
"Fir,ada teman kamu tuh!" bisik Heru,papanya saat Firman tak bereaksi ketika salah satu teman sejawatnya mengulurkan tangannya untuk memberi ucapan selamat.Heru sampai harus menyenggol lengan putranya sampai Firman sadar dari rasa terpukaunya.
"Selamat ya pak Firman." ucap rekannya tadi lalu melenggang masuk kerumah,berkumpul dengan undangan lain.Heru terkekeh saat mengikuti tatapan mata putranya ke arah Rania yang baru turun dari tangga atas.
"Jaga tuh mata,jangan-jangan jadi zina." goda papanya,membuat wajah Firman memerah.
"Namanya saja pria normal pa."
"Kenapa memandangnya baru sekarang sih Fir?dulu saja waktu mamamu gencar-gencarnya menjodohkan kalian,kamunya malah dingin dan acuh pada putri Ardinata itu."
"Papa nggak pernah buka sosmed sih...."
"ya apa hubungannya Fir?"
"ada slogannya pa.Janda memang menggoda,tapi istri orang lebih menantang Ha...haa..."
"Kamu ini." balas Heru sambil tertawa renyah.
"Tapi kata Ardinata memang gugatan cerai mereka sudah di daftarkan ke pengadilan agama Fir.Tinggal menunggu hari saja,Wright punya pengaruh dan kekuasaan besar.Sehelai surat bukan hal yang besar bagi mereka."
"Aku tau pa."
"Apa kau siap berhadapan dengan Daniel Wright nantinya?" Firman tersenyum kecil.
"Kita lihat saja nanti pa."
"Apa kau menyukai Rania?" tanya Heru memburu.Firman hanya menggidikkan bahunya.
"Rania wanita yang baik Fir.Hubungan kita dengan keluarga Himawan juga baik.Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan kalau kau mau menikahi putri mereka." bisik Heru kemudian.Firman tidak beraksi,terkesan menutup telinga dengan mengalihkan perhatian pada para tamu undangan.
Jam delapan lewat saat semua sudah rapi seperti sedia kala.Rania segera merapikan barang-barangnya dan berpamitan pulang saat mama Mela memanggilnya.
"Ran,mau pulang sekarang?"
__ADS_1
"iya tante.sudah malam,saya pamit dulu."
"hey..biar Firman yang mengantar kamu pulang."
"nggak usah tante,saya bawa motor sendiri.Ini juga belum terlalu malam."
"Ran,dengerin tante deh.Motornya biar ditaruh disini saja,besok biar Mela yang antar.Kamu pulang sama Firman.Lagian tante mau nitip sesuatu ke mama kamu tuh." Arini,mama Mela menunjukkan bungkusan besar yang akan dititipkan untuk Yanti.
"tapi tan...."
"udah nggak ada tapi-tapian Ran.Tante nggak tega melepasmu malam-malam begini." tegas Arini tak berkompromi.Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan awet muda itu berteriak memanggil Firman yang akan duduk menuju ke pintu samping.
"Antar Rania pulang Fir.Udah malam,mama nggak tega." Firman menatap Rania yang langsung salah tingkah.Dia berpamitan pada mamanya lalu lagi-lagi menggandeng Rania dengan santai keluar rumah.Arini hanya tersenyum dari tempatnya.
"Sepertinya kita akan segera punya menantu ma." ujar Heru dari belakang.Arini berbalik dan menghampiri suaminya.
"Yah,semoga saja Firman mau membuka hatinya pa.Kita ini kenal Rania dari kecil pa,nggak usah mendengarkan rumor diluaran.Tidak mungkin dia berselingkuh.Jangan-jangan itu hanya skandal untuk membuatnya berpisah dari Dewa." balasnya diangguki sang suami.Keduanya memang sepakat tidak mempercayai gosip seputar Rania.
Firman membukakkan pintu samping untuk Rania dan menutupnya kembali saat dia sudah masuk dan duduk manis dijok depan.Sesaat kemudian dia sudah duduk dibelakang kemudi,disamping Rania.
"Iya jadi kak.Lusa saya mau ke kampus untuk mengurus surat-surat yang diperlukan."
"lalu perceraianmu?" Rania terdiam.Air matanya turun.Walau bibirnya berkata akan melupakan Dewa,tapi hati dan pikiannya selalu saja tidak singkron.Betapa hatinya laksana ditusuk ribuan jarum saat membayangkan perpisahan diantara mereka.Cinta bertepuk sebelah tangan yang berujung perpisahan.
