
Ruko dua lantai itu yang menjadi lokasi terkini mereka.Dewa menyuruh Frans memarkir kendaran mereka tak jauh dari sana.Dewa melepaskan jas hitamnya lalu menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku.Rambut kecoklatannya dibiarkan berantakan,menambah kesan maskulin pada dirinya.Postur tinggi kekarnya banyak mencuri perhatian penguna jalan yang kebetulan lewat.
Dewa memasuki ruko dengan langkah panjang.Terlihat sekali jika pria itu tergesa.Tika yang kebetulan sedang mengepak beberapa pesanan mendongakkan kepalanya.Matanya membulat sempurna melihat pria matang yang tampan rupawan,berahang tegas dengan mata elang menaungi hidung mancung dan bibir tipis yang seksi.
"Selamat sore,apa nyonya Rania ada?" tanya Dewa sambil sesekali melirik ke tangga.Dia merasa istrinya ada diatas karena tidak ada seorangpun dilantai bawah selain dua gadis yang belakangan dia tau bernama Erna dan Tika,penjaga toko Rania.
Tika dan Erna saling pandang sesaat lalu mengangguk.
"Mbak Rania ada di atas pak."
"Katakan padanya suaminya menunggu dibawah." Tika dan Erna saling pandang lagi.Suami?sejak kapan Rania menikah?dengan pria setampan ini pula.Walau usianya tidak muda lagi,tapi pesonanya sungguh luar biasa,
"baik pak.Sebentar saya panggilkan." Erna beranjak naik kelantai dua,namun beberapa menit kemudian dia turun lagi.
"Maaf pak,mbak Ranianya lagi sholat.Biasanya kalau maghrib suka lama pak." Dewa baru tersadar sudah masuk waktu maghrib.
"Saya akan menyusulny keatas."
"Tapi pak....." Erna yang belum pernah melihat Dewa sebelumnya merasa sedikit takut membiarkannya naik keatas.Namun Dewa bergerak cepat mengutak atik ponselnya dan menunjukkan foto pernikahannya dengan Rania.
"Saya Dewa,suami Rania." tegasnya.Pria itu meninggalkan ponselnya diatas etalase agar kedua shopkeeper itu bisa melihatnya dengan jelas.Erna bahkan sampai terngangga kaget.Rania ternyata sudah menikah.Foto-foto pernikahan sederhana dan ala kadarnya itu sontak menjadi fokus keduanya hingga sebuah tangan besar meraih ponsel itu.
"maaf,saya seketaris tuan Daniel.Ponselnya akan saya bawa." aksen barat yang kuat dalam bahasa Indonesia yang fasih.Tika bahkan sudah mengeluarkan ponselnya untuk berswafoto dan mengunggahnya di instagramnya dengan caption 'ketemu bule tampan.' Keduanya terkikik geli diiringi lengosan galak frans yang memasang wajah super duber dingin.Kedua gadis itu bersikap masa bodoh,yang penting sudah bisa foto bareng bule.
Dewa yang sudah sampai lantai atas melihat Rania sangat khusyuk dan sedikit terisak dalam doanya.Dia duduk disofa menunggu Rania selesai berdoa.Ditatapnya ruko kecil istrinya itu.Ada sebuah kamar dengan kamar mandi terpisah,sofa sedang dan meja bulat di depannya serta rak tempat menyimpan stok barang.Kipas angi yang ada dilangit-langit plafon seakan tidak berarti untuk menyejukkan ruangan itu.Kenapa Ranianya sama sekali tidak menggunakan uang sebagai nafkah yang dia kirim padanya tiap bulan selama di Austalia?Apa uang itu kurang?ini hal yang harus dia tanyakan nanti.
__ADS_1
"Om." sapa Rania saat selesai sholat.Dewa yang tenggelam dalam pikirannya sendiri sampai tidak menyadari jika Rania sudah selesai.
"Ya."
"Ada apa kemari?"
"Aku suamimu.Apa ada larangan suami menjemput istrinya yang tidak kunjung pulang?" sidir Dewa.Kakinya melangkah ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.Dia mau sekalian sholat disana.Jika harus menunggu tiba dirumah,dia takut waktunya sudah terlewat.Ada hal yang harus mereka bicarakan.
Sekarang gantian Rania yang menungu Dewa sholat walau tak selama dirinya tadi.Dewa melipat sajadah lalu meletakkannya ditempat semula.Dia berbalik pada Rania yang tadi duduk ditempatnya.
