
"Aaaahhhh..." teriak Rania kencang hingga Dewa menoleh padanya dengan wajah masam.Wajahnya ditutupi dengan kedua tangannya secara spontan.
"Ada apa sih teriak-teriak dek?"
"itu...kenapa om nggak pake baju?bisa nggak sih nggak mesum dikamar?" tanya Rania dengan dongkol.Bagaimana tidak?saat dia kebingungan memikirkan caranya keluar dari kamar mandi karena lupa membawa pakaian ganti,sang suami malah duduk santai bertelanjang dada dengan celana boxser sepaha.Lihat tubuh itu..terlihat begitu kekar dan maskulin.Usia tidak membuatnya kendur,apalagi menjadi om-om dengan perut buncit.Dewa sangat sempurna diusianya yang sekarang.
"Kenapa?ini kamarku.Kau juga istriku,ladang pahala bagiku.Tidak ada dosa atau zina diantara kita.Terserah aku mau pakai baju atau tidak.Kau sendiri?kenapa keluar hanya pakai handuk dek?sepertiny kau yang menggodaku." ejek Dewa.Rania seolah baru tersadar akan keadaan dirinya.Tangan itu beralih ke dadanya,memastikan handuk itu tidak lepas dari tubuhnya.Lagi-lagi Dewa terbahak melihat Rania melangkah setengah berlari menuju lemari panjang disisi ranjang.
Dengan tangan masih gemetaran Rania mengambil bajunya dari gantungan,tapi tangan lain sudah menuntun tangannya untuk meletakkannya lagi.Darahnya berdesir saat tangan kekar lain melingkar dipinggangnya.Dewa sudah memeluknya dari belakang,menempatkan dagunya dipundak kanan Rania yang seolah berhenti bernafas.
"Tidak usah pakai baju dek." bisiknya.
"Ta...tapi ak...aku dingin om." bantah Rania yang tidak ingin terjebak dalam situasi ini.Romansa tak berujung yang hanya akan menenggelamkannya dalam lautan kekecewaan.
"Aku akan menghangatkanmu." jawaban nakal yang membuat hatinya kebat-kebit.
"om..om..mau apa?" tanya Rania terbata.
__ADS_1
"Bukankah aku sudah bilang aku mengiginkanmu?"
"ta..tapi.."
"kenapa?kau istriku dek,apa salah jika aku meminta hakku sebagai suami padamu?" tanya Dewa lembut.Dia membalikkan tubuh Rania hingga menghadap sempurna padanya,meraih dagu istrinya agar menatap manik matanya.Gadis itu tersipu.Dewa sudah bergerak cepat menyerang bibirnya dengan ciuman panjang dan panas.Rania hanya mampu memejamkan matanya,menikmati setiap sentuhan sang suami.Tangannya sudah bergelayut dileher suaminya karena Dewa sedikit mengangkat tubuhnya agar sejajar dengannya.Nafas keduanya tersengal dan terpaksa melepas tautannya untuk menghirup oksigen sebanyak yang mereka bisa.
"Aku menginginkanmu sekarang dek,apa kau bersedia?" tanya Dewa dengan suara parau dikuasai nafsu membara.Rania meruntuk dalam hati.Kenapa Dewa bertanya jika sudah tau jawabannya,membuat dia beligsatan seperti cacing kepanasan.Istri mana yang tidak menginginkan suami yang dicintainya menyentuhnya?Rania kembali menunduk,tidak kuasa menatap iris kecoklatan suaminya.
"Aku akan menundanya jika kau belum siap." Ujar Dewa sambil menarik nafas panjang,menetralisir nafsu yang menguasai dirinya.
Ciuman Dewa berpindah keleher dan tengkuknya,membuat tubuhnya menggelinjang dan seluruh bulu kuduknya berdiri.Ini,pertama kalinya Rania bercumbu dengan seorang pria dalam kondisi sadar.Dia juga tidak kuasa melawan tangan kekar Dewa yang berlahan menanggalkan handuk yang menutupi tubuh putih mulusnya,memampangkan keindahan sempurna seorang wanita.Nafas mereka begitu memburu saat Dewa dengan gagah membawanya ke ranjang besar dan mengungkung tubuhnya.
"Dek,ini yang pertama bagiku,katakan jika kau merasa tidak nyaman." bisik Dewa tepat ditelinganya.Pria itu masih sempat membisikkan doa disana walau dengan nafas memburu tak menentu.Bagaimana Rania bisa berkata tidak nyaman jika Dewa terus memperlakukan dirinya dengan lembut dan penuh cinta.
