
"Apa anda tidak ingin menyelidiki masalah nyonya Rania presedir?" tanya Frans yang berdiri patuh didepannya,menunggu seluruh berkas ditanda tangani oleh Dewa.Presedirnya itu memang terlalu teliti pada sesuatu.Dia masih meneliti semua berkas itu satu persatu walaupun sekretaris kantor dan dirinya sudah memeriksa semuanya secara detail sebelum tumpukan kertas itu ada ditangannya.
"tidak Frans.Jangan buang-buang waktu untuk hal tidak penting." tegasnya dengan suara dinging.
"Tapi dia istri anda."
"istri hanya orang lain yang kita nikahi Frans.Kita hidup dalam tarikan nafas sendiri-sendiri,juga tidak dikubur diliang lahat yang sama bukan?"
"Tapi secara tidak langsung anda telah memfitnah nyonya Rania." bela Frans ngotot.
"Apa kau juga pernah dekat dengan istriku hingga kau membelanya mati-matian?" mata Frans melebar.Kata-kata Dewa adalah penghinaan baginya.Dia agen khusus yang dididik setia dan bekerja keras,bukan berselingkuh apalagi dengan istri majikannya.Rania yang ramah dan bersahaja itu sudah seperti keluarga baginya saat jauh dari keluarga aslinya dia Australia.Bagaimana bisa tuduhan keji itu terlontar dari mulut Dewa untuk wanita selembut dan sebaik Rania?
"Apa tuan sedang meragukan repurtasi saya?" tanya Frans dengan mata tajam mengarah pada Daniel yang juga menatap dingin padanya.
"tidak.Aku hanya bertanya hal sederhana.Kau terlalu mendramatisir keadaan.Atau mungkin kau benar melakukannya?" balas Dewa santai sambil menyerahkan dokumen terakhir pada Frans.Pria itu meraih dan menumpuknya menjadi satu,lalu memindahkannya ketangannya.
"saya tidak suka skandal presedir,apalagi yang melibatkan majikan saya." tukasnya dingin lalu membungkukkan badannya kemudian berlalu.Hati Frans sangat dongkol kala itu.Daniel yang dia kenal sudah berubah.Tekad di dadanya semakin kuat,dia harus mencari tau yang sebenarnya.Rania harus kembali ketempatnya dengan kepala tegak,bukan sebagai pecundang.
Dikediaman Ardinata,Yanti terus berdiskusi dengan sang suami yang dia paksa tidak pergi bekerja hari itu.Dia ingin putrinya baik-baik saja.Sedang Rania masih mengurung diri dikamarnya.Mereka sangat maklum dan memberi ruang bagi Rania agar tenang dan bisa berpikir jernih.
Sore menjelang saat Dewa memasuki rumah yang lengang.Tidak ada suara hangat Rania yang menyambutnya didepan pintu,memberinya kecupan mesra,atau sekedar memeluknya saat mengajak masuk kedalam rumah.Dewa mencoba acuh dan menepiskan bayangan Rania.Langkah lebarnya menuju pintu kamar dan membukanya.Gelap.Dimana Rania?lagi-lagi Dewa mengabaikanya,memilih mandi lalu turun ke meja makan.Ada bik Sum disana.
"Dimana Rania bik?" tanyanya datar.
__ADS_1
"nyonya belum pulang tuan."
"kemana?"
"kurang tau tuan.Satpam bilang tadi pagi mau ke kampus,tapi sampai sekarang belum pulang."
Dewa melanjutkan makannya.Dahinya mengerut saat tau bik Sum masih berdiri memperhatikannya takut-takut.Tidak biasanya wanita itu menungguinya makan.
"Ada apa bik?" tanya Dewa kemudian setelah menyelesaikan makannya lalu mengelap bibirnya dengan tisu.
"itu..kenapa tuan tidak mencari nyonya.Saya takut nyonya kenapa-napa tuan." ujar Bik Sum gugup.Terlihat sekali wanita paruh baya itu sangat mengkhawatirkan Rania.
"mungkin dia hanya jalan-jalan dengan temannya bik.Paling sebentar lagi pulang." balas Dewa asal.Tidak ingin berdebat lagi,pria tampan itu bergegas berdiri dan masuk ke ruang kerjanya.Menepis angan tentang Rania.Menengelamkan dirinya disana dengan berbagai file dan dokumen yang hanya menjadi pelariannya dari masalah.
