Balada Cinta Belahan Jiwa

Balada Cinta Belahan Jiwa
Belajar menjadi suami


__ADS_3

"dek,bangun...saatnya sholat dhuhur." Dewa mengguncang lembut bahu Rania yang masih terlelap siang itu.Saat gadis itu membuka matanya,dia melihat Dewa yang baru saja mandi dan memakai baju koko,sarung dan kopyahnya,terlihat sangat tampan.Mata Rania seperti enggan berkedip dan melewatkan ciptaan Tuhan yang satu ini.Entah kenapa dia merasa,semakin Dewa bertambah usia...pria pujaan hatinya itu malah bertambah tampan dan menawan berbalut kedewasaan.


"Aku sudah menyiapkan air hangat di bath tube.Jangan mandi air dingin jika kau belum sehat benar dek." Rania hanya mengangguk lalu menuju kamar mandi.Dewa benar-benar suami idaman para wanita diluar sana.Dia tampan,baik,pengertian dan penuh perhatian.Rania menenggelamkan dirinya kedalam bath tubh.Dia harus lebih cepat menyelesaikan ritual mandinya karena Dewa sudah menunggunya untuk berjamaah.


Esoknya,Dewa dan Alex pergi ke kantor bersama.Rencananya besok Alex akan kembali ke Sydney karena ada meeting penting yang tidak bisa ditunda.Jadilah hari ini dia membawa sang putra ke kantor cabang mereka untuk memperkenalkan dirinya.


Rania yang bosan dikamar turun untuk berjalan-jalan di taman samping rumah.Karena fokus pada keindahanya,gadis itu menabrak seseorang hingga terjatuh dan memekik kaget.Asisten rumah tangga yang ada di depannya bahkan sampai bergetar ketakutan.Dia buru-buru menolong Rania untuk bangkit dan membersikan ujung gaunnya yang sedikit kotor.Hey..dia seorang wanita yang usianya mungkin beberapa tahun diatasnya.Terlihat sekali jika dia wanita matang yang anggun walau hanya berbalut baju seragam ART.


"Tolong maafkan saya nyonya,saya benar-benar tidak sengaja." katanya dengan suara bergetar juga.Tangannya saling memilin satu sama lain dengan wajah memucat ketakutan.


"Sudahlah,tidak apa-apa.Heyy...kenapa kau ketakutan begitu?" Rania menghampiri pelayan itu dan menepuk bahunya.


"Siapa namamu?"


"Emma nyonya."


"hmmm begini Emma,kau tidak perlu setakut itu padaku oke?"


"saya hanya takut nyonya kenapa-napa.Tuan sudah berpesan agar kami semua menjaga anda."


"Kau yakin hanya itu?" selidik Rania tidak percaya.Emma hanya menundukkan wajahnya.

__ADS_1


"Jawab aku Emma." Kali ini suara Rania terdengar lebih tegas dari yang tadi.Dia sendiri sedikit kaget,kenapa sampai sebegitu kepo megurusi masalah pribadi Emma yang bukan siapa-siapanya.Malah menekan Emma dengan sedikit bentakan ringan tadi.


"nyonya..saya takut anda memecat saya.Padahal saya sangat membutuhkan pekerjaan ini." Emma masih bertahan menundukkan kepalanya,tidak berani menatap Rania.


”ayo duduklah disini." pinta Rania sambil menepuk kursi taman yang dia duduki barusan.Emma sempat ragu,tapi ketakutan lebih mendominasi dirinya hingga dia nekat menuruti perintah sang nyonya rumah tanpa berani mengangkat wajahnya.


"Kau dari mana?maksudku daerah asalmu."


"Saya dari Surabaya nyonya.Tapi saya hidup sebatangkara sekarang.Kedua orang tua saya sudah meninggal." jawaban yang terdengar lirih,namun membuat Rania bertambah ingin tahu.


"Lalu saudara-saudaramu?"


”mereka sudah pura-pura tidak kenal pada saya." kata gadis itu hampir menangis.Mereka terlibat pembicaraan santai hingga lupa waktu.


"Semoga kau betah bekerja disini." pungkas Rania kemudian.Mungkin nanti dia akan berkenalan dengan semua penghuni rumah ini.