"Sakit?" tanya suaminya saat keningnya mengrenyit menahan pedih tak terperi dibawah sana.Saat inti tubuh keduanya bersatu untuk yang pertama kalinya.Rania menggeleng lemah dan mencoba tersenyum menangkan Dewa yang terlihat kawatir.Dia ingin menyatakan jika dirinya baik-baik saja.Pedihpun akan dia tahan agar suaminya bahagia,lagi pula bagaimana dia bisa menghentikan gelombang hasrat yang terus menggulungnya dalam lautan kenikmatam hakiki yang baru dia rasakan pertama kali seumur hidupnya?tubuh keduanya mengejang bersamaan lalu luruh dalam pelukan erat yang lagi-lagi membuat keduanya bahagia.
Dewa masih mendekap tubuh polos Rania saat dia menghadiahi wanitanya dengan kecupan lembut dipucuk kepala.Rania tersipu malu dan membenamkan wajahnya di dada Dewa.
__ADS_1
"Apa mas Dewa pernah mencintaiku walau hanya sekejap saja?" tanya Rania lirih hampir tak terdengar.Dewa yang semula memejamkan matanya dan mengatur nafasnya menatapnya intens.
"Apa semua yang kulakukan padamu tidak bisa menggambarkan perasaanku padamu dek?" Dewa bertanya balik dengan sangat lembut.Tangannya membelai rambut Rania.
"Aku tau mas Dewa salalu menganggapku anak...."
"stop bicara seperti itu lagi.Dengar Rania...ahhh...bagaimana aku mengatakannya padamu dek?" keluh Dewa sambil mengacak rambutnya frustasi.Rania mendongakkan kepalanya lalu memegang pipi Dewa lembut.Membuat pria itu nyaman dan seperti tersihir karenanya.Dewa mengelus tangan Rania dan mengecupnya tak kalah lembut hingga mata Rania berkaca-kaca.Sampai kapan scene romantis ini akan berlangsung?Rasanya dia ingin menghentikan waktu agar tak lagi berjalan.Agar waktu hanya berputar disekelilingnya.Rania menarik nafas panjang,menetralisir perasaannya.Dia sudah mempersiapkan mentalnya untuk mendengarkan jawaban suaminya.
"Rania,yang kukatakan ini adalah kesungguhan.Aku tidak pernah seserius ini mengatakan sesuatu.Istriku...sesungguhnya aku sudah jatuh cinta padamu sejak lama.Sejak aku merasa kau satu-satunya penyemangatku menghadapi kehidupan.Aku selalu saja cemburu bila kau dekat dengan pria manapun.Itu sebabnya aku selalu menjaga dan bersikap posesif padamu.Aku yang terlalu pengecut karena terus menyembunyikannya dari siapapun.Aku takut dinggap pedophil yang mencintai putri sahabatku.Rania...aku malah mati-matian menolak perasaan ini hingga melibatkan Hera dalam rumah tangga kita,agar kau membenciku dan meninggalkan aku.Karena aku tidak pernah sanggup meninggalkan dirimu.Kau adalah hidupku Rania." Suara Dewa begitu lembut namun penuh letupan perasaan yang dia tekan dengan baik.Kontrol emosi yang sempurna.Air mata Rania menetes penuh haru.Secepat kilat dirangkulnya tubuh Dewa dengan erat,seolah tidak mau lepas.Dewa membalasnya dengan hangat.
"Sayang,jangan pernah meragukan cintaku padamu.Tetaplah disisiku,mendampingiku Rania.Aku tidak bisa hidup tanpamu." bisik Dewa lagi.Tangis Rania makin menjadi.Hari ini apa yang dia impikan menjadi kenyataan.Pria yang dicintainya sepenuh hati sudah membalas cintanya.Tuhan sudah menjawab doa-doanya untuk mendapatkan imam terbaik dalam kehidupannya.
*********
Readers,maafkan author yang telat up ya.Soalnya lagi ikut nobar partai final AFF CUP.kita kalah tapi harus tetap semangat!! Hidup Indonesia,biarkan garuda tetap di dada.๐ช๐ช
jangan lupa tetap beri semangat pada author dengan meninggalkan like,koment dan hadiah dari kalian untuk memacu saya tetap berkarya.I Love U all๐๐๐๐๐๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ
__ADS_1