
Mario terus memegang ponselnya, menghubungi seseorang yang sejak kedatangannya kemarin sangat susah untuk mereka berdua sekedar menyapa dan bicara, ia fikir Yara akan ikut bermain golf di terik panas hari ini, tapi alih-alih melihat Yara, ia malah melihat Vano yang keluar dengan Yara entah kemana.
Sebenarnya ia sudah tidak ingin ikut main saat melihat itu, tapi si pengganggu Lisa terus meremehkannya dan bilang ia pecundang jika keluar dari permainan ini.
Dan Mario yang tidak suka di remehkan itu akhirnya memegang stik golfnya sampai permainan mereka selesai di jam makan siang.
Ini sudah sore, tiba-tiba saja awan hitam menggelayut datang, hari yang tadinya sangat terik berubah teduh seiring berjalannya jarum jam semakin menggelap, angin nampak berhembus kencang, sepertinya hujan akan benar-benar turun menjelang malam.
"pak Darren tidak melihat kak Nayy? Aku menghubunginya sejak tadi tapi tidak tersambung. "
Mario menyambar saja saat ia sedang duduk di ruang tengah dan melihat Darren masuk dari pintu yang entah ruangan apa, sepertinya sebuah perpustakaan kecil, karna banyak rak-rak buku berjejer saat Mario mengintipnya sekilas sebelum pintu itu ditutup.
Darren berjalan menghampirinya sambil melihat jam di tangannya, ia duduk di sebelah Mario dan langsung mengambil ponselnya di saku celananya.
"apa mereka belum kembali? Ini sudah sangat sore, harusnya mereka sudah tiba sejak tadi. "
Menempelkan ponselnya ke telinga, Mario hanya melihat penuh harap, semoga kalau Darren yang menghubungi bisa terjawab, tapi... Sepertinya tidak, terlihat hanya kernyitan heran di dahi Darren yang muncul.
"ah, sebentar lagi akan turun hujan, di luar sangat gelap dan berangin. "
Mario menatap padang golf di ujung sana, nampak gelap dan hembusan angin yang kelihatan masuk kesela-sela pintu berkaca tebal itu sampai bergoyang saking kencangnya.
Ponsel Darren menghubungi nomor milik Vano, hanya dalam hitungan detik suara keras dari ponsel Vano menggema di ruangan itu, sipemilik baru saja keluar dari kamarnya, Darren dan Mario mengikuti arah suara, mereka menatap keatas dimana Vano tengah berjalan menuruni tangga dengan santai tanpa niatan ingin mengangkat dering ponselnya.
Darren mematikan sambungan karna Vano sudah bersama mereka, dilihat dari raut wajahnya, Darren sudah merasa tidak enak, apa mereka bertengkar lagi?
"sejak kapan anda kembali tuan? Apa Nayyara tidak bersama anda? ".
Karna cemas, Darren sampai lupa dengan kalimatnya, ia bertanya seperti dengan atasannya, hal itu membuat Mario berkernyit kebingungan.
Tapi, bukan fokus itu yang sekarang jadi masalah, meski sedikit, Darren menagkap keterkejutan dari bola mata Vano barusan.
__ADS_1
" dia belum kembali? ". Tukas Vano, mengingat bagaimana ia meninggalkan Yara tadi membuatnya sedikit menyesal karna pasti Yara sangat sedih atas kata-kata menyakitkannya.
" belum, memangnya kalian kemana? Apa kau meninggalkannya? ". Mario yang kali ini melompat dari duduknya, berkata-kata dengan kesal kalau sampai itu benar, ia akan sangat marah pada Vano.
" hey bocah, siapa yang menyuruhmu bicara. "
Tetap Vano lebih marah dan kesal, ia sampai menunjuk dada Mario dan mendorongnya dengan telunjuk itu.
"sebentar, tuan, anda yakin tidak pulang bersamanya? Ponselnya tidak bisa di hubungi dan ini sudah sangat sore, belum lagi akan turun hujan sepertinya. "
Darren menegaskan untuk menyadarkan Vano yang nampak juga cemas, ada penyesalan di matanya, dan Darren yakin apa yang di katakan Mario benar adanya, bahwa Vano meninggalkan Yara, sebenarnya apa yang membuat Vano bisa sampai melakukan itu pada gadis itu? Bukankah mereka sudah terlihat sangat dekat, seharusnya hal ini tidak terjadi di saat mereka bisa pergi bersama.
"aku meninggalkannya di jalan dekat pemukiman warga, seharusnya gadis bodoh itu mengikutiku kembali, tapi kenapa dia malah menghilang seperti ini. " Vano mengusap wajahnya dengan kasar, bibirnya mengatup menahan kesal pada diri sendiri.
"apa kalian bertengkar?. "
tanya Darren
"dasar tidak punya hati, kau terlihat sangat menyukainya tapi bisa-bisanya kau meninggalkannya sendirian, padahal kau kan tahu kak Nayy tidak pandai mengingat jalan. "
Mario mengusap rambutnya dengan kasar, ia sungguh cemas bila Yara tidak bisa kembali, kenyataan kalau Yara tidak pintar mengingat jalan adalah hal yang Darren dan Vano baru sadari, seketika panik menyerang, gerimis sudah mulai turun, angin masih berhembus kencang, Darren dan Vano sama-sama menatap keluar.
