
Pagi yang sibuk, Devano datang dengan wajah dingin yang selalu melekat di wajahnya, ia sudah ingin masuk ke ruangannya saat langkahnya terhenti ketika melihat meja milik Yara masih kosong, apa gadis itu pernah datang terlambat?
"Yara belum datang? ".
Dia bertanya pada siapa saja yang mendengarnya, seketika yang berdiri dari duduknya hanyalah Medina, dengan sumringah menatap Devano yang kelihatan selalu sempurna di matanya.
" maksud ketua team, Nayyara? Dia sudah datang sejak tadi, sebelum kami datang juga dia sudah datang, dia selalu datang lebih awal dari karyawan yang lain. "
"lalu kenapa aku lihat mejanya masih kosong seperti tidak berpenghuni? "
Matanya menatap meja Yara yang rapih dan bersih, membandingkan dengan milik teman disebelahnya yang nampak berantakan, siapa lagi kalau bukan Medi.
"aahh.. Hari ini jadwalnya mengantar Mario, ada beberapa kontrak yang harus di urus. "
"Mario? Siapa? ".
Wajahnya berubah bingung, Medi yang agak kaget memperhatikan Devano yang sepertinya memang tidak kenal dengan Mario yang ia sebut.
" salah satu artis kita pak, dia lumayan terkenal di tahun ini karna debutnya yang bagus. "
Alfian menambahi karna melihat dua orang yang kebingungan dengan fersi yang berbeda.
"kenapa Yara yang harus mengantarnya? Memangnya dia siapa harus diantar-antar? "
Perasaan tadi aku sudah bilang kalau dia salah satu artis kita, kenapa pak Devano sepertinya tidak mengerti soal pekerjaan ya?
Akhirnya Alfian juga ikut kebingungan seperti Medina.
"Nayy kan salah satu managernya, ketua, jadi dia harus menemani karena ada beberapa kontrak yang harus di perbaiki dan di jelaskan langsung, pada Mario dan beberapa produser musik yang akan bekerja sama dengan kita. "
Dengan sabar Medina menjelaskan pada Devano yang nampak kesal lantaran tidak mengerti maksud dari Yara tidak ada di mejanya pagi ini, di kepala Devano hanya ada kata nama Mario, terdengar jelas itu nama untuk orang berjenis kelamin laki-laki, dan ia berfikir Yara pergi berdua dengan laki-laki itu entah kemana.
Padahal ada beberapa team dari Mario yang juga membawa asistennya dan beberapa staf makeup untuk acara syuting video klip hari ini.
"ehem" Devano nampak ketahuan sedang di perhatiakan dua rekan kerjanya itu, ia berdehem ringan untuk menutupi ketidak tahuan dia soal cara kerja di teamnya.
"baiklah, silahkan lanjutkan pekerjaan kalian, aku mau ke ruangan presdir dulu. "
Akhirnya Devano memutar langkahnya, tidak jadi masuk keruangannya.
"loh, pak, kita gak ada meeting? ".
Pertanyaan Alfian menghentikan langkah Devano dan menatap laki-laki itu dengan tatapan kesal.
" tidak ada Yara mana bisa kita meeting, bekerja saja seperti biasa. "
Tukasnya ketus, lalu melangkah dengan cepat bersama raut wajah yang nampak tidak bersahabat pada siapapun yang ingin menyapanya.
Alfian yang diketusin nampak melongo, Madina di sebrangnya juga memasang wajah yang sama, bukankah ada dan tidaknya salah satu dari mereka dulu, meeting tetap berjalan setiap hari, sepertinya prosedurnya memang seperti itu sejak dulu,kenapa sekarang berubah?
"kenapa aku sepertinya curiga ya dengan pak Devano? ". Tukas Alfian yang tersadar duluan
" curiga apa? ".
Medina akhirnya menatap Alfian
" curiga kalau pak Devano tidak mengerti hal apa-apa tentang pekerjaan kita, bisa di bilang dia amatiran. "
"cih, kalau dia amatiran kenapa posisinya langsung jadi ketua team kita, pilihan presdir kita kan tidak pernah salah. "
"nah.. Itu yang sedang aku fikirkan sekarang, apa pak Devano masuk kesini dengan menyuap atau semacamnya? ".
" huss, mana mungkin presdir kita yang tampan dan baik hati itu berbuat begitu, memangnya uangnya kurang apa sampai-sampai dia harus menjual jabatan. "
__ADS_1
Akhirnya Medina dan Alfian tidak berani berfikiran lebih, terlebih mereka yang sadar diri karna mereka hanya pegawai rendahan di dunia kerja ini, Medina dan Alfian kembali kekursi kerja masing-masing, tidak ingin larut pada fikiran mereka yang mengarah pada hal yang negatif.
#
Sedangkan di dalam ruangan presdir, nampak dua pria tampan duduk saling berhadapan di atas sofa beludru yang empuk dan nampak mewah, yang satu dengan ekspresi kesalnya sambil menyilangkan kaki dengan kepala mendongak menatap langit-langit, terlihat sangat frustrasi, sedangkan yang satu lagi hanya duduk menatap kaku si tuan yang tadi masuk tanpa mengetuk pintu dahulu.
