
Akhir pekan yang cerah saat Rania dan Dewa turun dari mobil Dewa di sebuah rumah berlantai dua dengan halaman luas yang disulap sebagai kantor yang dikelilingi kaca besar disekelilingnya hingga orang yang bekerja didalam sana bisa leluasa melihat ke halaman samping yang sejuk karena dipenuhi pepohonan dan pot-pot bunga indah.Beberapa jenis anggrek yang terkenal sulit dirawat juga tumbuh subur disana.Dibelakang bangunan dua lantai itu ada sebuah rumah yang terlihat baru saja direnovasi karena masih banyak material disana sini dan bau cat yang cukup kentara.Hal yang menarik perhatian mereka adalah grafir bertuliskan "Nugraha arsitektur" yang terpampang dengan megahnya.
Beberapa motor terparkir rapi di dekat pagar,dibawah pohon mangga besar yang tumbuh disana.Beberapa karyawan berpakaian rapi terlihat berlalu lalang didalam ruangan.Ada juga yang duduk serius menatap layar laptop yang sengaja di jajar pada meja panjang saling berhadapan.Meja panjang lain juga tersedia berhadapan dengan taman,tampaknya digunakan untuk tempat meeting.Jika dilihat secara keseluruhan,kantor itu rapi dan elegan dalam balutan warna putih dan abu-abu.Kantor degan tema rumah yang membuat pekerjanya merasa berada dalam rumahya sendiri.Konsep modern seperti gaya barat.
"Selamat pagi pak." sapa para karyawan serentak saat melihat Dewa memasuki ruangan.Dewa tersenyum ramah pada mereka.Dia mengenggam erat tangan Rania yang terlihat gelisah.Frans muncul dari pintu samping dan langsung menghampirinya.
"Mas,ini..ini kantor siapa?" bisiknya bertanya.Dewa tersenyum sangat manis.
"Ini kantorku sayang,ini juga rumahmu."
"Selamat pagi tuan,nyonya..apa kabar anda hari ini?" sapanya tak kalah ramah.
"saya baik sekretris Frans.Bagaimana denganmu?" balas Rania.
"Saya baik nyonya." jawabnya singkat.
"Perhatian semuanya...perkenalkan,ini istri saya Rania.Dia akan tinggal disini dan juga bekerja bersama kalian untuk beberapa waktu.Saya harap bantuan anda semua untuk membimbing istri saya nantinya." suara bariton Dewa membuat seisi ruangan terpana.Tak berapa lama kemudian,satu persatu dari mereka berdiri dan menyalami Rania penuh hormat.
"Apa maksudnya mas?kampus sudah mengatur aku magang di Budi utomo lesari,bukan disini mas." bisik Rania lagi.Frans yang mendengarnya terkekeh.
"Maaf nyonya,Budi utomo Lestari dan Nugraha Arsitektur saling berhubungan karena punya CEO yang sama.Anda bebas ditempatkan dimanapun." Rania masih mengerjabkan matanya,bingung.
__ADS_1
Dewa menarik Rania masuk ke belakang kantor melawati pintu penghubung.Sebuah rumah beraksen korea dengan pilar-pilar kaca yang tinggi dan elegan terpampang disana.Sangat cantik dan bersih.Seperti kantor tadi,pencahayan yang baik membuat rumah ini bersinar dan menarik.
Seorang wanita paruh baya menghampiri mereka.Ahh....ya Tuhan....bik Sum,pembantu mereka saat dikediaman Wright datang dengan senyum terkembang.Rania berlari menyambutny dan memeluk wanita itu seperti dua ora g sahabat yang lama tidak bertemu.
"Bagaimana kabar anda nyonya?"
"saya baik bi..kok bibi ada disini?" tanya Rania gembira.
"Tuan Dewa mengajak saya kemari nyonya.Setelah tuan pergi dari kediaman Wright,kami juga berhenti bekerja dan memilih berdagang kaki lima hingga tuan Frans meminta kami kembali bekerja pada tuan disini." beber bik Sum dengan air mata menggenang.Dia sangat bahagia Rania mau kembali kerumah itu.Wanita paruh baya itu lalu berpamitan ke dapur setelah cukup lama melepas rindu pada Rania.
Dewa memeluk pinggang Rania lembut.
"Ayo." ajaknya.
