Balada Cinta Belahan Jiwa

Balada Cinta Belahan Jiwa
Christ


__ADS_3

Rania baru keluar dari gerbang kampus saat Dewa mengirimkan pesan lewat aplikasi warna hijau kalau dia sudah sampai dirumah bersama om Christ.Saat itu dia memilih menyelesaikan langkahnya hingga melewati gerbang lalu akan menggetikkan balasan.Tapi sebelum pesan terkirim, ponselnya keburu berdering.Rania berteduh dibawah pohon rindang untuk menghindari terik matahari yang membakar tubuhnya,sekalian mengangkat panggilan Dewa.


"Sayang kau dimana?" tanya Dewa begitu dia mengangkat panggilan itu.Terdengar sekali nada risau karena Rania tak kunjung membalas pesannya,padahal sudah centang biru beberapa saat lalu.


"Aku baru keluar dari kampus mas,sebentar lagi pulang." jawab Rania sambil menyeka keringat yang membasahi dahinya.


"Tunggu disitu dek,aku akan menjemputmu."


"tidak perlu mas.Aku sudah pesan ojol,pasti sebentar lagi datang.Sekalian kita beramal untuk mereka mas." Dewa hanya menarik nafas dalam.Istri kecilnya itu memang keras kepala,sederhana dan terlalu mandiri untuk ukuran wanita seusianya.Dia sama sekali tidak mau merepotkan orang lain kecuali benar-benar dalam situasi darurat.Dewa sampai capek melarangnya memasak atau mengurus rumah.Dia tidak ingin Rania kecapekan,tapi istrinya itu selalu mengatakan bahwa dirinya jenuh berdiam diri dirumah.Sebenarnya Dewa tau jadwal Rania sangat padat baik dikampus ataupun di toko onlinenya karena sekarang dia sudah menambah dua pekerja lagi untuk membantunya bekerja.


"hmmmm baiklah,hati-hati di jalan dek." pesan Dewa kemudian.


"Iya mas,I love U." Rania menutup panggilannya setelah mengucapkan salam dan dibalas Dewa dengan hati yang menghangat.Sejak dia menyatakan perasaanya pada Rania,wanitanya itu selalu mengatakan kata itu,seolah Rania ingin menghujaninya dengan jutaan cinta tiap detik,setiap waktu.Sungguh,Dewa merasa sangat dicintai dan dibutuhkan.Sangat sulit bagi pribadi seperti Dewa untuk mangatakan hal pendek seperti itu,tapi hatinya selalu berbunga saat Rania mengucapkannya dengan enteng dimanapun,kapanpun.


Tidak ada yang salah pada diri Rania.Dia layak disebut cantik untuk ukuran wanita timur yang bertubuh mungil.Dia sangat cekatan dan pintar dalam mengurus diri dan rumah tangganya.Rania bahkan tidak mengijinkan asisten rumah tangga memasuki kamar mereka karena dianggap menganggu privacy.Dia yang mengurus semua keperluan Dewa baik yang besar hingga hal-hal terkecil sekalipun.Dia membuat Dewa yang awalnya mandiri menjadi begitu manja dan bergantung padanya.Istri idaman semua pria.Kali ini dia harus sangat berterimakasih pada Ardinata dan Yanti karena sudah mendidik putrinya dengan segala kebaikan lalu menghadiahkan padanya sebagai istri dan calon ibu bagi anak-anaknya kelak.


Dewa meletakkan ponselnya lalu melepas jas dan sepatunya.Dia sudah berencana tidak kembali lagi ke kantor.Menunggu kedantangan Christ tadi sudah merubah moodnya.Dia hanya akan menunggu Rania pulang dan mengajak Christ makan siang bersama lalu bersantai di gazebo besar taman samping.Diliriknya jam dinding,beberapa saat lagi Rania akan tiba.Dewa menuruni tangga lalu menuju ruang tamu yang luas.Ahh...dia melihat Christ duduk santai disana sambil memainkan ponselnya.Rambutnya masih terlihat basah karena habis mandi.

__ADS_1


"Om,tidak istriahat dulu?" sapanya lalu duduk didepannya.


