Balada Cinta Belahan Jiwa

Balada Cinta Belahan Jiwa
Rumah baru


__ADS_3

Sarapan pagi kali ini terlihat sangat semarak dengan berbagai candaan dan pembicaraan ringan.Hal ini bukan sesuatu yang baru untuk keluarga Himawan.Tidak ada peraturan tabble manner seperti para keluarga kaya pada mereka.Yang ada adalah makan bersama menjadi sarana keakraban antar keluarga.Sepertinya Alex Wright merupakan tipe yang sama mengingat dia begitu antusias kali ini.


Selepas makan,Alex mengajak mereka berkunjung ke rumah almarhumah istrinya yang sudah disulap menjadi rumah modern berlantai dua dengan taman luas dan pagar tinggi menjulang.Mata pria paruh baya itu memerah menahan tangis saat masuk ke pekarangan rumah.Bayangan istrinya,Laila seolah datang menjemputnya dengan wajah cerah dan sikap bersahaja.Itulah kenapa dia ingin menghabiskan masa tuanya disini...karena hanya ditempat ini dia melihat Laila seutuhnya,tanpa perlu sebuah foto untuk dipajang.Laila...cinta pertama dan terakhirnya.


Ardinata dan Yanti berdecak kagum pada arsitektur rumah modern minimalis yang terlihat sangat elegan karena dipadu pilar-pilar besar khas bangunan gaya Eropa.Dewa sang putra juga merasa kagum karenanya.Walau dia arsitek andal,namun belum pernah dia mengerjakan proyek rumah sedetail ini.Rania juga masih berdiri tegak ditempatnya,dengan tangan yang masih berada dalam gengaman Dewa.


"Papa harap kalian menyukainya." Alex bicara dengan mata berkaca.Dewa mendekati papanya dan memeluk pria gagah yang terlihat rapuh itu.Dia tau sang papa sangat merindukan almarhum mamanya.


"Aku sangat menyukainya Pa.Kami akan segera pindah kemari."


"Itu bagus Daniel.Lebih cepatlah belajar agar papamu ini bisa segera pensiun dari dunia bisnis."


"Aku akan berusaha sebaik mungkin." putus Dewa kemudian.Mata tua Alex berbinar cerah.

__ADS_1


"Papa senang mendengarnya.Ada beberapa asisten rumah tangga yang sudah papa rekrut untuk bekerja disini.Mereka orang-orang loyal yang sudah terseleksi dengan baik.Kuharap kau menyukainya."


"Tentu saja,Pa."


"oowwhh..saya hampir lupa.Silahkan duduk tuan dan nyonya Ardinata.Maaf jika saya sedikit melupakan kalian.Saya terlalu terbawa suasana." Ujar Alex sambil tersenyum getir.Ardinata mengangguk hormat lalu menyusul langkah Alex ke ruang tamu besar disana.


"Saya cukup mengerti perasaan anda tuan Alex." jawabnya.Seorang wanita berseragam maid datang dan menyajikan makanan kecil dan minuman pada mereka.Selepasnya dia mohon diri.


"Tuan Ardianata,saya hendak meminta tolong pada anda." Alex terlihat sangat serius kali ini.Ardinata menaikkan ujung alisnya,penasaran.


"Pertama kali saya mendengar Daniel menikahi putri anda,hati saya sudah sangat bersyukur.Artinya saya akan kehilangan satu beban yaitu mencarikannya jodoh.Kalian mungkin seumuran,namun anda lebih kompeten dari putraku.Saya tidak mungkin setiap hari pulang pergi Sydney -Jakarta tiap waktu,maka itu...tolong bantulah saya menjaga Daniel.Bimbing dia agar bisa mandiri seperti anda,juga arahkan dia menjadi seorang leader sejati." Alex terlihat sangat memohon pada Ardinata.Tentu saja Ardinata heran mendengarnya.


"Tuan Alex,yang harus anda tau adalah...Dewa orang yang berada dibelakang layar pada keberhasilan saya.Tanpa putra anda,saya mungkin tidak seperti sekarang.Jadi anda hanya harus yakin pada kemampuannya.Dia orang yang cerdas dan cepat belajar tuan." Alex tertawa bahagia.Yang dikatakan Ardinata memang benar.Daniel hanya perlu beberapa bulan untuk belajar,meleset dari prediksi satu tahunnya.Putranya itu memang mewarisi jiwa bisnis dan kecerdasan darinya walau wajahnya didominasi sang mama.Perpaduan yang sempurna.

