
Tangisan keras bayi berusia tujuh bulan mengagetkan sepasang suami istri yang sedang saling memeluk sore itu.Dewa baru saja memasuki rumahnya setelah satu minggu berada di Bali untuk menemui kliennya.Keduanya baru saja melepas kerinduan saat si kecil David menangis keras,mungkin bisa merasakan jika papanya pulang.Tergesa,Rania menuju box bayi putra kecilnya yang langsung terduduk dari posisi tidurnya dan memandang kedua orang tuanya.Rupanya David baru terbangun dari tidurnya yang terbilang lama dari siang hari tadi.
"Mandi dulu mas,biar aku yang urus David." kata Rania saat Dewa ingin meraih sang putra dari gendongannya.
"Aku akan mandi bersama David sayang." Tangan kekarnya tetap meraih tubuh montok sang putra yang juga secara spontan menujulurkan tangan padanya.
"Mas,bukannya kamu masih capek ya?"
"Tidak.Capekku akan langsung hilang begitu melihat kalian.Kau mau ikut?" tawar Dewa dengan senyum menggoda.Rania segera mencubit lengan suaminya gemas.Makin tua suami tampannya itu juga makin kerap menggodanya.Hadirnya David diantara mereka malah menambah perhatian dan cinta Dewa padanya.
Pria itu begitu bertanggung jawab dan menepati janjinya untuk menjaga serta menyayangi istri dan anak pertamanya.Tak seharipun berlalu tanpa kemesraan dan canda tawa dirumah itu.Alexander maupun Ardinata sekeluarga sering sekali melakukan video call untuk sekedar melihat sang cucu,pewaris utama Wright crop dikemudian hari itu tumbuh dewasa.Dewa bahkan meminta jadwal memandikan David setiap harinya mulai lahir hingga sekarang.Menyuapi putranya sambil berkeliling pekarangan rumah mereka juga rutinitas harian papa beranjak menua tampan menggoda itu.Akan halnya Dewa,Rania juga melakukan hal yang sama.Dia tidak mempekerjakan baby sitter atau pelayan tambahan karena ingin seratus persen merawat David dan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.
Rania segera menyerahkan handuk lembut pada sang suami yang telah usai mandi dan memandikan David yang berceloteh dengan bahasa bayinya yang lucu.Sesekali bibirnya tertawa riang sambil sesekali berusaha menggapai papanya yang dengan telaten memakaikan baju untuknya,memberikan bedak dan lotion baby padanya.
"Mas,mau makan sekarang?biar aku siapkan dulu ya."
"Nanti saja sayang.Kita suapi David dulu.Lihat,dia menggigiti jarinya.Mungkin dia lapar."
__ADS_1
"Si gembul ini memang tidak ada kenyangnya mas." kata Rania sambil mencubit gemas pipi putranya.Dewa tertawa bahagia melihat dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya itu terlihat bahagia.Rania mengelus punggungnya mesra lalu beranjak ke dapur,mengambilkan makanan David yang memang terlihat lapar sore itu.
Tujuh bulan berlalu dengan cepat,secepat perkembangan usaha Dewa yang mendapatkan suntikan dana investasi dari sang papa dan mertuanya.Kemampuan dan kredibilitas Dewa yang memang sudah cukup dikenal beberapa pelaku bisnis properti membuat mereka tertarik dan menawarkan kerjasama dengan nominal besar.Mau tidak mau waktu Dewa banyak tersita untuk pekerjaan.Beruntung ada Frans yang banyak menghandle pekerjaan di luar kota.Hanya beberapa saja yang dia hadiri langsung karena memang penting dan tidak dapat diwakilkan.Keberuntungan kedua adalah karena letak kantor dan kediamannya yang menyatu dalam satu lokasi hingga memudahkan Dewa memantau keluarga kecilnya saat bekerja.
Sore itu,mereka membawa David ketepi kolam ikan dibelakang rumah.Rania dengan telaten menyuapi putranya yang berada dalam gendongan papanya.Lidah kecilnya mengecap ringan saat suapan terakhirnya telah habis.
