
"Kau..beraninya kau bicara seperti itu padaku!kau hanya menantu kak Alex.Kau bersikap seolah kau ini pemilik Wright crops.” sentak Christ penuh kemarahan.Bukanya takut,Rania malah tersenyum sangat manis dan membungkukkan tubuhnya seperti pelayan yang memberi hormat pada tuannya.
" Tapi bukankah itu kenyataannya om?Mas Dewa adalah satu-satunya penerus Wright crops,kecuali....." Christ menoleh menatap Rania yang menggantung kalimatnya.Raut tidak suka sangat kentara di wajahnya.
"kecuali apa?" tanyanya membeo ucapan Rania.Dia terlihat tidak sabar mendengar jawaban Rania yang terlihat sangat tenang ditempatnya.
"kecuali ada yang menyingkirkannya." cetus Rania kalem.
"Kau mencurigai seseorang?" buru Christ seakan tidak terima dengan jawaban Rania tadi.
"saya tidak perlu mencurigai seseorang om.Seekor harimau tidak perlu mengaum untuk disebut harimau,demikian pula rubah.Dia tidak perlu berubah tampilan untuk disebut rubah bukan?"
"jadi kau mengatakan aku rubah?"
"Saya tidak pernah mengatakan apapun om."
"Tapi nada bicaramu seolah kau menyatakannya."
"owwhh...maaf.saya tidak tau kalau om terlalu sensi,padahal saya tidak berniat begitu."
"Benarkah?kau pikir aku ini anak kecil yang tidak tau kemana arah pembicaraanmu hem???"
"Maafkan saya yang terlalu muda untuk menerima sindiran om tadi.Tapi om tidak sepenuhnya salah."
"Instingku selalu benar." tukas Christ dengan pongah.
"Menurut agama dan tradisi kami,pernikahan itu harus melihat garis keturunan,hartanya dan perilakunya.Mas Dewa punya segalanya.Tentu saja saya akan mengejarnya,mempertaruhkan kehidupan saya untuk mendapatkanya,bukankah sudah dari jaman dahulu kala jika wanita itu pengabdi harta?dan saya salah satunya om." tukas Rania,Kali ini dengan tersenyum penuh kemenangan.Christ membatu.Terlihat sekali dia sangat kesal pada menantu tirinya itu.Dia melirik Dewa yang hanya beku ditempatnya dengan senyum teduh seolah tak peduli.
"Ternyata selain pendiam kau juga suami takut istri Dan." ejeknya lagi.Dewa hanya menghela nafas.
"Dia laksana pakaian pada diri saya om,saya juga pakaian untuk dirinya.Saya tetap kepala keluarga disini.Rania hanya melakukan apa yang dia anggap benar." balasnya kemudian.Christ terdiam,memang tidak sepantasnya dia terlalu berkomentar pada keluarga keponakannya.Sebagai pria terpelajar dia tau sampai dimana batasan yang dia miliki.
"Terserah kalian saja." katanya kemudian.Wajah tampannya sudah ditekuk-tekuk entah seperti apa.
"Jika om lelah,silahkan istirahat dulu.Nanti sore saya akan antarkan om ke mall.Atau om ingin bersantai dulu?kita bisa ke kebun belakang atau taman samping rumah." timpal Dewa kemudian.Christ memang ingin ke mall untuk mencari sesuatu tadi,namun Dewa mengajaknya pulang karena sudah berjanji dengan Rania.
__ADS_1
"Aku ingin istirahat saja Dan." Rania tersenyum manis lalu mengiringi kepergian Christ yang masuk ke kamar tamu.Sesaat setelah Christ menghilang,dia tersentak karena Dewa sudah memeluknya dari belakang dan meletakkan dagunya pada pundak kanan Rania.Pipi wanitanya terlihat memerah.Inilah yang membuat Dewa semakin terpesona,berbulan menikah namun Rania masih seperti dulu...pemalu dan menggemaskan.
"Mas,lepas.nanti diihat orang." bisiknya.Dewa tertawa ringan,menghadiahkan kecupan singkat pada pipinya.
"Siapa yang peduli sayang?bik sum dan yang lain sedang istirahat.Om Christ juga.Kenapa kau sangat gugup hemm?kita ini suami istri,bukan pasangan selingkuh dek." goda Dewa yang dibalas cubitan kecil pada tangannya yang melingkari perut rata Rania.Lama mereka berpelukan menghadap jendela taman.
"mas.."
