
Mata Dewa tidak berkedip menatap Rania yang berjalan anggun menuruni tangga.Dia tidak terlihat seperti seorang gadis lagi,tetapi wanita dewasa yang sangat anggun dalam balutan dress panjang berwarna merah maroon berpotongan off shoulder tanpa lengan dengan ujung rok mengembang namun mencetak lekuk pinggangnya dengan sempurna.Rambutnya disangggul tinggi keatas dengan hiasan korsase berkilauan.Leher jenjangnya dihiasi kalung berlian yang selalu berkedip dan memancarakan sinar berkilau mengikuti gerakan tubuhnya.
Dewa menelan ludahnya dengan susah payah.Setengah berlari dia menaiki tangga dan menarik tangan Rania agar masuk ke kamar.Rania yang kaget memekik kecil namun tak urung mengikuti sang suami juga.
"Ganti bajumu dek." perintahnya.Rania cemberut.
"kenapa sih mas?ini juga baju bagus,aku juga sudah dandan cantik sesuai permintaanmu." protes Rania kesal.Dia bahkan menghabiskan satu jam hanya untuk berdandan dan membuat suaminya itu senang.Bukannya memujinya,Dewa malah menyuruhnya berganti baju.Tentu saja Rania sangat dongkol.
"Aku tidak mau kamu pakai baju kurang bahan itu didepan semua orang." hardik Dewa kasar.Dia lalu mengulurkan paperbag pada Rania yang menerimanya setengah hati.Pelan dia membukanya.Sebuah gamis cantik berwarna pink dengan butiran kristal kecil-kecil sebagai pemanis.Simpel tapi elegan lengkap dengan kerudung segi empat dengan latar bunga warna-warni.Sangat cocok dengan gaun manis itu.Rania menggelengkan kepalanya.
"Jangan bilang mas mau aku memakai ini." katanya lesu.Dia paling tidak suka pakai gamis yang menurutnya adalah dandanan wajib emak-emak yang merepotkan.Jangan tanya bagaimana kesalnya dirinya kalau disuruh memakai kerudung.Bisa habis satu jam hanya untuk memasangnya.
"Kau memang harus memakainya dek." tegas Dewa.Mata Rania melotot.
"nggak mau mas.Lebih baik aku tidak ikut." protes Rania keras.Sekarang rasa marah lebih mendominasi dirinya.
"Dek,seorang wanita wajib menutup auratnya.Akan jadi dosa jika kau memamerkannya pada orang lain dan aku tidak mengingatkanmu.Kau istriku,tanggung jawabku hingga diakhirat nanti." tutur Dewa lembut,mencoba memberi pemahaman pada istrinya yang ngambek berat.
__ADS_1
"pokoknya aku nggak mau.Lagian pakaian itu membuatku seperti emak-emak nggak gaul." Sekarang ganti Dewa yang meradang.Istrinya ini mulai tidak patuh padanya.Sedang mereka dikejar waktu saat itu.
"Baik jika kamu tidak ikut.Aku juga tidak akan datang." ucap Dewa sambil meraih baju itu dan memasukkanya kembali kedalam paperbagnya.Dia menuju balkon,membuka pintu dan membuang baju itu kebawah tanpa berpikir.Rania sampai terperangah melihatnya.Dewa yang dia kenal tidak suka membuang sesuatu.Jangankan barang,saat makanpun dia tidak pernah menyisakan sebutir nasipun dalam piringnya.Pria itu sangat tau arti kerja keras dan perjuangan.
"kenapa dibuang mas?" Dewa tidak menyahut.Pria itu berjalan dengan langkah lebar melewati Rania dan keluar dari kamarnya,nyaris tanpa ekspresi.
Setelahnya Rania merasa sangat bersalah.Dia sudah membuat suaminya marah hanya karena sebuah baju.Dalam hati dia menyumpahi dirinya sendiri.Kenapa dia tidak melihat ketulusan dan perhatian Dewa hingga mementingkan egonya.Apa susahnya memakai baju sesuai selera suaminya?toh dia tidak kehilangan uang untuk membelinya.Tujuannya juga baik,ingin dia menutupi tubuhnya dari pandangan buas pria lain.
