Balada Cinta Belahan Jiwa

Balada Cinta Belahan Jiwa
Kunjungan


__ADS_3

Sebuah mobil mewah berhenti di depan kediaman Himawan.Seorang pria bertubuh tegap berwajah bule turun dengan gaya elegan.Setelan formal biru tuanya mempertegas kesan lux pada dirinya yang sudah tidak bisa dibilang muda.Jangan lupakan sisa-sisa ketampanan pada wajahnya dimasa lalu yang masih tetap terukir diusia senjanya.


Dua orang pengawal mengikuti langkah panjangnya hingga ke pagar.Pria itu menekan bel hingga bunyi nyaring terdengar di dalam rumah besar itu.Sekeliling rumah masih terlihat sepi karena pagi yang belum sempurna,embun masih memeluk jutaan kuntum bunga dan mentari yang belum turun dari peraduannya.


Derap langkah terdengar dari dalam,Ardinata yang masih berpakaian santai membuka pintu.Matanya terbelalak saat tau siapa tamunya pagi itu.Sang besan....Mr.Alexander wright berdiri tegak dengan senyum terkembang sempurna.Ardinata menjabat tangan kekar itu lalu mempersilahkan para tamunya masuk.Namun Mr.Alex memberi isyarat agar anak buahnya menunggunya diluar saja.Pria itu masuk mengikuti Ardinata yang sudah berteriak memanggil istrinya.


Yanti yang baru selesai memandikan Reno bergegas mendatangi suaminya yang terus memanggilnya dari tadi.Reaksi wanita itu juga tidak jauh-jauh dari suaminya tadi.


"Selamat datang dirumah kami.Saya Yanti,ibu Rania tuan." sapa yanti sambil sekalian memperkenalkan diri.Dia juga menjabat erat tangan besannya yang seusia papanya itu.Alexander membalasnya dengan candaan hangat agar mereka terasa tidak kaku dan cepat akrab.Yanti sampai tidak percaya jika itu adalah Alexander Wright,pria yang terkenal didunia bisnis dan merajai bisnis properti dan perhotelan di Asia da Australia.Dia yang dikenal bertangan dingin dan tegas pada siapapun menjelma menjadi pria hangat seperti kebanyakan para besan yang berkunjung pada besannya.


"Kapan anda sampai di Indonesia tuan?" tanya Ardi sembari mempersilahkan tamunya duduk.Sedanh Yanti sudah menuju dapur untuk membuatkan minuman besan dan pengawalnya.


"Baru beberapa menit lalu dan saya langsung datang kesini.by the way,bagaiamana keadaan menantu saya?" tanyanya to the point walau dengan nada santai.


"Rania belum sembuh sepenuhnya tuan.Tapi hari ini dia sudah berencana mengikuti suaminya ke Australia.Saya dengar sekretaris Frans sudah membooking tiket tengah hari nanti." jawab Ardinata berusaha santai.Sungguh dia merasa tidak enak hati karena besannya datang kerumahnya pasti untuk menjemput putranya yang tida kunjung pulang.Dan itu karena kesehatan Rania masih belum stabil.Padahal menurut janji yang disepakati keduanya bahwa Dewa hanya akan menjemput Rania dan pulang secepatnya karena dia memang tidak diijinkan keluar dari Autralia sebelum satu tahun.


"Jadi dia belum sembuh?kenapa tidak di rawat dirumah sakit saja tuan Ardinata?"


"Itu....Rania tidak mau berada diruang perawatan tuan.Dia memilih rawat jalan dirumah.Tapi saya pastikan dia akan ikut pulang bersama anda."


"No!!menantu saya tidak boleh pulang bersama saya." jawaban tegas Alex membuat Ardin terkesiap.Dia menatap wajah besannya yang berubah dingin.Mungkinkah Alex tidak menyukai putrinya dan berniat memisahkan mereka?sebagai orang tua,tersimpan kekhawatiran dalam benaknya.Jika itu sampai terjadi,dialah orang pertama yang akan menghalanginya.Dia tau,Rania sangat mencintai Dewa walau mungkin cinta itu bertepuk sebelah tangan.Tapi Dewa sudah menegasakan bahwa dia tidak main-main dengan pernikahan ini.Wajar jika Ardin akan pasang badan untuk melindungi mereka.


"Maksud tuan Rania akan tetap berada disini dan anda hanya akan membawa Dewa pulang?" tanya Ardin ragu.Dia berusaha membendung kegalauan yang meraja dihatinya.Yanti yang baru muncul dari dapur menghentikan langkahnya.Dalam diam hatinya ikut merasa was-was.

