Balada Cinta Belahan Jiwa

Balada Cinta Belahan Jiwa
Salah paham lagi


__ADS_3

Pagi menjelang saat Rania mengerjabkan matanya.Suara dengkuran halus terdengar dari bibir Dewa yag tepat berada di keningnya.Yah,semalaman dia tertidur lelap dalam pelukan suami tercintanya.Dirabanya pipi sang suami lembut hingga Dewa membuka matanya,diraihnya tangan Rania dan menghujaninya dengan kecupan ringan.


"Sudah adzan dek?" tanyanya dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Belum mas,mungkin beberapa menit lagi."


"Mau kemana?" Dewa mencekal pergelangan tangan Rania yang akan bangkit dari tidurnya.


"Mau mandi,sholat trus nyiapin sarapan."


"Nggak usah ke dapur dek.Biar bi Sum dan Emma yang menyiapkan sarapan.Kau tidak perlu memasak untukku tiap hari.Cukup saat aku ingin saja,selebihnya kau harus banyak beristirahat agar tidak kambuh-kambuh lagi."


"iihh...kok mas Dewa jadi cerewet sih?" Rania pura-pura mencubit lengan suaminya.Dewa menangkap tangannya lalu menariknya kembali ke dalam pelukan hangatnya.


"Mandi nanti saja kalau sudah adzan."


"tapi nanti malah lama mas.Kan harus gantian sama kamu." protes Rania.


"ya kita mandi sama-sama." balas Dewa enteng sambil membelai rambut panjang istrinya.


"nggak!!"


"kenapa?"


"malu."


"Malu apanya?aku sudah terbiasa melihat tubuhmu sejak balita.Kemarin juga aku membantumu berpakaian.Bagian mana lagi yang belum kulihat dek?" tanya Dewa dengan nada lucu dan senyum menggoda.Rania mendengus kesal sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah dengan meneggelamkannya ke dada suaminya.


Dewa benar-benar memaksa Rania mandi bersama meski wanitanya itu menolak keras pada awalnya.Ada kalanya pria tampan itu tida bisa menahan diri dan beberapa kali mencium bibir basah Rania.Adzan subuh menghentikan acara mandi bersama pagi itu.Dewa dengan sangat manis mengelap dan mengeringkan tubuh putih mulus Rania dan membungkusnya dengan bathrope.Sedang Rania,sejak awal dia tidak berani menatap tubuh Dewa terutama bagian bawah.Dia merasa sangat gugup dan malu.


Selesai sholat berjamaah,Dewa membuka jendela kamar dan menuju balkon.Dia memanggil Rania agar mendekat.

__ADS_1


"lihat,fajar akan menyingsing.Terlihat indah bukan?" katanya sambil memeluk Rania dari belakang,melabuhkan ciuman kecil dipundaknya.


Rania begitu terpukau.Entah kapan terakhir kali dia menyaksikan matahari terbit.Dia selalu disibukkan oleh rutinitas menjemukan tiap hari.


"iya,sangat indah." gumamnya.


"Matahari itu selalu mengingatkan aku padamu gadis kecil." bisiknya ditelinga kanan Rania.Tubuh gadis itu menegang karena pelukan Dewa yang makin erat dipinggangnya.Pria itu bahkan menempelkan dagunya dipundak kanannya hingga hembusan nafas harumnya menerpa leher jenjang Rania.


"ma..maksud mas Dewa apa?" kata Rania tergagap.


"Kau..matahariku,penyemangat yang terus membuatku terbangun penuh semangat walau lelah sekalipun.Aku merasa punya seseorang yang harus kujaga,kulindungi dan...kusayangi."


"hanya itu?"


"kau seperti putri kecilku." bisiknya lagi.Kali ini Rania meradang.Ditariknya paksa tangan Dewa yang melingkar diperut ratanya.Tatapan tajamnya mewakili hatinya yang kembali terluka.


"Selamanya aku hanya akan menjadi putrimu mas.Tidak ada tempat lain bagiku dihatimu.Sekarang kumohon...jangan memintaku mengajarimu mencintaiku karena aku tidak sanggup untuk itu.Cintaku padamu adalah cinta seorang wanita pada lelaki dewasa,cintamu padaku hanya kasih ayah pada anaknya.Kita berbeda om.Maaf jika permintaanku keterlaluan.Tapi mulai sekarang aku tidak ingin tidur seranjang juga sekamar denganmu lagi." kata Rania panjang lebar.Tegas,tanpa air mata,membuat jarak dengan menagkupkan kedua tangan di dada tanda memohon dengan sangat.Dewa kembali terkesiap.


