Balada Cinta Belahan Jiwa

Balada Cinta Belahan Jiwa
Kejutan


__ADS_3

Yanti yang baru pulang berbelanja menuju kamar atas untuk menidurkan Reno yang terlelap karena capek bermain di area mall tadi.Saat akan turun kebawah,dia menengok kamar Rania.Hampir saja dia berteriak kaget saat putrinya tidur dalam pelukan seorang pria jika saat itu tidak ada tangan yang membekap mulutnya dari belakang.Mata Yanti melotot saat dia tau Ardin,suaminya yang melakukannya dan menyeretnya ke lantai bawah.


"pa,itu Rania..."


"ssssssttttt....jangan berisik ma,biarkan mereka.Dewa pasti capek." balas Ardin sambil menuntunnya ke ruang tengah.


"Dewa?kapan dia datang?kok nggak ngasi kabar?"


"papa juga baru ditelepon bi Ijah,katanya ada tamu.Pas papa masuk yang ketemu cuma sekretarisnya saja.Dia istirahat di kamar tamu." jelas Ardin seraya mendudukkan pantatnya di sofa.Mendengar kata sekretaris,bayangn Yanti langsung tertuju pada wanita cantik,berpakaian mini dan menggoda.Ahhh...tentunya itu tidak akan baik bagi kejiwaan dan kesehatan putrinya.


"Pa,kenapa pake acara ngajak sekretarisnya segala sih?apa Dewa mau hubungan mereka nggak karuan lagi?" protes Yanti dengan suara berbisik namun wajah yang ditekuk tidak karuan.Terlihat sekali nyonya Ardinata itu kesal bukan kepalang.Ardin mengangkat bahunya cuek.


"Ya mana papa tau ma.Lagian status Dewa udah nggak kayak dulu lagi.Jelas di butuh sekretaris yang menemaninya."


"Tapi juga bukan berarti dia harus ngajak sekretarisnya kesini dong.Hotel kan banyak?ngapain juga dia ngajak orang lain kesini.Bikin kesel aja." omel Yanti sambil bersungut kesal.


"Ma,kenapa sih kamu jadi jahat gini?mereka itu cuma berdua lho.Perjalanan panjang juga,kasihan kan itu sekretarisnya Dewa kalau disuruh di hotel sendirian?lagian rumah kita itu luas ma,tidak akan sesak karena kedatangan satu atau dua tamu saja." balas Ardin tak kalah kesal.Bagaimana bisa istrinya berubah seperti itu.Selama menjadi istrinya,Yanti selalu bersikap lembut dan ramah pada tamu di rumah mereka.Dia juga biasanya sangat antusias menyambut siapapun yang datang.Tapi kenapa sekarang dia jadi ribut karena masalah kecil seperti sekarang?


"enggak.Dia kan dibayar.Masih syukur dia ditempatkan di hotel,malah baiknya dia di masukkan gudang aja sekalian." Ardin semakin geram dengan tingkah istrinya yang menurutnya sangat kekanak-kanakan.

__ADS_1


"ehmm...permisi tuan,nyonya." Yanti hampir saja melonjak kaget saat pintu kamar tamu terbuka.Tanpa sadar,ternyata mereka sudah bertengkar di depan pintu kamar itu.Dia menatap sinis pada Frans yang berdiri tegak di ambang pintu.Tentu saja sekretaris muda itu mendengar percakapan suami istri itu karena dia baru saja selesai membersihkan diri.


"Tuh kan pa..sekretaris Dewa benar-benar nggak tau malu ya?Dia malah memasukkan laki-laki ke dalam rumah kita.Bisa dipastikan dia bukan wanita baik-baik.Menantu kita bisa dia goda pa.Pokoknya mama nggak suka dia tinggal di rumah kita.Titik!!" ketus Yanti kemudian.Ardin melongo menatap istrinya yang sedang murka.Sekejap kemudian tawanya pecah hingga wajahnya merah padam.Frans yang mendengar omelan sang nyonya rumah hanya tersenyum geli sambil mengusap leher belakangnya salah tingkah.


"nyonya,saya masih normal." balasnya kemudian.


"Bukan kamu,tapi sekretaris Dewa." balas Yanti ngeyel.Nada bicaranya berapi-api kembali.