"hmmm.."
"kita kesana yuk.Mumpung kamu dirumah.Aku ingin bersantai sejenak." pinta Rania menunjuk gazebo samping rumah.Sangat sulit mencari moment seperti sekarang karena Dewa sangat sibuk diperusahaan.Dia masih harus banyak belajar dibawah arahan Frans.Rania sangat maklum akan hal itu.Dia tau sendiri ritme kerja papanya yang juga mirip suaminya sekarang saat dia kecil dulu.Yang bisa dia lakukan hanya bersabar dan selalu menyemangati suaminya,membuat rumah menjadi tempat ternyaman saat dia pulang dalam keadaan letih,memberinya kasih sayang dan mengurus semua keperluannya.
Mereka bergandengan tangan menuju kesana.Tawa riang Rania sungguh membuat hati Dewa begitu tersentuh.Ingatannya berpusar kemasa lalu saat Rania kecil terus bergelayut manja padanya saat sang papa tidak bisa pulang karena kesibuknnya bekerja.Yanti saat itu juga pontang-panting mengurus bisnis kulinernya diluar hingga Rania dibiarkan sendiri bersama pembantu.Betapa menyedihkannya keadaan Rania kala itu.Dirinyalah yang selalu mencurahkan kasih sayang itu,mengajaknya bermain juga mengerjakan PR hingga orang tuanya pulang nanti.
"kenapa mas?" Dewa menggelengkan kepalanya.Rania menariknya agar duduk dan merebahkan kepalanya dalam pelukan Dewa.
"begini saja?" tanya Dewa tersenyum geli.Rania mengangguk.Wanitanya tetap seperti dulu,sangat bahagia dengan hal-hal sederhana.Rasanya Ardinata dan Yanti harus menyesal karena sudah melewatkan tumbuh kembang putrinya itu.Gadis ini sama sekali tidak butuh kemewahan ataupun dibiayai orang tuanya.Sejak SMA dia sudah mandiri dan bisa membiayai kehidupannya sendiri tanpa sokongan siapapun.Mereka harus menyesal karena harta yang mereka kumpulkan sama sekali tidak bisa membeli kebahagiaan putrinya.
"Mas Dewa melamun lagi." Ujar Rania yang entah sejak kapan sudah berbaring dipangkuannya.Dewa mengelus pipinya lembut.
"Aku hanya ingat masa kecilmu sayang."
"Mau aku nyanyikan sesuatu?"
"ogah ah.Paling nanti mas Dewa cuma nyanyi 'disini senang disana senang' Rania sudah gede mas." protes Rania sambil memajukan bibirnya,cemberut.
"mas tau."
"trus?"
'"ya lagu lainlah."
"Apa?" Rania mulai terpancing dengan rasa ingin tahunya.
"Aku adalah anak gembala selalu riang serta gembira......" Belum habis nyanyian lagu itu Dewa sudah meringis karena cubitan Rania diperutnya.Lagi-lagi wanitanya merajuk.
__ADS_1
"Om Dewa nggak pernah pacaran ya.Masak nggak tau lagu romantis apa kek gitu!" tukas Rania bersungut kesal.
'kau seperti nyanyian dalam hatiku
yang memanggil rinduku padamu
seperti udara yang kuhela
kau selalu ada...
hanya dirimu yang bisa
membuatku tenang
tanpa dirimu aku merasa hilang..
dan sepi......(Dealova_Once Mekel)
"I love U Rania...." bisik Dewa diiringi air mata yang meleleh dipipi Rania.Wanita itu tersenyum bahagia,segera bangkit dan memeluk leher suaminya erat,seakan tidak mau lepas lagi.
"I Love U too mas.Terimakasih sudah membalas cintaku." bisiknya penuh perasaan.Dewa balas memeluknya erat.
"Terimakasih juga sudah menjadi istri terbaik buatku sayang,menjaga kehormatanku dan selalu disisiku." Disekanya air mata Rania yang terus mengalir tiada henti.Berulang kali bahkan dia mengecup pipi Rania agar air matanya berhenti.Dia ttidak ingin ada air mata lagi dipipi Rania.
'Terimakasih dariku
atas ketulusanmu
menyayangi diriku
aku ada,karna kaupun ada...
dengan cinta,
kau buat aku hidup selamanya'
__ADS_1
(Radja)
Mereka kembali saling memeluk tanpa mengetahui,ada sepasang mata yang menatap nanar keduanya dari balik jendela.