Balada Cinta Belahan Jiwa

Balada Cinta Belahan Jiwa
Sudah Setuju


__ADS_3

Masih pukul 4 pagi saat Rania terjaga dari tidurnya.Sebuah tangan kekar melingkar di perutnya posesif.Deru nafas Dewa menerpa wajahnya.Saat tidurpun suaminy a itu tetap terlihat tampan dan dewasa.Sosok yang sangat dia impikan.Lucu rasanya saat dia jatuh cinta pada sosok didepannya itu.Mela saja tertawa terbahak hingga beberapa menit saat tau dia jatuh hati pada pria seusia papanya.Namun cinta sama sekali tidak butuh alasan untuk datang dan bertahta.


Rania hendak melepaskan pelukan Dewa saat pria itu menggeliat dan menatapnya sayu dengan mata yang masih memerah.Rania mengusap pipinya penuh cinta.


"Sayang,masih pagi.Biarkan begini dulu,aku masih mengantuk.Nanti kita bangun saat adzan subuh." ujarnya dengan suara serak lalu kembali memejamkan matanya dan mempererat pelukannya.Rania tersenyum dan menelusupkan kepalanya ke dada bidang Dewa yang tak mengenakan apapun sama seperti dirinya.Hanya selimut tebal itu yang menaungi tubuh polos keduanya.Pipinya kembali bersemu merah saat ingat kejadian semalam.Dewa memperlakukannya begitu lembut hingga dia melayang kelangit ketujuh bertemankan mega dan rembulan disana.Dia masih merasa seperti bermimpi.Tidak ada adegan berulang kali seperti yang dia baca dinovel-novel romantis yang protagonisnya selalu minta jatah tambahan saat malam pertama mereka,tidak ada noktah merah ditubuhnya,atau adegan membopong ke kamar mandi untuknya.Padahal dia ingin juga Dewa berlaku seperti itu padanya.Tapi suaminya itu terlalu lembut dan penuh cinta jika harus diceritakan pada semua orang.


Setengah jam kemudian adzan subuh berkumandang,membuat Dewa terjaga tanpa harus dibangunkan.Mata mereka bertemu,Dewa mengecup pucuk kepalanya.


"Kenapa kau selalu terlihat lebih cantik tiap harinya dek?aku bahkan selalu terpesona pada dirimu." bisiknya.Rania mencubit lengannya pelan.


"gombal!" serunya dengan wajah memerah.


"Apa aku tipe pria yang suka menggombali wanita dek?apa kau pernah melihat aku pacaran selama ini?" tanya Dewa dengan suara sangat lembut.Rania kembali tersentuh.Dia memang tidak pernah mendengar suaminya itu pacaran.Pria itu sangat taat menjalankan syariat walau tidak pernah masuk pesantren.Ayaha angkatnya adalah merbot masjid yang selalu mendidiknya menjadi anak sholeh yang hanya mengerti belajar,ibadah dan bekerja.Dewa tidak pernah dekat dengan perempuan selain mamanya dan almarhumah istrinya.


"tidak mas." jawabnya kemudian seraya menggelengkan kepalanya.


"yang kukatakan kebenaran dek.Hanya kau satu-satunya wanita dalam hatiku.Aku bahkan hampir lelah menunggu saat kau melihat dan jatuh cinta padaku,hingga kutemukan diary itu beberapa hari saat kau meninggalkan rumahku."


"Jadi..mas Dewa masuk ke kamarku?" tanya Rania gugup.Dewa tersenyum lebar.


"Kita mandi wajib dulu lalu sholat subuh dek,nanti keburu siang." Dewa bangkit dan tidak menghiraukan panggilan Rania yang terus meminta penjelasan dan jawaban.Senyum bahagia mengembang di bibirnya.Ternyata seperti ini rasanya punya istri dalam artian sebenarnya,bukan seperti saat dirinya menikah dengan almarhumah Hafsah dulu.


Pria tampan itu bergegas mandi lalu memakai sarung dan kaos lengan pendek tanpa krahnya.Rania sudah berdiri didepan kamar mandi saat dia hendak keluar.

__ADS_1


"Mas berhutang penjelasan padaku." katanya tegas.Dewa menyentil ujung hidungnya dan tersenyum menggoda.