"Akan kutunjukkan kamar kita." bisiknya pelan,membuat bulu kuduk Rania merinding.
"Ta..tapi mas..nanti saja ya kita kesana.A..aku masih ingin berkeliling." tolak Rania halus.Dewa tertawa keras hingga terdengar tangisan anak dikamar depan.
"A...anak siapa itu mas?" Rania tak bisa memendam rasa ingin taunya.Tak ada jawaban hingga pintu kamar itu terbuka.Rania mengerjabkan matanya.
"Papa ..mama....Reno." pekiknya lalu berhambur memeluk mereka semua.Dia begitu terharu.Reno yang tadinya menagis langsung berpindah ke pelukan Rania.Bocah itu menciumi pipi sang kakak dengan lucunya.
__ADS_1
"Kapan papa mama datang?"
"Tadi malam.Dewa menelepon kami kemarin dan menceritakan semuanya.Ya mau tidak mau kami ikut penerbangan malam agar bisa secepatnya sampai." sahut Yanti lalu mendudukkan dirinya di sofa,diikuti yang lain.Untuk sejena mereka masih terlibat pembicaraan ringan untuk menghilangkan rasa rindu hingga Ardin terdiam sesaat lalu menghembuskan nafanya.
"Ran,sebentar lagi keluarga pak Budi akan datang,kami sudah sepakat menikahkan kalian lagi secara agama karena secara hukum kalian masih suami istri." jelas Ardinata memecah kesunyian dengan pembicaraan serius.Suasana berganti tegang apalagi saat Rania menatap papanya antara terkejut dan tidak percaya.
"Tapi pa ..."
"Tapi apa?kau keberatan?" Rania terdiam.Dia masih berusaha berdamai dengan hatinya.
"Rania,Perceraian itu halal tapi dibenci oleh Allah.Kenapa kau harus melakukan sesuatu yang dibenci Allah jika kalian masih saling cinta?semua orang bisa melakukan kesalahan Ran.Tuhan saja maha pemaaf,kenapa kau harus menjadi angkuh dengan tidak memaafkan suamimu?" nasihat Ardin pada putrinya.
"Kembalilah pada suamimu Ran,tidak ada orang yang akan mencintaimu seperti dia mencintaimu." timpal sang mama membuat Rania tidak bisa berkata apa-apa.Dia hanya menundukkan kepalanya.Kenapa mamanya tiba-tiba berubah?bukanya dia orang pertama yang menentang Rania kembali pada Dewa?
"Kenapa pak Budi terlibat dalam kesepakatan ini pa?" tanya Rania lemah.Nyaris seperti keluhan.Dewa menarik nafas dalam,meraih tangan Rania dan mengenggamnya erat seakan enggan terlepas lagi.
"Karena pak Budi itu adik ibuku sayang.Dia satu-satunya saudara ibuku yang masih hidup.Dia pula yang memberi pekerjaan padaku dan membantuku mendirikan perusahaan arsitektur ini.Aku masih beruntung karena ibu meninggalkan warisan yang cukup untuk membuka usahaku kembali." ulas Dewa dengan lembut.
"Bukanya mas Dewa pulang kerumah ayah angkat dikampung ya?"
"Awalnya aku memang kesana,pasrah mau bekerja apapun dikampung.Namun Frans tetap ikut kemanapun aku pergi. Tapi takdir berkata lain dek,kau kecelakaan dan secara tidak sengaja ditolong om Budi.Selepas kau sehat papamu bersilaturahmi kerumah om Budi dan menceritakan tentang kita.Om Budi yang tertarik lalu menemukan foto kita dan mencariku ke kampung.Dia mencocokkan semua identitas dan latar belakangku hingga kesimpulan terakhir,aku adalah putra kakaknya.Dari sanalah takdiku dimulai." jelas Dewa panjang lebar.
__ADS_1
"Berarti bu Laura itu sepupumu mas?" Dewa tertawa lagi.Ingin rasanya dia mengecup pipi Rania yang kelihatan memendam kecemburuan mendalam pada Laura.Istri kecilnya sudah mulai bisa cemburu rupanya.Dia hanya mencolek pipinya dengan terkekeh pelan.
"Tentu saja,dia putri tunggal om Budi.Jangan bilang kau cemburu padanya ya." sergah Dewa membuat Rania gerah.Wajahnya merah padam.