
Dewa yang awalnya hanya protektif sekarang menjadi posesif sejak kehamilan Rania.Dia bahkan langsung meminta cuti dikampus baru Rania agar istrinya tidak terlalu lelah dan fokus pada kehamilannya.Jangankan ke dapur,Rania bahkan dilarang melakukan apapun hingga wanitanya itu jengah.
"Sayang,minum susunya." kata Dewa sambil mengangsurkan gelas berisi susu hamil.Rania menerimanya dan langsung meminumya hingga tandas.Dewa tersenyum lega lalu berjalan keluar kamar untuk mengembalikan gelasnya kedapur.Sesaat kemudian,dia sudah kembali ke kamar.
"Mas,boleh aku minta sesuatu?" seketika Dewa memalingkan wajahnya lalu mengelus rambut istrinya lembut.
"katakan sayang,aku akan berusaha memenuhinya." ujarnya kemudian.Binar bahagia tergurat diwajahnya.Orang bilang perempuan hamil memang punya permintaan aneh yang disebut ngidam.Tapi tampaknya itu belum terjadi pada Rania yang bersikap biasa saja.Baru kali ini istrinya menginginkan sesuatu.
"hmmm...boleh aku bekerja atau kuliah kembali?aku bosan dikamar terus mas."
"Tidak Rania!kau tidak boleh kemanapun.Jaga kandunganmu." sarkas Dewa.Buru-buru dia memeluk tubuh istrinya itu saat Rania terlihat ingin menangis.Dewa juga sama sekali tidak berniat membentaknya,semua terjadi begitu saja karena dia dikuasai emosi.
"Maafkan aku sayang." ujarnya lembut.Rania membenamkan kepalanya didada bidang suaminya.
"Apa uang bulanan yang kuberikan kurang?"
"tidak.Aku bahkan tidak pernah menggunaknnya karena mas Dewa sudah mencukupi semuanya."
"lalu?"
"aku bosan mas.Aku ingin bertemu banyak orang.Bukankah banyak ibu hamil yang juga bekerja diluar sana?"
"Sayang dengar....kau harus banyak bersyukur.Diluar sana banyak ibu hamil yang bekerja karena alasan ekonomi dan pekerjaan hingga tidak menikmati masa kehamilannya." beber Dewa dengan sabar,takut menyingung perasaan istrinya kembali.
"Aku tau mas.maaf." ujar Rania lagi.Yang dikatakan suaminya benar.Dia harus bersyukur mempunyai suami yang bertanggung jawab,perhatian dan pekerja keras seperti Dewa saat banyak wanita diluar sana menghadapi banyak masalah dalam pernikahannya.
__ADS_1
"Tapi baiklah,jika kau ingin bekerja."
"Masut mas Dewa?" tanya Rania ingin tau.
"kau bisa kembali ke posisimu saat magang."
"di kantor mas Dewa?"
"ya, memangnya mau dimana lagi?aku tidak akan mengijinkan kau kerja ditempat lain dek.Aku takut bayi kita kenapa-napa."
"Mas terlalu protektif."
"Dia calon anak pertama kita dek.Siapapun akan bersikap sama denganku jika istri tercintanya hamil.Bukan hanya yang pertama,aku akan tetap begitu walau itu pada kedua,ketiga atau keberapapun kehamilanmu." kembali direbahkannya kepala Rania di dadanya.
"Sepuluh." ujar Dewa santai dengan merentangkan sepuluh jarinya.Rania mencubit perutnya gemas.
"Yang ada aku akan jadi sebesar kingkong dengan kantung lemak dimana-mana.Tampilanku juga berantakan karena mengurus sepuluh anak.Setelah itu mas akan bosan melihatku lalu mencari selingkuhan diluar sana." protes Rania kesal.Dewa meraih dagu istrinya dan mengarahkan wajah cantik itu padanya.Mata mereka bertemu.
"Itu tidak akan terjadi sayang.Kau akan ikut perawatan termahal agar tidak berantakan seperti yang kau bayangkan.Kau juga tidak perlu mengurus semua anak kita karena suamimu ini sanggup menggaji babysitter untuk mereka dan ya....selingkuh?aku tidak suka kau mengatakannya padaku karena aku tidak berminat pada wanita manapun selain dirimu.Baik kau gendut atau kurus,cantik atau keriput karena seluruh cinta dan duniaku sudah berputar padamu Rania." bisiknya penuh penekanan.Wajah Rania tersipu.
