
"Kenapa kau tidak memberitahuku tentang rencana kepindahan ruko dan Rania?" tanya Dewa sesaat setelah seorang waitres mengantarkan pesananan keduanya.Ardinata mengaduk kopinya pelan lalu menatap lekat pada Dewa.
"sebagian ruko itu milikmu,Wa.Jika nanti terjadi perpisahan antara kau dan putriku,ruko itu akan kembali padamu.Aku hanya tidak ingin Rania menempati sesuatu yang bukan haknya." jawabnya lugas.
"Aku tidak akan mengambil apapun yang sudah kuberikan pada Rania Ar."
"Kalian berpisah karena masalah Wa.Aku tidak ingin putriku dicap sebagai wanita matrealistis yang hanya mau hartamu.Rania akan keluar dari rumahmu persis saat dia datang kesana.Tanpa apa-apa."
"Tapi aku tidak pernah menganggap Rania seperti itu Ar.Dia sudah seperti putriku juga." Ardinata menarik nafas dalam lalu menghirup kopinya.
"Kesalahanku adalah memaksamu menikahinya Wa.Jadi biarkan aku menebusnya dengan mengembalikan putriku ketempatnya semula.Aku ataupun Yanti tidak pernah punya dendam padamu.Semua memang mutlak kesalahanku.Aku terlalu menyayangi Rania tanpa memperhatikan perasaanmu.Rumah tangga tanpa cinta laksana bangunan tanpa pondasi yang kokoh Wa.Akan cepat ambruk tak bersisa." ulas Ardinata mengembangkan senyum miris dibibirnya.Dewa tau pasti sahabatnya itu menyembunyikan ribuan luka dihatinya.Mereka sudah saling mengenal satu sama lainnya.Seperti sebuah buku yang terbuka,baik dia ataupun Ardinata akan dengan mudah membaca perasaan masing-masing dari raut muka atau hanya tatapan mata.
"Aku akan rujuk jika kau menginginkannya Ar." putus Dewa,merasa tidak tega dan bersalah sudah menyakiti Ardinata.Spontan pria didepannya itu menegakkan badannya.
"Sekali saja dalam hidupmu,pandang aku sebagai sahabatmu Wa.Jangan pernah rujuk lagi dengan putriku karena aku punya impian besar padanya.Aku ingin putriku menyelesaikan kuliahnya dan meneruskan usahaku."
"Aku tidak keberatan untuk itu.Aku tidak pernah mengekang Rania untuk kuliah."
"Bukan itu."
"lalu?"
"Dia akan menikah lagi..tapi tidak denganmu."
"Kau sudah punya calon untuk putrimu?"
__ADS_1
"tidak.Tapi Tuhan sudah menyiapkan calon suami terbaik untuk Rania.Bukankah wanita yang baik akan mendapatkan pasangan yang baik pula?Aku hanya ingin Rania bahagia dan menikah dengan orang yang mencintainya."
"Kau tau ..aku juga mencintai Rania Ar." balas Dewa semakin tegang.Tiba-tiba dia tidak suka saat Ardinata menentang rencana rujuknya.Hatinya terasa panas.Ardinata menggeleng kuat,lagi-lagi menghirup kopinya.
"Kau hanya menganggapnya sebagai putrimu."
"tidak.Aku mencintai Rania!"
"Cinta itu percaya Wa.Dengan mencintai berarti kau mempercayai.Percaya bahwa bersama dia engkau kuat,Percaya bahwa dia akan menjagamu juga kehormatanmu dan juga percaya bahwa kau memiliki hatinya.Apa kau pernah merasa seperti itu pada Rania?" tanya Ardinanta lembut.Wajah Dewa seperti tertampar.Merah dan kaku.Dia tidak percaya pada alibi Rania,bahkan satu kalimatpun darinya.Bagaimana dia bisa mengatakan dia mencintai Rania?Dewa membeku dalam bisu.
"Untuk sementara ini jangan temui Rania dulu.Biarkan putriku tenang.Nanti saat dia sudah berangkat ke Inggris,pintu rumah kami selalu terbuka untukmu.Datang saja kapanpun kau mau,seperti dulu."
"kau ...."
"Owwhh...aku lupa,hari ini kau yang bayar tagihannya karena kau yang mengundangku bro.Lain kali aku yang akan mentraktirmu." kekehnya lalu pergi.Ardinata tetap seperti yang dulu.Tak ada perubahan pada dirinya.Hal itu yang membuat Dewa semakin merasa bersalah.Dia bukan hanya menyakiti seorang sahabat,tapi juga istri yang mencintai pria tua sepertinya dengan tulus.Tiba-tiba dia merasa menjadi pria paling bodoh di dunia ini.
