
"Sudahlah Ran.Ingat,kamu sendiri yang memutuskan semuanya." bisik papanya diantara isak tangis putri tersayangnya.Yanti hanya bisa melihat semuanya sambil mendekap Reno yang malah sangat manja hari itu.
"Banyak-banyaklah berdoa nak.Mohon kebaikan dari Allah.Ingat,hidup,mati,rejeki dan jodoh itu hak Allah.Kalau dia memang ditakdirkan menjadi jodohmu,dia pasti akan kembali padamu sekeras apapun kau menolaknya." bisiknya lagi.Rania menghentikan tangisnya.
"Bolehkah aku meminta sesuatu pada papa dan mama?" tanyanya seraya mengusap air mata yang membanjiri wajahnya.Yanti dan Ardinata terkesiap.Hampir bersamaan mereka menganggukkan kepalanya.
"Katakan nak,jika kami bisa akan kami penuhi." sahut Ardin penuh haru.
"Kirim aku ke Inggris secepatnya pa,aku tidak bisa melupakan mas Dewa jika terus melihatnya."
"Nak,jangan pernah pergi jauh dari kami.Dewa sudah berjanji pada papa tadi.Dia akan pergi jauh dari hidupmu jika kau menolak rujuk.Dia tidak ingin kau menderita karenanya Rania.Jadi tetaplah disini,menjadi putri papa." bujuk Ardinata.Semua anak perempuan memang lebih mencintai papanya,Rania kembali memeluk papanya dalam tangis tak terperi.
"Tuhan...kenapa semua sesakit ini?" bisiknya diantara rinai air mata yang tak kuasa dia bendung.Berulang kali dia memukul dadanya untuk menghilangkan perih disana.Yanti terduduk lemas.Dia hancur melihat Rania sekarang.Dia yang menyuruh putrinya tidak mau rujuk tanpa memikirkan perasaannya.
"Maafkan mama Rania." bisiknya penuh penyesalan.
"Aku yang memilih jalan ini ma,bukan salah mama." balasnya sambil beralih memeluk sang mama yang juga meneteskan air mata.
Sekilas Rania melirik ke jam dinding.Suara pekikan kecil terdengar dari bibirnya.
"Astaga mama...jam 4.Aku harus segera ke panti Pasti Mela dan yang lain sudah menungguku.Kenapa aku bisa lupa kalau sore ini ada acara disana." Rania melupakan kesedihannya,berlari tunggang langgang kearah tangga menuju kamarnya.Secepat mungkin dia berganti pakaian dan merapikan jilbannya,meraih tas punggungnya dan kembali ke bawah.
"pa,ma,Rania berangkat dulu ya." ujarnya sambil menyalami orang tuanya bergantian,tak ketinggalan menciumi pipi gembul Reno yang tertawa bahagia padanya.
"Ran,biar diantar sopir saja."
"lah,malah lama nanti jadinya pa.Macet pasti.Aku naik motor saja."
"Pelan-pelan saja Ran,jangan ngebut."
"iya pa..ma...asalamualaikum."
"walaikumsalam..hati-hati nak." Ardinata terlihat cemas karena resah melepas kepergian putrinya dalam suasana hati yang buruk.Sebagai ayah dia tidak tega,namun ditepisnya pikiran buruk itu.Didekatinya sang istri yang masih termenung ditempatnya untuk sekedar berbicang sambil mengawasi Reno yang asyik bermain diatas karpet tebal.Si gembul itu memang lucu dengan gigi depannya yang mulai bermunculan.
Ponsel Ardinata kembali berdering,membuat pria itu berdiri untuk mengambilnya di atas meja.
__ADS_1
"Siapa lagi pa?"
"nggak tau.Nomer tidak dikenal."
"kenapa nggak diangkat sih?jangan-jangan penting." kata Yanti mengingatkan.Agak malas Ardinata mengangkatnya.
"Hallo."
"Pak,saya menemukan ponsel ini ditas adik-adik yang kecelakaan diperempatan Yos sudarso.Apa anda papanya?sekarang putri anda berada diperjalanan ke rumah sakit X.Tolong anda segera datang." kata pria diujung sana dengan nada gugup.
"i..iya..ba..baaikk..." jawab Ardinta terbata.Diremasnya ponsel itu kuat karena terlalu gugup.
"Ma,kita kerumah sakit sekarang.Rania kecelakaan." Ujarnya lalu menyambar kunci mobil,menarik istrinya untuk segera ikut.Reno yang masih asyik bermain dititipkan pada bi Asih yang sudah selesai mandi.Tergesa suami istri itu naik ke mobil dan pergi ke rumah sakit.
