Balada Cinta Belahan Jiwa

Balada Cinta Belahan Jiwa
Tak sama


__ADS_3

"Mas..kau jahat." berulang kali kata-kata itu keluar dari bibir Rania.Dewa menatap lekat wajah pucat di depannya.Sungguhkah dia begitu menyakiti gadis ini hingga dia masih merasa sakitnya walau berada dialam bawah sadar.


Sekretaris Frans masuk bersama dokter wanita berusia hampir setengah abad yang tinggal tak jauh dari kediaman mereka.Dokter itu dengan cekatan memeriksa kondisi Rania.


"Bagaimana keadaan istri saya dokter?" tanya Dewa terlihat sangat kawatir.


"hanya demam biasa.Orang yang baru saja terkena typus memang rentan demam jika terlalu capek ataupun makan terlalu pedas seperti istri anda.Sebaiknya jagalah pola makan dan istirahat cukup pak.Jika panas terlalu tinggi,anda bisa mengompres dengan air hangat agar nyonya Rania tidak menggigil.Berikan juga minum air putih yang banyak agar panasnya lekas turun." Dokter itu menulis resep dan mewanti-wanti agar Dewa segera membeli obat dan meminumkanya pada Rania.Setelah itu dia berpamitan,Frans mengantarnya sekalian menebus obat ke apotik.


Dewa mengelus pucuk kepala Rania dengan penuh kasih sayang.Beberapa kali dia membenarkan kain kompres di dahinya.Beberapa saat kemudian Rania tersadar bersamaan dengan sekretaris Frans yang masuk ke kamar dan menyerahkan obat.


"Frans"


"ya presedir."


"Sementara istri saya sakit,menginaplah disini."


"baik presedir." Frans lalu meninggalkan kamar itu.Dia memang sudah terbiasa menginap dikediaman Dewa karena tuannya itu masih membutuhkan arahan darinya dalam beberapa hal.Frans memang ditugaskan secara khusus untuk menjadi tutor bagi Dewa dalam bekerja.


Pria berwajah khas Australia itu menuruni tangga.Konsentrasinya pecah saat seseorang menelepon ponselnya.Dia segera mengangkat panggilan darurat itu tanpa memperhatikan sekeliling.


"Aaawwwhhh." Teriakan seseorang dan pecahan gelas hampir berdeting dilantai.Frans mematikan panggilannya dan menatap seorang berseragam ART jatuh terpental karena dia tidak sengaja menabrak tubuh mungil di depannya.Wanita itu bangun dari jatuhnya dengan susah payah lalu mengambil pecahan-pecahan gelas yang berserakan dilantai.


"maafkan saya tuan sekretaris." ujar wanita itu sambil membungkuk hormat. Frans terkesiap.


"Hey,aku yang salah karena telah menabrakmu.Seharusnya aku yang minta maaf nona." balas Frans sambil membantunya memunguti serpihan itu.Wanita itu hanya mengangguk hormat.


"Siapa namamu?"

__ADS_1


"Emma tuan." jawabnya singkat tanpa melihat wajah Frans yang memindai wajahnya.Sekretaris tampan itu menatap Emma tajam dan dalam.Wanita ini terlihat tidak muda lagi,namun punya daya tarik dengan wajah polos tanpa makeupnya.Terlihat sederhana,namun membuatnya terpesona dengan kulit eksotis dan wajah ovalenya.


Emma beranjak ke dapur dan mengganti gelas tadi dengan yang baru lalu kembali naik kekamar utama.Dewa yang menerima gelas itu dan memberikan obat pada Rania yang baru saja tersadar.


"Apa kau sudah merasa baikan dek?"


"Aku tidak apa-apa mas,maaf sudah merepotkanmu." Dewa mengenggam tangan Rania lembut.


"Kau tidak pernah merepotkanku dek.kau istriku,tanggungjawabku,jangan pernah berpikir begitu lagi."


"Dan aku sudah capek berkata..istri macam apa aku dimatamu mas?" Air mata Rania berderai mewakili sakit hati tak terperi yang dia alami.Setiap Dewa mengakuinya sebagai istri,setiap kali itulah hatinya tersakiti.Dia bukan boneka,dia punya perasaan.


"Rania...bukankah kita sudah sepakat jika kau akan membantuku mencintaimu?aku bahkan selalu menuruti permintaanmu agar aku menjadi suami yang baik bagimu."


