Balada Cinta Belahan Jiwa

Balada Cinta Belahan Jiwa
Menyelidik


__ADS_3

Christ duduk sambil menyilangkan kakinya menghadap kearah Rania yang sibuk mengecek laporan penjualan dan stok barang.Hari ini akhir bulan,dia harus menghitung pengeluaran dan laba secara detail,termasuk menyiapkan gaji karyawannya agar mereka menerima upah yang layak sesuai hasil kerja kerasnya sebulan ini.Wanita cantik itu tersenyum lebar saat mengetahui laba yang diperolehnya melebihi target yang ditentukannya diawal bulan lalu.Discount dan promo besar-besaran yang dia luncurkan untuk pembelian secara grosir banyak memberikan keuntungan baginya.Tangannya dengan terampil memasukkan lembaran-lembaran uang beserta catatannya kedalam amplop yang sudah terpasang nama-nama pekerjanya.


Christ mulai mengerutkan keningnya lagi saat Rania menambahkan beberapa lembar uang yang jumlahnya sama pada tiap amplop tadi diluar nominal yang tertera dicatatan gaji.


"Kau juga menambahkan bonus untuk mereka?" Rania mengangguk kecil.Senyum terkembang dibibir mungilnya yang terlihat penuh dan seksi.Christ bahkan harus berulang kali menelan ludahnya dengan susah payah saat matanya mampir kesana secara sengaja ataupun tidak.Dia juga lelaki normal yang harus mengakui kecantikan Rania yang eksotis dibalut kesederhanaan tanpa make up tebal yang kadang membuatnya ingin muntah.Wanita ini anggun dalam dandanan ringan namun terkesan elegan dimatanya.Dia juga tidak pernah bicara kasar atau berintonasi tinggi saat dia dengan sengaja memancing dan mengaduk emosinya.Dia tetap tenang dan sangat dewasa.


"iya om.Sebagai tanda terimakasih saya pada mereka.Mas Dewa selalu mengajarkan saya untuk bersedekah dalam keadaan lapang ataupun sulit sekalipun."


"Untuk apa?kau bisa mengembangkan usahamu dengan cepat dengan keuntunganmu.Jangan bersikap terlalu royal atau merasa puas dengan hasil seperti itu.Apa hebatnya usahamu?Wright crop bahkan bisa memberikanmu sepuluh mall untuk kau kelola jika kau mau.Usaha seperti ini saja sudah membuatmu bangga.Kau bahkan tidak termasuk list wanita idaman untuk Daniel.Lebih baik kau dirumah saja.Daniel akan dengan mudah mencukupi kebutuhanmu." kritik Christ pedas.Rania hanya membalasnya dengan senyuman,dia menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat lalu duduk santai menghadap Christ Wright yang menatapnya dengan pandangan mencemooh.Pria golongan atas memang selalu merendahkan orang lain dengan mudah.Menutupi keangkuhannya dengan topeng kesuksesan dan nama besar keluarga dibelakang namanya.


"Apa saya diijinkan menjawab kritikan om tadi?" tanya Rania sambil meletakkan tangannya diatas meja,lalu menggengamnya satu sama lain.Christ menggidikkn bahunya tak peduli.


"Saya hanya ingin om tau..tidak semua wanita itu suka dimanjakan dengan duduk diam dirumah dan menghabiskan waktunya untuk shopping dan menghamburkan uang menjadi sosialita.Sejak kecil saya diajarkan mandiri.Usaha saya ini,walaupun kecil dan tidak berarti..tapi saya membangunnya dari nol dengan kerja keras.Saya tidak memungkiri,tempat ini diberikan oleh mas Dewa dan papa sebagai hadiah,tapi saya pastikan mas Dewa tidak mengambil uang perusahaan.Yang dia pakai adalah gaji selama menjabat sebagai CEO wright crop dan hasil penjualan tanah serta rumah hasil kerja mas Dewa sebelum papa Alex datang." jelas Rania panjang lebar.Dia menantang mata Christ dengan tatapan teduh yang membuat Christ terhanyut untuk beberapa saat.Pria itu terdiam.Tidak banyak orang yang bisa melawan karismanya,atau sekedar menjawab perkataannya.Namun wanita muda ini sangat berani menatap langsun ke manik matanya dan bicara panjang lebar dengan segenap kepercayaan diri yang bahkan tidak bisa dia bayangkan.