__ADS_1


Alexander hendak membuka mulutnya saat sekretaris Frans turun dan berdiri di ujung tangga untuk menuggu tuannya turun sambil mengamit lengan istri kecilnya.


"Selamat pagi papa." sapa Dewa sambil mendekat dan memeluk tubuh papanya yang berdiri dari duduknya saat melihatnya turun tadi.Sang papa memeluk erat putranya dengan kerinduan yang membuncah.Rania datang mendekat dan meraih tangan Alex.Mencium tangan mertuanya itu dengan penuh ketakziman.Alex mengelus kepalanya lembut.Terasa sekali jika tangan sang menantu terasa sedikit panas.


"kau kan masih sakit.Kenapa turun?papa bisa menengokmu ke kamarmu.” tanya Alexander pada Rania yang mengambil tempat duduk disisi suaminya.


" saya sudah baikan uncle." jawab Rania lirih.Alex yang mendengarnya melotot tajam.


"what?uncle?nak..aku ini papamu.Call me papa!" Rania sedikit kikuk lalu mengagguk.


"saya sudah baikan papa." ulangnya kemudian.Alex tertawa senang.


"Putrimu manis sekali tuan Ardinata.Saya menyukainya." katanya berterus terang.Ardinata tersenyum.Yanti mempersilahkan semuanya untuk minum teh pagi itu.


"kenapa papa tidak memberi kabar kalau mau kesini?" tanya Dewa kemudian.


"tidak.Bukan itu maksudku.Tapi...."


"Aku sudah memutuskan agar kau tidak kembali lagi ke Australia." ujar Alex tegas.Air mukanya kembali berubah dingin.


"Papa marah padaku?" tanya Dewa menyelidik.Pria tampan itu sudah terlihat risau.


"Papa ingin kau tetap disini.Mengurus semua cabang di Asia dari sini.Frans akan membimbingmu.Kau juga punya ayah mertua yang hebat bukan?"

__ADS_1


"Maksud papa apa?" tanya Dewa lagi tidak mengerti


"Daniel ...ini tanah kelahiran ibumu.Kau dibesarkan disini.Papa tidak bisa egois membawamu pergi begitu saja bukan?pria tua ini akan mengalah dan ikut denganmu.Kau putraku satu-satunya,papa hanya ingin kau bahagia." semua orang terkesiap.Alexander hampir menitikan air matanya.Dia memang sangat menyayangi Daniel Wright,putranya yang puluhan tahun menghilang.


"Papa akan menghabiskan masa tua disini.Dinegeri yang kata ibumu adalah untaian jamrud tiada tara dengan jutaan pesona.Nanti jika papa meninggal,papa ingin dimakamkan bersama almarhumah ibumu.Belahan jiwaku." Daniel yang terharu menubruk tubuh gagah papanya.Dia bersimuh dan menangis dipangkuan pria tua itu.Keduanya saling berpelukan.Sangat dramatis.


"Papa sudah membuatkanmu rumah baru.Nanti kita akan tinggal disana."


"rumah?"


"ya,itu rumah almarhumah ibumu.Milik kakek dan nenekmu yang baru saja papa bangun ulang." Kata Alex.Dia meraih putranya agar duduk disampingnya.


"Bagaimana aku bisa berterimakasih pada papa?"


"Kau hanya perlu belajar sebaik mungkin Daniel.Buktikan pada pria tua ini bahwa kau layak menjadi putra Wright.Anggap saja papa memberimu modal sebagai kado pernikahan kalian.Papa ingin kabar baik beberapa bulan kedepan saat datang lagi kemari."


"Papa mau kemana?" Alexander terkekeh mendengar pertanyaan putranya.


"Kau lupa papa juga punya bisnis di Australia dan merambah sebagian Eropa?tentu saja papa akan bekerja kembali ke Aussie."


"kenapa tidak tinggal bersama kami?" lagi-lagi Alexander tertawa lebar.


"Daniel dengar...papamu ini bukan anak kecil.Mereka semua bahkan menjuluki papamu ini singa.Papa akan kembali nanti jika kau sudah layak menjadi penerus.Saat itu pria tua ini akan menghabiskan masa tua disini dengan menimang cucu dari kalian."

__ADS_1


"cucu?" kata Daniel membeo.


"Ya.cucu.Selain kabar bisnis,papa juga ingin kabar baik yang lain dari kalian.Berikan papamu ini cucu yang banyak Daniel." katanya Enteng dengan senyum lebar dan mata berbinar.Daniel wright hanya tertegun dan tidak bisa berkata apa-apa.


__ADS_2