
" Nayy, sudah dengar belum? Katanya manager kita yang baru sudah masuk hari ini, kamu bertanya tanya gak kalau pimpinan team kita kali ini laki-laki atau perempuan? ".
Medina, teman sebelah kubikelnya menggeser kursi kerja beroda yang di dudukinya mendekat, sambil melihat apa yang sedang dikerjakan Nayyara yang begitu tekun jika di hadapan layar komputernya.
Nayyara mengalihkan pandangannya pada Medina, kaca matanya masih menempel nampak merosot ke bawah hidungnya.
" perempuan, aku lebih suka bekerja pada atasan perempuan, setidaknya bahasa yang kita gunakan nanti bisa membuat kita sepemikiran dan mudah di mengerti. " tukasnya sambil sesekali mengetik sesuatu di keyboard yang berbunyi cekit2 itu.
Medina menghela nafas, menyandarkan bahunya pada punggung kursinya, ia menatap Nayyara yang sepertinya sudah tidak bisa tertolong lagi jika mengaitkan seleranya tentang laki2, ia berfikir kalau Nayyara terlalu kaku jika membahas pria.
"kita baru saja keluar dari jeratan wanita otoriter dan keras kepala yang menyusahkan kita untuk sekedar kencan buta di hari libur Nayy... Sekarang masa kita harus bergelud lagi bersama perempuan gila kerja. "
keluh Medina, ia menggoyang2kan kursinya seperti remaja yang sedang pubertas.
"dari mana kamu tau kalau nanti pimpinan kita orang yang gila kerja? ".
Suara dari seberang kubikel Medina, sebuah kepala menyambul dengan mata sipit dan kulit wajah putih pucatnya nampak menatap Medina dengan senyuman tidak suka.
si cindo itu selalu saja ikut nimbrung kalau ada yang bergosip, Medina nampak manyun dan ketus.
Alfian, yah... Lakilaki peranakan tionghoa itu memang dikenal mudah bergaul dan akrab dengan rekan kerjanya, termasuk Nayyara yang menurutnya agak pendiam dan jarang bicara saat bekerja, sangat berbanding terbalik dengan teman di depannya yang selalu berisik, bahkan Medina tidak pernah mengistirahatkan mulutnya meski sedang bekerja sekalipun, karna ia akan memakan apapun yang ada di laci penyimpananya yang ia beri nama laci snack khusus untuk dirinya, jangan coba coba mengambil makanan apapun yang ada disana, karna Medina akan sangat marah dan menagih makanan yang kalian curi seperti seorang depkolektor menagih hutang.
"dari berbagai jenis pengalaman bekerja memang begitu, rata rata wanita matang yang memegang jabatan tinggi di suatu peruaahaan akan lebih pasif dan monoton soal bekerja, mereka mana tau dunia kencan buta atau sekedar nonton kebioskop. " Medina memberi penjelasn, Nayyara masih sibuk menatap layar komputer tapi telinganya tetap stay untuk mendengar, sedangkan Alfian berdiri menyandarkan sebelah tangannya ke atas skat kubikel.
"memangnya kamu sudah berapa banyak pengalaman soal pemimpin perempuan? Perasaan kamu cerita setelah lulus kuliah dan nganggur selama 2 tahun kamu langsung bekerja di perusahaan ini sampai sekarang, kamu kerja dimana saja bisa menilai kalau perempuan memimpin itu selalu otoriter? "
"memang begitu kenyataannya, kamu sendiri memang punya pengalaman bagus apa sama pemimpin wanita, terakhir kali aku dengar kamu juga memaki di jam lembur waktu atasan kita bu Dewinta".
Medina sedikit menunjukan kekesalannya atas sikap Alfian yang selalu tidak pernah sependapat dengannya.
"saat itu bu Dewi memang agak keterlaluan...
" alaaahhh bilang aja kamu juga kesel kan terpaksa bertahan di bawaha naungan pemimpin otoriter begitu".
"se enggaknya aku gak kayak kamu ya selalu kena tegur kalau menyangkut scandal artis. "
"cih.. Kamu pikir kamu oke banget ya di pekerjaan kamu? Kalau begitu kamu juga ngeremehin pekerjaan Nayyara donk, aku sama Nayy kan satu tubuh kalau masalah kerjaan. "
"gak gitu lah, Nayy selalu jadi tameng kamu kalo kamu bikin kesalahan. "
medina sudah mau menoyor Alfian jika tidak tiba2 suara berat itu menghentikan mereka, Nayy juga sudah hampir bereaksi ingin melerai kedua temannya, namun berhenti karna matanya menangkap kedatangan sosok tinggi berkarishma dengan tubuh yang selalu wangi menenangkan.
