Balada Cinta Belahan Jiwa

Balada Cinta Belahan Jiwa
Kenyataan


__ADS_3

Bel berbunyi saat Yanti membukanya sambil menggendong Reno yang bergelayut manja dilehernya.Matanya menatap tajam orang dibalik pintu itu.Ardinata mengucapkan salam lalu masuk kerumah diikuti sosok gagah dibelakangnya.Tak dihiraukannya salam dari pria tampan yang mengikuti suaminya itu.Wajahnya terlihat dingin.


"Untuk apa kemari tuan Daniel Wright?" tanyannya dengan wajah gusar.Dewa terdiam.Masih terbayang diingatannya saat terakhir kunjungannya kerumah ini dengan Yanti yang memperingatkannya agar tidak menemui Rania sampai kapanpun.


"Aku ingin menemui Rania mama." Yanti mendengus tidak suka dengan panggilan mama yang dialamatkan padanya.Segera dia memanggil bi Asih agar membawa Reno menjauh dari sana.


"untuk apa?bukankah kau sudah mengembalikannya pada kami?" lanjutnya masih dengan wajah masam.


"Aku ingin bertanya sesuatu padanya ma.Aku ingin rujuk." Seketika Yanti menggelengkan kepalanya kuat.


"Tidak!Aku tidak akan mengijinkannya." jawabnya tegas dengan kilatan kemarahan dimatanya.Ibu mana yang tega saat harga diri dan perasaan putrinya dipermainkan?Yanti adalah wanita cerdas yang idealis.Tidak ada maaf untuk pria seperti Dewa.


"Ma!panggil Rania sekarang!" ujar Ardinata melerai dua orang yang bersitegang itu.


"Tapi pa..Rania itu putrimu.Biarkan dia..."


"Mama panggil Rania sekarang!yang ingin dirujuk Dewa itu Rania kan?bukannya mama." desis Ardinata dingin.Seketika Yanti terdiam dan menundukkan kepalanya.Tidak biasanya suaminya itu berlaku seperti itu padanya.Tak ingin berdebat,dia memilih naik kelantai atas menuju kamar Rania.Diketuknya pintu berlahan lalu membukanya.Rania baru saja selesai sholat ashar dan melepas mukenanya.


"Ada apa ma?" tanyanya.Yanti mendekatinya.

__ADS_1


"Dibawah ada suamimu.Papa menyuruhmu turun karena dia ingin bicara padamu.Ingat Rania..jika dia minta rujuk maka kau harus menolak.Pria seperti dia tidak pantas untukmu.Mama hanya ingin kau bahagi nak.Jangan pernah mengorbankan perasaan dan harga dirimu lagi." bisiknya penuh kesungguhan.Rania termenung tanpa jawaban.


Yanti segera menarik putrinya turun setelah sebelumnya melarangnya berganti baju atau sekedar menyisir rambutnya yang berantakan.Bukankah begitu lebih baik??semakin jelek juga semakin bagus.Artinya Rania tidak berharap lagi pada seorang Dewa dengan mencoba menggodanya.Jadilah sekarang...Rania turun dengan baby doll motif kepala sapi yang membalut tubuhnya dengan rambut terurai lepas dan wajah tanpa make up.


Ardinata menaikkan alisnya pertanda dirinya bertanya-tanya akan sesuatu dan terlihat tidak setuju dengan kelakuan istrinya yang terlihat sengaja membuat putrinya amburadul,namun Yanti pura-pura tidak melihatnya dan mendudukkan Rania dengan cuek didepan dua pria itu.


Lama Dewa memandangi Rania yang duduk dihadapannya dengan menundukkan kepala.Terlihat sekali jika Rania tidak ingin melihatnya.Sungguhkah wanita didepannya itu sudah amat membencinya?apakah luka yang dia berikan sudah mengikis semua rasa cinta untuknya?Dewa mencoba mencari jawaban itu disana...diwajah Rania.


"Rania,maukah kau rujuk denganku?" akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari bibirnya.Rania mengangkat kepalanya.Ini pertama kalinya dia menatap suaminya,orang yang dicintainya sejak SMP,pria yang selalu dia sebut dalam setiap doanya setelah sekian hari mereka berpisah rumah.Ada yang terasa sakit disudut hatinya.Tatapannya beralih pada papanya yang duduk disamping Dewa.


"Tidak mas." jawabnya pendek dan tegas.


"Bisa kita bicara?aku ingin mengatakan sesuatu padamu." pinta Dewa lembut.