Satpam yang dia hubungi lewat intercome rumah juga mengatakan jika Rania belum kembali.Berulang kali pria itu menelepon ponsel Rania,tapi deringannya malah kembali ke kamar tidur mereka.Rania bahkan meninggalkan ponselnya.Kesal,Dewa menjatuhkan dirinya disofa panjang.Pikirannya berkelana kemana-mana.
Adzan subuh membangunkan tidur sejenaknya,dia bergegas ke kamar mandi,mengambil wudhu lalu sholat.Tak ada konsentrasi penuh disana.Makin kesini dia semakin geram mengingat istrinya.Sebuah pesan masuk membuatnya berjingkat dan berdiri dari duduk bersimpuhnya.Tak ada doa yang dia lafazkan seperti biasanya.Hatinya dipenuhi sakit hati dan amarah.
'Wa,Rania disini sejak kemarin'
pesan singkat Ardianata membuat amarahnya semakin mendidih.Kenapa tidak memberitahunya dari kemarin?seolah Ardin sengaja melindungi Rania.Tanpa banyak berucap,Dewa keluar dari rumah dan menaiki mobilnya menuju kediaman Himawan.
Seperti saat Rania datang,Ardinatalah yang membukakan pintu untuk Dewa pagi itu.Dewa menatapnya tajam,bahkan tidak mengucapkan salam padanya.
__ADS_1
"Dimana Rania?" tanyanya singkat.
"dia ada dikamarnya." Ardinata membuka pintu lebih lebar agar menantu sekaligus sahabatnya itu bisa leluasa masuk.Matahari bahkan belum menampakkan sinarnya saat seorang ayah berdiri mengucapkan doa untuk putri tersayangnya agar Tuhan melembutkan hati suaminya dan keluarga putrinya bisa kembali rukun dan bahagia.
Dewa mengetuk kamar Rania,tak ada jawaban.Dia nekat membuka pintu dan menemukan Rania yang tertidur dalam kondisi tak karuan.Mata istrinya itu bahkan bengkak parah sekarang,pertanda dia menangis semalaman.Dewa meraup wajahnya kasar.
"Bangun Rania." ucapnya sambil menguncangkan bahu istrinya.Rania terlonjak bangun dan duduk dipinggir ranjang.
"Berani sekali kau tidak pulang tanpa minta ijin dariku!apa kau lupa jika kau seorang istri?" hardik Dewa.Rania hanya membisu,membuat Dewa semakin geram.
"Apa kau tidak punya mulut Rania?atau kau sudah benar-benar ingin berhenti menjadi istriku?jawab Rania!" sentaknya sekali lagi dengan penuh amarah.
"Maafkan aku mas.Bukan aku..."
"diam!!" bentak Dewa.Ardinata dan Yanti yang mendengarnya dari luar pintu kamar yang terbuka mengelus dadanya,berulangkali beristigfar.
"Kalau kau mau tetap disini baik!akan kukabulkan kemauanmu!" Dewa meraih tangan Rania kasar dan menyeretnya keluar kamar.Tak dihirukannya rintihan kesakitan Rania karena tangannya yang serasa akan putus dalam cengkeraman suaminya.Sampai di depan kedua orang tuanya,Dewa melepaskan tangan lemah itu hingga Rania hampir terjatuh jika Yanti tidak segera menagkap dan menahan tubuhnya.
"Ardinata himawan,hari ini kukembalikan putrimu Rania padamu.Aku tidak akan bertanggung jawab lagi pada kehidupannya!" kata Dewa berapi.Mata Ardinata berkaca saat Rania berlutut dikaki Dewa untuk meminta maaf dan meminta Dewa mencabut ucapannya.Tapi pria itu seperti bongkahan es yang keras dan tak berperasaan.Dia malah menyentakkan tubuh Rania agar menjauhi kakinya.Ardinata meraih bahu putrinya dan membawanya berdiri dalam pelukannya.Rania masih meraung dan menyembunyikan wajahnya didada sang papa.
"Aku menerima Rania dengan segenap jiwaku,Wa.Jika tidak ada lagi yang akan kau bicarakan,jalan keluar ada disana!" ucap Ardinata tegas tak terbantah.Yanti menatap manik mata Dewa dalam,hal yang tidak pernah dia lakukan pada siapapun,namun terpaksa dia lakukan kali ini demi seorang putri yang sudah dihina dirumahnya sendiri.
"Jangan pernah sekalipun menemui putriku baik sekarang,nanti atau sampai kapanpun!" hardiknya kasar lalu membuka pintu selebar mungkin.Tak menjawab,Dewa memilih pergi,meninggalkan Rania yang pingsan dalam pelukan sang papa.
__ADS_1