Balada Cinta Belahan Jiwa

Balada Cinta Belahan Jiwa
Bertemu


__ADS_3

Dua orang pria duduk saling berhadapan disebuah resto makanan cepat saji yang sore itu tengah sepi pengunjung.Yang satu pria blasteran yang terkesan tampan dalam balutan jas biru dongker yang membalut tubuhnya,satu lagi pria tak kalah tampan dengan jas coklat muda duduk didepannya.Mereka terlibat pembicaraan serius seputar pekerjaan dan kontrak kerja.


Ardinata Himawan meneliti tiap masukan dan complain dari Daniel Wright yang merupankan partner bisnisnya.Dia juga mencorat-coret kertas di depannya untuk proses revisi disana sini yang diajukan Daniel.


Sejak kejadian yang menimpa Rania beberapa minggu lalu,keduanya memang sepakat bersikap profesional dalam bekerja.Daniel yang mengajaknya bertemu sore itu.Frans dan sekretaris Ardinata duduk dimeja terpisah tak jauh dari mereka.Tidak ada hubungan menantu dan mertua,juga tidak ada persahabatan diantara keduanya.Mereka hanya bicara bisnis dan hal seperlunya.


"Saya yakin anda bisa menyelesaikan proyek ini tepat waktu tuan Himawan." kata Dewa menutup sesi pertemuan itu dengan jabat tangan.Ardinata tersenyum.


"Terimakasih atas kepercayaan anda pada kami tuan Wright.Senang bertemu anda hari ini.Saya permisi dulu." jawab Ardinata lalu berjalan keluar diikuti sekretarinya tanpa menoleh lagi kebelakang.Daniel Wright terduduk lemas di mejanya,seolah baru saja menanggung beban berat yang dia pikul sendirian.


"Apa kita akan kembali ke kantor sekarang presedir?" tanya Frans yang sudah berdiri tak jauh darinya lengkap dengan kaca mata hitam yang membuatnya begitu gentle.


"Ya." jawab pendek Dewa lalu menuju mobilnya.Frans membuka pintu belakang,mempersilahkan tuannya masuk lalu menutup pintu dan beralih ke pintu kemudi.Ujung matany melirik sang tuan dari kaca depan,menangkap aura resah dari sana.Dilajukannya mobil dengan kecepatan sedang.


"Kenapa anda tidak berusaha membuat nyonya kembali presedir.Kelihatannya anda sedang tidak baik-baik saja." Dewa menatap tajam sekretarisnya itu.


"Aku tidak membutuhkannya." dengusnya kasar.


"bibir anda yang berkata begitu,tapi tubuh anda berkata lain.Berapa hari anda tidak makan dan tidur dengan benar presedir?"


"Kau tidak perlu mencampuri urusan rumah tanggaku Frans." hardik Dewa ketus.

__ADS_1


"Saya hanya akan mengingatkan anda presedir.Perpisahan itu meninggalkan luka dan air mata.Anda tidak akan bisa menghapusnya sendirian.Saran saya,bawa nyonya kembali sebelum anda menyesal suatu hari nanti."


"Kalau kau mau,kenapa tidak kau saja yang melakukannya?kau bisa menikahi Rania karena aku dan dia sudah berpisah." Frans tersenyum miring.


"Saya bukan penghianat yang akan menikam dari belakang tuan.Tapi saya pastikan akan ada pria baik yang akan datang pada nyonya dan membuat anda menyesal." bebernya mantap.Daniel Wrigt terdiam sesaat lalu membuang pandangannya keluar jendela.Sedikit tersentak kaget saat matanya menangkap siluet yang begitu dikenalnya.


"Berhenti Frans!" perintah Dewa tiba-tiba.Untung saja Frans melaju dengaj kecepatan sedang hingga tidak begitu terjadi goncangan.Mata birunya mengikuti arah pandang sang majikan.Diseberang jalan sana,Rania dengan pakaian kasual dan jilbab segi empat yang tertata manis menutupi kepalanya keluar dari mobil silver milik Ardinata membawa kantong plastik besar ke arah para pedagang asongan dan anak-anak pengemis yang berjajar disepanjang jalan untuk mengais rejeki.Dibelakangnya,Tika mengikuti dengan membawa kantong yang sama dikedua tangannya.Kedua perempuan itu membagi-bagikan makanan kotak pada semua yang ada disana,disambut linangan air mata dan ucapan syukur dari penerimanya.Istrinya itu juga tidak sungkan menerima jabat tangan orang-orang yang terlihat dekil disana.Sungguh rendah hati.