Sesaat setelah kesadarannya terkumpul...Rania berlari kebawah.Dia harus mengambil baju itu.Harus.Dia tidak ingin Dewa kecewa padanya.Nyaris saja dia terjatuh jika tidak segera berpegangan pada dinding karena terlalu terburu-buru.Sampai dibawah balkon kamar,dia bernafas lega dan mengucapkan syukur karena baju itu masih utuh dan untungnya terbuat dari bahan yang tidak gampang lecek.diraihnya paperbag itu dan mendekapnya didada,seolah itu sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.Gadis itu berjalan tergesa kembali ke kamarnya.
Secepat yang dia bisa,Rania berganti pakaian,memasang hijab yang ternyata tak sesulit hayalannya.Kain mudah pakai yang tentunya harganya tidak murah memudahkan dia memakainya.Setelah memasang aksesoris seperlunya dan merapikan riasannya,Rania keluar.
"Ada apa kemari?" nada tanya yang mengandung kegusaran.
"Apa kita sudah terlambat untuk datang kesana mas?" tanya Rania sepelan mungkin.Dewa menghembuskan nafasnya kasar.
"Tidurlah.Kita tidak akan pergi ke......" Dewa terhenyak.Saat memutar tubuhnya,didepannya berdiri Rania yang anggun dengan baju itu.Gadis itu menunduk dalam,takut akan amarah Dewa.Warna pink menyalanya begitu pas dikulit muda Rania.
__ADS_1
"A...apa kita masih bisa kesana?" tanya Rania lagi.Dewa mendekat..makin dekat padanya hingga nyaris tidak berjarak.Ujung jariya mendarat di dagu Rania dan mengangkatnya pelan.
"Tatap aku jika sedang bicara Rania." desisnya dengan tatapan dalam.Rania memandangnya,dua bola mata mereka bertemu.Dunia seakan berhenti berputar,tatapan penuh kekaguman Dewa masih terlihat sempurna.Istri kecilnya sudah memakai baju pemberiannya lengkap dengan kerudungnya yang bergaya kekinian.Make upnya telah berubah natural dan dewasa,demikian juga aksesoris yang dikenakannya telah terlepas semua,kecuali cincin pernikahan mereka dan bros kecil bermotif dua angsa yang sedang berciuman.
"Kau cantik...sangat cantik sayang." bisiknya sambil tak henti-hentinya membelai pipi Rania,mengikis jarak diantara mereka.Tubuh Rania bergetar saat Dewa lagi-lagi menempelkan bibirnya.Rania hanya pasrah menerima ciuman keduanya.Bukan hanya datar seperti kemarin,namun sangat dalam hingga dia menjinjitkan kakinya karena tarikan pada pinggangnya agar mengikuti permainan panas Dewa.Rania memukul pelan dada suaminya karena kehabisan nafas.Dewa melepas ciumannya sesaat,namun kembali melakukannya hingga bibir Rania terasa kebas.Mata lelakinya terus menatap Rania penuh hasrat.
"Bisa kita berangkat sekarang mas?" bisik Rania yang masih menyandarkan kepalanya di dada Dewa.Pria itu mengangguk,mengatur nafasnya yang sudah tidak beraturan dan menghapus jejak ciumannya dibibir Rania.
"Rapikan riasanmu dulu dek,aku juga akan siap-siap dulu." Dewa membimbingnya memasuki kamar mereka.Berulang kali pria itu menarik nafas berat karena melirik Rania.Entah kenapa dia begitu terpesona pada gadis kecilnya.
"Dek"
"ya.ada apa mas?"
"Jangan pernah berdandan seperti tadi saat keluar dari rumah." Itu lagi.Rania hampir saja dibuat kesal untuk kedua kalinya namun masih bersabar menunggu penjelasan suaminya.
"kenapa?"
__ADS_1
"Aku tidak ingin ada pria lain yang melihatmu.Mulai besok,pakai pakaian tertutup saat keluar rumah.Syukur kalau kamu mau pakai kerudung."
"Akan kuusahakan mas." balas Rania dengan sedikit perang batin dalam dirinya.