"Berapa wanita yang sudah kau bikin tak berdaya dengan rayuan mautmu itu mas?"
"Rania...kau mengenalku dari kecil bukan?apa pernah om Dewamu membawa seorang wanita atau curhat tentang wanita pada papa dan mamamu?mereka sahabat baikku.Tau segalanya tentang aku.Hanya Hafsah satu-satunya wanita yang pernah hadir dalam hidupku.Itupun kau sudah tau ceritanya." sesaat Dewa terdiam mencerna kembali tiap perkataan yang dia ucapkan.
"Aku mencintaimu Rania himawan sukma.Dengan segenap jiwaku." ujarnya mantap,seketika Rania memeluk leher Dewa dan melabuhkan ciumannya pada bibir sang suami.Dewa yang tak siap dengan serangan istrinya tergagap hingga lepas kendali.Membalas ciuman singkat itu dengan ******* panas.Tak terasa tangannya sudah merayapi tubuh istrinya yang terus menciumnya dengan amat liar.
__ADS_1
"Sa..sayang...dengar dulu." cegahnya saat Rania bertindak lebih.
"hmmmm.." hanya itu yang keluar dari bibir Rania.selepasnya dia memilih mengecupi dada telanjang suaminya.Mau tidak mau jiwa lelakinya tergugah.Walau mencoba bertahan namun serangan demi serangan panas dari Rania sudah membuatnya lepas kontrol.Dibatas kesadarannya Dewa menahan tubuh istri cantiknnya yang terus bergerak agresif diatas tubuhnya.
"Sayang..Rania..dengar..dengar aku dulu.Usia kadunganmu masih sangat rawan.Kita harus menjaganya.Kita tidak bolehh...."
"Ssstt ....yang penting mas Dewa nggak kasarkan?dokter cuma bilang jangan terlalu sering,bukan berarti tidak bolehkan mas?" rengek Rania manja sambil menarik lepas celana pendek Dewa paksa.
"aahh ..ya Tuhan..aku serasa diperkosa." desah Dewa frustasi menghadapi tingkah nekat dan liar istrinya.
"Bukan aku mas..tapi bayi kita yang minta." kilah Rania cerdas.Dia tau kini suaminya tidak bisa apa-apa atau menolaknya lagi.Baru kali ini Rania bertindak diluar kebiasaan hingga Dewa kewalahan memenuhi hasrat istrinya.Sebagai laki-laki dia menyukai Rania yang agresif dan tampak seksi,tapi sisi kebapakan yang sangat besar dalam jiwanya membuatnya harus ekstra hati-hati.Lembut...sangat lembut hingga Dewa nyaris menyamakan istrinya dengan gelas kristal yang mudah pecah.Membelai dan membawa Rania pada samudra penuh hasrat hingga keduanya mencapai ******* sempurna.Rania terengah,senyum lebar menghiasi bibirnya.Keringat menitik diwajah dan lehernya.
"Terimakasih mas." ucapnya tulus.Dewa meraih tubuh wanitanya lalu mengecup pucuk kepalanya.Berlahan namun pasti dia bergerak pada perut Rania yang telanjang.Menciumnya lalu mengelusnya penuh kasih sayang.
"Apa kau bahagia sayangku?papa baru saja menjengukmu.Cepatlah tumbuh agar kau bisa lekas bertemu papa dan mama." katanya dengan senyum terkembang.
"Kau ingin dia lahir laki-laki atau perempuan mas?"
"Apapun yang Allah berikan adalah anugerah dek.Laki-laki atau perempuan sama saja buatku.Kita akan tetap mendidiknya menjadi anak yang sholeh nantinya."
"Terimakasih sudah menjadi suami yang terbaik untukku mas." ujar Rania dengan suara bergetar.Dewa memeluknya hangat.
"Apapun untukmu sayang.Ingatkan aku jika kau merasa aku melakukan kesalahan.Mulai sekarang kita belajar dewasa ya." bisiknya mesra.Rania menganggukkan kepalanya.Keduanya beriringan menuju kamar mandi.
Keesokan Harinya,Rania benar-benar mulai bekerja dikantor Nugraha.Dewa melarangnya memakai sepatu berhak,pakaian ketat,juga ini itu yang membuat Rania jengah.Tapi demi bisa keluar dari rumah,dia menyetujui saja semua kemauan suaminya.
__ADS_1