
Hari demi hari kesehatan Rania berangsur pulih.Dia sudah beraktifitas seperti semula walau belum pernah meninggalkan rumah.Tapi setidaknya di sudah tidak lagi mengkonsumsi obat-obatan lagi.
Bel berbunyi,Bibi Sum tergopoh berlari dan membuka pintu.Dua orang pria masuk,tampaknya sudah ada janji dengan sang empunya rumah karena sebentar kemudian Dewa datang menemui keduanya dan terlibat pembicaraan serius.Rania yang muncul dari pintu samping awalnya akan bersikap pura-pura tidak tau,namun dua orang itu menoleh padanya dan menyapanya.
"Rania,kau disini juga?" tanya pria yang agak gemuk.Rania tau dia om Harun,teman papanya juga.Kalau yang satunya dia kurang tau.Rania mendekat dan berjabat tangan dengan keduanya.Sedikit berbasa basi.
"Kau dititipkan pada Dewa lagi?Apa Ardin dan Yanti keluar kota?" tanya om Harun ingin tau.
"Ya,begitulah mereka Har.Serasa punya keponakan beneran." celutuk Dewa sambil tetap memperhatikan kertas-kertas ditangannya.Dia juga tidak menyuruh Rania duduk hingga gadis itu hanya berdiri disampingnya.
"Yang ini malah pantesnya jadi anak kamu Wa.Lebih lengket ke kamu kayaknya." goda Harun sambil terttawa terpingkal.
"Kau tau sendirikan,aku yang nyebokin dia dari bayi." lagi-lagi Dewa bicara sekenanya.
"Tapi sekarang putri Ardin sudah dewasa Wa,cantik lagi.Apa kamu nggak tertarik?" pancing om Harun.Dewa kembali terkekeh.Melipat kertas-kertas itu lalu menyerahkannya lagi pada asisten Harun.
"Aku sudah menganggapnya putri kecilku." balasnya kemudian.Hati Rania terasa direjam sembilu.Berusaha menguasai diri dan menyembunyikan air mata yang akan luruh,dia berpamitan.
"Maaf om,saya keatas dulu.Mau belajar."
"owhh..iya Ran,yang rajin ya." ujar Harun lagi.Rania mengangguk dan setengah berlari menuju ke kamarnya dan mengurung diri disana.
Satu jam kemudian,Harun dan temannya sudah pulang.Dewa masuk ke kamar mereka,namun langsung membuka pintu balkon.Rania berjingkat turun menuju dapur.Selesai dengan urusan dapurnya,dia kembali ke atas dan menghampiri Dewa yang sedang bersantai dan menikmati udara malam dibalkon kamar.Ditangannya,sebuah nampan berisi susu dan puding favorit Dewa siap untuk disajikan.
"Mas,minum dulu susunya." Dewa menoleh dan balik menghampirinya yang meletakkan nampan di meja kecil disana.
"Kenapa repot-repot turun ke bawah?ada pembantukan?kau bisa minta tolong pada mereka dek."
__ADS_1
"Kan aku mau membuatkan susu dan puding ini untukmu mas." sahut Rania sambil menghempaskan tubuhnya dikursi.Baru sekarang dia melihat pemandangan dari balkon,indah sekali.Gugusan bintang menghiasi angkas raya.Nun jauh disana juga kerlap kerlip lampu seperti kunang-kunang yang menghiasi semesta dengan kerlip sinarnya.Pantas sedari tadi Dewa asyik disana.
"Lain kali minta tolong mereka dek.Mereka orang-orang yang cekatan dan pilihan.Hal sekecil ini pasti tidak merepotkan."
"Aku nggak mau suamiku dilayani orang lain mas." bantah Rania,membuat senyum Dewa terbit.
"kau ini..bersikap seolah-olah kau istri sempurna saja." kekeh Dewa.Rania membeku.Benar kata Dewa..dia terlalu berhalusinasi menjadi istri sempurna yang didambakan dan dicintai suaminya.Bukankah yang terjadi malah sebaliknya?Di depan teman-temannya tadi bahkan Dewa tetap mengakuinya sebagai bocah kecil yang sering dititipkan padanya.Dia menyembunyikan pernikahan mereka.
