Balada Cinta Belahan Jiwa

Balada Cinta Belahan Jiwa
Permohonan


__ADS_3

"Daniel,kembalilah ke Wright crop." kata Alex kemudian setelah ketiganya cukup lama terdiam.Lidah Dewa kelu.Dia tau hal ini akan terjadi.Cepat atau lambat Alexander pasti akan menemuinya dan memaksanya menjadi penerus estafet kerajaan bisnis Alexnder yang menggurita.Rania meremas tangan suaminya dengan berbagai pikiran yang bergelayut dibenaknya.


"Maafkan aku pa.Tapi baik kemarin,sekarang dan nanti...aku tidak bisa kembali mengurus Wright crops.Hidupku adalah disini papa,ditanah kelahiran mama,berdiri diatas kaki sendiri juga ditanah warisan mama."


"Tapi kau juga putraku Daniel.Aku berhak atas dirimu."


"Itu dulu pa,saat aku belum dewasa.Sekarang aku sudah cukup tua untuk mengurus diriku sendiri dan keluarga kecilku.Biarkan aku bahagia dengan istri dan calon anak kami pa."


"Tapi kau akan tetap membutuhkan banyak untuk membesarkan calon anakmu nanti.Dia penerus Wright,dia tidak akan hidup seperti anak lain yang kesulitan biaya hidup dan pendidikan kelak.Kau taukan,usahamu baru rintisan?mana bisa aku membiarkan cucuku hidup dalam keterbatasan." tukas Alex keras.Dewa tersenyum samar.


"Bukankah aku juga putra papa?penerus tunggal papa.Apa aku hidup layak dimasa kecil pa?apa pantas penerus Wright belajar sambil bekerja?kuliah sambil menjadi kuli diproyek sahabatnya?Apa pantas aku menjadi anak papa saat semua orang di Wright crop meragukan kemampuanku?Bahkan telingaku ini sudah kebal dengan berbagai argumen yang menyebutkan kalau aku hanya aji mumpung dan tidak punya kemampuan untuk meneruskan bisnis papa.Jadi tolong pa....biarkan aku hidup tenang."


"Tapi anakmu tetap cucuku Daniel.Dia calon penerusku." balas Alecander ketus dan tidak mau mengalah.


"Anak ini masih punya orang tua pa.Dan kami masih sanggup mengurus dia.Kami juga tidak memerlukan harta papa.Tolong pa,biarkan kami hidup seperti keluarga normal lainnya." Alexander mendengus kesal.Ditatapnya wajah sang putra tajam.Seketika air matanya menggenang.Melihat Dewa sekarang serasa melihat Arini dimasa lalu.Wanitanya,istrinya,satu-satunya perempuan dalam hatinya yang tak pernah bisa digantikan oleh siapapun.Dia sudah kehilangan Arini,dan dia tidak ingin kehilangan putra dan calon cucunya lagi.


"Baik jika kau tidak ingin meneruskan usaha papa."

__ADS_1


"Bukan tidak mau pa,aku tidak bisa hidup dalam...."


"Daniel dengar!!Papamu ini hanya ingin menikmati masa tuanya dikediaman Arininya.Papa sudah tidak ingin memikirkan apapun son.Kalau kau tidak mau meneruskan usaha papa baiklah.Hari ini pengacara papa akan datang.Semua aset atas nama Wright crop akan dijual dan akan papa alihkan atas namamu."


"Pa...aku tidak ingin apapun darimu.Kalau papa mau tinggal disini,rumah ini selalu terbuka untuk papa.Kami akan selalu mengurus papa hingga menua nanti.Tetaplah disini pa...kami perlu papa untuk menemani anak-anak kami tumbuh dewasa nanti." ujar Dewa lembut,menyentuh hati siapapun yang mendengarnya.Alexander tersenyum penuh haru.Air matanya benar-benar menetes kini.Dewa sontak mendekat dan memeluk sang papa erat.Alex membelai kepalanya bak anak kecil yang meminta kasih sayang orang tuanya.


"Benarkah kau akan tetap mengurus pria tua ini Daniel?" tanyanya dengan suara bergetar.


