
Hari berganti hari,kandungan Rania semakin membesar.Dewa dan dirinya tidak pernah melewatkan masa tumbuh kembang janin mereka.Surabaya menjadi tempat yang paling menyenangkan bagi Rania karena ada sang suami yang memberinya kasih sayang penuh.Dalam hati dia sangat bersyukur memiliki suami yang sangat dewasa seperti Dewa.Artinya dia tidak salah pilih melabuhkan hati dan perasaanya.
Papa dan mamanya selalu menyempatkan diri mengunjunginya tiap akhir bulan karena kondisi Rania yang tidak memungkinkan untuk mendatangi mereka.Apalagi itu adalah cucu pertama mereka dari menantu dan putri kesayangannya.Yanti bahkan akan setiap hari memantau lewat telepon hingga Rania merasa tidak kekurangan kasih sayang dari siapapun.
Begitu mengandung,keanehan banyak terjadi.Usaha jasa arsitektur yang dikelola oleh suaminya berkembang pesat hingga harus menggunakan seluruh tanah warisan ibunya.Kantor yang dulunya hanya bangunan dua lantai dipugar menjadi beberapa lantai hanya dalam beberapa bulan.Proses pembangunan juga terus berjalan hingga sekarang.Pun usaha toko online Rania juga berkembamg cepat hingga merajai marketplace diberbagai aplikasi.Sekarang Rania tidak perlu bekerja dikantor sang suami lagi karena sibuk memantau bisnisnya sendiri.
Pagi itu,Rania duduk didepan laptopnya diruang makan yang berhadapan dengan kaca yang menampilkan halaman samping rumah yang asri.Dewa memang sangat menjaga privacy keluarganya dengan tetap membiarkan rumah mereka asri walau kesibukan selalu terjadi di depan sana hingga Rania tetap bisa nyaman meski tetap bisa menyaksikan orang-orang yang lalu lalang dari tempatnya sekarang.
"Mbak Rania butuh sesuatu?" tanya bik Sum yang membawakannya segelas susu dan kentang goreng kesukaan Rania.
"Enggak bik.Makasih ya." ujar Rania sambil meletakkan gelasnya dimeja.Bik Sum segera berlalu kebelakang rumah untuk menjemur cucian yang sudah setengah kering.
Rania sibuk mengecek penjualan dan stok barang ditokonya sambil sesekali memngawasi cctv yang memang langsung terhubung dilaptopnya.Dia tersenyum kecil saat melihat si kecil Reno sudah bisa berjalan kesana kemari dan sangat ramah pada siapapun.Pipinya yang chuby membuat siapa saja ingin mencubitnya.Rania mengelus perutnya,dia sangat rindu rumah,rindu Jakarta.Tempat dirinya dilahirkan.
"ehmm...ehmmm...!!" sebuah lengan kokoh sudah mengungkungnya.Bau parfum mint yang menyegarkan menyeruak di indera penciumannya.Tanpa menolehpun dia tau Dewa yang datang.Rania sedikit menoleh untuk sekedar menatap Dewa yang memeluknya.Pria tampan itu mengecup pipinya lembut.
"Kau rindu Reno?" tanya sang suami.
"Aku hanya kangen rumah." balas Rania tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.
"Sayang,jika kau ingin menjalani persalinan di Jakarta agar dekat dengan papa dan mama,aku akan mengabulkannya." bisik Dewa sambil sesekali menggesekkan hidung mancungnya dipipi Rania.
"Mas...aku ini istrimu.Yang kubutuhkan saat persalinan nanti adalah dirimu,bukan papa mama."
"Dek,aku akan cuti dan menemanimu ke Jakarta.Ada Frans yang akan menggantikan aku untuk sementara waktu."
__ADS_1
"Tidak mas.Nugraha jauh lebih penting.Ini jerih payahmu.Aku akan sangat bahagia jika nantinya kau bisa membuktikan pada dunia jika kau mampu berdiri sendiri tanpa nama besar papa Alex." Dewa terdiam.Sekelebat bayangan Alexander hadir dalam benaknya.Entah bagaimana kabar papa kandungnya itu.Sejak kejadian itu dia sudah putus hubungan debgan sang papa.
"Sayang,tenanglah...jangan terlalu banyak berfikir.Aku ingin kau bahagia menghadapi masa-masa kelahiran baby kita."
"Aku selalu bahagia dimanapun kau berada mas.Bahagiaku ya disampingmu."
"Sayang...terimakasih untuk semuanya ya.Kau rela menjadi istri pria tua ini,menjadi melar hanya karena mengandung anak pria ini,dan rela jauh dari orang tua juga karena pria ini.Maaf dan terimakasih." bisik Dewa.Rania begitu terharu.Dikecupnya pipi suami tercintanya itu.Sungguh pasangan yang romantis.
