
Dewa mengulurkan handuk warna biru pada Rania yang masih setia menjulurkan kepalanya keluar sambil menunggu.Badannya terasa bergetar kedinginan.
"Mas,kok handuknya kecil amat?tolong ambilkan yang agak lebar dong." kata Rania kesal.Bagaimana tidak kesal?handuk itu hanya bisa menutupi dada hingga paha atasnya saja.Pendek lagi.
"Ambil saja sendiri dek.Kan lemarinya dekat." balas Dewa cuek.Dia lebih memilih duduk menunggu di sofa.Rania menghentakkan kakinya,sangat dongkol dengan kelakuan suaminya.Berjinjit dia keluar dan melesat kearah almari pakaian.
"emm...mas,bisa hadap sana sebentar?aku mau lewat." kata Rania malu-malu.Dia selalu saja salah tingkah saat berada di depan Dewa.
"Apa yang kau sembunyikan coba?aku sudah melihat semua bagian tubuhmu.Bukanya dari kecil aku yang nyebokin kamu ya?" ujar Dewa seolah sebuah gumaman,namun membuat Rania salah tingkah.Apa yang dikatakan Dewa memang benar.Dia yang mengurus dirinya dari kecil hingga dewasa.Dewa pasti sudah menganggapnya anak perempuannya,namun sayangnya...Rania malah terjerat kedalam pesona Dewa dan jatuh cinta padanya.Lalu apa tadi?Dewa kembali memanggilnya dek?kedengaranya maniiiiisss sekali.Untuk sesaat jiwa Rania melayang.
"kok malah melamun?jadi sholat nggak?" tanya Dewa membuyarkan lamunan indahnya.Rania bergegas mengambil baju ganti dan kembali ke kamar mandi.Lututnya sedikit gemetar saat melirik Dewa yang tetap intens menatapnya lewat ekor matanya.Pria itu mengikuti kemanapun Rania bergerak.
Sedikit salah tingkah,Rania mendekati Dewa yang sudah duduk menunggunya diatas sajadah yang sudah terbentang.Gadis itu mengambil mukenanya lalu mengenakannya.Dewa langsung memulai sholat dengan Rania sebagai makmumnya.Rania serasa melayang.Mungkin ini shalat terindah yang pernah ditunaikannya.Diimami oleh suami yang sangat dia cintai.Bukankah ini sebuah anugerah?
Dewa mengulurkan tangan kanannya.Tangan yang segera dicium takzim oleh Rania.Sedetik kemudian dia mulai mencuri pandang pada suami diatas normalnya.Lihatlah,pria ini begitu tampan denga baju koko putih bersih yang membalut tubuhnya.Terlihat dewasa,teduh dan sangat maskulin.Rania begitu menikmati elusan lembut dikepalanya.
Suara ketukan dipintu membuat mereka mengalihkan pandangan.Dewa bergegas membuka pintu.Ada bik Ijah yang tersenyum kepadanya.
"Pak Dewa sama mbak Rania sudah ditunggu diruang makan." ucapnya.
"Ini belum waktunya makan malamkan bi?" tanya Dewa merasa aneh.Pasalnya dia sudah sangat hafal tradisi makan dirumah ini karena sudah bertahun-tahun seolah menjadi bagian keluarga mereka.
__ADS_1
"Kata nyonya tadi semua melewatkan makan siang,jadi diganti sekarang pak." Benar kata bi Ijah.Mereka melewatkan makan siang karena Yanti dan Ardin sungkan dan tidak mau menganggu mereka.Sebenarnya merekapun masih enggan menganggu,namun mereka khawatir jika anak,menantu dan tamu mereka kelaparan.Mau tidak mau mereka menyuruh bi Ijah naik untuk memanggil.
"hmmm baik bi,bilang sama papa mama,kami segera turun." balas Dewa yang diangguki bi Ijah gembira.Setelah menutup pintu kembali,Dewa beralih memadang Rania yang masih duduk ditempatnya.
"Kau mau turun atau makan disini dek?" Dada Rania menghangat.Dewa begitu manis dan perhatian padanya.
"Kalau kamu belum sehat,biar aku saja yang turun dan mengambilkan makanan untukmu.Nggak usah dipaksa."
"turun saja mas." jawabnya sambil melepas dan melipat mukenanya.Pandangan mereka bertemu namun Rania segera menundukkan kepalanya.Kenapa dia begitu salah tingkah dihadapan Dewa?padahal dulu dia sering kali sangat cerewet dan ingin menarik perhatian Dewa.Tapi saat pria itu sudah menjadi suaminya,kenapa dia begitu kaku dan malu?
