Balada Cinta Belahan Jiwa

Balada Cinta Belahan Jiwa
Pingsan


__ADS_3

Dua bulan berlalu,masa magang Rania telah usai.Semua teman-temannya sudah kembali ke Jakarta dan mulai mempersiapkan skripsi mereka atau mengejar target kuliah yang belum kelar.Bintang dan Mela walau terlihat kehilangan Rania juga tak lupa menyemangati sahabatnya itu.Bintang bahkan berjanji akan main ke rumah Rania kalau pulang ke Surabaya.


Sekarang,disinilah Rania.Kampus terbesar di Surabaya sebagai mahasiswi transfer yang karena lobi-lobi yang dilakukan Firman dan keluarganya hanya tinggal menyelesaikan skripsinya saja disana.Tidak ada lagi acara nongkrong di kampus seperti dulu karena dia akan langsung pulang jika kuliah usai.Dewa bahkan tau persis jadwalnya hingga tidak akan telat menjemputnya.Berulang kali Rania protes agar diijinkan pulang pergi ke kampus sendiri,tapi Dewa bersikeras tidak memperbolehkan istri tercintanya pergi tanpa ijin dirinya.Jangankan teman kampusnya,seluruh dosen dan staf juga tau kalau Dewa adalah suaminya.


Siang itu,saat udara sedang terik-teriknya..Rania yang baru keluar dari gerbang kampus dikejutkan olah Frans yang sudah berdiri menjulang tinggi disana hingga mengundang banyak mata menatap padanya.Bahkan beberapa mahasiswi ganjen langsung memintanya foto bersama bak artis dadakan.Kalau mau jujur,wajah bulenya juga masuk kategori tampan.Lagi-lagi perasaan Resah meraja.Hatinya bertanya-tanya,kenapa bukan Dewa yang menjemputnya?


"Selamat siang nyonya.Saya disuruh tuan Daniel menjemput anda karena tuan ada meeting penting dengan koleganya." sapa Frans ramah.


"Dimana?"


"Kantor nyonya."


"Laki-laki...atau perempuan?" tanya Rania menelisik.Dia juga kadang merasa heran,kenapa menjadi posesif akhir-akhir ini.


"laki-laki nyonya." balas Frans,membuatnya bisa bernafas lega.


"Baiklah,mari pulang kak." ujar Rania lagi.Entah kenapa Frans merasa senang saat nyonya mudanya memanggilnya begitu.Dia menjadi merasa punya keluarga di Indonesia.Frans segera membukakan pintu untuk Rania lalu memutari mobilnya dipintu yang lain.


Mereka bergegas turun saat sampai dipelataran parkir kantor Nugraha arsitektur.Beberapa pekerja bangunan mengangguk hormat pada keduanya.Ya,Dewa memperluas kantornya dengan membangun halaman luas disisi kanan yang tadinya hanya berupa tanah lapang yang dikelilingi pagar bata merah.Banyaknya pemakai jasa dari kantornya dan bertambahnya jumlah pekerja membuatnya harus melakukanya.


Rania langsung menuju kamarnya.Sebentar lagi makan siang.Suaminya akan pulang karena memang rumah dan kantor hanya dibatasi taman asri yang selalu dirawat oleh tangan Rania sendiri tiap hari.Wanita cantik itu segera berganti baju kasual lalu menuju ke dapur untuk menata makan siang suaminya.Tugas skripsi yang banyak menguras energi dan pikirannya membuatnya tidak sempat memasak untuk suami tercintanya.Apalagi Dewa juga sudah berulang kali melarangnya mengerjakan pekerjaan rumah.


"Mbak...mbak Rania kenapa?" pekik bik Sum saat melihat Rania terhuyung hampir jatuh.Dia bergegas menghampiri Rania dan memengang lengannya.Takut majikannya terjatuh.Rania tersenyum lalu berusaha duduk.

__ADS_1


"Nggak apa-apa bik.Cuma kepanasan saja tadi.Pusing." jawab Rania.Kepalanya memang terasa sangat berat.


"kekamar saja ya mbak.Saya antarkan." Rania menggeleng lemah.


"Aku nunggu mas Dewa bik.Kasihan kalau makan sendirian." Rania lalu berdiri untuk menyelesaikan kegiatannya saat tubuhnya limbung lalu ambruk ke lantai.Pandangannya menjadi gelap.Rania pingsan.


