
"Kenapa sih tiba-tiba mas Dewa jadi manis banget hari ini?" celutuk Rania saat mereka usai sholat dzuhur.Dia melipat mukenanya lalu meletakkannya di rak dekat almari.Dewa hanya menatapnya tajam.Rania mendekatinya,bergelayut manja pada lengannya dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami yang masih dibalut bau koko hijau muda.Dewa mengelus kepalanya lalu mendaratkan kecupan lembut disana.
"nggak boleh ya,manis sama istri sendiri?" tanyanya lirih.Rania mendongakkan kepalanya.Wanita muda itu beringsut merapatkan tubuhnya,meletakkan kepalanya diceruk leher Dewa dan menghadiahkan ciuman keleher suaminya.Darah Dewa tersirap.
"Jangan memancingku dek." katanya nyaris menyerupai *******.Bukanya berhenti,Rania malah bergerak intens mengelus dada sang suami lalu mengelus rahang kokohnya dengan jemari lentiknya.Tidak ada salahnya bukan jika dia berbuat begitu?mengabaikan semua rasa malu yang selama ini menderanya.
"mas.." Dewa sudah lebih dulu membungkam bibir Rania dengan ciuman panas yang membuat nafas keduanya tersengal.Rania hanya pasrah saat lengan kokoh itu mengangkatnya berdiri dan menuntunnya ke ranjang tanpa melepaskan tautan bibir keduanya.Bulu-bulu ditubuhnya meremang,masih sama saat pertama kali Dewa menyentuhnya.******* demi ******* mengiringi dua insan manusia itu berpacu dalam hasrat.Mengejar puncak keindahan surgawi.
"Kau selalu membuatku puas dek." bisik Dewa ditelinganya.Pria tampan itu menggulingkan badannya kesamping dan memeluk tubuh Rania yang penuh keringat.Diraihnya handuk kecil yang memang selalu disediakan Rania diujung tempat tidur,lalu disekanya keringat itu dengan kasih sayang.
"Mas,tetaplah dirumah." rengek Rania manja seraya memeluknya erat.
"Aku memang akan dirumah."
"benarkah?" tanya Rania setengah tidak percaya.Dewa mengangguk mantap,membuat wanitanya tersenyum lebar dan menelusupkan kepalanya kedalam pelukan hangatnya.Dewa terkekeh,sebegitu mudahnya membuat istri kecilnya itu bahagia.Dia hanya butuh waktu dan perhatian darinya.Hal yang ingin selalu Dewa lakukan walau sering harus berkejaran dengan kesibukannya.
"Sekarang kita mandi.Om Christ belum makan,kita akan makan siang bersama." Sedikit malas,Rania melepaskan pelukannya.Awalnya dia berencana akan terus berada dikamar mereka,menghabiskan waktu berdua saja dengan suaminya dengan hal-hal romantis.Tapi dia menyadari,ada tamu dirumah mereka dan dia tidak bisa mengabaikannya.
__ADS_1
"kok wajahnya kusut begitu?mau mas mandikan dek?"
"eng..nggak usah mas." Tapi Dewa sudah lebih dulu menariknya ke kamar mandi,dan memandikan Rania seperti anak kecil dengan sentuhan lembut yang selalu membuat Rania seperti dimanjakan.
Mereka bergegas turun dengan pakaian santainya menuju ruang makan yang menjadi satu dengan dapur luas yang dipenuhi kaca menghadap ketaman samping rumah.Beberapa menu sudah tertata rapi disana.Rania baru saja duduk saat Om Christ datang disusul Dewa yang tadi memanggilnya untuk makan.Tatapan tajam cenderung sadis mendarat pada Rania.Lelaki itu mengambi duduk diseberang keduanya,memincingkan matanya melihat rambut basah pengantin baru itu.Rania bahkan masih mengurai rambut panjangnya dengan beberapa helai rambut yang diselipkan ke telinganya.Tidak ada yang bisa mengingkari kecantikan putri sulung Ardinata himawan itu dengan segala kenaturalan yang melekat pada tubuhnya.Benar-benar wanita muda yang layak disebut luar biasa.
"Kudengar negeri ini dipenuhi wanita mandiri yang akan mengurus rumah tangga dan suaminya dengan ketulusan.Atau hanya dirumah ini saja istri dibiarkan seharian diluar tanpa peduli urusan rumah ya?" cetus Christ dengan nada mengejek.Rania bungkam,dia merasa tertampar dengan perkataan Christ.Padahal baru hari ini saja dia tidak memasak untuk suaminya,juga hanya setengah hari diluar rumah.Tidak seharian seperti yang Christ tuduhkan.
