
"Ran,apa pak Dewa itu benar suami kamu?" tanya Bintang hati-hati saat mereka sudah dirumah.Dewa memang memberikan off day bagi dirinya dan Bintang karena gadis itu ditugaskan menemani dirinya sebelum Mela pulang.Bintang yang jengah juga merasa sangat bahagia karena bisa pulang cepat walau tidak ke rumahnya.
"Kalau kau keberatan,tidak usah dijawab Ran." ujarnya kemudian saat melihat Rania terdiam.Tanpa dikatakanpun dia sudah tau jawabannya.Dia melihat jelas saat mata Dewa berkilat menahan amarah saat membopong Rania masuk ke ruangannya tadi.
"iya.Dia suamiku Bin.Kami menikah dua tahun lalu."
"Kau...menikah selepas SMA?"
"ya.Aku yang salah sudah memaksanya menikahiku Bin." jelas Rania menahan tangis.Dia menceritakan kisah cintanya dari awal hingga akhir.Dia ingin Bintang mengetahuinya seperti Mela yang tau semua tentangnya.Bintang merangkulnya,membiarkan Rania menumpahkan tangisnya.Dapat dia bayangkan betapa tertekannya Rania saat ini.
"Apa Mela tau?"
"Ya,awalnya hanya dia yang tau.Tapi sekarang semua orang jadi tau.Aku seperti tidak punya keberanian lagi untuk kembali magang disana." sahut Rania lemah sambil menyeka air matanya.
"Langkah kita tinggal separuh lagi Ran.Jangan malu atau putus asa.Kau harus tegar.Anggap saja pak Dewa tidak ada.Bukannya selama ini dia mengacuhkan kamu dan pura-pura tidak mengenalmu?lakukan apa yang dia lakukan Ran.Bersikaplah sama seperti dia bersikap padamu." Bintang terus berusaha menyemangati Rania,karena hanya itu yang bisa dia lakukan.
Sebuah mobil berhenti didepan pagar.Bintang melongokkan kepalanya keluar pintu,dahinya berkerut.Sepertinya dia kenal mobil itu.Mela turun diikuti seorang pemuda yang membantunya membuka pagar.Mata Bintang membeliak kaget.
"Mas Beni!!" sentaknya.Pemuda tapi spontan menoleh.
"Bintang,ngapain disini?"
"lha mas Beni sendiri ngapain disini?" tanya Bintang balik.Beni menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Mela hanya memandang keduanya bingung.
"Kalian saling kenal?" tanyanya bingung.Tak ada jawaban.Dua orang itu masih saling tatap juga tanpa jawaban.
"eeenngg...dia ..dia..."
"Dia pacar mas Beni ya?" potong Mela greget.Dia mencium aroma tidak mengenakkan dari keduanya.Dia serasa menjadi perusak hubungan orang.
"hah??pacar!!" sahut keduanya berbarengan dengan ekspresi kaget.
"ya kalian ditanya nggak jawab." kata Mela ketus.
"Dia ini adikku Mel." jelas Beni kemudian.Diam-diam Mela bernafas lega.Itu berarti acara PDKTnya masih bisa berlangsung.Mungkin dia yang kebanyakan menyaksikan sinetron bertema pelakor.
__ADS_1
"Mas Beni pacaran sama Mela?" tanya bintang memburu.Lagi-lagi Beni dibuat bingung.
"yaaa...kalau Melanya mau sih,rencananya begitu." Mela yang mendengar perkataan Beni langsung menunduk dengan wajah merah padam.
"Kok kamu tumben sudah pulang Bin?main kesini lagi." Mela mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Tadi Rania pingsan.Pak Dewa menyuruhku mengantar pulang dan menjaganya sampai kamu datang."
"Pak Dewa??"
"iya.Suami Rania.Dia direktu Budi utomo Lestari." Mela melongo tidak percaya.Dunia ini ternyata begitu sempit.
"Rania tidak pernah cerita padaku."
"Kalau saja tadi Rania tidak pingsan,aku juga tidak tau apa-apa Mel."
"Yaudah,masuk dulu yuk.Nggak enak disini terus.Bin,makan sini sekalian ya,aku bawakan makanan untuk kita." ajak Mela lalu mendahului masuk Rumah.Hal pertama yang dia lakukakan adalah melihat keadaan Rania.Gadis itu bernafas lega saat meilhat sahabatnya itu duduk manis diatas karpet sambil menonton televisi walau dengan wajah pucatnya.Diurungkannya niat ingin menanyai Rania,mereka bisa bicara nanti.
"Udah makan Ran?"
