Balada Cinta Belahan Jiwa

Balada Cinta Belahan Jiwa
Panggilan


__ADS_3

Sebulan berlalu,Rania memutuskan menuruti kemauan orang tuanya untuk tetap kuliah disini atas usulan Firman.Secara tidak langsung,merekalah yang membuat Rania kembali hidup normal dengan dorongan semangat dan perhatian.Mela juga terus mengajaknya mengikuti berbagai kegiatan dikampus maupun diluar.Gadis itu memang aktivis kemanusiaan yang tangguh.Hari-harinya dipenuhi kesibukan dan kegiatan tanpa jeda yang membuat Rania ikut larut di dalamnya.


Siang itu mereka berdua barjalan beriringan keluar menuju parkiran kampus.Mobil Firman masih terparkir rapi disana,mungkin kakak Mela itu sedang mengerjakan sesuatu diruanganya karena banyak para dosen yang masih tinggal bersamanya.


Notifikasi ponselnya Rania berbunyi.Netra indahnya membulat sempurna saat melihat ada uang yang masuk ke rekeningnya dalam jumlah yang besar.Ada nama Daniel Wright yang mengirimnya.Kenapa Dewa masih mengirimkan uang padanya?Kepalanya dipenuhi tanda tanya saat ponselnya kembali berbunyi.Dari mamanya.


"Ada apa Ran?" Mela menatapnya penuh tanya karena Rania menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.


"Mama menyuruhku cepat pulang Mel."


"owhh ya udah.Kamu langsung pulang saja.Mainnya bisa kapan-kapan." jawab Mela.Rania meminta maaf karena harus membatalkan acara nontonnya dengan Mela.Dia buru-buru menaiki motor dan melambaikan tangan pada sahabatnya itu.


"Hati-hati Ran." pesan Mela padanya.Gadis manis berambut sebahu itu juga bergegas meninggalkan kampusnya.


Sesampai di rumah,Rania disambut papa dan mamanya yang sedang berdiskusi diruang keluarga.


"Sini dulu Ran!" panggil Ardinata menghentikan langkah Rania yang semula akan pergi ke kamarnya.Wanita berparas rupawan itu mendekat mengambil duduk disamping papanya.


"Ada apa pa?kok tumben papa pulang siang?" Ardinata tidak menjawab,tangannya terulur menyerahkan sebuah amplop pada putrinya.


"Bacalah." Sedikit bingung,Rania membuka dan membacanya.Surat panggilan sidang terakhir perceraiannya.Matanya memanas.Betapa kerasnya dinding hati suaminya hingga sama sekali tidak berbelas kasih padanya.


"Papa mama berharap besok kau datang kesana.Semakin cepat proses berjalan semakin baik." kata papanya lemah.Rania mengangguk,menyeka ujung matanya yang mulai berembun.


"Lupakan semua Ran,kau masih sangat muda.Jangan takut dengan status janda.Orang dihargai karena kepribadiannya,bukan statusnya.Sabar ya nak.Matahari akan tetap terbit,hidup harus terus berjalan,kau harus bersemangat memperjuangkan hidupmu." nasihat Yanti sambil membelai kepala putrinya.Dia orang juga sedih,tapi Rania butuh semangat untuk bangkit dan merasa kuat.

__ADS_1


"Aku sudah ikhlas ma,pasrah sama kehendak Allah." kata Rania disela isakannya.Yanti memeluk putrinya erat,menyeka air matanya dan memandangi sang suami yang juga melakukan hal yang sama.Luka Rani adalah luka mereka juga.


"Ingat Ran,harus selalu berpikir positif pada takdir Allah.Yang kamu anggap terbaik bagimu,belum tentu yang terbaik bagi Allah.Perbanyak istighfar ya nak." tambah Ardinata.


"Tadi mas Dewa mengirimkan uang pa.Jumlahnya terlalu banyak." ujar Rania lalu mengulurkan ponselnya agar papanya tau nominalnya." Ardin terdiam.Untuk apa uang sebanyak itu?bukankah pernikaha keduanya sudah diambang kehancuran?


"Biarkan saja dulu Ran.Jika waktunya tiba,kita akan mengembalikan semuanya pada pemiliknya." balas Ardinta bijak.Dia tidak ingina menanyakan atau mencari tau hal itu karena Rania masih istri Dewa,masih berhak dinafkahi secara lahir hingga saat ini.Tapi uang sebanyak itu juga membuatnya gamang.


"Rania ke kamar dulu ya pa,ma."


"nggak makan dulu?"


"nanti saja ma,tadi habis makan dikantin sama Mela." Yanti mengangguk.Mereka menatap putrinya yang melangkah lunglai ke kamar.