Hati Dewa menghangat.Ingin rasanya dia berlari kearah wanitanya,memeluknya erat,atau sekedar mengusap peluhnya.Hampir sebulan tidak bertemu membuatnya merindu.Tapi untuk apa?bukankah dia yang mengembalikan Rania pada orang tuanya?Sidang gugatan cerainya juga sudah didaftarkan,tinggal menunggu sidang perdana.Bisa dipastikan proses itu tidak akan lama karena dia sudah melobi semuanya dengan cerdik.Uang bicara diatas segalanya.


"ikuti dia Frans!" perintahnya lagi saat melihat Rania masuk kembali ke mobilnya,membawa beberapa makanan yang tersisa.


"untuk apa presedir?bukankah anda sudah membuangnya?lelaki sejati tidak akan menjilat ludahnya sendiri atau mengais barang bekas yang sudah terbuang." kata Frans kesal.


Itulah yang dilakukan Rania sepanjang sore hingga hampir maghrib hari ini.Membagikan makanan dan minuman pada orang-orang yang membutuhkan.Lihatlah,dia membuat semua tukang becak dan ojek online yang ditemuinya tersenyum penuh syukur.Dia sudah membuat semua orang bahagia,mengendapkan nestapa dalam sukmanya dan membiarkan jiwanya mengembara demi membuat orang lain bahagia.


Dewa termenung.Frans masih menyalakan mesin mobilnya di dekat masjid dimana Rania,Tika dan sopir Ardinata beristirahat untuk sholat maghrib.Pikirannya kacau.Secepat itu Rania bangkit dari keterpurukan.Wanitanya bahkan terlihat tegar dan sangat bahagia.Sudah hilangkah dia dari pikiran Rania?


Mobil Rania kembali bergerak ke arah ruko tempatnya membuka usaha.Dewa nyaris tidak percaya saat dua buah Truk berjajar didepannya disertai beberapa kuli angkut yang mengangkat etalase juga barang-barang dagangan yang sudah dibungkus rapi keatasnya.


"Apa mereka mau pindah?" kalimat tanya yang nyaris seperti bergumam pada diri sendiri.

__ADS_1


"Ya presedir."


"kau tau?kenapa tidak beri tau aku?" ketus Dewa setengah emosi.Frans hanya menaggapinya kalem.


"Tuan tidak pernah bertanya."


"Frans!!kau ini...keterlaluan!!" hardik Dewa tidak senang.


"Saya hanya menjalankan tugas yang anda berikan presedir.Bukankah tadi anda bilang saya tidak boleh mencampuri urusan rumah tangga anda?apa anda lupa?" balas Frans sengit.Dewa mengepalkan tangannya kuat.


"Lalu mereka akan kemana?"


"Tuan Himawan sudah menyiapkan tempat disamping rumahnya.Nyonya akan melanjutkan kuliah ke Inggris,menyusul kakak tuan Himawan.Toko itu akan dikelola nyonya Yanti nantinya." tubuh Dewa lemas seketika.Tulang-tulangnya terasa remuk tak berbentuk.Frans hanya menatap sang majikan dingin dari kaca depannya.


"Hallo...Ar,bisa kita bertemu?" suara Dewa menelepon seseorang memecah keheningan diantara mereka.Diseberang sana,Ardinata Himawan terdiam.Mencerna ucapan Dewa.


"Ini terlalu malam untuk urusan bisnis tuan Wright.Anda tau pasti saya tidak mengurus masalah pekerjaan diluar jam kerja bukan?"


"Aku ingin menemuimu sebagai seorang sahabat." hening.Dewa merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya saat menunggu jawaban Ardianata.Apa dia masih pantas berharap Ardinata mau menjalin dan mengakuinya sebagai sahabat saat dia sudah menyakiti putri kesayangannya?apa dia terlalu naif untuk berharap jika keluarga Himawan akan menerimanya seperti dulu?


"Baiklah.Dimana?" putus Ardinata setelah sekian lama terdiam.Dewa menarik nafas lega.

__ADS_1


"Kafe X."


"Baik.aku kesana." Ardinata menutup panggilan sepihak.Kali ini Dewa merasa benar-benar menjadi pecundang.Ardinata yang disakitinya masih mau menemuinya sebagai sahabat.Lalu sahabat macam apa dirinya?bukankah tidak ada seorang sahabatpun didunia ini yang akan tega menyakiti hati sahabatnya?Rania adalah jiwa Ardinat,dan dia sudah menancapkan ribuak anak panah dihatinya.Bukankah itu berati dia juga menancapkan anak panah itu dihati Ardinata dan Yanti yang sudah setia disisinya sejak dia bukan siapa-siapa???


__ADS_2