"Rania aku ingin bicara empat mata denganmu." Ardinata berdiri dan menarik paksa istrinya ke toko milik Rania disamping rumah.Dia memastikan tidak ada orang lain dirumah itu sebelum menutup pintunya.Dia ingin pasangan itu menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa campur tangan orang lain.


"Apa yang mau dibicarakan mas?" Dewa menarik nafas dalam sebelum mendekat ke sofa Rania.Istrinya itu menggeser duduknya merasa tidak nyaman.Sesungguhnya mereka berdua diam dan sama-sama menata detak jantung mereka yang terasa tidak normal.


"Maafkan semua kesalahanku padamu dek." kata Dewa lembut sambil menyentuh tangan Rania yang tertata rapi dipangkuannya.

__ADS_1


"Apa semua semudah itu untuk tuan muda Wright?" balas Rania datar sambil menepis tangan Dewa halus.


"Aku bukan lagi tuan muda Wright Rania.Aku bukan Daniel Wright,aku Dewa nugraha Widhi,anak orang biasa di pelosok sana." jelasnya.Tak ada sahutan apapun dari Rania.


"Papa kandungku,Alexander Wright berada dibalik semua ini Rania.Dia melakukan ini agar kita berpisah.Dia ingin aku menikah dengan anak pemilik perusahaan raksasa dari Cina agar perusahaannya berkembang dengan menyuruh paman Christ mematai-matai dan memfitnahmu.Kau tau..saat Frans mengumpulkan semua bukti yang mengarah padanya,dia malah secara terang-terangan memberiku dua pilihan.Menceraikanmu dan menjadi pewaris Wright crop,atau tidak pernah diakui sebagai anaknya sampai kapanpun." Dewa menghembuskan nafasnya kasar.


"Dan aku memilih keluar dari istana Wright dihari dimana aku tau segalanya.Aku sudah kembali menjadi Dewa yang dulu Rania.Dewa yang akan memulai segalanya dari nol kembali.Dewa yang memohon agar kau kembali padanya.Rania..maukah kau memaafkan aku dan kembali padaku?" tanyanya sambil berjongkok dihadapan Rania yang tetap membuang pandangan darinya.Hati Rania sudah membatu.


"Maafkan aku mas.Hatiku ini bukan sebuah permainan,sudah cukup bagiku untuk memaafkanmu.Apa yang bisa kuharapan dari pria yang sudah tidak punya apa-apa sepertimu?lebih baik kita berpisah mas." jawab Rania pelan,namun terasa bagai gelegar petir ditelinga Dewa.Gengaman tangan itu melemah,matanya berubah sayu.


"Tolong beri aku satu kesempatan lagi Rania.kumohon." ujarnya dengan mata berkaca dan bibir bergetar.Namun Rania sudah menutup pintu hatinya rapat-rapat.


"Aku tidak bisa mas.Maaf." desisnya.Dewa menatap wajah itu lekat.Tidak ada lagi binar penuh cinta dimata kelam Rania,tidak ada lagi pipi yang bersemu merah saat dia dekat dengannya,juga tidak ada lagi pendar kebahagiaan diwajah cantiknya.Semua sudah berakhir.Ditangkupnya kedua pipi Rania dengan tangan besarnya,mengarahkan mata itu padanya.


"Aku tau kesalahanku tidak layak dimaafkan Rania.Baiklah jika kau tidak ingin lagi bersamaku.Aku akan pergi jauh dari hidupmu.Tapi untuk yang terakhir kalinya..bolehkah aku memelukmu?" Tak ada jawaban.Rania tetap diam tanpa suara hingga Dewa menyerah dan bangkit dari posisinya.


"Semoga kau bahagia Rania.Aku akan selalu mendoakan semua kebaikan untukmu.Asalamualaikum." Dewa berlalu tanpa menunggu jawaban dari Rania yang seperti pergi ke alam lain.Wajah itu membeku seolah kehilangan separuh jiwanya.


Ardinata membuka pintu samping saat melihat mobil Dewa sudah meninggalkan rumahnya.Yanti mengkutinya dari belakang.Mereka terpaku melihat putrinya yang masih duduk ditempatnya dengan tatapan kosong.

__ADS_1


"Rania ....." Seketika Rania tersadar dan berlari memeluk papanya.Menuntaskan tangis yang sejak tadi membuatnya seperti raga tak bernyawa dan melepaskan beban berat yang menghimpit hatinya tanpa sisa.


"Mas Dewa sudah pergi pa." isaknya kerasa.Ardinata membelai punggung putrinya.Dia tau Rania sudah mengorbankan seluruh hatinya untuk memutuskan semuanya.


__ADS_2