
"Pa,antarkan Rania pada mas Dewa." ucap sang putri lemah.Ardinata terkesiap.Sejak Rania tau jika darah Dewa mengalir dalam tubuhnya,anak perempuannya itu selalu meminta dipertemukan dengan Dewa.Tapi kemana dia harus mencari Dewa yang sudah menghilang tanpa jejak?Seluruh sahabat dan kolega bisnis mereka juga tidak tau apa-apa tentang keberadaanya.Ardin bahkan menyuruh anak buahnya untuk mencari Dewa ke kampung halamannya,tapi jawabanya tetap sama.Seluruh keluarganya tidak tau tentang keberadaan Dewa walaupun tiap bulan mereka menerima kiriman uang darinya untuk biaya sekolah ketiga adik angkatnya.
"Kau harus sembuh dulu Ran,setelah itu kita mencari Dewa bersama." jawab Ardinata.Yanti masih setia memeluk putrinya yang sering sekali menangis.Seolah air mata adalah makanan sehari-hari baginya.
"Apa mas Dewa sudah menceraikan Rania pa?" tanya wanita muda itu gamang.Yanti meraih pipi putrinya agar menatap matanya.
"Tidak Ran.Proses pengadilan terhenti." jawabnya singkat.Pengacara yang datang mewakili Rania juga melaporkan hal yang sama.Dewa sudah mencabut permohonan cerainya di pengadilan.
"Lalu kenapa mas Dewa meninggalkan Rania ma?"
"Mungkin Dewa ingin sendiri Ran.Pun jika kau mendapatkan jodoh nantinya..proses itu tetap bisa dilakukakan sepihak oleh kita karena semua berkas sudah ada ditangan pengacara papa." jelas sang mama lembut.
"Rania tidak bisa menikah dengan orang lain ma." Yanti kembali memeluk putrinya yang terisak.Andai mereka tau keberadaan Dewa,dia dan suaminya tidak akan segan memohon agar Dewa kembal pada Rania.Mengorbankan harga diri mereka asal Rania bahagia.
"Hari ini kamu sudah boleh pulang Ran.Papa harap kamu akan segera pulih seperti sedia kala,kuliah lagi,semangat lagi.Yakinlah...jika Dewa adalah jodohmu..maka dia akan kembali padamu." bisik Ardinata seraya ikut memeluk putrinya.Rania mengangguk dalam tangisnya.
Siang itu mereka pulang setelah hampir seminggu harus hilir mudik kerumah sakit untuk menunggui Rania yang sakit.Rania merasa sangat lega begitu sampai dirumah.Apalagi sibontot Reno menyambutnya dengan sikap lucu juga terus membuntutinya kemanapun.
"Reno..sini.Kamu kangen kakak ya??" tanyanya.Reno melompat kepangkuannya lalu memeluknya erat.Bau wangi bedak bayi dan minyak kayu putih menguar dari tubuh gendutnya yang sangat imut.Rania berulang kali mencubiti pipinya karena gemas.Sesaat Rania melupakan kesedihannya.
Pintu samping terbuka.Wajah-wajah penuh senyum menyambutnya.Tika dan Ernalah yang pertama kali masuk dan menyalaminya diikuti para pekerja tokonya.Rania sangat terharu saat mereka meletakkan parsel buah,bunga dan beberapa makanan kecil diatas meja.
__ADS_1
"Terimakasih ya.." ucapnya sambil mengusap air mata bahagianya.Mama dan papanya benar..banyak orang yang menyayanginya dan berharap dia sembuh seperti sedia kala.Seketika semangatnya bangkit.
"Hari ini kalian libur saja.Bilang pada pelanggan kita,kalau kita off hari ini.Kalian pulang dan nikamati waktu kalian bersama keluarga." ucap Rania membuat ruangan itu seketika gaduh oleh belasan orang karyawannya.Itu Artinya mereka punya banyak waktu luang untuk beristirahat ataupun melakukan aktivitas lainnya karena ini hari sabtu.Dua hari sudah cukup membuat mereka bahagia karena memang Rania meliburkan tokonya di hari minggu.
