
Rania masih mematut wajahnya didepan cermin dengan senyum terkembang.Tubuh semampainya dibalut kebaya putih dengan payet-payet cantik yang dipadu kain batik sebagai pasangannya.Kepalanya yang dibalut hijab tertata apik dengan aksesoris yang mewah dan elegan.Dalam hati dia berterimakash pada penata riasnya yang baru keluar kamar beberapa menit yang lalu.Tanpanya dia tidak akan tampil secantik ini dalam waktu sekejap.
Rencana pernikahan yang awalnya diadakan dadakan kemarin malam diundur hingga dua hari kemudian atas saran pak Utomo yang masih menggunakan hitungan dan tradisi adat Jawa untuk mendapatkan hari baik pernikahan.Waktu terbatas itu digunakan sebaik mungkin untuk persiapan pesta kecil bertema kebun itu.Sesuai temanya,pernikahan diadakan dikebun samping rumah yang memang sangat luas untuk menjamu undangan yang tidak seberapa karena digelar mendadak.Pak utomo hanya mengundang seluruh karyawan mereka dan beberapa saudaranya saja.
Awalnya Dewa tidak setuju mengadakan jamuan,namun pak Utomo dan Laura ngotot ingin mengadakan pesta kecil karena pernikahan pertama mereka dulu memang diadakan dalam suasana darurat.Pak Utomo terus mendesak dengan membawa-bawa nama almarhumah ibu Dewa agar keponakannya itu setuju.Dia juga mengemukakan alasan bertema adat,yaitu tiap pengantin Jawa harus melakukan prosesi awal hingga akhir yang disebutkan tiap pengantin harus memakai 'kembar mayang' agar kehidupan rumah tangga mereka nantinya ibarat bunga yang sudah mekar.
Ketukan dipintu terdengar.Mamanya masuk dengan senyum lebar untuk menjemputnya turun karena saatnya sudah tiba.Yanti menatap takjub putrinya yang disulap menjadi cantik,anggun dan dewasa.
"Subhnallah..putri kecil mama cantik sekali hari ini.Sebentar lagi ijab kabul Ran,ayo turun.Kasihan Dewa dan para undangan kalau terlalu lama menunggu." ajak sang mama sambil terus memuji kecantikannya.Rania berjalan berlahan karena kesulitan dengan baju pengantinnya yang berupa rok panjang yang dibentuk seperti sinjang adat jawa.Yanti dengan setia menggandeng putrinya hingga sampai di meja akad nikah.
Dewa menatap takjub pengantinnya.Hatinya berdesir seiring irama jantungnya yang berdetak lebih kencang dari biasanya.Pria itu terpana pada kecantikan Rania yang didudukkan disampingnya.Ardinata sampai berdehem keras agar Dewa kembali menatap lurus padanya.Sang mertua mengerling jenaka saat tau menantu kesayangannya terlihat salah tingkah dan gelagapan.
Laura datang membawa sehelai selendang yang digunakan untuk menyatukan mempelai.Beberapa saat kemudian sesuai arahan seorang kyai yang cukup terkenal disana Ardinata mengulurkan tangannya pada Dewa untuk melaksanakan ijab kabul.Tangan Dewa berubah sedingin es dan sedikit bergetar.Ardinata menjabatnya erat,mencoba mengatakan pada sahabatnya itu agar tetap tenang.
Hanya sekali tarikan nafas ijab kabul terlaksana.Dewa menarik nafas lega dan mengucapkan hamdalah sebagai rasa syukur saat semua undangan berteriak kata 'sah' secara serempak.Matanya berkaca,sama halnya dengan Rania yang meneteskan air mata.Dewa mengenggam erat jemari istrinya dan melepaskan cincin pernikahan mereka dulu,menggantikannya dengan cincin baru yang berkilau indah dijari wanitanya.Rania kembali menangis haru dan mencium punggung tangan suaminya,membuat semua undangan berteriak riuh.Pernikahan kedua yang serasa jadi pertama.