__ADS_1


"Kalian terlalu memujiku.Semoga aku tidak mengecewakan kalian semua." sahut Dewa kemudian.Dia hanya jadi penonton kedekatan sang papa dan sang mertua.


Setelah melihat-lihat suasana rumah,pasangan Ardinata dan Yanti berpamitan pulang.Rania yang awalnya hendak ikut pulang dicegah oleh suami dan papa mertuanya.Mereka tidak tega melihat Rania kelelahan.Ardin dan Yanti berjanji akan mengantarkan barang-barang Putrinya esok hari sambil menjenguk Rania.Berulang kali Alex mengatakan bahwa itu tidak perlu karena semua kebutuhan Rania akan tercukupi sepenuhnya,namun pasangan itu juga teguh pada pendiriannya.


Selepas kepergian besannya,Alex memasuki ruang kerjanya yang bersebelahan dengan kamarnya dilantai dasar.Asistennya mengikuti sambil membawa berbagai berkas laporan ditangannya.Dia memang pebisnis yang sangat disiplin.Daniel yang awalnya akan ikut bekerja dengannya dicegah dan disuruh mengurus Rania hingga sembuh.Dewa hanya bisa pasrah,dia menggandeng Rania masuk ke kamar mereka dilantai dua.


"Sebaiknya kau istrirahat dek.Aku takut kau akan kambuh seperti kemarin.Kau taukan,papaku akan sulit dinegosiasi kalau melihat orang sakit? jadi kau harus pintar-pintar menjaga kesehatanmu kalau tidak mau papa menyeret paksa dirimu ke rumah sakit.Tempat yang paling kau benci." kekehan Dewa terdengar meledek istrinya yang memang sangat takut dengan yang namanya rumah sakit dari kecil.Rania hanya menundukkan wajahnya.


"Masuk dan istirahatlah.Kau tidak perlu risau dengan baju dan hal lain karena papa bilang sudah menyiapkannya di lemari kita." Rania mengangguk,dia ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang terasa lembab.Sekembali dari kamar mandi dia berjengkit kaget.Dewa sudah rebahan bertelanjang dada dengan celana pendek di kasur king size mereka tanpa rasa canggung.Hati Rania bergetar,antara bingung dan malu.Kenapa suaminya itu jadi tidak tau malu dengan tidak memakai pakaian didepannya.Terus terang Rania merasa sangat jengah saat itu.


"kemarilah." panggil Dewa.Rania berjalan sedikit ragu.Dewa meraih tangannya dan mendudukkan istri kecilnya ditepi ranjang.Dia beringsut menjauh,memberi ruang bagi Rania.Dia menepuk kasurnya,memberi isyarat agar Rania naik kesana.


"ehm..ma...mas Dewa ma..mau tidur disini?" tanya Rania tergagap.Belakanga dia menyadari itu adalah pertanyaan konyol.Tentu saja Dewa akan tidur disini karena itu adalah kamarnya,kamar mereka berdua.

__ADS_1


"Aku tidak akan mengapa-ngapakanmu dek.Jangan takut atau punya prasangka yang berlebihan." katanya lagi.Rania menatap bola mata kecoklatan suaminya lalu bergerak menaiki ranjangnya.Nafasnya hampir terhenti saat Dewa membawa kepalanya bersandar di dada telanjangnya yang terlihat sangat maskulin dalam pandangan Rania.Pria itu memeluknya dan membelai kepalanya.Wangi mint yang menguar dari tubuhnya menenangkan pikiran Rania yang kalut.


"Tidurlah dek,nanti kubangunkan saat dhuhur tiba." bisik Dewa ditelinganya.Rania tidak mampu menjawabnya.Dia hanya mengangguk.Tidur dalam pelukan pria tampan yang sangat dicintainya hanya akan membuatnya sesak nafas tanpa bisa memejamkan mata.Tapi apalah daya,dia tidak punya pilihan lain.Jemari Dewa masih terus mengelus kepalanya,sama saat dia masih kanak-kanak dahulu.Lama-lama Rania terlelap dalam pelukan lelakinya yang juga menyusulnya terbang ke alam mimpi.


__ADS_2