Dengan langkah gontai Dewa mnenghampiri Frans yang berdiri tegak disisi mobil dan membukakan pintu untuknya.Dia masuk dan menyandarkan tubuh kekar yang terasa menggendong beban puluhan ton masalah.Dia lelah tapi belum ingin menyerah.
Dikediaman Himawan,Rania dengan cekatan mengarahkan beberapa kuli dan karyawannya yang membatunya pindahan.Hanya butuh satu jam saat semua etalase tertata rapi sesuai keinginannya,sedang barang dagangan masih berada dalam packnya karena dia memutuskan akan menatanya besok saja.Para pekerjanya juga butuh istirahat.
"Darimana pa?" tanya Rania saat Ardinata baru keluar dari mobilnya.Tidak biasanya papanya keluar rumah sendirian dimalam hari,apalagi nyetir sendiri.Biasanya mama atau Reno ikut dengannya.
"Ketemu teman." jawabnya singkat.
"Mas Dewa?" Ardinata mendekati putrinya lalu meraih wajahnya dengan kedua tangannya.Ada rasa perih disudut hatinya sebelum dia mengangguk.Rania menatapnya sendu.
__ADS_1
"Jangan pernah menyuruh Rania balik padanya Pa." kata Rania dengan bibir bergetar.Ardinata menggeleg kuat.Matanya berkaca.Sejak kecil Rania tidak pernah melawan atau menolak kehendaknya,juga tidak pernah meminta apapun padanya.Jika hari ini putri cantiknya itu meminta,berarti ada banyak luka yang bersarang dihatinya.
"Papa sudah bilang padanya,tidak akan ada rujuk diantara kalian.Papa juga melarangnya menemuimu.Apa kau senang?" Rania tersenyum.Mengelus tangan besar sang papa yang mengenggam wajahnya.
"Terimaksih pa." jawabnya dengan senyum mengembang.Ardinata merasa ikut bahagia saat putrinya sudah bangkit dari keterpurukan.Ranianya sudah kembali.Putri cantik dengan segala kerendahan hati yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial dikampus maupun dimasyarakat,gadis ayu dengan sejuta semangat untuk melanjutkan hidupnya.
"Papa hanya minta satu hal padamu Rania.Jangan pernah menaruh dendam pada Dewa,karena dendam itu akan menyakitimu dan membuatmu sulit untuk bangkit." nasihatnya sambil mengelus kepala putrinya lembut.Benar-benar ayah idaman.
"Rania sudah memaafkan mas Dewa pa.Ohh iya,besok pasport dan dokumen Rania sudah jadi.Tinggal ambil saja.Tadi sekretaris papa telepon."
"hmmm...kau benar-benar sudah siap berangkat meninggalkan mama papa dan Reno?"
"Kan Rania nanti tiap hari bisa telepon pa.Lagian tiap liburan akan kuusahakan pulang." balas Rania lagi sambil tertawa bahagia.Inggris adalah impiannya sejak kecil.Tidak mengapa jika dia baru bisa sekolah disana sekarang.Bukankah terlambat lebih baik dari pada tidak sama sekali?
"Ran,tadi Mela datang pas kamu masih diruko.Katanya hpmu tidak bisa dihubungi.Besok ada acara syukuran dirumahnya,kamu diundang kesana." celutuk mamanya dari pintu samping.Sejak tadi hpnya memang lowbath dan belum sempat dicharge.
"Ada acara apa sih ma?" tanyanya ingin tau.
"Katanya Firman udah jadi dekan minggu lalu.Ini mau syukuran gitu."
"waahh...hebatt!kak Firman jadi dekan diusia muda tuh." balas Rania sambil menutup pintu tokonya lalu menguncinya.Pintunya memang terhubung dengan garansi rumah Ardinata hingga memudahkan dia masuk ke rumah utama.
"Dia juga tampan dan rajin lho Ran.Buktinya dia masih sempat bantu-bantu om Heru mengurus pabrik." tukas papanya sambil duduk didepan televisi,memangku Reno yang hampir tertidur.
"Dan yang pasti dia masih lajang.Calon mantu idaman nih." gurau mamanya sambil terkekeh menuju dapur.
__ADS_1