__ADS_1
Prosesi adat adalah agenda selanjutnya.Dewa dibawa pada jarak beberapa meter dari sana diiringi keluarga dan orang-orang terdekatnya dan dua pemuda,Firman dan Beni yang membawa hiasan janur yang dibentuk sedemikian rupa.Nantinya hiasan itu akan ditukar dengan pengiring pihak perempuan yang keempatnya juga harus berstatus belum menikah.Harus jejaka dan perawan.Mereka berjalan menuju arah Rania yang sudah berdiri anggun disana diapit oleh Laura dan Mela dikanan kirinya.Seorang tetua adat melakukan prosesinya dengan telaten.Saat hiasan itu ditukar,Laura yang menjadi pengiring Rania terlihat sangat gugup saat tahu ada Firman yang membawa hiasan yang serupa dengan yang dia bawa dan wajib ditukar dengan miliknya.Apalagi saat Firman dengan sengaja mengelus jemarinya.Laura tercekat.Cinta itu tidak pernah mati.
Rania bergelayut di lengan Dewa saat berjalan menuju pelaminan.Sungguh dia dibuat takjub dengan tubuh tegap suaminya yang juga dibalut busana adat jawa.Pria itu terlihat tampan dan segar.Berpuluh tahun lebih muda dari usianya sekarang.Dia pula yang dengan sabar membimbing Rania sampai kesana.
"Apa kau bahagia dek?" tanyanya berbisik.Rania hanya menunduk,menyembunyikan senyumnya.
"Tanpa aku jawab,mas Dewa sudah tau jawabannya." tukasnya kemudian.Dewa dibuat gemas dengan senyum malu-malu dan pipi merona yang ditunjukkan istrinya,seolah mereka memang baru pertama menikah.
Prosesi berjalan lancar hingga seluruh tamu undangan mulai meninggalkan tempat acara.Wedding organiser juga sudah mulai membereskan tempat itu.Hanya keluarga inti yang masih asyik bercengkrama dibawah pohon rindang,menghalau panasnya cuaca Surabaya.Dewa memilih bergabung dengan mereka,sedang Rania diantar Mela dan bintang ke kamarnya.
"Mel,Bin,kalian tidur disini saja ya." ujar Rania sambil melepaskan baju dan aksesoris ditubuhnya dibantu kedua sahabatnya itu.
"yee ..kita mau pulanglah Ran.Nanti kalau kita menginap disini yang ada kita cuma menganggu acara kamu buat bikin keponakan untuk kami." celutuk Mela diangguki Bintang yang saling mengerling jenaka.Keduanya memang sudah tinggal serumah sejak kemarin karena Rania resmi pindah ke tempat Dewa.Mela yang terkenal penakut mencari seribu cara agar Bintang mau menemaninya,tak terkecuali merengek pada Beni agar membujuk adiknya itu untuk tinggal bersamanya.
"udah deh,cepetan mandi Ran biar tubuhmu segar.Udah sore lho Ran,bentar lagi malam....malam pertama maksudnya." goda Bintang nakal.
__ADS_1
"malam pertama apaan sih Bin,kami sudah pernah menikah." balas Rania sambil melangkah ke kamar mandi.Bintang dan Mela hanya tertawa cekikikan.
Rania menggeleng-gelengkan kepalanya saat keluar dari kamar mandi dan melihat dua sahabatnya itu sibuk berselfi ria diatas ranjang pengantinnya yang sudah dihias dengan cantik oleh pihak WO tadi.
"Kalau begini aku jadi pengen cepat-cepat menikah he..hee.." Bintang mencubit Mela.
"oee..lulus dulu oeee." katanya membalas candaan Mela.Rania yang sedang mengeringkan rambutnya hanya senyum-senyum sendiri melihat tingkah keduanya.Sesaat kemudian pintu diketuk dari luar.Suasana langsung lengang saat Dewa masuk ke kamar itu.
"Ran,kita permisi dulu ya." pamit keduanya serempak.
"lho..mau kemana?saya hanya mau ambil sesuatu sebentar.Silahkan kalian temani Rania dulu." balas Dewa Ramah.
"enggg..enggak om,kami mau permisi.Udah ditunggui kakak dibawah." lalu tanpa mendapat jawaban dari Dewa keduanya melesat pergi dari sana.
Rania berlahan berdiri,namun Dewa dengan cepat menahannya agar tetap duduk.Suami tampannya itu menatap wajahnya dari cermin hingga Rania salah tingkah.Berlahan Dewa mengelus pundaknya.
__ADS_1
"Terimakasih sudah memaafkanku,menerimaku dan membuat lelaki tua ini bahagia dek." bisiknya mesra.Rania meraih tangannya dan mengecupnya tak kalah mesra.