"Terimakasih nyonya.Saya permisi." pamitnya.Rania mengiyakan saja,wanita itu pergi dan menghilang di koridor rumah.Hampir sore saat Rania masuk ke rumah untuk membersihkan diri.Satu jam lagi suaminya akan pulang.Dia akan bersiap dan menyambutnya seperti yang dilakukan para istri di novel atau scene sinetron yang dia tonton.


Benar saja,saat Rania keluar dari kamarnya dan turun ke lantai dasar,mobil yang dipakai suaminya tadi pagi sampai di depan teras.Sekali lagi Rania memeriksa penampilannya.Dress selutut warna biru langit dengan model Vneck dan aksen pita dipinggang membuat kaki dan leher jejangnya tersekspose sempurna.Dia bergegas membuka pintu dan menunggu Dewa diambang pintu itu.Hatinya sudah seperti genderang mau perang saat menyambut suami tampannya yang berjalan gagah dalam balutan setelan kerja biru tua yang sangat pas ditubuh idealnya.Bagaimanapun dia tidak ingin ada kesalahan.


Dewa mendekat padanya lalu mengacak rambutnya.Rania sedikit cemberut,susah payah dia merapikannya tadi.Sekarang Dewa malah mengacaknya menjadi tak karuan lagi.Itu ciri khas dirinya saat bertemu Rania yang dianggapnya anak kecil.

__ADS_1


"Suami pulang kok malah cemberut?" ledek Dewa dengan senyum lucu.


"Mas bilang mau belajar menjadi suami yang baikkan?"


"iya.Memangnya kenapa?"


"Harusnya mas Dewa cium aku waktu berangkat dan pulang kerja.Bukanya mengacak rambutku seperti ini.Aku bukan anak kecil lagi mas." protes Rania.Dewa tertawa ngakak hingga wajahnya merah padam.Rania mencubit pinggangnya hingga pria tampan itu kesakitan dan menghentikan tawanya.Dia hanya menggelang-gelengkan kepalanya saja.Hatinya terasa geli sekali.Dulu almarhumah Hafsah tidak pernah memintanya ini itu.Hafsah cenderung mengerti dirinya dan lebih dewasa.Apa menikah dengan gadis belia seperti ini rasanya?


"Baiklah jika itu kemauanmu.Mas janji akan mencium kamu jika mau berangkat dan pulang kerja.Seperti ini." Tanpa aba-aba Dewa mendekat dan mengecup kening Rania.Tubuh gadis itu seketika melemas seperti jelly hingga hampir jatuh kelantai jika tidak ingat itu adalah hal yang memalukan.Wajah Rania bersemu merah.Segera dia meraih tas kerja Dewa dan mencium tangan kanannya takzim.


Sesaat Dewa terpana.Rania banyak berubah.Dia bahkan sudah bersikap sebagai istri sesungguhnya kali ini.


"Lho..papa mana?kok tidak ikut pulang?" tanya Rania begitu sadar bahwa suaminya hanya turun sendirian.Tidak ada papa mertuanya,Alexander wright.


"hampir lupa.Papa sudah kembali ke Sydney.Ada telepon penting dari sekretarisnya.Papa minta maaf karena tidak bisa pamit langsung padamu.Mungkin nanti beliau nelepon kamu dek." jelas Dewa panjang lebar.Rania mengangguk-angukkan kepalanya.Dia tau papa mertuanya itu manusia sibuk.Mereka naik kelantai atas bersamaan.


"Mas masuk aja dulu.Aku letakkan tasnya diruang kerja ya." Tanpa menunggu jawaban Rania meninggalkan Dewa memasuki ruang kerja yang bersebelahan dengan kamar mereka,sedang Dewa masuk ke kamar mereka.Dia menuju sofa dan duduk disana,melepaskan sepatu,kaos kaki dan melonggarkan dasinya.Setengah hari yang penat dan memforsir tenaganya.


"Mas mau mandi sekarang atau mau minum kopi dulu?" tanya Rania mengagetkan Dewa.Pasalnya dia tidak mendengar istri kecilnya itu masuk kekamar itu.


"Aku langsung mandi aja dek.Badanku terasa lengket,sekalian mau sholat ashar."

__ADS_1


"hmmm baiklah,aku siapkan airnya dulu ya." Dewa masih memainkan ponselnya saat Rania memberitahunya jika airnya sudah siap.


__ADS_2