
Rania keluar dari mobil Firman yang mengantarnya sampai ke depan gerbang rumah.Pria itu bersikeras mengantarkan Rania pulang karena hujan turun sangat deras.Beberapa kali bahkan dia harus mengurangi laju kecepatannya karena pandangannya terhalang oleh hujan.Gadis itu berceloteh riang sepanjang jalan hingga selalu membuatnya tersenyum.Hati Firman sedikit merasa kehilangan saat Rania mengucapkan terimakasih dan turun dari mobil.Kenapa jarak terlalu dekat?harusnya dibuat berputar agar dia punya banyak waktu bersamanya.-
Payung lebar menaungi tubuh mungil Rania yang baru keluar dari mobil Firman.Pak Man,satpam rumah membuka pintu gerbang dengan tergesa begitu tau nyonya rumahnya datang.Pria itu bahkan rela menerobos hujan agar sang nyonya tidak terlalu lama diluar.
"Terimakasih pak." ucap Rania diangguki oleh pak Man.Dia sedikit kaget saat melihat mobil suaminya sudah terparkir digaransi.Sekilas dia melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya.Baru setengah lima.Bukankah biasanya Dewa pulang jam lima?tiba-tiba hatinya sedikit gelisah.
"Dari mana saja?" Rania berjingkat kaget saat dia menutup pintu dan Dewa berada tak jauh darinya.Dia sampai mengelus dadanya,menetralisir degup jantungnya yang hampir melompat keluar dari rongga dadanya.
"Dari ruko." jawabnya singkat.
"Berduaan dengan seorang pria hingga diantarkan pulang?" kepala Rania tertunduk lesu.
"kau pasti tidak bisa menjawabnya kan?itu sebabnya kau selalu mencari alasan agar kita bertengkar,pisah kamar,lalu kau bisa bebas menelepon atau chattingan dengan kakak temanmu itu sepuasmu kan?" nada sinis begitu ketara dari mulut Dewa yang tiba-tiba berubah pedas.Kepala Rania terangkat.Dia menatap Dewa lurus dengan rahang mengeras.
"Syukurlah kalau om menyadari itu semua." balasnya sinis.Dewa yang mendengarnya terlihat mengeram.
__ADS_1
"Kau mau main-main denganku Rania!!Apa maumu!!" sentaknya,namun tidak membuahkan eksresi apa-apa pada wajah Rania.Gadis itu tetap datar dan membuat dirinya setenang mungkin.
"memangnya apa lagi yang bisa kuharapkan dari om?"
"maksudmu apa Rania?!!" lagi,pria itu menyentak marah.Tapi Rania sudah benar-benar tidak mau kalah.
"Aku masih muda,kenapa mau menikahi pria tua seusia ayahku jika bukan karena harta?aku menjebakmu dalam pernikahan ini karena aku ingin menjadi wanita kaya om.Pewaris Wright crop,impian semua wanita adalah hidup enak dengan bergelimang harta kan?" tidak tampak ada kemarahan ataupun kekecewaan dari kata-kata Rania.Dia seolah berubah menjadi bongkahan es yang dingin dan tak tersentuh.Didepannya,Dewa menatapnya sangat tajam.
"Dan satu lagi om...aku bukan lagi anak kecil yang akan om atur dan awasi setiap detik.Aku sudah dewasa dan tidak perlu bantuan om untuk memilih teman dan pacaran dengan siapa." tambah Rania tegas.Dewa mendekat dan mencengkeram lengan kanannya hingga Rania meringis kesakitan.
"Kalau begitu aku akan menantang maut agar terbebas dari pria tua sepertimu!" kali ini suara Rania menggema diseluruh ruangan rumah hingga gadis itupun kaget dan menutup mulutnya.Selama ini dia tidak pernah berkata dengan nada lantang dan keras walau semarah apapun.Masih untung suara hujan diluar meredam suaranya,jika tidak...mungkin satpam diluar sana akan mendengar dan berlari kedalam rumah karena mengira terjadi sesuatu disana.
Dewa menarik lengan Rania kasar,membawanya menuju kamar tamu yang ditempati Rania.Pria itu membuka pintu,dan menguncinya secepat kilat setelah mendorong Rania hingga terduduk di tepi ranjang.Hanya mereka berdua disana.Dia dengan tatapan marahnya,dan Rania dengan sikap acuhnya membuang muka.Tidak mau bersitatap dengannya.