"Rania...dek,bukan itu maksudku."


"Aku cukup dewasa untuk mengerti jika perasaan memang tidak dapat dipaksakan atau dibohongi om.Maafkan aku yang datang dengan tidak sopan dalam kehidupanmu.Om tidak perlu mencariku,aku akan beraktifitas seperti biasa dan akan pulang sebelum om pulang.permisi om." Rania melenggang pergi menuju kamar tamu dimana baju-baju dan keperluan kuliahnya yang dikirim dari kediaman Ardinata diletakkan.Dia bergegas berganti baju,memesan ojek online lalu keluar dari rumah.


"Dek!" teriak Dewa.Rania tidak menoleh hingga Dewa sedikit kesal dan menarik tangannya.


"hmmmm"


"Semarah apapun kau padaku,kau harus tetap pamit pada suamimu ini." lagi..hatinya teriris.Tidak mau memperpanjang masalah,Rania mengambil tangan kanan Dewa dan mencium punggung tangannya.Matanya melebar saat bibir kenyal Dewa menempel di dahinya.


"Bukankah ini permintaanmu?aku tidak akan lupa menciummu saat kita akan berpisah diluar rumah." bisiknya.Rania tidak menanggapi.Ekor matanya melirik ojol yang sudah tiba di pos satpam.


"saya berangkat om.Asalamualaikum." tanpa menunggu balasan suami brengseknya dia berlari kecil melewati halaman luas sambil menjinjing tas punggungnya.

__ADS_1


Dewa menarik nafas panjang.Kenapa dia selalu saja salah ucap?kenapa dia merusak moment romantis mereka dengan perkataan bodoh yang tidak penting bagi keduanya?Yang jelas dia harus bertemu Ardinata dan istrinya.Hanya dengan mereka dia bisa terbuka,mereka teman curhat terbaik yang pernah dia punya.


Rania berhenti didepan rumah Mela yang masih sepi.Sebenarnya dia malu datang bertamu sepagi ini.Tapi mau bagaimana lagi?dia butuh Mela untuk berbagi.Dia menekan bel dengan sedikit ragu.Mela tidak mengangkat teleponnya sejak tadi.Apa mungkin sahabatnya itu masih molor dan meringkuk dibawah selimut hangat ya?


Gerbang terbuka.Mbak Asih,pembantu rumah itu tersenyum padanya dan melebarkan pintu agar Rania bisa masuk dengan leluasa.


"Mela ada mbak?"


"Ada mbak.Non Mela barusan nemenin nyonya jalan-jalan pagi.Paling sekarang masih mandi."


"oohh ya..saya masuk ya?" mbak Asih mengangguk.Dia memang sudah hafal dengan kebiasaan dua sahabat itu.


Rania naik ke kamar Mela,dia melewati kamar Firman yang sedikit terbuka.Melalui ekor matanya,Rania bisa melihat kakak Mela itu sedang sibuk didepan laptopnya.Rania buru-buru membuang pandang saat mata mereka bersitatap.Gadis itu mempercepat langkahnya menuju kamar Mela.


Mela yang baru keluar dari kamar mandi terlonjak kaget saat pintu tiba-tiba terbuka.Rania memang punya kebiasaan aneh jika disana,lupa mengetuk pintu.


"wooiuhhh..kamu ngagetin aku aja Ran." pekiknya.Rania tidak menyahut.Dia menghambur kedalam pelukan Mela hingga gadis itu nyaris terjengkang.Tangis Rania pecah hingga bahunya terguncang.Mela menariknya agar duduk di sofa.


"Ada apa?kau berantem lagi sama om Dewa?" Rania mengangguk,mengatur nafasnya.


"Dia selalu saja menganggapku anak kecilnya.Aku benci dia Mel." katanya disela isakan tak terkendali yang keluar dari bibirnya.


"Kau harus siap dengan semua itu Ran.Bukanya dari awal kau sudah tau kalau om Dewa itu tidak mencintaimu?"


"Tapi kenapa rasanya sesakit ini Mel?" ujarnya lagi sambil menepuk dada kirinya.Mela kembali memeluknya,memberi ketenangan pada sahabatnya itu.Tanpa mereka sadari,sepasang mata menatap keduanya dalam diam.


**********


Selamat sore readers...


Tidak ada moment yang tak berarti didalam kehidupan.Dalam kesempatan ini author hanya akan mengucapkan "Selamat Natal" pada kalian yang merayakannya.Semoga kedamaian selalu menyertai kalian semua.Tetap semangat ya..kita lanjut eps berikutnyašŸ¤—šŸ¤—.

__ADS_1



__ADS_2