"aku akan pergi mencari kak Nayy. " Mario sudah ingin melompat melangkah berlari keluar, namun Vano mencengkramnya, seketika tatapan tajam menusuk pada masing-masing netra mata mereka.
"aku yang pergi, tunggulah disini bersama yang lain. "
"kau saja bisa dengan tega meninggalkannya, mana aku percaya kau mencarinya dengan serius, lepaskan. "
Mario mengibaskan tangan Vano dengan hentakan tubuhnya, namun cengkraman itu terlalu kuat, karna Vano bukan hanya saja mencengkramnya dengan tenaga tapi dengan amarah, melihat Mario bisa sekhawatir itu pada Yara, sedangkan Vano sudah mengklaim bahwa Yara hanya miliknya, tidak boleh ada yang merasa memilikinya selain dirinya.
#
__ADS_1
Hujan turun dengan lebat, sesekali guntur dan petir menyambar di ujung langit, angin bertiup sangat kencang hingga mematahkan sebagian dahan pohon yang telah rapuh.
Cuaca yang tak menentu ini membuat sebagian orang khawatir, karna akan banyak tanaman petani yang merugi akibat badai seperti ini menerjang setiap waktu.
Di sebuah gazebo yang terletak dekat perkebunan warga, Yara mengusap air matanya berkali-kali, akhirnya ia bisa menagis sekencang yang ia mau karna hujan menyamarkan suara jeritannya, bukan karna ia sedang tersesat tidak tahu jalan kembali, tapi karna ingatannya dengan kata-kata menyakitkan dari mulut Vano yang berseliweran di kepalanya.
Isaknya masih tersisa, guntur dan kilatan petir tidaklah membuatnya takut, tapi hatinyalah yang membuatnya terasa sakit, sakit mengingat kebaikan Vano padanya, sakit dengan kata-kata Vano yang selalu membencinya, tapi meski begitu, hatinya tidaklah dendam, ia malah semakin ingin melihat pria itu disampingnya, menggenggam tangannya, tersenyum dan tertawa padanya.
Aahh, kenapa sakit sekali.
Yara memukul-mukul dadanya sendiri, mengusap lagi wajahnya dengan kasar, matanya sudah membengkak karna tangisnya, hidungnya terasa sulit menghirup udara karna mampet dan sesak, wajah Vano berseliweran di kepalanya, juga dengan kata-kata menyakitkannya, lagi-lagi air mata yang tiada habisnya itu mengalir keluar, ia tidak ingin kembali rasanya dan bertemu dengan Vano atau orang-orang di Villa karena kondisinya yang menyebalkan ini.
Hari berganti gelap saat rintik hujan mereda dengan sisa kilatan yang menyala bagai lampu kelap kelip, malam menyelimuti dinginnya udara yang menyisa bekas hujan besar sedari sore tadi, Yara memeluk tubuhnya sendiri, dalam gelap Gazebo yang nampak sunyi, hanya bunyi-bunyian serangga dari kebun itu yang menemani.
Kakinya menekuk, kantuk sehabis menangis membuat matanya terasa sangat berat, ia bahkan tak hiraukan nyamuk-nyamuk yang menggigit lengannya sampai memerah, Yara hanya ingin memejamkan mata, membiarkan dingin menusuk ketulangnya, karna yang ada di fikirannya saat ini hanyalah bisa melupakan apa yang tidak ingin ia ingat, termasuk kebencian Vano padanya.
Sayup terdengar suara langkah kaki mendekat, saat itu ia sudah memejamkan setengah matanya yang berat, namun kesadarannya belum hilang sepenuhnya, Yara bangun dari meringkuknya, karna ia takut yang datang si pemilik kebun atau orang berniat jahat, bagaimanapun ia tidak ingin mati konyol di tempat seperti ini.
Sebuah senter menerobos menyorot kearahnya, ada deru nafas terengah berlari mendekat padanya.
"ada kan tuan, sebenarnya saya juga melihat tadi si teteh duduk-duduk disini dari siang, saya kira sudah pergi, tidak tahunya masih ada. "
Tangan Yara yang tadi terangkat untuk menutupi matanya yang silau akan lampu senter, perlahan turun untuk melihat siapa yang datang, terdengar suara pemilik kebun dan satu orang yang bernafas terengah di hadapannya, rambut dan tubuhnya yang berjas hujan basah meneteskan air, tatapan matanya menusuk pada netra mata milik Yara yang kini terkejut tapi juga dengan cepatnya berganti sendu.
"kau.. Apa kau baik-baik saja?. "
Pertanyaan halus dengan intonasi kecemasan tinggi terlontar dari mulut itu, Yara terharu, karna tebakan dalam kepalanya benar, dia mencariku? Benarkan dia yang datang mencemaskan aku?
"kak Vano".
Air mata Yara turun lagi, kedua tangannya langsung meraih punggung pria di hadapannya, ia terisak memeluk dengan erat, sedangkan Vano terpaku membeku, tangannya bergerak membalas pelukan itu, sisa hujan tidak cukup membuat mereka kedinginan, karna pelukan itu nampak menghangatkan satu sama lain.
__ADS_1
Bersambung😊