"Anak pintar." puji Dewa.David yang bosan digendong menginginkan turun dan merangkak kesana kemari.Takut terjebur Dewa membawanya ke sisi taman luas yang biasa digunakan untuk bermain tennis yang membuatnya leluasa bergerak kesana kemari.Tawa bahagia sang bocah seolah musik terindah yang dimainkan para komponis andal.
"Bagaimana meetingnya mas?" tanya Rania disela canda tawa mereka.Ditatapnya lembut sang suami yang terlihat lebih segar dengan kaos polo biru langit yang membalut tubuhnya.
"Semua baik-baik saja.Kapan-kapan aku ingin membawa kalian berlibur kesana.Bali benar-benar istimewa." Rania bergelayut manja di lengan suaminya,masih dalam momet melepas kerinduannya pada cinta pertama dan terakhirnya itu.Seolah mengerti perasaan sang istri,Dewa merengkuh tubuh mungil itu dalam pelukannya.
"Apa kita perlu menitipkan David pada bik Sum?"
"ehmm...ehh..ti..tidak perlu mas." jawab Rania tergagap.Dewa meraih dagunya,memaksa Rania menatap wajahnya.
"kenapa?bukan hanya kau,akupun merindukanmu nyonya Wright.Aku menginginkanmu..sekarang." bisiknya tegas.Lagi-lagi Wajah cantik Rania merona,bahkan lebih merah dari tadi.Makin lama suaminya ini memang semakin romantis dan hot.
__ADS_1
"Jawab Rania." tekan Dewa memaksa.Rania hanya bisa mengangguk pasrah,melawan detak jantungnya yang menggila.Detak jantung yang masih sama saat pertama kali mereka menikah.Desiran jantung yang sama saat dia melabuhkan cintanya pada Dewa Nugraha Widhinya.
Dengan senyum penuh kemenangan Dewa menggapai tubuh kecil David yang sudah bergelayut di kakinya.Sekali angkat,si kecil itu sudah berada dalam dekapannya.
"Sayang,kamu ikut bik Sum sebentar ya.Biarkan mama dan papa memulai usaha membikinkan kamu adik.Jangan rewel ya." kata Dewa sambil menciumi pipi putranya.David tergelak bahagia seolah mengerti perkataan sang papa.
"Bik,kami titip David sebentar ya." Dewa menyerahkan putranya ke tangan bik Sum yang menerimanya dengan suka cita.Tanpa banyak bicara,wanita paruh baya itu membawa David ke ruang bermain,tempat begitu banyak mainan tuan kecilnya itu ada.
"Ayo." kali ini Dewa mengangkat tubuh Rania dan membawanya ke kamar mereka.Entah berapa lama mereka memadu kasih dan menuntaskan kerinduan di dada masing-masing.Dewa baru berhenti setelah Rania terkulai lemas dalam pelukanya.Dikecupnya pucuk kepala sang istri lembut,lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Terimakasih sayang,kau tetap yang terbaik.Aku mencintaimu." bisiknya lagi.Rania mengeratkan pelukannya pada tubuh kekar itu seolah tidak mau terpisah sedetikpun.Cinta yang indah dari dua insan dari generasi berbeda.
Jangan pernah takut jika cintamu terhalang usia karena pada dasarnya tiap manusia butuh kenyamanan dalam hidupnya.Cinta bisa datang kapan saja dan pada siapa saja tanpa bisa kita atur atau cegah.Berbahagialah atas nama cinta dan senantiasa cintailah cinta.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Hai readers...Balada Cinta Belahan Jiwa sudah tamat ya.Maaf atas keterlambatan upnya.Namun,untuk menambah referensi kisah romansa modern kalian,author sudah menciptakan karya baru.Jangan lupa mampir dan memberikan apresiasi kalian ya.Dukungan kalian sangat saya harapkan untuk kemajuan karya saya kedepannya.Wasalam dan terimakasih banyak readers.....
__ADS_1