Padahal dia yang selalu mengomel untuk menyuruhku bersikap seperti atasan dan bawahan yang dia rencanakan, tapi sekarang dia sendiri yang seenaknya keluar masuk ruanganku, untung sekretarisku tidak sedang di tempatnya.
Darren mengomel dalam hati, sambil menebak-nebak ada apa dengan sikap Devano saat ini, terlihat muram dan kesal.
"kau kenal Mario?. "
Devano akhirnya bersuara
Darren berkernyit sebentar, lalu seperti menemukan sebuah wajah di kepalanya baru ia mengangguk pelan.
"jangan mengangguk saja bodoh, jelaskan padaku siapa dia?. " lanjutnya kesal.
"Mario gustav, debut sebagai penyanyi di agensi kita, namanya cukup populer di kalangan remaja saat ini karna dia punya suara yang bagus. "
Darren menerangkan dengan sabar dan memastikan kata-katanya dimengerti oleh Devano
"lalu kenapa Yara harus pergi menemaninya dengan dalih mengurus kontrak,bukannya Yara hanya bekerja di kantor saja?. "
"karna Nayyara salah satu Managernya, dia memegang beberapa artis yang cukup populer saat ini. "
"cih.. pindahkan dia kedivisi yang hanya bekerja di kantor saja, aku tidak mau dia berkeliaran dengan artis-artis tidak jelas itu. "
Heh bodoh, mereka itu artis-artis kita, bisa-bisanya kau bilang begitu pada salah satu sumber uangmu
"apa tidak sebaiknya anda bertanya dulu dengan Nayy? Aku berfikir dia tidak mau dipindah jika tidak dengan alasan yang jelas. "
"ck, aku tidak perduli dengan pendapatnya. "
"tapi bukankah kita terlihat tidak profesional jika melakukan itu? Aku selalu dapat laporan yang bagus soal pekerjaan Nayy, beberapa artis ingin kontraknya di urus oleh Nayyara, mereka menyukai Nayy saat sedang bekerja sama. "
"kalau begitu boleh aku tau alasannya kenapa dia harus di pindah?. "
Karna dia berkeliaran dengan laki-laki bodoh, dan aku tidak suka.
Degh..
Perasaan aneh apa ini? Devano mendadak terdiam, ia sedang memeriksa debaran hatinya saat memikirkan Yara sedang bersama laki-laki lain selain dirinya.
Lama Devano terdiam, sedangkan Darren menunggu ada jawaban di sana, tapi... Pada akhirnya Devano hanya membuang nafasnya kasar dan merasa di buat jengkel dengan sikapnya sendiri.
Hah, sudahlah, kenapa juga harus peduli pada Yara, dia mau dengan siapapun bukankah itu bukan urusannya. Akhirnya Devano memberi kesimpulan pada hatinya.
"kemana dia sekarang? ".
Yang bertanya apa yang di jawab malah pertanyaan lagi yang tidak sinkron, Darren sampai mengernyit halus saking bingungnya dengan sikap Devan kali ini.
" di lokasi syuting, biasanya dia menemani Mario sampai selesai. "
#
"kakak, ayo makan malam denganku, sehabis ini sudah tidak ada jadwalku lagi kan?. "
senyum sumringah Mario yang duduk didekat Yara nampak berbinar, lelaki muda dengan pribadi ceria itu memang sangat mengagumi Nayyara sejak mereka bertemu, dimatanya Nayy kelihatan imut, padahal umur Nayy lima tahun lebih tua darinya.
Mungkin karna Nayy punya tubuh yang kecil dan wajah yang sedikit tirus, gadis itu pun lebih sering memakai bandana di rambutnya yang hitam legam, kalau terkena cahaya rambutnya itu akan berkilau seperti iklan shampo di tv, makanya Nayyara nampak manis seperti anak-anak di mata Mario.
"hm, sudah tidak ada jadwal, jadi pulang dan beristirahatlah dengan nyaman di rumahmu, kau harus menjaga tubuhmu karna ada kontrak yang berkaitan dengan fashion. "
__ADS_1
Yara tersenyum, hal yang ia selalu lakukan didepan artis-artisnya, meski mereka terkadang membuat Yara pusing sendiri.
"makan malam dulu denganku ya kak, sudah beberapa hari ini kita belum bertemu, kakak terus bikin aku sibuk dengan pekerjaan, aku kan sudah jadi anak baik dan tidak mengacau, aku tidak bikin kakak kesulitankan?, ayo makan berdua denganku".
Mario nampak merengek, sambil menatap wajah Nayy dari dekat, memastikan kalau ia bisa merayu wanita yang selalu membuat hatinya berdebar itu.
"baiklah".
" yesss"
"karna kau sudah jadi anak baik hari ini, aku akan makan denganmu, tapi aku yang menentukan tempatnya dimana. "
"tidak masalah, ayo".