"Tapi saya ini sekretaris tuan Dewa nyonya.Nama saya Frans." ujarnya cepat sebelum dia kena semprot sang nyonya rumah lagi.Yanti melongo,namun spontan menjawil lengan suaminya yang masih tertawa ngakak.Dia menjabat tangan Frans.


"Maaf,tadinya saya kira sekretarisnya Dewa perempuan.Saya Yanti,mamanya Rania." katanya kemudian.


"Makanya ma,tanya dulu kenapa?Kan nggak salah paham kayak begini?" tukas Ardin kemudian.


Yanti yang ditarik Ardin lantas menuju dapur untuk menanyakan apa yang dimasak bi sum hari ini,sekalian dia akan membongkar dan menata belanjaanya di kulkas.Ardin menatap kesibukan mendadak istrinya dengan duduk manis menikmati secangkir teh hangat buatan bik Sum.


"Pa,apa Dewa benar-benar nggak ngasi kabar kalau mau pulang?"


"Dia cuma bilang mau menengok Rania,tapi nggak bilang kapan waktunya.Tadi aku juga kaget saat sekretarisnya menelepon dan mengatakan bahwa mereka sudah pulang."

__ADS_1


"hehh..anak itu nggak berubah.Dari dulu selalu bertindak sesuai insting.Mr Alex pasti marah besar karena Dewa tidak mematuhi peraturannya." kata Yanti sambil tetap menata dapur bersama bik Sum.


"Sekarang dia itu menantu kita ma,bukan teman bermain kita lagi.Dewa pasti sudah memikirkan semuanya sebelum datang kemari."


"Iya,tapi Rania kan nggak separah itu pa.Sampai dia jauh-jauh datang kesini."


"Tapi Rania istrinya lho ma.Wajarkan kalau istri sakit trus suaminya menengoknya?apalagi mereka pengantin baru." keduanya sama-sama terdiam,sibuk dengan alam pikirannya masing-masing.Mereka berdua sangat mengenal Dewa.Pria itu punya sifat keras kepala yang akut.Tidak ada yang bisa mencegah kalau dia menginginkan sesuatu.Tekat dalam dirinya sangat kuat.Wajar jika dia adalah putra Alexander Wright yang dikenal bertangan dingin di dunia bisnis.Dia pernah terjatuh,namun segera bangkit dengan kekuatan dan kemampuannya sendiri.Pria yang tangguh juga akan menghasilkan keturunan yang tangguh pula.


Dikamarnya,Rania kembali terjaga karena haus.Dia mengucek matanya yang masih terasa berat


'ohh Tuhan....kenapa bayangan om Dewa tetap menghantuiku?kenapa dokter memberiku obat halusinasi?' batinnya jengah.Sedikit bergetar,diarahkannya tangan kanannya menyentuh pipi Dewa yang masih tertidur pulas.


"Dalam halusinasikupun kau tetap terlihat tampan om." gumam Rania sambil tetap membelai wajah tampan Dewa.


"Apa aku setampan itu hingga kau harus terus mengagumiku?" suara berat Dewa membuat Rania terperanjat.Buru-buru ditariknya tangannya yang masih bergerilya diwajah Dewa,tapi dia kalah cepat.Dewa sudah lebih dulu menangkap tangannya dan meletakkannya ditempat semula.Wajah Rania memerah.Gadis itu sangat malu.


"hey..kenapa kau diam gadis kecilku?biasanya kau sangat cerewet dan tubuhmu masih terasa sakit?"tanya Dewa sambil menempelkan punggung tangannya di dahi istri kecilnya.Sejenak mata mereka bertemu.Dewa mengelus lembut kepala Rania,menyelipkan anak rambutnya dibelakang telinga.


" a...aku haus om." kata Rania terbata.Dewa bangkit dan meraih gelas berisi air putih disisi ranjang lalu membantu Rania bangkit dan meminumya.Pria itu membawa Rania dalam pelukannya.

__ADS_1


"Apa ini bukan mimpi?" gumam Rania masih tidak percaya.


"Aku disini Rania....bukan mimpi." sahut Dewa tak kalah lirih.Diciumnya pucuk kepala Rania lama.Dadanya berdesir,demikian pula Rania yang kembali pasrah dalam pelukan Dewa.


__ADS_2