"pemisi tuan." keduanya spontan menoleh.Frans berdiri tegap disana.Rupanya mereka terlalu larut dalam keharuan hingga tidak menyadari kehadiran sang asisten tampan.
"Ya Frans?"
"Tuan Alexander ada dikantor ingin bertemu dengan anda." Dewa dan Rania terperanjat.Baru saja mereka membicarakan sang papa,sekarang dia malah sudah ada di depan.
"Papa?" tukas keduanya hampir berbarengan.
"Kenapa tidak langsung kau ajak kesini Frans?"
"Maaf tuan muda...mengingat hubungan kalian,saya merasa harus memberitahu anda terlebih dahulu." sahut Frans.
"Bagaimanapun dia papaku Frans.Antarkan saja beliau kemari."
"Baik tuan." Frans undur diri dan kembali ke kantor Nugraha untuk menjemputt Alex dan asistennya.Sedang Dewa membantu Rania berdiri dan menuju ruang tamu.
"Bagaimana papa tau mas disini?" Dewa terkekeh mendengar pertanyaan istrinya.Rania tetaplah wanita polos yang belum tau kekuasaan Wright di dunia bisnis.
__ADS_1
"Sayang,Papa itu orang yang punya pegaruh.Tidak sulit baginya untuk mencari informasi apapun.Dia akan tetap tau keberadaan kita walau diliang semut sekalipun." Rania menganggukkan kepalanya masih dengan pikiran kacau.Mau apa lagi Alexander datang disaat-saat seperti ini?
Dari arah pintu,mereka bisa melihat Alexander yang masih terlihat gagah dan gentle diusia senjanya melangkah lebar diikuti asistennya dan Frans menuju ke arah mereka.Orang kaya memang lain,dia bisa tampak lebih muda dari usia aslinya.Rania dan Dewa menghela nafas hampir bersamaan,larut dalam pikirannya masing-masing.Dewa terlihat tenang,berbanding terbalik dengan Rania yang gugup dan salah tingkah.
"Asalamualaikum papa." ujar Dewa yang lebih dulu keluar dari pintu rumah dan langsung meraih tangan kanan Alex dan menciumnya takzim.
"Waalaikum salam son." balas Alex dengan mata berkaca.Tangannya mengelus kepala putra semata wayangnya lalu memeluk tubuhnya erat.Rania sedikit ragu mendekati keduanya.Dia sama sekali tidak ingin merusak moment manis ayah anak itu.Rania juga cukup tau jika papa mertuaya itu tidak begitu menyukai dirinya karena kejadian tempo dulu.
"Kemarilah Rania." panggil Alex dengan suara parau.Lengan kekarnya meraih tubuh Rania dan memeluk kedua anaknya itu erat.
"Maafkan keegoisan papa nak." ujarnya pelan,kembali dengan suara bergetar.Sesaat kemudian Alex melepaskan pelukannya.Dewa mengajak sang papa masuk dan duduk di sofa ruang tamu,sedang sang asisten mengikuti langkah Frans kembali ke kantor Nugraha.Frans paham betul,majikannya perlu waktu bersama tanpa gangguan orang lain.
"Bagaimana kabar papa?"
Alexander menarik nafas dalam.Banyak yang ingin dia katakan,tapi sesak di dadanya lebih mendominasi jiwanya.Terlalu banyak yang dia lawatkan dimasa kecil Daniel Wright sang putra.
"Sekali lagi maafkan papa Daniel." masih dengan suara paraunya.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan pa."
"Papa sudah membuatmu kembali terlunta karena keegoisan dan keserakahan papa son." kali ini Alex tak sanggup membendung air matanya.
"Tidak pa,semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya.Aku yang salah karena tidak bisa menuruti keinginan papa.Aku yang tidak bisa berbakti pada papa."
"Daniel ...harus kuakui mamamu adalah wanita beruntung yang dipilih Tuhan untuk melahirkamu.Dia punya putra yang menuruni kelembutan,sifat dan idealismenya.Kenapa aku lupa jika kau putra Arini yang keras kepala tapi lembut dan penuh cinta.Untuk itulah papa kemari son." Ketiganya berpandangan.Sorot mata Alexander terarah tajam pada Rania yang mulai merasa tidak nyaman.Dewa mempererat genggaman tangannya pada jemari Rania yang berubah sedingin es.Dia tidak ingin wanitanya tertekan karena apapun yang akan dikatakan Alexander....Dewa akan tetap memilih Rania tinggal.
__ADS_1
*********
Readers...maafkan athor yang lama tidak update karena serangan flu akut yang hampir dua minggu masih terasa ya.Terimakasih pula atas teguran dan semangat dari kalian hingga malam ini othor nekat menulis lagi demi mengobati rindu kalian pada sosok Dewa dan Rania.Semoga kalian terhibur.....Love U so much😘😘