa berubah sendu.
"Aku sudah mengikhlaskanya." balas Dewa kemudian.Karin yang merasa tidak enak hati karena mengungkit kesedihan Dewa mencoba mengganti pembicaraan dengan topik lain.
Yanti mendekati putrinya dan merangkul bahunya.Begitu juga Ardinata.Mereka menatap Rania iba.Sebagai orang tua yang baik mereka terus menghibur dan membesarkan hati putrinya sambil sesekali menyapa para tamu lain.
Hampir satu jam dan Dewa belum juga kembali.Rania dilanda jengah dan meminta ijin orang tuanya untuk mengambil minuman.Tenggorokannya sudah sangat haus.Tau begini dia tidak akan susah-susah menuruti Dewa untuk datang.Dia akan memilih tiduran dirumah dan mengerjakan tugas kuliahnya yang menumpuk.
"Rania." sapa seseorang.Dia menoleh.
"kak Firman?sama siapa?”
" nemenin papa.Kamu sendiri?"
"Aku bersama..."
"kamu jenuh nggak?" Rania mengangguk.Terus terang dia sangat jengah dan ingin keluar dari sana.
__ADS_1
"Ayo keluar,cari udara segar.Biarkan para orang tua bicara tentang bisnis.Bukankah kita punya impian sendiri?" Rania menatap aneh pada Firman.Kakak Mela itu terlihat hangat malam itu,tidak seperti biasanya yang memasang tampang juteknya.Firman adalah juga dosen ditempat Rania kuliah walaupun mereka belum pernah bertatap muka selama di kampus.
"Kok malah melamun?" Firman mengibas-ngibaskan tanganya di depan wajah Rania yang masih bengong.
"ehh ..ehhh iya kak."
"Kelihatannya disana agak tenang." Firman menuding taman disamping rumah yang juga semarak oleh lampu-lampu pesta walaupun temaram.Rania mengikuti langkah kaki Firman menuju bangku taman yang menghadap ke kolam kecil yang disertai air mancur ditengahnya.Mereka duduk hampir bersamaan.Seorang pelayan menawarkan minuman ringan yang segera diambil oleh keduanya.
"Apa Mela ikut kak?"
"Undangan disini hanya berlaku untuk dua orang.Aku mewakili mama yang tidak enak badan.Kasihan papa kalau datang sendiri kesini.Bagaimana tokomu?" beber Firman sambil meneguk softdrinknya,dia mengakhirinya dengan pertanyaan spontan.
"Alhamdulilah lancar kak."
"Tentu saja.Kau bahkan sudah bisa membeli rukoku ha..ha..." Rania menatap Firman dengan berbagai tanda tanya.Siapa yang membeli rukonya?apa jangan-jangan kata-kata Dewa kemarin benar-benar terjadi?
"Aku tidak membeli ruko kakak." bantah Rania.Firman menghentikan tawanya.
"Iya bukan kau Ran,tapi seseorang datang dan melakukan nego denganku.Ruko itu sudah terjual kemarin dan sudah dibalik namakan atas dirimu."
"kak Firman tau dia siapa?"
"Siapapun dia,pasti niatnya baik Ran.Aku bahkan memberikan penawaran tertinggi agar dia tidak jadi membeli karena aku tidak ada niat menjualnya,tapi orang itu malah mengiyakan tanpa menawar dan memberikan pelunasan saat itu juga." Rania terpekur ditempatnya.Firman menyentuh dan mengenggam erat punggung tangan Rania.
"Kau harus banyak bersyukur Rania.owhh..aku lupa bilang kau sangat cantik dengan dandanan seperti ini.Tadi aku hampir lupa jika itu kau" katanya halus.Rania balik menatap pria tampan itu lalu mengangguk.
"Terimakasih pujiannya kak."
"eeeehhhmmm!!!" suara deheman keras membuat keduanya menoleh bersamaan.Firman buru-buru melapaskan tangan Rania dan berdiri juga hampir bersamaan dengan Rania.
__ADS_1