Balada Cinta Belahan Jiwa

Balada Cinta Belahan Jiwa
Kerinduan


__ADS_3

Rania membalikan tubuhnya yang menghadap dinding saat sebuah tangan hangat menyentuh keningnya.Berlahan dia membuka matanya.


"papa" katanya dengan suara serak khas orang bangun tidur.Ardin hanya mengangguk.


"apa kau sudah baikan Ran?" tanya Ardi.Hari itu papanya kembali bersikap memanjakannya.Sudah jadi kebiasaan bagi Ardinata untuk pulang lebih awal dan berangkat siang saat putra putrinya sakit.Sekarangpun dia seperti enggan berangkat ke kantor.Dia seperti tidak tenang bekerja,padahal Rania sudah dewasa bahkan telah menikah.Tapi dalam pikirannya,Rania tetap sesosok gadis kecil yang wajib dia jaga.


"Udah nggak begitu panas,pa."


"udah makan?"


"udah." Tadi pagi selepas shalat subuh,Yanti memaksa Rania makan dan minum obatnya karena dari semalam perut Rania kosong.Ardi membelai kepala Rania penuh kasih.Yanti menyusul suaminya masuk ke kamar Rania membawa air putih untuk putrinya.Teko kaca itu dia letakkan di meja kecil dekat tempat tidur agar Rania lebih mudah menjangkaunya,lalu duduk dipinggir ranjang.Rasanya Rania harus banyak bersyukur karena mempunyai orang tua yang sangat menyayanginya seperti mereka.


"Sebaiknya kamu tidak pergi ke kampus dulu Ran,juga tidak usah ke toko.Biar mama yang mengecek kesana tiap sore.Pokoknya kamu fokus istirahat biar cepat sembuh." perintah mamanya.


"Tapi ma..aku udah baikan." bantah Rania,dia tidak mungkin terus terkurung di rumah.


"tetap nggak boleh keluar Ran.Kamu nggak ingat pernah kambuh trus masuk rumah sakit?" Yanti yang kesal pada putrinya memasang wajah masam.Sejujurnya dia sangat menyayangi Rania,tapi kadang juga kesal pada putrinya yang kerasa kepala.Melihat Rania seperti melihatnya diusia belia.Gadis pemberani,keras dan idealis.Jelas sudah dari mana Rania memperoleh watak itu...darinya.


"Ran,dengar nggak mama ngomong?" tanya sang papa karena putrinya hanya diam saja.Rania mengangguk.


"Kami sudah menelepon Dewa dan memberitau kalau kau sedang sakit.Tapi...."


"Untuk apa memberitahu om Dewa pa?Dia sedang sibuk disana." kata Rania kesal.Dia tidak ingin Dewa menganggapnya terlalu lebay dengan mengabari ini itu tentang keadaanya.


"Om lagi..om lagi." hardik mamanya tidak suka.Yanti seperti lelah menasehati putrinya untuk mengganti panggilan itu pada suaminya.Rania menatap mamanya jengah.

__ADS_1


"maksudnya mas Dewa ma." ralat Rania kemudian.Dia sangat canggung dengan kata 'mas,' seperti saran mamanya karena sudah terbiasa dengan panggilan om pada Dewa sejak masih kecil.


"Dia suamimu lho Ran.Dia juga bilang kamu nggak pernah nelepon dia." kata mamanya lagi penuh penekanan.Belakangan ini mamanya menjadi ikut ribut mengurusi hubungannya dengan Dewa.


"Aku sibuk ma." jawab Rania acuh.


"ya,walaupun sibuk kamu kan bisa meluangkan waktu sebentar meski hanya mengirimkan whatsap padanya.Tunjukin kalau kamu tuh peduli sama dia,Ran." tukas mamanya.Kepala Rania jadi pusing.Dia sakit bukanya disemangati untuk sembuh,malah jadi bulan-bulanan sasaran ceramah wajib papa mamanya.Rania menggeleng jengkel.


"Iya..iya..nanti abis ini aku telepon ma." akhirnya dia hanya bisa mengalah.Melawan mamanya hanya akan menghabiskan energinya nanti.


