Balada Cinta Belahan Jiwa

Balada Cinta Belahan Jiwa
Ijin


__ADS_3

Acara makan berlanjut ke teras belakang.Yanti menghidangkan teh hangat dan cemilan bagi mereka yang duduk santai sambil menatap senja disana.Ardinata memang mendesain rumahnya agar bisa menikmati sunset yang indah setiap harinya.Menatap cakrawala yang semakin merah sebelum kembali ke peraduannya.


"Dek,ayo rebahan."ucap Dewa sambil menepuk pangkuannya.Rania hanya melongo tidak bereaksi.Dewa segera menarik tubuh Rania agar rebahan dikursi panjang yang mereka tempati sekarang.Agak ragu,Rania menempatkan kepalanya dipangkuan Dewa,persis saat dia kecil dulu.Dewa akan selalu membaringkannya dalam posisi begitu saat dia tidak enak badan,mengelus kepalanya lembut hingga dia tertidur dan Dewa akan senang hati mengangkat tubuhnya untuk ditidurkan di dalam kamar.Mama papanya seakan maklum pada pasangan itu.Pasalnya,mereka sering melakukannya dari dahulu.


" Bagaimana bisnismu,Wa?” tanya papanya sambil menyesap teh hangatnya.


"Aku masih dalam tahap belajar,Ar ehh...pa." jawab Dewa sambil tersenyum nakal,Dia lupa jika sudah menjadi menantu sahabatnya.Ardin yang digoda malah asyik mesam-mesem saja.Kadang dia juga lupa jika Dewa sudah jadi menantunya.


"Bagus itu.Suatu saat kamu nanti harus meneruskan perusahan papamu kan?itupun kalau Mr.Alex tidak berniat pensiun dini." timpal Ardin lagi.


"Tapi kelihatannya papa memang berencana pensiun dini.Maka itu dia melarangku keluar dari Ausie dalam jangka setahun agar aku fokus.Papa lupa aku ini pria smart rupanya." balas Dewa sambil membusungkan dadanya.Ardin terkekeh melihat kenarsisan sahabatnya itu.Tidak ada yang berubah dari hubungan keduanya.Hanya status saja yang berubah dari dua sahabat itu.


"Kau beruntung punya papa seperti Mr Alex.Dia begitu menyayangimu." ujar Ardin lirih.Kalau dibilang masalah keberuntunga,Dewa bukan satunya.Dia juga pria beruntung karena bernasib hampir sama dengan sahabatnya itu.


"Untuk urusan mendapatkan orang tua,bisa dibilang aku cukup beruntung.Aku dapat papa sepertinya dan juga dapat papa mertua sepertimu.Bukankah begitu...papa?” lagi-lagi Dewa menekan kata 'papa' pada Ardin,seolah sedang mengejek papa mertuanya.Ardin hanya tertawa lepas.


" Lalu kau akan berapa lama disini?"


"Kau mengusirku ya?" sentak Dewa sambil bersungut kesal.


"Siapa yang mengusirmu?aku hanya bertanya papamu memberi cuti berapa lama?" jelas Ardin lagi sambil menggelangkan kepalanya.Dewa memang begitu,sering salah paham pada perkataanya.Ausssie sama sekali tidak merubah kepribadiannya.


"Itu terserah aku kok.Papaku hanya berpesan agar menantunya dibawa ke Aussie." katanya enteng tanpa beban.

__ADS_1


"Apa??!!!" hampir saja Rania meloncat dari pangkuan Dewa jika suami tampannya itu tidak menekan pundaknya agar kembali ke posisi semula.Mata Rania terbeliak,wajahnya terlihat bingung.Bagaimana bisa dia ikut Dewa ke tempat asing yang sangat jauh dari orang tuanya?


"Dek,aku kesini juga untuk menjemputmu." ujar Dewa sambil mengelus kepala Rania lembut.Seketika Rania teringat percakapan mereka di kamar tadi.Apa ini yang dimaksud Dewa dengan menciptakan drama?apa sekarang pria ini sedang beracting di depan papanya?Membayangkan saja Rania sudah tidak sanggup lagi.