"Ayo turun." ajak Dewa kemudian.Dia mendahului Rania beranjak keluar,namun diambang pintu langkahnya terhenti dan menoleh kembali kebelakang.Dia menunggu istrinya lalu menggandengnya menuruni tangga.
"Ehm..ehhmmm..." deheman papanya membuat pipi Rania bersemu merah.Buru-buru di melepas tangannya yang masih dalam gengaman Dewa,namun suaminya itu malah lebih mempererat genggaman tangannya.Rania tidak bisa berbuat apa-apa saat selain menurut.Seorang pria berusia seumuran suaminya menarik dua buah kursi lalu mempersilahkan mereka duduk.Pria itu seolah tau jika Rania menatap aneh padanya.Dia segera menegakka tubuhnya lalu memberi hormat padanya.
"Daniel Wright?siapa dia?" gumam Rania pelan.Dia bingung kenapa ada manusia lain dirumah ini?
"Tuan Dewa maksud saya." ulangnya lagi.Rania mengangguk dan segera duduk disusu Dewa yang ada disampingnya.
"Duduklah Frans,kita makan bersama." perintah Dewa penuh wibawa.
"Baik presedir." jawabnya lalu memilih tempat duduk dibagian lain.Wajah bulenya begitu mencolok dan menarik perhatian Rania.Dewa yang mengikuti arah tatapan mata Rania menjadi gusar.Dia tidak ingin istrinya memperhatikan pria lain.
__ADS_1
"Dek...." panggilnya membuat semua orang menoleh padanya.Papa mamanya tersenyum lebar lalu pura-pura tidak mendengar dengan sibuk menyuapi makanan untuk si kecil Reno yang sangat anteng sore itu.Dia juga mempersilahkan Frans untuk segera makan.
Dewa mengambil bubur ayam yang memang dibuat khusus untuk Rania lalu menyuapkannya pada sang istri.Waja Rania kembali memerah.
"A...aku bisa makan sendiri mas." ujarnya terbata.Namun Dewa tetap memaksanya.Rania begitu canggung saat mengunyah dan menelan makanannya.Apalagi saat Dewa membersihkan ujung bibirnya dengan ibu jari setelah Rania menyelesaikan makannya.Gadis itu hampir tersedak.Untung Dewa segera mengulurkan segelas air putih padanya.
"Kau pasti ingat saat menyuapi Rania makan waktu kecil dulu Wa." Ardin yang gemas dengan ulah menantunya mencoba memulai pembicaraan.Perutnya terasa geli melihat sahabatnya itu memperlakukan putrinya tanpa merasa malu atau canggung dihadapan berpasang mata disana.
"Iya pa.Tapi sekarang anak kecil itu sudah dewasa.Dulu dia begitu bandel,sekarang menjadi sangat nakal." balas Dewa penuh candaan.Mereka tertawa renyah,mengabaikan Rania yang terus menunduk malu.
"Itu ada gurami bakar kesukaanmu Wa,aku sengaja membuatkannya untukmu.Takutnya kamu kangen masakanku." timpal Yanti ikut nimbrung diantara mereka.
"Tentu saja aku kangen masakanmu...mama!" balas Dewa dengan menekan kata mama seolah mengolok Yanti yang dihadiahi pelototan ibu mertuanya itu.
"Nanti kalau kau kangen masakan dia kan tinggal nyuruh Rania,Wa.Dia sudah pintar memasak sekarang." kata Ardinata kemudian.
"oohh yaa??kapan-kapan aku ingin merasakan masakanmu dek." ujar Dewa sambil mengelus pundak Rania hingga gadis kecilnya itu berjengkit kaget.Kembali mata mereka bersitatap.
"ehh....mas Dewa mau makan apa?biar aku ambilkan." tanya Rania berusaha menetralisir keadaan.
"Terserah kau saja dek,aku akan makan apapun yang kau ambilkan." Ardin dan Yanti langsung berdecih sebal menengar perkataan Dewa yang bersikap seolah dia pria paling romantis sejagat raya.
__ADS_1
"kurasa kalian perlu bulan madu ulang papa mertua.Biar kalian tau rasanya jadi pengantin baru." olok Dewa yang mendapat reaksi keras keduanya.Meja makan itu berubah menjadi arena reuni sahabat yang saling merindukan.