"Baiklah,papa mau berangkat kerja kalau begitu.Mama mau bareng sekalian?" tawar papanya.Yanti mengangguk.Hari ini memang waktunya berbelanja kebutuhan rumah.Walau bik Ijah pembantu mereka sudah balik dari kampung,tapi untuk urusan belanja Yanti memang melakukannya sendiri.


"iya deh pa.Bentar mama ambil Reno dulu."


"Nanti mama mau sekalian belikan baju untuk Reno,pa.Lihat tuh bajunya banyak yang nggak muat." keluh Yanti sambil menjawil hidung mancung Reno yang seolah tersembuyi diantara pipi tembemnya.Ardin mengangguk.Sekali lagi dia mengusap kepala Rania lalu keluar.


"Bi,titip Rania ya..saya mau belanja dulu." pamit Yanti yang langsung diangguki bi Ijah.


"Iya bu." Wanita paruh baya itu lalu mengantar Keduanya hingga keluar rumah lalu menutup pagar setelah mobil itu keluar dari pekarangan.


"Non,saya di dapur,nanti kalau non Rania butuh sesuatu panggil saya ya." pesan i Ijah saat melongok kamar depan dan melihat Rania masih terjaga.


"Iya bik.Lagian saya bisa sendiri lho bik."


"Tadi bapak bilang Non Rania nggak boleh kemana-mana."

__ADS_1


"Maksud papa tuh,saya nggak boleh keluar rumah lho bik.Kalau hanya didalam ya saya bebas." jawan Rania sambil tertawa.Bik Ijah itu terlalu patuh pada papa mamanya hingga selalu mengambil persepsi sendiri.Kadang Rania juga terhibur dengan kepolosan khas desanya.


"ohh...gitu ya Non?"


"iya.”


" kalau gitu bibik ke dapur ya."


"iya bibiiiikkk." sahut Rania masih tergelak.Dia cuma sakit biasa tapi bik Ijah memperlakukanya sepertinya dia itu pasien sakit parah saja.


Pengaruh obat membuat mata Rania memberat.Terkantuk-katuk dia mematikan televisi lalu menarik selimutnya keatas.Udara sangat dingin pagi itu.Hanya butuh beberapa menit baginya untuk terbang ke alam mimpi hingga bermenit-menit kemudian.


Setengah terjaga,Rania merasa tubuhnya sangat hangat.Bau harum maskulin yang terasa dekat padanya,membuat nyaman dan membuatnya menikmati ketenangan.Saat hembusan nafas menerpa pelipisnya,Rania baru sadar seseorang sedang memeluknya.Pasti papanya.Ardin memang memperlakukannya bak anak kecil saat sakit.


"Pa,kok udah balik?aku udah nggak apa-apa." gumam Rania sambil melepaskan pelukannya,namun orang itu malah mempererat pelukannya.


"Aduh pa,Rania udah gede..nggak usah dikelonin deh." protesnya.


"hmmmm..." Rania hampir terlonjak kaget saat membuka mata dan melihat sosok tampan yang memeluknya.Terlihat sekali pria itu baru tertidur,mata kemerahannya terlihat berair.


"o..om Dewa?" bisiknya.Pria tadi tersenyum.


"ssstttt...jangan berisik.Tidurlah lagi,aku masih capek." Rania menahan nafasnya.Mencoba menggali kesadarannya,namun pengaruh obat masih mendominasi matanya.


"aahh...mungkin aku hanya mimpi." keluhnya lalu kembali menutup mata,mengeratkan pelukannya dan mendekatkan kepalanya ke dada bidang dihadapannya.Orang itu bukan om Dewanya karena kulitnya sangat putih dengan wajah tampan yang terlihat bersih.Parfum dan kemejanya juga terlihat mahal.Dewa yang dikenalnya adalah pria berkulit kecoklatan yang terihat maskulin sekali,pakaian seadanya dan tidak pernah pakai parfum.Tapi Dewa punya sejuta pesona di matanya.Rania menganggap semuanya hanya mimpi.Mungkin dia terlalu merindukan Dewa.Jika sekarang Dewa datang dalam mimpinya,apa salahnya jika dia memanfaatkannya untuk melepas kerinduan itu.Toh sejak dia beranjak dewasa dan menikah dengannya,belum pernah sekalipun Dewa menyentuhnya.Rania kian larut dalam mimpinya.

__ADS_1


__ADS_2