Sampai dilobi mereka mencari-cari keberadaan Rania yang masih mendapatkan penanganan intensif di ICU.Didepan pintu itu mereka bertemu sepasang suami istri yang menolong putrinya.Sang pria mengulurkan tas da ponsel Rania pada mamanya.
"Terimakasih atas pertolongan anda pak." ucap Yanti dan Ardinata bersamaan.
"Sama-sama pak,kami hanya kebetulan membawa putri anda.Kalau begitu kami permisi."
"Saya utomo pak.Ini kartu nama saya.Kami menunggu kedatangan anda." sahutnya.Ardin menerima kartu nama itu dan menyimpannya disaku.Keduanya terus saja mengucapkan terimakasih dan menjabat tangan pasangan suami istri itu dengan erat.
Beberapa saat kemudian,dokter keluar dari ruang ICU.Serempak keduanya bangkit dan mendekati dokter muda itu dengan pikiran risau.
"Bagaimana keadaan putri saya dokter?"
"Putri anda kehilangan banyak darah tuan.Stok darah dirumah sakit sedang kosong,begitu juga di PMI.Anda harus mencari donor sesegera mungkin jika tidak ingin dia drop." jelas sang dokter.
"Ambil darah saya dokter.Golongan darah saya dan Rania sama." sahut Ardin secepat mungkin.Dokter itu masih terdiam.
"Maaf tuan,anda perlu satu orang lagi untuk jadi donor."
"kenapa dokter?ambil saja semua darah ditubuh saya untuk Rania.Selamatkan nyawa anak saya dokter.Saya mohon." Mata Ardinata kembali berkaca,apalagi melihat istrinya yang sudah terduduk lemas dan melafazkan banyak doa.
"Tidak bisa tuan.Tiap manusia punya ukuran maksimal saat menjadi donor." kukuh sang dokter.Ardinata menoleh pada Yanti.Ingatannya bekerja sempurna dan tertuju pada satu nama.
__ADS_1
"Ma,hubungi Dewa secepatnya.Hanya dia yang punya golongan darah yang sama dengan Rania." sentaknya disela kegugupan.
"Tapi pa..."
"Nyawa Rania lebih penting Ma.Lakukan." katanya lagi.Yanti meraih ponsel dalam tasnya dengan tangan gemetaran.Ditekannya nomer Dewa.
"Hallo Wa..."
"Ada apa Yan?" tanya suara diseberang sana.Suaranya hampir tak terdengar karena riuh rendah suara disekitarnya.
"Kau..kau dimana?" tanyanya gugup.
"Aku dibandara Yan.Mau pulang kerumah bapak." Jawab Dewa lagi.
"Berhenti Wa.Kembalilah kemari.Tolong kami..tolong Rania." Sampai disini Yanti sudah tidak kuat lagi melanjutkan pembicaraan.Tangisnya pecah.Ponselnya jatuh kelantai,menghentikan langkah Ardinata yang akan menuju ruang pengambilan darah.Dia berbalik dan mengambil ponsel itu dengan cepat.
"Hallo Yan...Yan..Hallo." suara Dewa masih memanggil Yanti yang terus menangis.
"Wa,Rania kecelakaan.Dia butuh donor darah.Aku mohon tolong dia Wa.Selamatkan putri kami." kata Ardin dengan bibir dan suara yang bergetar hebat.
"Kau dimana?" sahut Dewa diseberang sana.Ardinata menjawabnya dengan nama rumah sakit tempat Rania dirawat.
"Baik aku kesana Ar." tanpa babibu Dewa memutus panggilannya.Ardinata juga berlari menyusul dokter tadi,meninggalkan Yanti yang terus menangis.Nyawa putrinya dalam bahaya.Ayah mana yang tega melihatnya tak berdaya.Anak yang dia lewatkan masa kecilnya itu menentang maut sendirian.Kalau bisa,ingin rasanya dia mencabut nyawanya sendiri untuk diberikan pada Rania.Gadis kecilnya harus kembali,putri tercintanya harus tetap bernafas dan menemukan kebahagiaanya.
*
*
*
*Hai readersku tersayang....
Kali ini author juga minta maaf karena belum bisa update maksimal sesuai keinginan kalian.Sabar ya..doakan saya selalu sehat mental dan finansial terutama ditanggal tua agar saya tetap bisa fokus berkarya.ππ
Terimakasih sekali lagi untuk masukan dari kalian semua.Walau tidak saya balas,tapi yakinlah saya membacanya dan mencoba berkarya lebih baik lagi untuk kalian semua.
__ADS_1
Jangan lupa memberi like dan komentar untuk menyemangati saya ya..I love U so muchπππ*