Yanti keluar dari dalam kamar membawa kotak sedang berisi amplop yang langsung dia bagikan pada para pekerja termasuk bi Asih,temannya dan satpam.
"Anggap saja ini rasa syukur kami karena Rania sudah sembuh.Terimakasih untuk semua yang sudah kalian lakukan untuk keluarga Himawan." katanya disambut sorak sorai suka cita mereka.Rania ikut tertawa bahagia melihat wajah-wajah ceria didepannya.Teranyata,bahagia itu tidak sulit.Melihat orang lain bahagiapun sudah memberikan aura positif pada dirinya.Go Rania...life must go on!!
***********
Setahun berlalu......
Rania sudah berusaha ikhlas menerima takdirnya.Kuliah dengan rajin dan bekerja penuh semangat.Outletnya bahkan sudah bertambah dua tempat.Tanpa disadari,otaknya yang cemerlang membuat dia bisa menyelesaikan semua mata kuliah dalam waktu empat semester saja.Bulan depan,dia akan ikut program magang yang diselanggarakan kampusnya sebagai syarat kelulusan.
"Pa,apa kata teman-teman kalau aku magang ditempatnya papa?mereka pasti mengira aku ada main belakang karena itu milik papa."
"Ke Halmahera group kan bisa?kenapa jauh-jauh ke Surabaya? lagi Ardinata memberi solusi.Halmahera group adalah perusahaan sepupunya yang bergerak dibidang lain tapi juga bermitra dengan kampus Rania.
" Sama saja pa,itu punya om Bakti.Yang lain juga punya saudara-saudara kita.Aku disana nggak sendirian lho pa.Ada Mela yang akan menemaniku walau nanti di ditempatkan diperusahaan berbeda.Tapi kan kita ngontrak rumah bareng-bareng.Cuma dua bulan papaa...boleh ya??" bujuk Rania.Setelah lama berpikir,Ardi menyetujuinya.Diraihnya bolpoin dan kertas surat ijin yang diletakkan Rania diatas meja lalu membubuhkan tanda tangannya.Rania tersenyum bahagia.Surabaya...betapa dia ingin mengunjungi kota itu setelah hanya berkali-kali hanya menyaksikannya dari layar televisi atau ponselnya.Jiwa berburu kulinernya meronta.
"Memangnya kamu mau magang diperusahaan apa?" tanya sang papa lagi dengan perasaan ingin tau yang tinggi.
__ADS_1
"Budi Utomo lestari pa."
"Ohhh ya Tuhan.Apa mungkin itu milik pak Utomo yang pernah menolongmu ya?Dia pernah cerita punya perusahaan properti di Surabaya.Nanti coba papa telepon ya.Kalau memang benar milik dia,papa akan lebih tenang melepasmu Ran."
"Iya pa.Ini profil perusahaanya." ujar Rania sambil menyodorkan selebaran dari kampusnya.Ardin meraihnya lalu membacanya dengan teliti.
"Benar Ran,ini milik pak Utomo.Ya sudah,papa setuju kalau begitu.Nanti biar papa yang mengurus semuanya."
"Jangan pa,aku tidak ingin dianak emaskan karena pak Utomo tau aku anak papa.Aku ingin seperti yang lain."
"Papa tidak akan bilang apa-apa.Cuma memberitau beliau kalau kamu magang disana."
"Itu sama saja papa...tolong ya..jangan bilang apapun pada pak Utomo." rengek Rania lagi.
"Baiklah.Tapi kamu harus janji akan telepon papa dan mama tiap sore agar mamamu tidak khawatir dan mengajak menyusul ke sana."
"oke.Siap papa.." jawab Rania bahagia.Cepat-cepat diciumnya pipi kanan Ardinata yang disambut tawa papanya lalu merapikan meja.Betapa Ardin sangat bahagia saat melihat Rania sekarang.Putri kecilnya sudah bangkit dengan berjuta semangat walau kadang masih sering menangis sambil memandangi wajah Dewa.Tidak ada yang bisa dia lakukakan...Dewa sudah pergi dari mereka.
***********
*Hai readers....
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke karya baruku ya,Author masih sangat berharap support dari kalian semua agar lebih baik dalam berkarya*.