
Pagi yang cerah saat sekumpulan mahasiswa itu menuju tempat-tempat magang yang telah ditetapkan.Mela sudah berjalan lebih dulu mengikuti instruksi ketua kelompoknya,sedang Rania berjalan dideratan paling belakang dikelompok lainnya.Kepalanya terasa sedikit pusing karena susah tidur semalaman.Wajahnya juga terlihat sayu dan pucat walau sudah ditutupi dengan make up tipis-tipis.
Hanya berjalan beberapa ratus meter,Rania bisa melihat bagunan Budi utomo lestari yang menjulang tinggi dengan ratusan karyawan yang berdatangan dan masuk ke gerbang.Mereka dipersilahkan masuk setelah mendapatkan ijin dan langsung diarahkan ke lobi kantor untuk mendapat pengarahan dari bagian personalia.
Berbaris rapi,Rania yang datang belakangan malah mendapat tempat diujung depan.Dia meruntuk dalam hati,harusnya dia berjalan lebih cepat tadi.Bagian personalia datang dan memberikan arahan saat mobil mewah berwarna hitam berhenti dilobi.Seorang satpam membukakan pintunya.Darah Rania hampir berhenti mengalir saat melihat Dewa turun dengan setelan kerjanya yang perlente.Dia bahkan menengok sepenuhnya kearah sana untuk memastikan kalau penglihatannya tidak salah.Benar...dia Dewa.
Belum hilang rasa terkejutnya,seorang wanita menyusul turun dari sana.Wanita kemarin...Laura yang juga tampil anggun dalam balutan pakaian kerjanya yang sangat modis.Rania menundukkan wajahnya.Rasa sakit menjalari hatinya.Tapi dia harus tetap bertahan.
Dewa dan Laura melewati barisan para mahasiswa itu dengan senyum terkembang saat para karyawan menyapanya,begitu pulan petugas yang memberikan arahan tadi.Serta merta dia berhenti berbicara dan memberi hormat pada keduanya.Rania bertanya dalam hati...apa jabatan Dewa disini??ahhh..andai saja waktu bisa berputar kembali,dia pasti akan menuruti kata-kata papanya agar magang di Jakarta saja.Kenapa harus jauh-jauh ke Surabaya jika yang didapatnya hanya luka.Kaki Rania bergetar,namun dia tahan sekuat tenaga.
Seorang rekannya menjawil lengan kanannya memberi isyarat jika dia harus mengikutinya menuju devisi keuangan.Dia dan empat orang rekannya ditugaskan disana,entah yang lain kemana,Rania tidak sempat melihatnya.Pikirannya dipenuhi Dewa.
"Ran,pucat amat.Kamu sakit?" bisik Bintang,rekan yang tadi menjawilnya.Wajah manis dan logat Surabaya yang medok terlihat sekali dalam dirinya.Rania menggeleng.Bintang mengeluarkan termos kecil seukuran besar gelas padanya.
"Ini ada teh jahe hangat Ran,minum aja.Siapa tau bisa membuatmu lebih segar."
"Terimakasih Bin." sahut Rania menerima gelas itu.Dia meminum beberapa teguk air hangat itu lalu menyerahkannya lagi pada Bintang.Benar kata Bintang,tubuhnya terasa sedikit bugar.
"Taruh situ saja Ran,kita semejakan?mengko kalau kurang,tak suruh adikku kesini antar teh lagi." katanya dengan logat lucu.Rania tertawa riang.Bintang memang lucu,mereka sering kali terlibat bersama dalam kegiatan kampus hingga secara tidak langsung Rania cukup mengenalnya.Dalam hati dia berjanji,kelak jika mereka kembali ke Jakarta,Rania akan lebih perhatian pada Bintang yang hanya anak kost disana.
__ADS_1
Hingga jam makan siang,mereka sibuk berkutat menyelesaikan tugas devisi keuangan.Sambil belajar dan bekerja.Apalagi karyawan dibagian itu orangnya asyik semua.Rania jadi merasa nyaman dan bahagia.
"Kalian mau makan siang nggak?" tanya mbak-mbak karyawan tetap disana.Namanya mbak Nastiti.Rania dan yang lain mengangguk.
"Bawa bekal atau makan di kantin dek?" ulang mbak Nastiti lagi.Serentak mereka menjawab kantin karen memang tak ada seorangpun yang membawa bekal karena masih ingin beradaptasi dengan perusahaan baru itu.
"Ikuti saya ya." ujar Mbak Nastiti,dia akan berbalik saat dari arah lain sesosok tampan membuka pintu ruangan dan berjalan kearahnya.Lagi-lagi nafas Rania serasa berhenti berhembus.