"hmmmmm" hanya gumaman panjang yang mengakhiri perdebatan itu.Hampir masuk waktu dzuhur saat Rania meraih ponselnya yang lama tergeletak di meja kerjanya.


"om mau makan apa?sudah waktunya makan siang.Sekalian saya mau pesan untuk anak-anak dibawah."

__ADS_1


"terserah." jawab Christ yang memilih membuka email dan membalas beberapa pesan yang masuk.Dia pria yang sibuk di Australia.Namun perintah Alex untuk berkunjung kesini tidak bisa dia bantah.Kakaknya itu memang menyiapkan penerus terbaik yang akan mewarisi kerajaan bisnisnya.Perasaan bersalah karena menelantarkan putra semata wayangnya hingga dewasa membuatnya begitu tertekan.Dia ingin Daniel menjadi pria kuat dan menyamainya.Tanpa dia sadari,sang putra malah jauh lebih hebat dari pada dirinya.


"om suka gado-gado?" Christ menoleh,memincingkan matanya penuh tanya.Rania terkekeh.Dia lupa jika Christ orang asing.


"salad saus kacang maksud saya om." terangnya lagi.Christ mengangguk.Sayuran dan buah memang masuk daftar makanannya setiap hari.Lihatlah tubuhnya yang tetap bugar diusia yang tidak muda lagi.Hampir setengah abad.Rania langsung menelepon Tika agar memesan makanan pada tukang gado-gado diseberang jalan.Dia selalu saja begitu,sangat senang berbagi.


"Apa kau juga kuliah dengan uangmu sendiri?" tanya Christ menyelidik.


"ya." jawab Rania pendek.Mereka beralih menatap keluar jendela.


"Jangan bilang Daniel tidak menafkahimu." cecarnya ingin tau.


"Lalu?"


"ya saya hanya menyimpannya setiap bulan."


"lalu gaji pembantu dan penjaga rumah?" Kali ini Rania terkesiap.Kenapa Christ begitu ingin tau sedetail itu?

__ADS_1


"Itu semua urusan mas Dewa.Saya hanya mengatur menu dirumah,juga keperluan kami.Tapi juga saya pastikan itu bukan uang perusahaan karena mas Dewa sudah sangat memperhitungkan semuanya jauh-jauh hari.Itulah mengapa kami hanya mempekerjakan beberapa orang sesuai kemampuan kami." Christ tersenyum,lalu diam-diam menutup hubungan teleponnnya dengan orang diseberang sana yang setia menyimak percakapan mereka dari awal hingga akhir dengan mata berbinar bahagia.Upayanya memancing Rania membuahkan hasil.


Tak berapa lama Tika datang membawa bungkusan berisi gado-gado dan jus jeruk pesanan Rania lalu pamit undur diri,masih merasa tidak enak hati dengan Christ yang masih menatapnya begitu tajam.


"Silahkam dimakan om." ujarnya setelah membuka bungkusan yang sudah dia letakkan diatas piring beserta sendoknya.


"lalu kau?"


"saya akan sholat sebentar." Rania bergegas ke kamar mandi,mengambil wudhu dan menunaikan sholat dzuhur.Christ hanya menatapnya dalam diam.Kekagumanya pada sosok Rania bertambah.


"lho..kok belum dimakan om?" tanya Rania saat melihat makananan Christ masih utuh tak tersentuh.


"Saya menunggumu." ucapnya teduh,membuat mata Rania membulat dan mengerjab lucu.Baru kali ini Christ bicara lembut padanya.Mata mereka bertemu.Secepat kilat Rania menundukkan wajahnya lalu makan dalam diam.Berulang kali dia menengadakan kepala,namun kembali tertunduk saat ekor matanya menangkap Christ yang terus menatapnya entah karena apa.


"kau wanita muda dan cantik,kenapa malah memilih Daniel yang seusia papamu?"


"saya mencintai mas Dewa."

__ADS_1


"Jadi seleramu om-om genit seperti Daniel?" sedikit tersinggung Rania mengangkat kepalanya.Dia tidak suka ada orang yang menghina suaminya.


"Mas Dewa tidak seperti itu.Saya yang memaksa dia menikah om." Christ terkekeh lagi.Wanita di depannya ini sungguh menarik dengan segenap yang ada di dalam dirinya.


__ADS_2