"Kau satu-satunya orang tuaku yang tertinggal pa.Tanpa kau tanyapun aku akan tetap melakukan tugasku sebagai putramu.Jangan khawatir,kami akan mengurus papa.Jangan kemana-mana,nikmati masa tua papa disini,dikamar mama.Tempat orang yang papa cintai hingga akhir hayat papa nanti."


"Son,jika kau ingin menutup seluruh cabang Wright...berarti kau menelatarkan ribuan pekerja kita dan keluarganya.Pikirkan mereka semua yang akan kehilangan pekerjaan,mau makan apa anak dan istri mereka dijaman yang serba sulit ini.Pikirkan mereka,jangan omongan orang lain yang hanya tau mengujat.Papa sangat berharap padamu.Apapun hasilnya nanti papamu ini tidak akan menuntut apapun.Mau perusahaan itu ada atau hancur sekalipun,Alexander Wright sudah mengikhlaskannya.Tidak ada tuntutan atau target yang akan membebanimu.Tolong pikirkan lagi keputusanmu." Rania yang semula diam mengelus punggung tegap suaminya.Dia sungguh tak tega melihat mertuanya terus memohon pada suaminya.Dewa menoleh sekilas.


"Ada yang ingin kau sampaikan Rania?" tanyanya saat menatap bola mata kecoklatan istrinya.


"Mas...kabulkan permintaan papa.Kau satu-satunya putra papa." katanya halus.Dewa terdiam.Kali ini dua orang yang dia sayangi memohon padanya.


"Tapi aku ingin disini sayang,mengurus keluarga kecil kita juga.Aku...."

__ADS_1


"Kita akan tetap disini bersama papa.Bukankah kau bisa mengurus semuanya dari sini?bukankah tiap cabang punya kepala bagian yang akan bekerja sesuai arahamu?Mas,buktikan pada papa dan almarhumah mama jika kau pria hebat.Papa benar,kita akan butuh banyak untuk anak-anak kita nanti.Anggap saja kau bekerja untuk masa depan anak-anak kita." pinta Rania.


"Rania benar son.Kita bisa memindahkan kantor pusat Wright crop disini.Tidak ada yang perlu kau khawatirkan.Tom yang akan mengatur semuanya." Tom adalah asisten Alexander yang tidak perlu diragukan lagi kemampuan dan kesetiaanya.Pria itu sudah 20 tahun mengabdi pada papanya sejak di Australia.Usianya yang hampir setengah abad malah memberikan kesan karismatik mendalam.Rupanya Frans juga mirip sang paman dalam bekerja.


Dewa masih diam tanpa suara.Pikirannya berkecamuk saat tiba-tiba Rania mengrenyit sakit dan memegangi perutnya.


"Mas...aduhh...perutku sakit." rintihnya.Dewa tersadar dan menghampiri istrinya.


"ke..kenapa dek?mana yang sakit?" tanyanya gugup karena Rania terus mengaduh dan memegang lengannya kuat.


"Daniel,apa mungkin Rania akan melahirkan?"


"No papa,perkiraannya masih 3 minggu lagi."


"Bisa saja maju son.Kita bawa Rania ke rumah sakit.Papa takut terjadi sesuatu." Tanpa pikir panjang Alex menelepon Tom menyuruh menyiapkan mobil,sedang Dewa sudah membopong tubuh Rania.Kepanikannya semakin menjadi saat tangannya terkena cairan yang membasahi rok istrinya.


"Ohh ya Tuhan Daniel,Rania benar-benar akan melahirkan.Lihat ketubannya sudah pecah." teriak Alex panik.dia segera melebarkan pintu agar Dewa leluasa membawa Rania keluar dan langsung masuk ke mobil yang sudah disiapkan.Tanpa dikomando Alexander dan Tom masuk menemaninya.Sedang Frans terlihat berkonsetrasi menjalankan mobilnya.Dewa terus membisikkan kalimat istrighfar di telinga Rania yang berada dalam pelukanya.Wajah istrinya memucat dan terus meneteskan air mata.Tak dihiraukannya cengeraman Rania yang meninggalkan bekas kebiruan ditangannnya.Ingin rasanya Dewa berteriak agar semua orang minggir dan tidak menghalangi jalannya.Dia ingin segera sampai di rumah sakit dan memastikan Ranianya segera mendapatkan pertolongan.

__ADS_1


__ADS_2