"Kenapa pergi ke kampus sepagi tadi dan pulang selambat ini?kau juga tidak minta ijin pada suamimu." tanya Dewa kemudian.Rania menggeser duduknya saat Dewa duduk disebelahnya.Gadis itu hanya menundukkan kepalanya.
"Kau marah padaku dek?"
"tidak."
"Aku sudah lama tidak masuk kuliah om,juga lumayan lama tidak ke ruko.Aku hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja." kilah Rania.
"Tatap lawan biacaramu dek.Yang kau lakukan itu tidak sopan." ucap Dewa lembut.Rania mengangkat kepalanya.Mata keduanya saling tatap dalam diam.Jantungnya hampir copot saat Dewa meraih jemarinya dan menggenggamnya.
"Apa uang bulanan yang kuberikan kurang?" Rania terperanjat dan refleks menggeleng.
"Lalu kenapa tidak kau gunakan untuk keperluanmu?"
"Aku tidak ingin merepotkan om.Uangnya masih utuh ditabunganku.Om bisa mengambilnya jika membutuhkannya." jawab Rania sambil menundukkan kepalanya lagi.Dia tidak sanggup menatap mata Dewa yang terus terarah padanya.
__ADS_1
"Tidak ada suami yang menanyakan nafkah yang sudah diberikan pada istrinya,apalagi memintanya kembali dek.Itu hakmu.Terserah mau kau pakai untuk apa uang itu."
"istri?" Rania membeo.Jemari tangannya saling memilin dalam kegelisahan.Kata 'istri dan suami' selalu membuatnya sesak nafas.
"Ya.kau istriku Rania.suka atau tidak,kau yang memilih aku untuk menjadi suamimu." tegas Dewa dengan nada serendah mungkin.Hati Rania terasa tertampar.Kalau ada yang harus disalahkan dari semua kejadian ini...itu adalah dirinya yang terlalu terobsesi pada Dewa.
"Maafkan aku om.Jika om memang merasa keberatan atau tidak menyukaiku..aku sudah ikhlas kalau om mau menceraikan aku." lirih Rania,namun mampu membuat rahang Dewa sekali lagi mengeras.
"Jangan pernah menyebut kata perceraian di depanku dek!aku tidak suka!aku tidak main-main dengan pernikahan.Semua yang terjadi pada diri kita hanya perantara jodoh dari Tuhan.Hanya maut yang akan memisahkan kita." Suara Dewa bergetar menahan luapan amarah.Lagi-lagi Rania menunduk.Dia sudah terbiasa melihat Dewa memarahinya dimasa lalu.Dia bahkan puluhan kali lebih galak dari papanya.
Dewa mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Frans yang masih setia menunggunya dibawah.Sekretaris itu bahkan masih berdiri walau berkali-kali Tika dan Erna menawarinya untuk duduk.Bahkan soft drink yang diletakkan didekatnya juga tidak disentuh sama sekali.Dasar robot bernyawa.
"Frans,segera pesan lemari es mini,ac,springbed tunggal dan makanan untuk makan malam kita semua." perintahnya pada sang sekretaris.Rania sampai terbelalak mendengarnya.Kenapa Dewa kembali bertindak semaunya?
"Om,aku tidak butuh semua itu."
"aku yang butuh dek.Karena mulai hari ini aku akan menyusulmu kemari jika kau pulang terlambat.Aku juga perlu tempat yang nyaman untuk menunggukan?" balasnya sambil tersenyum smirk.
"A...aku akan pulang tepat waktu sebelum om sampai dirumah." Rania tidak bisa mengambil resiko lagi.Dewa tidak boleh terlalu ikut campur dalam urusannya.
"Sudah terlambat.Satu lagi..kau akan pulang dan pergi dijemput sopir.Jangan sekali-kali naik ojek atau angkutan umum."
"kenapa om?bukanya dari dulu aku naik bi s ya?Aku tidak suka merepotkan orang lain.Lagian aku..."
"Karena sekarang kau istri Daniel wright.Tolong hargai suamimu ini dek.Aku mencari nafkah juga untukmu.Bagaimana bisa aku membiarkanm berdesakan dengan banyak orang?"
__ADS_1
"om terlalu mendramatisir keadaan."
"Berhenti memanggilku om Rania!!aku tidak suka!" sentak Dewa kesal.