
"Ma..maksud tante Hera apa?Tante mempermainkan om Dewa?bukankah kalian sudah menikah?kenapa tante malah menikah lagi dengan pak Ferry?" kata Rania terbata.Dadanya terasa sesak.Enam bulan sudah cukup lama baginya untuk tersiksa.Detik demi detik adalah sembilu yang merejam ulu hatinya.Bagaimana dia bertahan untuk tidak bertemu Dewa,atau sekedar menghubunginya.
"Aku tidak pernah menikah dengan mas Dewa,Ran."
"ta..tapi kalian...."
"Dewa yang meminjam Hera dariku.Itupun saat aku dinas ke luar kota beberapa waktu lalu.Istilahnya,aku menitipkan Hera pada kak Dewa." kali ini Ferry yang menjawab rasa penasaran Rania.Tangannya melingkar dipundak Hera.
"Apa kau pernah melihat kami tidur sekamar?tidak kan Ran?" Rania tercenung.Memang selama ini dia tidak pernah melihat Dewa dan Hera masuk kamar karena dia merasa jengah.Dia juga selalu berada di kamarnya.Tidak peduli pada sekelilingnya.
"Apa maksud om Dewa melakukan semua ini?'' desah Rania frustasi.
" Kau bisa tanyakan semuanya pada Dewa.Aku sungguh tidak tau apa-apa."
"Kalau dia tidak suka padaku,atau menyesal sudah menikahiku...harusnya om Dewa bilang.Jangan bersikap begini padaku!" lagi,Rania meredam kekecewaan dalam nada bicaranya yang terdengar bergetar.Hera memeluknya,mengelus punggungnya dan membiarkan Rania menangis disana.
"Sabar ya Ran.Aku juga minta maaf soal kejadian tempo hari.Maafkan aku yang secara tidak langsung sudah membuat hubungan kalian retak." ujar Hera lagi.Rania hanya tergugu.
"Sebaiknya kau pulang ke rumah papamu,tanyakan padanya apa yang terjadi.Bagaimanapun papamu adalah sahabat mas Dewa,dia pasti tau alasanas Dewa melakukan semua ini padamu." saran Ferry kemudian.Rania menyeka air matanya.Ya,Ferry benar.Papanya pasti tau apa yang sebenarnya terjadi.Hirawan adalah pria yang tidak akan tinggal diam saat Rania terkena masalah atau berbuat kesalahan.Tapi ini...enam bulan lebih papa dan mamanya sama sekali tidak mencari keberadaanya.Pasti ada sesuatu yang disembunyikan orang tuanya.
"Terimakasih pak Ferry."
"Heii...aku ini suami Hera,kakak mantan istri mas Dewa.Kamu panggil aku adeklah.Secara kamu udah jadi istri mas Dewa." kata Ferry sambil tersenyum lebar.
"iya nih mas..dia juga panggil aku tante.Emangnya aku udah mirip tante-tante apa?" kali ini Hera protes sambil memonyongkan bibirnya.Rania jadi bingung.Usianya jauh lebih muda dari mereka.Agak canggung juga kalau manggil pasangam itu dengan sebutan dhek seperti permintaan mereka.
__ADS_1
"a..aku panggilnya kakak aja ya." sahutnya polos.Kedua pasangan itu tertawa berderai.
"terserah kamu deh Ran.Tapi jangan panggil mas Dewa itu om lagi lohh ya.Dia itu suamimu." ledek Hera dengan kerlingan nakal dimata kanannya.
"ehhmm...iya.ini nomor teleponku,siapa tau kamu butuh teman curhat." ujar Hera lagi sambil menyerahkan karu nama pada rania.
"apa kak Hera akan ke Bandung hari ini?"
"iya.Ini kami mau berangkat.Ada tugas dadakan,makanya kami kemari.Takutnya pas paket dikirimkan rumah kami kosong.Padahal itu juga buat oleh-oleh rekan-rekan kerja baru mas Ferry disana." Rania manggut-manggut.Dia memasukkan paket yang terbuka itu dalam kantong plastil lalu menyerahkannya pada Hera.
"ok,makasih ya cantik.Kami pamit dulu."