"Saya yang melarang Rania mengurus rumah om.Dia masih kuliah,juga mengurus tokonya.Sudah kesepakatan kami diawal pernikahan kalau saya tidak akan membatasi ruang gerak Rania." jawab Dewa tenang.Dia juga menahan tangan Rania yang hendak mengambilkan dia makanan seperti biasanya.Kali ini Dewa mengambil menunya sendiri.Tak hanya sampai disitu,dia juga mengambilkan piring dan mengisi menu yang sama dengannya lalu meletakkannya didepan Rania.
"Jangan terlalu memanjakan wanita Daniel.Mereka punya seribu wajah dan muslihat untuk mengincar apa yang kau miliki.Saat kau kaya mereka menjadi bidadari,tapi saat kau jatuh,mereka berubah menjadi malaikat pencabut nyawa yang sangat mengerikan." lagi...kalimat yang tidak disukai Dewa terlontar.Rania hanya menundukkan wajahnya,merasa dialah yang jadi sasaran pembicaraan Christ.Wajahnya memerah.Dewa tiba-tiba mengenggam tangannya yang dia taruh dipangkuannya.Jemarinya terasa hangat seolah menyatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Aku hanya memperingatkanmu Daniel.Rania masih menatap suaminya takjub.Pria ini sangat cool dalam menghadapi sesuatu.Lihatlah dia yang dengan sebuah tangan terkepal dibawah meja masih berusaha tenang dan terlihat asyik menikmati sup dan potongan ayam yang menjadi menu pilihannya tadi.
Selepas makan,Rania membawa piring dan gelas bekas dipakai kedapur lalu mencucinya seperti biasa.Dia merasa tidak enak hati karena tatapan tajam Christ yang seolah berusaha mencari kesalahannya.Senyum sinis menghiasi wajahnya.Rania juga tidak tau apa kesalahannya sehingga Christ terlihat sangat membenci dirinya.Dia juga tidak pernah bersikap ramah padanya sejak bertemu beberapa jam lalu.
"kenapa om?Rania sudah biasa mencuci sendiri ataupun melakukan pekerjaan rumah.Om tidak usah heran begitu." sindir Dewa begitu menyadari tatapan Christ tertuju pada Rania yang terus menundukkan wajahnya.Dia tau istrinya sangat tidak nyaman saat ini.
__ADS_1
"Kau hanya belum tau motif mereka.Perusahaan ayahnya hanya syarikat kecil yang tidak ada apa-apanya dibanding Wright crops.Dia pasti punya alasan menikahimu." Dewa menggelengkan kepalanya,tersenyum miring.
"Terimakasih atas nasihatnya om.Tapi baik saya ataupun Rania tidak ada yang berniat mempermainkan pernikahan untuk urusan dunia om." kembali Dewa berusaha menekan amarah yang sudah membuncah di rongga dadanya.Bagaimanapun Rania adalah istrinya,pakaian baginya.Mana mungkin dia akan diam saja saat orang lain menghina dan menuduh isrinya macam-macam.
"Kurasa kau telah salah memilih Daniel.Orang sepertimu terlalu naif karena harta yang didapat tiba-tiba." Kesal.Itu yang dirasakan Dewa.Ekor matanya menangkap siluet Rania mendekat,tapi bukan padanya.Wanitanya mendekat pada Christ.Dahinya berkerut,memikirkan apa yang akan dilakukan Rania disana.
"Maaf om,apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Christ melengos
"tidak." katanya singkat.
"kenapa om bersikap seolah mengenal saya dan menghakimi seolah saya pernah melakukan kesalahan?" buru Rania lagi.
"Ternyata kau tidak sepolos tampilanmu."
"Siapapun akan bersikap sama jika merasa harga dirinya dilukai om."
"Jadi kau masih punya harga diri?" sarkas Christ penuh kebencian.Rania tersenyum seraya menoleh pada Dewa yang tetap duduk tenang ditempatnya.
__ADS_1
"Om boleh tidak menyukai saya,tapi tolong jangan pernah mengatakan apapun yang menyakiti suami saya termasuk soal harta.Sebelum papa Alex datangpun mas Dewa sudah bahagia dengan kehidupannya.Harap om tau,kami bukan orang gila harta." ujar Rania tenang.Christ mendelik marah dikursinya.