"Maafkan saya om." ujarnya tiba-tiba.
"kok balik om lagi panggilnya." protes Dewa.Dia mengira Rania lupa dengan panggilannya.
"Bukankah lebih baik begitu?agar saya tau diri tentang posisi saya dihati om Dewa." balas Rania lagi dengan nada kalem namun mendobrak kesadaran Dewa.Dia jadi tau kalau Rania tersinggung.
"Dek,bukan itu maksutku.Kau salah paham."
" Kau mau kemana?"
"tidur."
"tidur dimana?ini kamar kita." Rania tidak menjawab.Dia tetap membuka pintu dan berjalan menuruni tangga diikuti Dew yang terus bertanya.Tiba dikamar tamu,Rania menghentikan langkahnya.
"Aku mau tidur disini om."
"Tapi dek,ini terlalu berlebihan.kau..."
"Menurutku ini lebih baik om.Selamat malam." Rania menutup dan mengunci pintu.Tangisnya pecah dengan tubuh bersandar dipintu dan luruh kelantai.Dia menutup bibirnya agar isakannya tidak terdengar.
__ADS_1
"Dek buka pintunya.Aku mau bicara.dek...dek...!" Dewa terus saja memanggilnya,namun Rania memilih naik ke ranjang dan menutup telinganya dengan bantal.Tangisnya makin menjadi.Entah berapa lama dia menangis,hingga terlelap dalam tidurnya.
Dilain sisi,Dewa berjalan lemas ke kamar mereka.Dia tau sudah menyakiti Rania.Tapi bukankah itu juga yang terbaik?dia tidak ingin Rania malu mendapatkan suami yang seusia ayahnya.Pernikahan mereka juga bersifat rahasia.Hanya orang tertentu yang tau.Harun adalah ayah Mario,dia tidak ingin berita pernikahan mereka tersebar hingga ke kampus Rania dan membuat istri kecilnya itu tidak nyaman.Dia hanya ingin melindungi Ranianya.
Saat menoleh,dia melihat susu dan puding yang dibawakan Rania tadi.Berlahan disesapnya susu jahe favoritnya.Ternyata Rania sangat hafal apa saja hal yang dia sukai.Sama seperti dirinya yang bisa mengeja apa saja yang ada dibenak istri kecilnya itu.
Esok paginya,Dewa turun mengenakan setelan kerjanya menghampiri kamar tamu tempat Rania tidur semalam.Diketuknya pintu berlahan,tidak ada jawaban.Dia lalu mengetuk lagi dan memanggil-manggil nama istrinya,tapi hasilnya nihil.Emma menghampirinya.
"Maaf tuan,nyonya Rania sudah berangkat ke kampus setengah jam lalu." ujar wanita itu hormat.Dewa menautkan alisnya.
"Sepagi ini?apa nyonya pesan sesuatu?"
"Tidak tuan."
"hmmm baiklah.kau boleh pergi." Dewa mengambil ponselnya,mencoba menghubungi Rania.Tapi selalu saja tidak diangkat.
'Jarak rumah ini dengan kampusnya lumayan jauh,apa mungkin dia masih dijalan.' batin Dewa mencoba menenangkan diri.Dia tau Rania masih marah padanya,tidak akan berakhir baik jika dia tetap memaksa bicara pada Rania dalam kondisi demikian.Lebih baik membiarkan dia tenang lebih dulu.Dewa berangkat bekerja dengan perasaan campur aduk.
Sorenya saat dia pulang,Rania juga belum kelihatan.Hati Dewa memanas.Dia ingin Rania menyambutnya dan menjawab salamnya seperti kemarin.Dia juga tidak boleh meninggalkan rumah selama itu.Istri yang baik harus tiba dirumah lebih dulu dari pada suaminya.
"bik,apa nyonya belum pulang juga?" tanya Dewa pada bik Sum yang kebetulan melintas dan tertangkap penglihatannya.Bik Sum segera mendekat.
"Belum tuan."
"apa dia telepon rumah?"
"tidak tuan." Rahang Dewa mengeras.Dia memanggil Frans agar kembali kesini dan menemaninya menemui Rania.Instingnya tidak pernah salah.Dia tau dimaa Rania berada saat ini.
__ADS_1