Rania bersalaman dengan Hera dan Ferry secara bergantian.Ada perasaan sedih kehilangan,luka dan pertanyaan besar dihatinya saat melihat pasangan itu meninggalkan tokonya.Dia harus segera pulang dan bicara pada orang tuanya.
Tika yang turun duluan dari lantai atas menghampiri Rania yang bengong di depan pintu kaca.Tatapannya kosong keluar sana.Beberapa kali Tika mengibaskan tangannya di depan wajah Rania,tapi gadis cantik yang jadi bos nya itu seakan ada di dunia lain.
"Apa mbak Rania baik-baik saja?" tanya Tika dengan wajah khawatir.Rania mengangguk kecil.Dia melangkah mengambil botol air mineral di meja,menegaknya hingga setengahnya.
"aku baik-baik saja Tik.owwh iya,sebentar lagi aku mau keluar sebentar."
"kemana mbak?" tanya Tika lagi sambil memasukkan beberapa barang yang berupa pernik-pernik kecil ke dalam wadah.
"Pulang ke tempat papa." ujar Rania datar.
"mbak Rania perlu diantar?" Tika menawarkan diri karena tau Rania tidak memiliki alat transportasi.Gadis itu selal berjalan kaki atau memesan ojek online kalau pergi kemanapun.Rania menggeleng.
__ADS_1
"nggak usah Tik.Aku naik ojol aja.Lagian kasihan Erna kalau ditinggal sendirian." Bebarengan dengan itu,Erna turun dari lantai dua dan bergabung dengan mereka.Rania segera pamit keluar setelah ojol yang dia pesan datang.
Perjalanan pulang kerumah seolah membuat dia terlampar kemasa lalu.Sesak.Dia tidak tau bagaimana reaksi orang tuanya nanti saat melihatnya pulang.Papanya pasti sangat marah,entah bagaimana reaksi mamanya nanti.Ojol bergerak lincah menerobos kemacetan hingga beberapa menit kemudian dia sampai di halaman rumahnya.
Seorang wanita paruh baya menyambutnya saat Rania menghampiri pintu.
"Selamat siang non.” sapanya.
" siang..ehm...bibi siapa?" tanya Rania.Kaget juga dia melihat wanita itu,disempatkanya mengamati waja wanita ramah itu.Mengingat jikalau dia saudara atau keluarga lainnya.Tapi dia tidak ingat apa-apa.
"Saya bi Asih non.pembantu nyonya."
"hmmm...mama ada?"
"owwh..ini non Rania ya?" Rania mengangguk.Pembantu wanita itu sepertinya tau tentangnya.
"iya bik.Saya mau ketemu mama."
"ohh..iya masuk aja non.Papanya juga barusan pulang."
deg...deg...deg...
Habis sudah dia.Padahal awalnya dia berharap bertemu mamanya lebih dulu agar bisa agak tenang.Segalak-galaknya sang mama,dia wanita penyayang yang akan melindungi Rania dari amarah sang papa.Tapi rasanya sekarang dia hanya perlu banyak berdoa agar Tuhan menguatkan hatinya.Dia sudah memutuskan untuk pulang,artinya dia juga sudah siap menanggung konsekwensinya.
Rania masuk setelah mengucapkan salam.Mamanya yang sedang menimang sikecil Reno menoleh padanya.Wanita itu tersenyum senang.
__ADS_1
"pa...papa...Rania pulang pa!" teriaknya keras.Reno yang hampir tertidur bangun dan duduk di sofa.Bocah kecil itu mengucek matanya berlahan menatap mamanya berlari memeluk kakaknya
"Akhirya kau ingat pulang.Dasar anak nakal." ujar mamanya sambil mencubit hidungnya.Ardinata Himawan yang tergoboh keluar dari kamar juga menghampiri mereka.Ikut memeluk Rania yang berdiri tegak tanpa berkata apa-apa dalam kebingungan yang menyelimuti hatinya.Kenapa reaksi orang tuanya jauh dari bayangannya?Mereka terlihat sangat merindukan dirinya.Apa Dewa tidak menceritakan apapun?Apa mereka tidak tau apapun?ataukah dia yang bermimpi.Rania mencubit kecil tangannya.Sakit,itu berarti dia tidak sedang bermimpi.Rania tersenyum getir.