"Kan tadi siang.Yang sekarang kan belum.Makan bareng yaa.." tawar Mela yang disetujui Rania.Dia menyalami Beni yang baru masuk.Mereka terlibat pembicaraan akrab selagi Mela membersihkan diri dan menyiapkan makan sore.
Hidup memang dipenuhi kebetulan.Kebetulan kalau Rania bertemu Dewa disana,kebetulan karena Mela mendekati kakak Bintang,dan kebetulan karena program itu Rania menemukan lagi seorang sahabat.
"Ran,Mel,kita pamit dulu ya.Nitip sepedaku ya.Nih kuncinya.Pake aja kalau kalian mau kemana-mana." Pamit Bintang sambil menyerahkan kunci motor pada Mela.
"Kamu nggak pulang ke kost ya?"
"Nggak.aku mau pulang kerumah.Mau mengadu sama mama kalau dia akan segera dapat mantu gara-gara anak nakalnya menyamar jadi sopir taksi online.Biar kalian cepat-cepat dinikahkan." kata Bintang panjang menggoda mereka berdua.Beni hanya nyengir kuda,sedang Mela melotot horor padanya.
"Ya udah yaa...cepat sembuh Ran,besok pagi aku kesini lagi jenguk kamu.Asalamulaikum." Rania dan Mela serempak menjawab salam Mela yang menggandeng kakaknya keluar dari pagar.
"Udah minum obat Ran?kan tadi aku udah bilang nggak usah masuk.Jadinya kamu pingsankan?" omel Mela setengah khawatir dengan keadaan sahabatnya itu setelah mendengarkan penuturan Bintang tadi.
"Tadinya aku merasa sudah baikan Mel."
__ADS_1
"Kamu selalu saja begitu Ran,untung ada pak Dewa..ehh...sebentar...kenapa kamu nggak pernah cerita ke aku soal dia sih?" Rania bingung harus menjawab apa.Dia merasa sudah membohongi Mela selama beberapa pekan ini.
"Maaf ya Mel,aku hanya nggak mau merusak mood kamu."
"Ya ampun Ran,mulai kapan sih kita ada rahasia-rahasiaan.Atau kamu sudah tidak menganggapku sahabat?" sarkas Mela dangan wajah cemberut.Rania tersenyum dan menarik kedua telinganya tanda minta maaf,tak ketinggalan pupyeyesnya yang pasti membuat Mela luluh.Keduanya tertawa.
Suara ketukan pintu membuyarkan kebahagiaan kecil mereka.
"Siapa sih?apa Mela balik lagi ya?" Rania hanya mengangkat bahu.
"Buka aja Mel,siapa tau ada yang penting." Mela bergegas berjalan ke pintu dan membukanya.
"Pak Dewa." pekiknya kaget begitu melihat pria gagah yang masih memakai stelan kerja itu berdiri diambang pintu.Tubuh Rania menegang mendengar Mela mengucapkan nama Dewa.
"Apa Rania ada?" tanya Dewa sopan.Mela yang terkejut hanya menganggukkkan kepalanya,membuka pintu lebih lebar agar Dewa bisa masuk menemui Rania yang sedang rebahan diatas karpet.Sontak Rania duduk dan merapikan pakaian sekenanya.Dewa bersila didepannya.
"Dek,ayo kita pulang."
"pu..pulang?pulang kemana pak? tanyanya terbata.
" Kerumahku,rumahmu juga." bisiknya namun masih bisa didengar Mela yang masih terlihat linglung didepan pintu.
"A...aku disini saja pak."
"Aku sangat mengkhawatirkan kesehatanmu dek.Ikut aku pulang biarkan aku yang merawatmu." bujuk pria tampan itu lagi.Tapi Rania tetap menggelengkan kepalanya,membuat Dewa membuang nafas kesal.
"Baik jika kau tidak mau ikut pulang.Mulai sekarang aku akan tidur disini." balas Dewa enteng.
"Tidur disini??" sahut Rania dan Mela hampir memekik bersamaan.
"iya.Tidak ada yang salah bukan?aku masih suamimu hingga detik ini Rania." Dewa meletakkan surat nikah mereka dipangkuan Rania,membuat tangan wanita itu bergetar saat menyentuhnya.
"Dan kita masih memakai cincin yang sama." katanya lagi sambil mengangkat tangannya dan Rania bersamaan.
"Aku tetap mempunyai hak atas dirimu.Dimana kamarmu?aku akan mandi lalu tidur." Rania membisu,tapi Mela malah menunjukkan kamarnya.Sekejap kemudian,seorang pria yang mungkin sopir Dewa masuk,memberikan sebuah paperbag pada majikannya lalu pergi.
__ADS_1