__ADS_1
"kalian sedang apa? ".
Suara beratnya lembut di telinga Nayyara, dia selalu terkesima saat orang itu datang tertangkap matanya.
" presdir? Maaf... Medina nih, dia selalu bergosip yang nggak nggak". Alfian menunjuk wajah Medina yang semakin kesal di buatnya, rasanya ingin sekali menggigit jari sialan itu, fikir medina.
"Alfian yang memulai pak, dia yang ngomporin saya lebih dulu. " balas medina
Alfian memutr bola matanya yang sebenarnya tidak begitu terlihat karna tertutup kelopak matanya sendiri, mungkin mata sipit itu berguna juga jika ingin mengejek orang tapi tidak mau terlihat, namun sebelum balasan dari mulutnya keluar, laki laki yang mereka panggil presdir itu berdehem sebentar, lalu matanya beralih pada wajah berkaca mata yang berdiri sejak tadi kedatangannya, ia tersenyum melihat Nayyara sedikit menganggukkan kepalanya.
"berhenti memperdebatkan yang tidak penting, kalian sudah dengar kalau ketua team kalian akan masuk hari ini kan? Jadi persiapkan diri kalian dengan sopan dan ramah ya, aku harap kalian bisa bekerja sama dengannya untuk waktu yang lama. "
"soal itu pak, saya boleh bertanya apakah kali ini ketua team kita laki laki atau perempuan? ".
Medina bertanya dengan wajah berseri penuh harap jika dugaan pemimpin kali ini laki laki adalah hal yang benar.
Presdir tersenyum lagi, melirik Nayyara di sana dan melihat wajah Alfian yang nampak masih kesal menatap Medina.
" kali ini laki-laki, sesuai harapanmu kan Medi? . "
"woaahhh... Yesss pak, terimakasih banyak presdir karna mendengar keluh kesah kami".
Medina bersorak sendirian yang langsung di jawab helaan nafas oleh Alfian.
Alfian terduduk dan menatap kembali layar di hadapannya.
"setidaknya dia gak seperti kamu yang kelihatan selalu iri sama kesenangan orang, wleekk".
Lagi2 presdir tersenyum, ia melihat Nayyara yang nampak terdiam sejak tadi, kakinya melangkah menghampiri gadis itu.
" sudah sarapan? "
Tukasnya lembut
"eh.. Sudah kak, ups.. Maaf, sudah presdir".
Nayy nampak gugup, ia sedikit memukul bibirnya karna lancang menyebut kata kak pada presdirnya.
" santai saja Nayy, kita masih ada waktu 10 menit untuk memulai pekerjaan yang sesungguhnya, baiklah... Silahkan kalian bersiap ya, selamat dengan anggota barunya, bekerjalah sesuai dengan gaji yang kalian dapat, oke!!. "
Presdir itu pergi setelah mendapat jawaban sorakan dari karyawannya, yang paling kencang Medina tentunya, ia sangat bersemangat dengan ketua team yang akan datang kali ini, apakah akan seperti yang di gambarkan kepalanya?
__ADS_1
Sedangkan Nayyara terduduk setelah laki2 menawan dimatanya itu benar2 tak terlihat dan menghilang di balik dinding berbelok yang tidak bisa ia capai karna lorong itu menuju ruangan presdir, walaupun belokan itu hanya baru mengantarkannya pada lift khusus petinggi disana, tapi ia memang belum pernah sampai pada ruangan itu, hanya orang2 tertentu saja yang bisa masuk kesana, sedangkan ia hanya staf rendahan, karyawan yang harus bekerja dengan giat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
#
Darren, begitu nama yang dikenal Nayyara, laki laki penuh wibawa dan karismatik yang ia panggil presdir saat ini, dimana tempatnya bekerja mempertemukannya kembali pada seniornya saat di sekolah dulu, itu kenapa sebabnya ia keceplosan memanggil Darren dengan panggilan Kak seperti saat dulu ia disekolah, bahkan Darren dan Nayyara sepakat memanggil dengan panggilan santai jika mereka bertemu di luar kantor.
Seperti yang kalian lihat, Darren laki laki yang kharismatik di mata Nayy, wanita itu terpincut dengan pesona Darren sejak ia mengenal Darren di sekolah, memorynya terus menyimpan kebaikan kebaikan Darren padanya, Darren yang tampan, baik hati tidak sombong dan rajin sekali kesekolah meski di hari libur karna mengikuti kegiatan amal sekolah kala itu.