"Maaf." kata Firman lagi,menyadari pertanyaannya menyakiti Rania.Wanita itu menghapus air matanya cepat lalu memaksa tersenyum pada Firman.
"Tidak apa-apa kak." balasnya.Firman menghentikan mobilnya ditepi jalanan ramai berseberangan dengan sebuah taman tempat muda mudi menghabiskan malam minggunya untuk sekedar kumpul teman atau berjalan-jalan disana.Ditatapnya Rania dalam.
"Menangislah jika itu membuatmu lebih baik.Kau tidak harus menyembunyikan apapun dariku Rania." ucapnya tulus.
"Kak,aku baik-baik saja."
"Tidak ada yang akan baik-baik saja setelah sebuah perpisahan Ran.Tidak ada yang melarangmu menangis.Percayalah,setelah kau melepaskan semuanya,kau akan lebih baik-baik saja." Rania tergugu,hatinya mengaru biru.Air matanya turun kembali,tak terbendung lagi.Firman mengelus pundaknya dan menyandarkan kepala Rania dibahunya,mendengarkan semua isakan dan tangis Rania yang membenamkan wajah cantiknya dilengannya yang kokoh.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu.Rania yang sudah lelah menangis menyeka air matanya dengan tissu yang diulurkan Firman padanya.Matanya terlihat sembab dan sedikit bengkak,namun beban didadanya banyak berkurang.Dia selalu berusaha baik-baik saja didepan kedua orang tuanya,tidak ingin papa mamanya bersedih karena jalan ini..dia sendiri yang memilihnya.
"Terimakasih kak." ucapnya lirih.Firman mengangguk kecil dan mengulas senyum tulus padanya.
"Tapi itu....baju kak Firman jadi basah.Maafkan aku kak." Firman terkekeh memperhatikan bajunya yang basah.
"Hanya sebuah baju.Tidak apa-apa asal kau sudah baik-baik saja.Kita pulang sekarang?" tanyanya dibalas anggukan Rania.Sudah jam sembilan malam.Artinya dia harus bersiap menghadapi papa Rania nanti karena jam malam berlaku dikeluarga Himawan.
Firman menghentikan mobilnya didepan pagar rumah Rania,menunggu satpam membukakan gerbang untuknya.Tidak dihiraukannya permintaan Rania agar menurunkannya diluar pagar saja.Dia tidak ingin Rania kena marah papanya.
Pintu terbuka saat keduanya sampai diteras.Ardinata berdiri bersampingan dengan istrinya didepan pintu.Memasang wajah dingin.
"Kenapa semalam ini?tadi nyonya Arini telepon kalian berangkat jam 8,apa jalanan terlalu macet hingga sampai kerumah semalam ini?" tanya Adinata dengan nada dingin,matanya menangkap wajah kusut Rania.Dia tau putrinya baru saja menangis.
"Saya yang mengajak Rania om.Maafkan saya." jawab Firman tegas.
"Rania ini masih bersuami.Apa kau tidak takut kalau suaminya marah?kau membawa istri orang tanpa ijin."
"Saya hanya mengantarkannya pulang om,bukan mengajaknya berbuat yang tidak-tidak.Kalaupun pak Dewa marah,akan saya terima karena memang saya yang salah.Saya siap menanggung semua konsekwensi atas perbuatan saya om." balas Firman lugas.Yanti menyentuh lengan putrinya lalu menariknya masuk ke dalam rumah,meninggalkan papanya yang berdebat dengan Firman.Berulang kali Rania meminta maaf dan berterimakasih dalam waktu yang bersamaan.Sungguh dia merasa tidak enak hati pada kakak Mela itu.
"Kau taukan posisi Rania?" Ardinata melanjutkan sesi tanya jawabnya.
"tau om."
"Kau bisa dituduh menjadi sumber perpisahan mereka."
"Saya tau om."
"Tau apa kau tentang perpisahan nak?" tukas Ardinata dengan nada mengejek.Firman menengadahkan wajahnya.
"Saya memang tidak tau apa-apa tentang perpisahan om,karena saya hanya diajarkan untuk mengumpulkan yang berserak,bukan memisahkan."
"Maksudmu?"
__ADS_1
Entah apa jawaban yang diberikan Firman,tau-tau keduanya sudah mengobrol serius di teras rumah yang luas itu hingga hampir larut malam.Yanti bahkan ikut mereka mengobrol kesana kemari sama saat dulu Dewa berkunjung ke kediaman mereka.Mereka terlihat akrab malam itu.