Bersemangat sekali Mario sampai meloncat dari duduknya, Yara terkekeh melihat tingkah bocah yang sudah seperti adik baginya.
" Risa, aku pergi sebentar dengan Mario ya, kau mau titip apa biar aku belikan untuk yang lain juga. "
Yara sedikit berteriak bicara dengan asisten Mario yang bernama Risa itu, karna Risa sedang memasukan beberapa barang kedalam mobil.
"apa saja kak, jangan lupa aku ingin kopi dinginnya juga. " sahut Risa dengan mengngkat tangan melambai.
Selanjutnya Yara melangkah di ikuti Mario yang berdendang kegirangan, rasanya ingin sekali ia menggandeng tangan Yara, tapi ia masih belum berani melakukannya.
Entah sejak kapan Mario sangat menyukai Yara, ia hanya ingat saat ia ikut audisi dalam salah satu pencarian bakat, saat itu ia gugup sekali, sampai tidak sadar melakukan kesalahan saat bernyanyi, Yara meminta para juri untuk mendengarkan ulang suaranya, meski saat itu salah satu juri sudah menolak dan ingin Mario di gantikan dengan peserta selanjutnya, namun... Gadis itu bilang, kalau dia mendengarkan Mario latihan di tangga darurat tadi, dan meyakinkan kalau suaranya sangat bagus, Yara sampai bertaruh akan keluar dari staf kordinasi juri jika dugaannya salah.
Disitulah Mario melihat ketulusan di mata Yara, padahal mereka tidak saling kenal, tapi ia seakan di dukung dengan sungguh-sungguh oleh seseorang yang bahkan ia belum tahu namanya saat itu, sejak saat itu, Mario ingin bersungguh-sungguh melakukan apapun untuk cita-citanya ini.
Dan mereka di pertemukan lagi di agensi yang sama meski berbeda pekerjaan, tanpa berfikir panjang, Mario langsung menawarkan diri untuk jadi artis agensi yang Yara tempati, sampai saat ini, ketulusan dari mata itu masih bisa Mario rasakan sendiri.
"kenapa makan ditempat ini, akukan ingin mentlaktir kakak ditempat makanan yang lebih enak dan mewah. "
Bibirnya di manyunkan dengan gemas, membuat Yara tersenyum melihatnya, mereka sudah duduk di kursi panjang tempat warung sederhana yang menjual menu dari rasa rempah sederhana bertuliskan spanduk pecel ayam dan ikan lele, tempat favorit Yara jika sedang kelaparan di tengah malam.
"disini juga enak, aku suka dengan sambalnya. "
"cih, kakak selalu saja seperti itu, tidak ingin aku memanjakan kakak sedikitpun, aku kan ingin berterimakasih dengan benar pada kakak. "
"berterimakasih untuk apa? "
"untuk setiap dukunganmu padaku, kakak yang selalu menemaniku saat aku kesulitan saat pradebut dulu, kakak juga yang selalu mewakilkan permintaan maafku pada semua produser yang komplain dengan sikapku. "
Ada perasaan hangat yang Yara rasakan, melihat raut tulus itu di mata yang nampak polos dan juga bersinar dengan bakat, ia mengusap lengan Mario di atas meja penuh haru.
"aku mendukungmu karna kau tanggung jawabku Mar, kita bekerja sama dan kau sudah bekerja dengan keras sampai menjadi seprofesional ini, kau tau, kau itu salah satu sumber gajiku, hehe".
Yara terkekeh sebentar, menyalurkan rasa hangatnya pada perasaan Mario yang sudah sangat mengagumi Yara sejak dulu.
" jadi, jangan merasa kau berhutang apapun padaku, kita bisa makan bersama sesekali dan mengobrol seperti teman atau kakak adik seperti sekarang. "
"kalau lebih dari kakak dan adik boleh? ".
" TIDAK BOLEH"
Suara teriakan yang mengagetkan dari arah punggung mereka, seseorang yang berdiri disana entah sejak kapan tapi membuat Yara terkejut setengah mati karna tidak percaya dengan penglihatannya, Devano dengan wajah marah memelototi Mario dan sesekali tatapan itu pindah melihat tangan Yara yang masih menyentuh pungging tangan milik Mario.
Jemari tangannya mengepal, getaran aneh yang terasa panas seperti meluap di balik kepalanya, saat melihat Yara menyentuh bocah laki-laki bodoh itu, Devano tersulut kemarahan yang tidak bisa ia ucapkan oleh kata-kata, sepertinya ia ingin sekali memukul.
"kak Vano? "
Panggilan Yara, membuat mata mereka bertemu, Yara yang kebingungan kenapa Devano bisa berada disini?, dan Mario yang berkenyit penuh tanya siapa orang ini?
"sudah ku bilang, tubuhmu itu milikku. "
__ADS_1
Tukas Devano dengan gertakan rahangnya yang menahan kesal.
Bersambung😊