"maksudnya?Rania akan ikut denganmu?" tanya Ardin kemudian saat melihat anak dan menantunya hanya saling pandang.Yang satu dengan wajah bimbang,yang satunya dengan senyum smirk terkembang.


"iya memang aku punya berapa istri sob?" jawab Dewa tanpa mengalihkan pandangannya dari Rania yang masih melotot padanya.Pria itu terkekeh hingga mau tidak mau Rania msmbuang pandangannya ke arah lain.


"sob?aku ini papa mertuamu sekarang bocah tengil.Kau harus sopan padaku.Dasar bocah tidak punya ahlak." gerutu Ardin lagi.Dewa hanya tertawa.Betapa sulitnya merubah panggilan atau kebiasaan diantara mereka.Kebersamaan yang terjalin bertahun-tahun,persahabatan yang tidak mengenal kata pupus...kini berganti dengan mertua menantu yang sama-sama susah move on.


"ohh....maafkan aku papa.Kadang menantu tampanmu ini amnesia akut." potong Dewa cepat sambil cengengesan.Dia menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal.


"Aku sih terserah kamu Wa,Rania sudah jadi istrimu.Terserah kau mau membawa dia kemana.Dia sudah tanggung jawabmu sekarang.Tapi ingat Wa,jangan pernah menyakiti putriku.Kau taukan,aku sangat menyayanginya?"


"Dek,mau kemana?" tanya Dewa setengah berteriak karena Rania melangkah cepat masuk ke dalam rumah.Sayangnya istri kecilnya itu sama sekali tidak menjawab.


"Kau sudah menyakiti putriku Wa." keluh Ardinata dengan wajah lesu.


"menyakiti apa?aku tidak bersikap kasar atau memukul Rania." kilah Dewa.Ardinata menarik nafas panjang.


"Sekarang dia sudah menjadi istrimu.Kau masih saja mengangapnya anak kecil."


"Tapi aku....."

__ADS_1


"Wa,Kau tau kan Rania sudah jatuh cinta padamu hingga berbuat nekat seperti kemarin?dia ingin kau mengangapnya istrinya...bukan bocah anak asuhmu lagi."


Mata Dewa nanar menatap pintu dimana Rania menghilang.Sedikit rasa bersalah menyelusup dihatinya.


"Aku tau."


"Bawa Rania kemanapun kau pergi karen itu adalah keinginan terbesarnya.Tapi cintai Raniaku Wa,dia anak yang baik tapi dibutakan perasaan cintanya padamu."


"Bukankah kau sudah tau kalau aku tidak main-main dengan pernikahan ini?Kalaupun aku belum bisa mencintai Rania,tapi aku akan menjaganya dengan baik.Itu janjiku."


"Bagaimana jika kau ingkar?" buru Ardin dengan mata menyelidik.Dewa terdiam lama.


"Ambillah dia dariku dan buat aku tidak bisa menemukannya dimanapun hingga aku mati dalam penyesalan,pa." jawabnya dengan tegas kemudian.


"aku pegang janjimu." putus Ardinata.


"aku tidak pernah ingkar janji pada siapapun,pa." Lagi,Dewa menyerukan kesungguhannya dan ditanggapi Ardin dengan wajah datar.Dia sudah cukup tau siapa menantunya.Tidak perlu Dewa berkatapun dia tau kalau pria di depannya itu,menantu sekaligus sahabatnya itu adalah pria yang konsisten,jujur dan pekerja keras.Itu alasannya berani mempercayakan proyek-proyek besar pada Dewa diwaktu lalu.Loyalitasnya tidak bisa diragukan lagi.


"baguslah.Sekarang susul tuan putri itu sebelum dia menolak ajakanmu nanti." timpal Ardinata lagi.Dia tertawa keras saat menantu barunya itu bergegas berlari ke dalam kamarnya.Dari pintu samping sekretaris Frans muncul sambil meneliti ponselnya.Dia terkesiapa saat melihat Ardin melambaika tangan padanya.


"iya tuan..."


”Frans,kemarilah.Kita ngobol bersama." Frans berjalan tegap kehadapan Ardinata.Sesaat kemudian mereka terlibat pembicaraan serius seputar dunia bisnis.Frans ternyata sekretaris yang pintar,rapi handal dan...sosok bule yang tampan.

__ADS_1


__ADS_2