"Tolongg....tolooongg..." teriak bik Sum panik sambil memangku kepalan Rania.Derap langkah terdengar tergesa.


"Astaghfirullah Rania....!!” pekik Dewa yang baru membuka pintu depan.Pria itu berlari menghampiri istri tercintanya dan membopongnya.Frans yang baru saja sampai karena mendengar teriakan Dewa dan bik Sum bergegas keluar,mengambil mobil dan memarkirkannya tepat didepan pintu utama.Dewa yang panik segera masuk dan memerintahkan Frans agar segera mengemudi menuju rumah sakit terdekat.


" Sayang,kau kenapa?bangun Rania...bukankah kau berjanji akan selalu disampingku?" air mata Dewa meleleh,kejadian saat Rania koma membayang dikelopak matanya.Sunggu dia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Rania.Direngkuhnya erat tubuh sang istri yang masih pingsan dalam diam.Frans yang melirik dari kaca depan merasa trenyuh.Baru beberapa bulan dia melihat sinar kehidupan dimata tuannya.Kenapa hari ini Tuhan kembali memberi pasangan romantis itu cobaan?


Frans bergegas turun dan memanggil perawat agar membawa brankar,takut Dewa lepas kendali dan berteriak disana.Masih terlihat jelas mata sang majikan yang memerah dibalut kesedihan.Saat dokter melarangnya masuk,Dewa bahkan sama sekali tidak duduk tenang.Dia terus mondar-mandir tak karuan.


"Bagaimana istri saya dokter?" tanyanya tidak sabar.


"Dia sudah siuman pak.Anda bisa masuk." jawab sang dokter tenang.


"Dia kenapa dok?" masih dengan perasaan resah dan ingin tau.


"Itu hal biasa pada trismester awal pak.Anda hanya harus menjaganya saja."


"Trismester awal?" kali ini ditambah nada bingung hingga harus membeo.

__ADS_1


"Istri anda hamil pak.Untuk lebih jelasnya anda bisa langsung periksa ke poli kandungan.Maaf,saya permisi dulu." Dewa tak membalas perkataa sang dokter.Matanya kembali berkaca-kaca.Hamil?sebentar lagi dia akan menjadi orang tua di usianya yang sudah tak lagi muda.Air matanya kembali luruh.Tanpa berkata dia memasuki ruangan.


"Mas,kenapa aku disini?" tanya Rania saat Dewa sudah mendekat padanya.Kepalanya terasa sangat pusing.


"Sayang...kamu hamil." ucap Dewa dengan bibir bergetar.Rania masih terkaget hingga tak menyadari sanga suaami sudah memeluknya erat dengan air mata yang terus berjatuhan.Hati Rania menghangat.Dewa,pria yang sangat dicintainya menangis bahagia dipundaknya.Tak pernah dia sangka,Pria ini begitu menyayangi calon bayi mereka hingga tanpa malu meneteskan air matanya.


"Sayang,doa kita dikabulkan Rania.Aku sangat bahagia." bisiknya lagi.Rania mngurai pelukannya,menyeka air mata suaminya lalu menatap mata kebiuan itu penuh cinta.


"Mas...apa ini nyata?bukan mimpi?" Dewa menggeleng kuat.Digenggamnya erat tangan Ranianya,lalu menciumnya lembut penuh haru.


"Dokter sudah memeriksamu,Sekarang kita ke poli kandungan sayang.Aku ingin memastikan bayi kita baik-baik saja.Terimakasih sudah mau menjadi ibu dari anak-anakku Rania." Keduanya berpelukan erat hingga kemudian Dewa tersadar dan mengendong Rania turun,keluar dari ruang ICU.


"Turunkan aku mas,aku bisa jalan sendiri." kata Rania.Wajahnya bersemu merah,malu.


"kau yakin dek?"


"ya,mas Dewa tinggal menuntunku saja."


"hmmmm baiklah." Keduanya keluar dengan wajah sumringah.Frans berdiri dari duduknya.


"Selamat atas kehamilan anda nyonya.Wright junior akan seger lahir." katanya sambil tersenyum lebar.


"Terimakasi kak." jawab Rania tulus.

__ADS_1


"Dia bukan Wright junior Frans,dia baby Nugraha." balas Dewa kemudian.Frans hanya mengiayakan saja.


__ADS_2