"Kau ingin kembali bekerja?" pria itu balik bertanya padanya.Matanya menyipit menanti jawaban sang tuan rumah.Sekilas mereka tidak tampak seperti paman dan keponakan karena selisih usia yang tidak begitu jauh.Ya,Christ hanya tiga tahun lebih tua dari Dewa.Menurut Alexander,adik bungsunya lahir dari istri kedua sang ayah yang bisa dibilang masih muda saat ayahnya menikahinya.Selama ini Christ memang tinggal bersama ibunya di Melbourne.Hingga sekarang,dia tetap tinggal disana dan mengurus bisnis peninggalan sang papa yang sudah dibagi rata antara dirinya dan Alexander menurut wasiat sang ayah.


"Sepertinya tidak om,aku ingin dirumah saja.Sebentar lagi istriku pulang,sekalian menunggunya untuk sholat dzuhur."


"Dia bekerja dimana?"


"Dia masih kuliah semester dua." jawab Dewa terkekeh.Christ seketika menghentikan aktivitasnya bermain ponsel.Matanya menatap Dewa tajam.


"Jangan bilang kau menikahi gadis muda belia." katanya tajam.Dewa kembali terkekeh lebih kencang.


"kau...pedophile?atau orang tuanya punya hutang padamu dan tak sanggup membayar?"


"kurasa tidak.Kami menikah karena saling mencintai.Mama Yanti melahirkan istriku saat masih sembilan belas tahun.Bahkan kami masih semester satu saat itu.Ya itu..umur kami tepaut demikian jauhnya.Tapi Tuhan selalu punya rencana yang kita tidak tau.Rania istri terbaik yang dikirimkan Tuhan padaku om." jelas Dewa.Christ menyeringai,lalu mengalihkan pandangannya.


"Jadi nama istrimu Rania?"

__ADS_1


"Ya,Rania himawan sukma.Om pasti akan menyukainya.Dia gadis yang baik." pungkas Dewa kembali dengan mata berbinar bahagia.Entah kenapa semua yang berkaitan dengan Rania selalu membuatnya bersemangat.


"Apa kau sangat mencintai istrimu?"


"Suami mana yang tidak mencintai istrinya om?apalagi wanita semanis Rania."


"Kau terlalu percaya diri,Daniael.Banyak gadis muda diluar sana yang menikahi om-om sepertimu demi materi.Tidak ada yang tulus di dunia ini." kata Christ tajam.Hati Dewa tiba-tiba terasa nyeri,ada rasa tidak suka saat adik tiri papanya itu memberian tudingan miring pada istrinya.Tau apa dia tentang Rania??baru saja dia akan membuka mulutnya untuk bicara,suara langkah terdengar didekat pintu yang terbuka.


"Asalamuailaikum." suara lembut itu terdengar,Dewa menjawabnya sambil tersenyum lebar.Rania muncul dari balik pintu dan menuju padanya.Dewa mengulurkan tangannya,disambut Rania dengan ciuman takzim.Sebuah kecupan mendarat di dahinya yang terbungkus jilbab warna pink terang.Sangat serasi dengan tunik pink pucat dan celana legging hitam yang membalut tubuhnya.Kali ini Dewa benar-benar harus berucap syukur,istrinya sudah mengubah penampilannya setelah beberapa kali menolak menutup auratnya.


Disana,diserberang meja tempat pengantin baru itu bermanja...sepasang mata menatap keduanya dengan tatapan yang sukar diartikan.


"Dek,kenalkan..ini om Christ adik papa." Christ mengulurkan tangannya.Rania spontan menatap pria didepannya,pria muda dan tampan dengan wajah kebulean dan garis wajah tegas seperti Frans.Serasa tidak pantas untuk menjadi paman suaminya.Sesaat Rania menatap Dewa penuh tanya.Dewa memberi isyarat padanya dengan anggukan kepala.Rania meraih tangan itu dan menempelkannya di dahinya.Mirip yang dia lakukan saat bersalaman dengan papa dan mamanya dirumah.Mata Christ membola,pria itu terlihat terkejut dengan perlakuan Rania padanya.Rania tersenyum.


"Apa kabar om?" tanyanya mencoba menghangatkan suasana.Christ yang salah tingkah berdehem sejenak mengatur ekspresinya.


"Saya baik." jawabnya kemudian.

__ADS_1


"Dek,sudah masuk dzuhur.Mandi dulu gih,kita jamaah." putus Dewa kemudian.Rania mengangguk,hampir saja dia memekik karena tiba-tiba Dewa sudah menarik pingganganya dan membawanya ke kamar.Tidak biasanya suaminya menjadi begitu romantis.


__ADS_2