"Apa aku perlu mengajarimu mas?Apa yang kau lakukan pada bibi Hafsah bisa kau lakukan padaku.Kau ini dudakan mas?bukan lagi perjaka yang tidak tau apa-apa!!" sahut Rania gusar.Dewa terhenyak.Air mukanya berubah,dan itu cukup disadari oleh Rania yang buru-buru menutup mulutnya dengan mata melotot kaget.Dalam hati dia menyalahkan ketololan yang sudah diperbuatnya.Papanya sudah beberapa kali berpesan agar dia tidak menyinggung masalah Hafsah di depan Dewa.Sungguh,Rania juga tidak ingin melukai perasaan suaminya itu.


"Maafkan aku mas." sesalnya dengan wajah tertunduk.


"Apa kau marah padaku mas?" tanya Rania takut-takut sambil mencuri pandang pada Dewa.


"Tidak dek.Kalau kau mau aku bersikap sama saat aku menikahi almarhumah Hafsah padamu...baiklah.Aku akan melakukannya." Dewa beranjak mengambil selimut dan bantal lalu meletakannya di sofa.Rania tercengang,Dewa bahkan tidak ingin tidur seranjang lagi dengannya.


Tertatih,Rania mendekati Dewa yang mulai membaringkan dirinya di sofa panjang itu.


"Mas...."


"hmmmm,aku capek dek.Besok saja kalau mau bicara."

__ADS_1


"Aku mau sekarang." Rania mengguncangkan bahu Dewa hingga suami tampannya itu kembali membuka mata dan menegakkan tubuhnya.


"Apa yang ingin kau bicarakan lagi dek?Aku sudah setujukan?"


"Bukan itu.Kenapa mas malah pisah ranjang denganku?"


"Kau yang inginkan?"


"Aku bilang mas lakukan apa yang pernah kau lakukan pada bibi Hafsah padaku.Bukan marah dan pisah ranjang dariku."


"Rania...Aku dan Hafsah tidak pernah tidur diranjang yang sama." kata Dewa nyaris seperti bisikan bernada sedih.Rania yang emosi menjadi terduduk lemas disisinya.


"ta..tapi kenapa mas?"


"Waktuku hanya kuhabiskan untuk mengurusnya.Saat aku menikah dengannya,Leukimia yang dideritanya sudah stadium 3 dan terus melakukan kemo."


"Mas tau bibi Hafsah sakit?" Dewa mengangguk.


"Aku juga tau hidupnya tidak akan lama lagi.Maka itu orang tuanya memohon padaku agar menikahi putrinya.Hafsah sangat mencintaiku,orang tuanya hanya ingin dia bahagia diujung usianya." Mata Dewa memerah.Menceritakan tentang Hafsah tentu saja menguras air mata dan mengaduk perasaanya.Rania menjadi ikut larut dalam nestapa.Digenggamnya tangan suaminya.


"Maafkan aku mas.Aku sama sekali tidak tau kalau...."


"Rania,ada banyak hal didunia ini yang harus dan tidak harus disembunyikan.Bagiku pernikahan itu sakral.Saat aku menikahimu,aku juga berharap akan menua bersamamu meski pada awalnya aku sangat benci dengan fitnah yang kau timpakan padaku.Meski aku menggunakan Hera untuk menyakitimu dan membuatmu pergi dariku,tapi sungguh...aku tidak berniat berpisah darimu."


"Aku memang pernah menikah dek,tapi pernikahan dengan tanda petik.Sesungguhnya aku belum pernah berhubungan dekat dengan wanita.Aku hanya perlu waktu untuk belajar mejadi suami dalam arti sesungguhnya.Dan untuk itu aku memerlukan dirimu." lanjutnya kemudian.Rania membiarkan air matanya tumpah.Refleks dia memeluk tubuh Dewa erat.Dia sama sekali tidak tau apa-apa tentang Dewa.Dia hanya berpikir Dewa sangat egois karena malu mengakuinya sebagai istrinya.Dia tidak pernah bertanya alasannya juga bagaimana kehidupan yang dijalani suaminya sebelum menikah dengannya.Dewa menghapus air matanya dengan ibu jarinya.


"Jangan menangis dek."

__ADS_1


"Kalau begitu jadilah suami terbaiku mas."


"Kau harus mengajariku mencintaimu Rania.Biarakan aku juga punya tatapan penuh cinta sama seperti saat kau melihatku.Dek....berjanjilah agar terus mencintaiku." Dewa mengecup kening Rania lembut.Lagi-lagi Rania menghambur dalam dekapan hangatnya.Cinta memang butuh kata-kata.


__ADS_2