Sebenarnya Nayy tidak akrab dengan tiba2 pada Darren, ada satu sosok yang kerap kali membuat Darren bertemu dan berinteraksi dengan Nayy tanpa sengaja ataupun sengaja. Sosok laki laki yang membuat Darren harus terus memperhatikan Nayy dari sudut pandangnya, Nayy yang kerap kali nampak menyedihka dulu di matanya, Nayy yang harus ia lindungi, Nayy yang harus ia jaga demi seseorang yang ia kenal dan setia padanya sampai saat ini.
Sosok yang mampu menjerat Nayy dalam cara apapun, meski nampak terlihat sembunyi dan misterius, Darren akan selalu berada diantara meraka, tidak bisa dipisahkan, karna Darren terikat juga dengan sosok yang ia sebut tuan dalam kehidupannya itu.
#
Langkah kaki dengan dentingan bunyi gesekan sepatu pantovel termahal pada lantai perusahaan itu nampak tertangkap telinga Darren meski ia sedang sibuk di balik meja kerjanya, refleks ia bangun dari kursi kerjanya dan bergegas berdiri tepat di depan pintu lif, layar kecil petunjuk bahwa lift sedang menyala membuat Darren bersiap dengan sedikit merapikan jass di tubuhnya, lalu bunyi ting terdengar menunjukan pintu lif terbuka lebar, sosok itu berdiri besender dengan dinding lift, dia nampak dingin tapi tersenyum saat tahu dirinya di sambut oleh seorang presdir di kantornya sendiri, ia melangkah keluar setelah Darren menganggukkan kepalanya, berjalan melewati Darren yang langsung mengikutinya tak jauh dari punggungnya, lalu ia masuk kembali keruangan presdir yang nampak megah itu, sosok itu duduk di sofa yang ada disana, menyilangkan kakinya yang nampak panjang.
"bagaimana penampilan pertamaku bekerja? Aku sudah berusaha menyuruh Gun memilihkan kemeja dan sepatu yang tidak begitu mencolok denganku, apa ini cukup untuk menjadi seorang manager di perusahaanmu?. "
Darren duduk di hadapan laki2 yang katanya tidak ingin mencolok itu, padahal dari keseluruhan penampilannya dengan sepatu bermerk termahal itu sudah bisa membuat orang slah faham jika mereka tahu posisi yang akan ia jabat sebentar lagi.
"perusahaanmu, bukan perusahaanku. "
Alih alih berkomentar soal penampilan laki laki itu Darren malah mengoreksi kalimat yang keluar dari mulut laki laki itu.
"cih.. Apa kau juga menganggapku gila? Heuh.. Demi perempuan bodoh itu aku membeli gedung serta agensi artis yang konyol ini, kenapa juga dia memilih cita cita keduanya sebagai pekerjaannya, padahal menjadi dokter anak sepertinya lebih cocok untuknya. "
"bukankah kau yang tidak setuju dengan dia menjadi dokter anak? Katanya...
" berhenti mengoreksiku, lebih baik perkenalkan aku sekarang ke rekan-rekan yang akan bekerja denganku mulai hari ini. "
"apa ide ini tidak terlalu berlebihan? Apa sebaiknya anda memperkenalkan diri anda sebagai presdir saja? Toh perusahaan ini memang punya anda dan...
" Darren, aku sudah bilang beribu kali, aku ingin melihat dia setiap saat dengan mata kepalaku sendiri, sampai saat ini, obsesiku terhadapnya belum berubah, aku ingin dia tidak melupakanku sampai kapanpun. "
tatapannya nampak menyalak, ada kilatan mengerikan yang entah apa maknanya bagi Darren sendiri dan sosok itu, meski begitu, Darren tau, tuannya masih seperti dulu, masih mengharapkan apa yang sudah terikat dengannya, yang sempat di ulurnya berkali kali karna peperangan batinnya dulu terhadap wanita itu., sekarang tuannya kembali, ingin mengambil dan menjerat lagi apa yang dimilikinya.
"baiklah, akan aku antarkan anda keruang kerja anda sekarang tuan Devano. "
Tukas Darren dengan penuh rasa hormat, tiba2 kepalanya sedikit di pukul oleh laki2 dihadapannya.
"mereka bisa langsung menebak siapa bossnya nanti kalau kau bersikap begini terus terhadapku, ck, panggil aku seperti kau memanggil bawahanmu. "
__ADS_1
"oh, maaf.. Baik, Devan, ayo ke ruanganmu sekarang. " terdengar kaku dan canggung saat Darren melakukannya, Devan hanya menghela dan bangkit dengan ragu, ia takut ini akan berjalan tidak dengan sesuai rencananya.
Bersambung😊