"Putri kita bukan wanita rapuh pa.Percayalah,dia hanya butuh waktu untuk kembali tegar." sahut Yanti.Ardinata tersenyum pahit.


"pa,ponselnya bunyi tuh." Ardi meraih ponsel dari sakunya lalu membaca pesan yang dikirim lewat aplikasi hijau itu.


"Siapa pa?" tanya Yanti penasaran.


"Dewa."


"Mau apa lagi dia?"


"Mengajak bertemu."

__ADS_1


"dimana?"


"kafe biasa.Kau mau ikut?" tawar Ardinata yang dibalas gelengan kepala Yanti.Terlalu sakit baginya untuk bertemu orang yang sudah menyakiti putrinya.Tapi dia juga tidak bisa melarang suaminya bertemu Dewa karena ada ikatan kerja.


"Baiklah,aku kesana dulu." Yanti mengantar suaminya hingga ke halaman,menunggu sampai mobilnya menghilang dibalik gerbang.Saat menoleh,dia melihat Erna pekerja Rania datang menghampirinya.Mereka terlibat perbicangan sejenak sebelum dia mengikuti langkah Erna masuk ke gedung samping rumah yang ramai dipenuhi konsumen dari daerah sekitar.Mobil dan motor para kurir yang akan mengantar barang sudah berjajar di halaman toko yang dibuat Ardinata dengan aksen minimalis modern yang sangat nyaman dan ramah lingkungan.


Yanti memang melarang karyawannya menganggu Rania agar putrinya lebih fokus kuliah dan menata hatinya.sementara ini,dialah yang mengambil alih pekerjaan ditoko itu.Dia pula yang menyuruh Erna dan Tika menambah karyawan untuk membantu.Sejak pindah,toko Rania memang semakin ramai karena melayani pembelian offline juga baik grosir maupun eceran.Toko yang awalnya hanya seputar baju dan perlengkapan kantor menjadi bergerak ke peralatan rumah tangga dan barang pecah belah yang banyak diminati konsumen dengan harga miring.Bisa dikatakan Rania sangat beruntung dengan bisnis kecilnya.


Ardinata memasuki kafe tempatnya membuat janji dengan Dewa.Sekretaris Frans mempersilahkan dia duduk lalu meningalkan keduanya.Dewa melepas jas dan dasinya,menggulung lengan kemejanya hingga kesiku.Memperlihatkan tangannya yang putih bersih dengan jam tangan yang melingkar manis disana.Tidak ada brand bermerk yang dikenakan pewaris Wright group itu.Semua masih seperti dulu.Dewa tetap manusia sederhana seperti putrinya.


Melihat itu,Ardinata melakukan hal yang sama.Tanpa bicarpun dia tau jika Dewa ingin menemuinya sebagai sahabat.Dia mulai mengatur dirinya agar tidak bersikap kaku.


"Kau mau pesan sesuatu?" tanya Dewa saat pelayan datang dan memberikan kertas menu.Sekilas Adin melihat jari tangan Dewa yang masih dilingkari cincin pernikahannya dengan Rania.Pikirannya kembali berputar kemasa lalu.Andai saja cincin itu bisa selamanya disana..dia pasti tidak akan melihat Rania terluka.Dadanya terasa sakit saat mendengar isakan Rania tiap malam dalam kamarnya.


"Terserah kau saja.Toh kau sudah hafal menu favoritku." Dewa mengangguk dan memesankan beberapa menu untuk mereka.


"Bagaimana kabar Rania?" Tanya Dewa memulai pembicaraan.Ardinata menarik nafas dan menghembuskannya ringan.


"Dia baik-baik saja Wa.Jika kau ingin bertanya apa dia mau datang besok,maka kupastikan dia akan datang dan tidak mempersulit apapun." jelas Ardinata.Wajah Dewa berkabut.Ardinata menatap wajah sahabatnya itu lekat.Wajah yang terlihat tirus dan sedikit pucat.Terlihat jika Dewa sedang tidak baik-baik saja.


"Apa yang terjadi padamu Wa?" tanya Ardin sambil memegang lengan sahabatnya itu.


"Apa aku boleh berkeluh kesah padamu Ar?" tanyanya pelan.Ardinata terkesiap.Dua kali Dewa berada di fase seperti sekarang.Saat Hafsah meninggal dan saat ini.Wajah itu terlihat lelah dan tak berdaya.


"Tentu saja.Aku sahabatmu.Sampai kapanpun begitu.Berceritalah,aku akan selalu siap mendengarkanmu." balas Ardinata lugas.Pria yang baik,ayah yang bijak dan sahabat yang tiada duanya.

__ADS_1


__ADS_2