"Selamat siang pak." sapa mbak Nastiti seraya mengangguk hormat.Dewa tersenyum padanya.Matanya bersitatap dengan Rania yang langsung menundukkan kepalanya,menetralisir jantungnya yang berdetak bagai genderang mau perang.Sekejap kemudian Dewa berlalu dari sana.Nastiti mulai berjalan ke arah kantin diikuti yang lain.
"Ran,siapa sih pria tadi?kayaknya dihormati banget.Cakep lagi.Hedewwhh..tau disini ada yang bening-bening begini,aku ogah ke Jakarta." seloroh Bintang.Mbak Nastiti yang mendengarnya ikut tertawa.
"Beneran belum menikah mbak?lha wanita yang tadi pagi bersamanya siapa?" tanya Bintang penuh rasa ingin tau.Kepo juga arek Surabaya itu.
"Itu bu Laura.Putri pak Budi utomo,pemilik perusahaan ini Bin."
"Mereka pacaran ya mbak?kelihatannya mesra gitu?aku kan jadi cemburuu." balas Bintang dengan nada lucu.
"Kabarnya sih iya Bin,Yang jelas kan mereka sama-sama lajang,bu Laura juga sering kesini karena menggantikan tugas papanya sebagai dirut disini.Dia itu sangat lembut dan baik hati lho Bin."
__ADS_1
"wah...jadi perusahaan ini milik ayahnya bu Laura ya?wes...kalah aku mbak.mundur.mesti nanti pak Dewa dijadikan mantune pak Budi utomo.Iso patah hati akune." semua serempak tertawa mendengar omongan kocak Bintang.Hanya Rania yang terus diam.Dewa mengaku dirinya belum menikah?lalu siapa dirinya?apa arti kehadirannya dimata Dewa.
Sampai dikantin,semua tempat sudah penuh.Memang waktu istirahat adalah surga bagi pemilik kantin itu.Hanya satu meja yang tersisa,itupun dihuni makhluk cantik yang sepertinya membuat karyawan lain enggan mendekat dan memilih membawa makanannya kekursi panjang dibawah pohon rindang tak jauh dari sana.Demikian pula mbak Nastiti dan rekannya yang lain.Hanya Rania yang masih berdiri bingung disana.Sedikit memberanikan diri,dia mendekati meja Laura.
"Permisi,boleh saya duduk disini bu?" katanya ramah.Laura mendongak dan memindai wajahnya.Baru kali ini ada yang berani datang mendekat padanya saat dia menikmati waktu nostalgia di kantin.Wanita cantik itu memincingkan matanya,mencoba mengingat sesuatu.
"duduklah." balasnya kemudian.Rania menarik kursi didepannya lalu duduk,mencoba bersikap santai di depan Laura yang menatapnya lekat.
"Kau...bukanya kau gadis yang dimall bersama Firman kemarin?" Rania meruntuk dalam hati,kenapa daya ingat wanita ini begitu kuat?padahal mereka hanya saling bertatapan sekian detik.
"iya bu.Saya Rania.Pak Firman itu dekan di fakultas kami." jawab Rania sambil mengulurkan tangannya dan disambut oleh tangan halus Laura.Tangan itu seperti marsmellow,lembut dan halus.Berbeda dengan tangannya yang kasar karena terlatih mandiri.Dua orang putri keluarga kaya yang beda prinsip dan pilihan kehidupan.Rania terburu-buru menyelesaikan acara makannya.
"Jangan buru-buru.Waktu masih panjang." ujar Laura lagi seakan membaca perilaku Rania.
"Kau ada hubungan dengan Firman?" telisiknya lagi.Kali ini dengan nada bergetar.Rania mengangkat wajahnya.
"tidak.Dia kakak Mela teman saya.Kemarin kami ke Mall bertiga,namun kehilangan jejak Mela.Pak Firman juga sudah kembali ke Jakarta selepas subuh tadi." beber Rania.
"Masukkan nomer ponselmu." ucap Laura. Rania menerimanya dan mengetikkan namanya disana lalu kembali menyerahkannya pada Laura.
__ADS_1
"Baiklah,terimakasih Rania..senang berkenalan denganmu.Nikmati makan siangmu dan sampai bertemu lagi." kata Laura ramah sambil menepuk bahu Rania sebelum beranjak dari sana.Selain cantik dan kaya raya,Laura juga manis dan ramah.Pantas jika Dewa melabuhkan cintanya pada wanita dewasa itu.