"Aku akan menjawabnya dengan satu syarat."


"Apa?" Rania yang penasaran memajukan tubuhnya,membuat Dewa mundur selangkah.


"Kau akan tau nanti,cepat mandi lalu kita jamaah." ujarnya lalu melangkah mengambil kopyah dan membentangkan sajadahnya,sholat sunat sambil menunggu Rania selesai dengan mandi kilatnya.Senyum Dewa terbit saat istri kecilnya itu tergopoh-gopoh mengenakan mukena dan membentangkan sajadah dibelakangnya.Keduanya berjamaah dan berdzikir sejenak sebelum Rania menyudahinya dengan mencium tangan imamnya takzim.


Rania akan keluar kamar dan menuju dapur saat Dewa menarik tangannya dan membawanya kembali rebahan di ranjang.


"Mas,aku mau masak untuk sarapan kita." protes Rania.Rasa canggung dan malu masih menjalar didirinya saat terlalu dekat dengan Dewa.


"Ada bik Sum yang akan mengurusnya dek.Bukankah sudah kukatakan,kau tidak perlu memasak tiap hari,hanya saat aku ingin saja."


"Tapi mas,kewajiban istri itu..."


"Lalu maunya mas Dewa apa?"


"Tetap disini."


"Kalau begitu mas jelaskan masalah diary itu." Dewa menganguk,meraih kepala Rania agar bersandar di dadanya dan merangkul tubuhnya mesra.


"Aku begitu kehilangan saat kau pergi dari rumah.Beberapa jam setelah kepergianmu suami Hera datang dan menjemputnya.Aku memang bersalah padamu karena melibatkan Hera sayang,maafkan aku."

__ADS_1


"Aku sudah memaafkanmu mas.Aku juga sudah bertemu tante Hera."


"sungguh??"


"ya.lanjutkan saja."


"Sebenarnya aku tau kau ada dimana.Setiap hari aku mendatangi rukomu dari kejauhan dan memastikan kau baik-baik saja.Setiap malam aku juga tidur dikamarmu,diatas ranjangmu untuk meringankan beban rindu yang sudah sukar kubendung hingga papa datang menjemputku.Papa Ardin terus menyuruhku bertemu denganmu untuk berpamitan,tapi aku selalu menolak.Aku takut lemah Rania.Aku takut jauh darimu.Diary itu kutemukan di dalam kopermu beberapa jam sebelum keberangkatanku.Awalnya aku akan meminjamnya saja,tapi nyatanya aku membawanya hingga ke Sydney." beber Dewa panjang lebar.Rania hanya terdiam.


"Setiap hari yang kulakukan hanya membacanya berulang kali.Membayangkan kau ada disisiku.Aku juga menelepon papa mamamu setiap jam untuk menanyakan kabarmu dek.Sungguh,cinta ini sangat menyiksaku." keluh Dewa.Rania mengecup pipi suaminya.Dewa menatapnya intens lalu melabuhkan ciuman di bibir basah Rania.Ciuman yang awalnya lembut menjadi panas membara.Keduanya sampai kehabisan nafas.


"Mas,udah terang lho.Mas Dewa harus ke kantor kan?" Dewa seperti tidak menghiraukan pertanyaan istrinya.Dia malah mencumbui Rania dengan sangat liar hingga tubuh rampingnya menggeliat.Sebuah lenguhan lolos dari bibir mungilnya.


"Mass..."


"Apa sayang?"


"kau akan terlambat nanti."


"Aku tidak akan bekerja.Aku mau libur dan bermain denganmu hari ini." ujarnya dengan suara amat berat.


"Tapi..."


"Sayang,kau sudah setuju."

__ADS_1


"tidak.kapan aku bilang begitu?" tanya Rania dengan mata membulat,menginterupsi cumbuan panas Dewa padanya.


"Tadi kan aku sudah bilanga akan menjawab masalah diary itu tapi ada syaratnya.Itu artinya kau sudah setuju karena syaratku adalah bermain dikamar bersamamu." jawab Dewa penuh kemenangan.Dia meneruskan permainannya,tidak peduli Rania yang terus merengek dan mencoba menolaknya.


__ADS_2