Tangan Dewa bergerak membuka tas didalam lemari,mengambil sesuatu dan melemparkannya ke atas ranjang.Sebuah Diary.Setengah gemetar Rania meraihnya.Dielusnya sampul diary merah jambu itu.Diary miliknya saat kelas tiga SMP,tempatnya berkeluh kesah dan menumpahkan perasaanya yang tersembunyi.Perasaan yang tidak ingin diketahui orang lain walau itu sang mama.Perasaannya saat pertama kali tertarik dan jatuh cinta pada Dewa.Suaminya,pria yang berdiri penuh kemarahan di depannya.Tapi kenapa diary itu bisa sampai kerumah ini?bagaimana dewa tau tentang isinya?padahal sudah di a sembunyikan diantara tumpukan bukunya dikamarnya dulu.
__ADS_1
"Kau pikir aku percaya alibimu Rania?Kau bahkan sudah jatuh cinta padaku saat masih SMP.Padaku yang hanya arsitek papamu,pria yang berangkat dari nol dan bisa seperti sekarang karena bantuan orang tuamu.Bahkan aku saja belum tau jika Alexander Wright adalah ayahku.Bagimana kau bisa tau?Lalu apa tadi?demi harta?ha...haa...kau sangat lucu sayang.Kau kira aku ini siapa?aku seperti bayangan bagimu.Memanfaatkan fasilitas papamu saja kau tidak mau,apalagi dariku?uang belanja yang kuberikan padamu saja tidak pernah kau sentuh,bagaimana kau bisa menjadi wanita matrealistis seperti yang kau sebutkan tadi?kau sungguh membuatku ingin tertawa Rania." Kali ini wajah seram Dewa berubah merah padam menahan tawa.Lagi-lagi Rania melengos geram.Dia menggeser duduknya saat merasakan pergerakan disisinya.Dewa sudah duduk disana dengan senyum menawan yang selalu membuatnya merasa terbang ke awan-awan mendung.
"Jangan pernah berhenti mencintaiku Rania." ujarnya setengah berbisik.Sekali sentak tubuh mungil Rania sudah berada dalam pelukannya yang kokoh dan hangat.
"Kau dengar dek?" dan Rania yang seperti tersihir oleh tatapan teduh itu hanya mengngguk lemah tanpa bisa membantah lagi.Pria itu tersenyum dan mengecup bibirnya lembut.
"A...aku ..aku mau mandi dulu om." sela Rania sambil mencoba melepaskan dirinya.Membebaskan dadanya yang sudah terasa sesak karena kurangnya pasokan oksigen di dalamnya.Tak tinggal diam,Dewa malah meraih tubuhnya dan menggendongnya hingga Rania memekik keras.
"Om,aku mau mandi!turunkan!"
"Kau bukan tamu dirumah ini dek,tempatmu bukan disitu." balasnya.Rania hanya pasrah yang menyandarkan kepalanya kedada Dewa.
"Sekarang mandilah,bersihkan dirimu.Karena aku menginginkanmu...malam nanti." deg...jantung Rania seakan berhenti berdetak.Dia tidak menjawab,sibuk dengan pikirannya sendiri.Berulang kali dia menelisik wajah Dewa,mencari candaan disana.Tapi suaminya malah memasang wajah serius yang membuatnya sakit perut secara tiba-tiba.Menginginkannya?kata-kata macam apa itu?mendengarnya saja sudah membuatnya spot jantung dan pipi merona.Apa Dewa serius?atau hanya ingin menggodanya?
"ehhmm...atau kau mau kumandikan dek?" tanya Dewa dengan mimik lucu,namun sukses membuat Rania lari terbirit-birit masuk ke kamar mandi.Pria itu tertawa lepas hingga bahunya terguncang melihat tingkah istrinya yang menggemaskan.Sejenak kemudian dia membaringkan tubuhnya disisi ranjang.Dingin menyergap kulitnya,pasti diluar sangat dingin sekarang...tapi hatinya menghangat.Bibirnya tak berhenti tersenyum dan mata yang berbinar bahagia.
__ADS_1